Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 23 – TIBA-TIBA


__ADS_3

“Kennie kecelakaan!”


Dengan dua kata itu, Dilan kehilangan ketenangannya.


Dia bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Jamet kepadanya.


Namun entah mengapa Dilan merasakan de javu yang aneh di kepalanya.


Dilan tidak peduli dengan semua itu lantas bergegas sebisanya untuk menemui sang bibi tercinta.


Di rumah sakit, Gems hendak menahan Dilan, namun rupanya Dilan mengabaikan panggilannya.


Dilan pun menuju ke salah satu suster yang menganggur di sana yang tampaknya bisa ditanyai.


“Ah kalau Mbak yang Kakak katakan itu, kayaknya aku pernah lihat deh, Kak. Dia saat ini berada di ruang pasien sebelah sana. Pasien yang dirawat di sana lengannya terluka cukup parah seperti habis terkena tikaman benda tajam gitu. Benar-benar naas banget deh kondisinya, Kak.”


‘De javu apa ini?’


Dilan akhirnya mengingatnya.


Ini sama persis ketika dirinya hendak menjenguk Kania di rumah sakit, namun ternyata Edo-lah yang terluka parah.


Badan Dilan gemetaran.


Jika begitu adanya, ini hanya akan berlanjut di mana dari balik ruangan, sang bibi akan ketawa-ketiwi padanya yang telah salah sangka akan semuanya.


Dilan berharap bahwa itu benar.


Dilan tak ingin bibinya itu kenapa-kenapa.


Dilan berharap bahwa rasa de javu itu akan berlanjut sampai akhir di mana ternyata memang bukanlah bibinya yang terluka parah seperti yang diinformasikan oleh rekan seperdosaannya, Jamet, yang tolol.


Walau dengan badan gemetaran, Dilan memberanikan diri membuka pintu, dan hasilnya,


Betapa leganya dia ketika juga mendapati pemandangan yang sama seperti rasa de javu itu di mana sang bibi yang ketawa-ketiwi dengan riangnya.


“Jika dilihat dari dekat, rupanya Kania cantik juga ya.”


“Duh, bisa-bisanya Anda memuji seseorang cantik dengan ekspresi datar begitu, Tuan.”


Jika Ada yang salah, tawa Kania kali ini tidak tertuju pada dirinya, melainkan pada sang paman.


Lupa bahwa ada hal yang lebih penting berupa mengapa sang paman sampai dirawat di rumah sakit dan Kania yang menjaganya, Dilan telah termakan duluan oleh api cemburu.


“Paman, apa-apaan ini? Mengapa Paman menggoda wanita yang aku taksir?!”


Dilan terlihat penuh amarah kala itu sampai-sampai serasa tidak mustahil Dilan akan sanggup menghajar sang paman yang sedang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur tersebut.

__ADS_1


Kania yang paling mengenal bagaimana temperamennya pemuda berdarah panas itu, segera berlari ke arah Dilan untuk mencegahnya melakukan hal yang berlebihan.


“Tenang dulu, Dilan. Pamanmu terluka ketika melindungiku dari orang jahat di saat jalan pulangku ke penginapanku di tengah malam, jadi aku membawanya ke rumah sakit. Tidak ada apa-apa di antara kami.”


“Tengah malam? Mengapa Paman bisa menemui Bibi di tengah malam?!”


Pupil mata Dilan bergetar.


Itu karena informasi tak terduga baru saja didengarnya.


Tanpa pikir panjang, Dilan segera menyeret Kania keluar dari ruangan di mana Cassian dirawat tersebut.


Terlihat Cassian ingin bangun dari tempat tidurnya setelah melihat kelakuan kasar Dilan itu pada Kania, namun rupanya perihal kehilangan cukup banyak darah, terlebih dia baru saja melakukan donor darah pula, badannya bahkan terlalu lemas untuk sekadar bangkit.


Walaupun Kania belum tahu siapa Dilan, bukankah Dilan telah tahu siapa Kania dan itulah sebabnya dia mendekatinya?


Dilan tak mungkin berbuat macam-macam pada sang bibi yang sangat dicintainya, setidaknya itulah yang ada di pikiran Cassian.


Kala itu, Cassian belum tahu ada saja orang aneh di dunia ini.


Dilan mencintai Kania, namun itu bukanlah cinta kepada keluarga.


Dilan mengincar keperawanan sang bibi.


Di salah satu pojokan itu, Dilan mendorong Kania sembari menatapnya dengan mata melotot.


“Dilan, tampangmu menyeramkan.”


Namun mengabaikan perasaan sang bibi, Dilan hanya to the point.


“Sebenarnya, apa yang baru saja terjadi, Bi? Apa maksudnya Paman Cassian melindungi Bibi di tengah malam buta?”


Kania pun menceritakan segala macam hal yang terjadi di malam hari itu.


-Prak.


Dilan menggedor dinding besi loker tanpa memperhatikan lagi jantung bibinya yang hampir copot begitu mendengar suara gedoran keras itu.


“Ini pasti rekayasa Paman. Tidak salah lagi ini pasti rekayasa Paman!”


“Apa yang kamu katakan, Dilan? Cassian sendiri terluka dalam kejadian itu. Aku justru berpikir kamulah yang terlalu berlebihan curiga pada pamanmu sendiri. Menurutku, dia bukanlah orang sejahat itu. Pasti kecelakaan-kecelakaan yang menimpamu selama ini hanyalah salah paham belaka. Walaupun ada orang lain yang merekayasanya, itu pasti bukan Cassian.”


Tanpa memberi kesempatan bibinya berpikir, Dilan serta-merta menanggapi ucapan sang bibi itu.


“Itu dia! Itu dia yang Paman incar, Bi! Paman sengaja melakukan semua ini untuk menarik rasa simpati Bibi agar Bibi bisa menjadi salah satu pionnya. Jika itu Paman, dia pasti bisa melakukannya. Baginya, mengorbankan diri dengan satu atau dua tusukan pisau, bukan apa-apa asal bisa meraih tujuannya!”


“Itu terlalu tidak mungkin, Dilan.”

__ADS_1


Jelas Kania meragukan ucapan Dilan yang tidak didasari bukti tersebut, terlebih baginya Cassian yang muncul di kala dirinya benar-benar butuh pertolongan itu, tak ubahnya seperti ksatria berkuda putih.


Tidak mungkin Kania bisa berburuk sangka pada penyelamat hidupnya itu.


Namun sekali lagi dengan tidak memberikan kesempatan Kania untuk berpikir, Dilan segera membalas ucapan Kania itu dengan lugas, “Apa Bibi sama sekali tidak curiga mengapa orang jahat itu dan Paman bisa muncul di tempat yang bersamaan?”


Seakan petir menyambar di kepala Kania, dia tak dapat membantah kecurigaan Dilan tersebut.


Terlalu aneh bagi Cassian untuk hadir di malam hari itu untuk menemuinya bersamaan dengan munculnya sang penjahat misterius yang hendak melukainya.


Lebih masuk akal jika itu seperti yang dikatakan oleh Dilan bahwa semua itu tidak lain adalah rekayasa Cassian yang ingin membangun rasa kepercayaan Kania padanya.


Di hidupnya selama hampir tiga puluh tahun itu, Kania telah benar-benar mengenal hinanya sosok yang bernama manusia tersebut.


Demi meraih apa yang menjadi tujuannya, segalanya pun mereka bisa rekayasa, termasuk jika itu bisa saja melukai diri mereka sendiri.


“Ini salahku yang terlalu dekat dengan Bibi sehingga Paman Cassian bisa mengincar Bibi.”


Terlihat benar raut penyesalan di wajah Dilan itu.


“Tapi aku harus bagaimana? Hanya dengan bersama Bibi-lah rasanya aku bisa tenang.”


Kania termenung sejenak melihat pemuda yang baru saja tadi bertampang seram, kini menunjukkan ekspresi Chihuahua di hadapannya.


Kania pun tersenyum kepada pemuda itu.


“Aku baik-baik saja kok, Dilan.”


Dengan mata yang berkaca-kaca, pemuda itu membalas, “Bagaimana bisa Bibi baik-baik saja? Ini keteledoranku karena luput mengamati pergerakan Paman. Seharusnya aku menyewa bodyguard untuk menjaga Bibi sebelum semua ini terjadi.”


“Itu tidak perlu, Dilan.”


“Apanya yang tidak perlu?! Sekarang keamanan Bibi ikut terancam karena terlibat bersamaku!”


“Tapi itu malah akan membuatku semakin tidak nyaman jika ada orang tak dikenal mondar-mandir di sekelilingku. Ini kesalahanku karena pulang sendirian apalagi di tengah malam buta. Lain kali aku pastikan akan pulang bersama Edo seperti biasa. Selama Edo belum sembuh benar, aku juga akan cuti sementara di pekerjaan hostess-ku.”


Mendengarkan ucapan Kania, Dilan tersenyum.


“Ini kebetulan yang pas, Bibi.”


“Hmm?”


Kania pun segera keheranan akan maksud dari ucapan Dilan tersebut.


“Sebentar lagi aku akan kembali ke Surabaya untuk ditempatkan kembali di perusahaan pusat, Bi. Tunggu saja aku selama dua bulan. Setelah segala persiapannya selesai, aku pasti akan menjemput Bibi untuk melamar Bibi.”


Lamaran tiba-tiba datang di waktu yang terlalu tiba-tiba dari seorang pemuda yang lebih muda sembilan tahun darinya.

__ADS_1


Itu membuat Kania sama sekali tak sanggup berkata apa-apa.


Tidak, bukankah Kania baru saja dilamar oleh keponakannya sendiri yang dia susui dan bersihkan popoknya setiap hari ketika masih kecil?


__ADS_2