
Dilan dilanda kemalangan.
Sejak dia terbangun kembali dari tidurnya di hari itu, dia tak lagi dapat menemukan sosok Kania.
Untuk kedua kalinya sang bibi menghilang dari sisinya.
“Bibi, mengapa kamu lagi-lagi tega meninggalkan aku sendirian? Setelah kupikir kali ini kamu akan terus berada di sisiku untuk selamanya.”
-Prak.
Suara dentuman meja kantor terdengar dengan jelas oleh amukan dalam diam Dilan.
Alex yang kaget pun mengamati perubahan Dilan yang tak biasa.
“Ada apa Dilan? Kamu baik-baik saja?”
Suara lemah lembut dari sang paman, Alex, segera membuyarkan Dilan dari lamunannya.
“Ah, Paman. Ya, aku baik-baik saja kok.”
Sejuknya ruangan kantor yang ber-AC bahkan tak mampu mengademkan pikiran Dilan yang begitu penat perihal merindukan sang bibi.
“Kali ini, aku takkan lagi membiarkan Bibi lepas dari genggamanku!”
Baru sekitar seminggu sang bibi menghilang, namun bagi Dilan itu sudah bagaikan bertahun-tahun lamanya.
Penat dengan pikiran yang semrawut, Dilan pun berpikir untuk mencari udara segar di luar.
Sekitar seminggu yang lalu, Dilan telah berhasil memperoleh posisinya kembali di perusahaan utama.
Kini, dia tak lagi harus disibukkan oleh urusan yang banyak terkendala oleh kurangnya sarana dan prasarana.
Kini Dilan tak lagi berada di Makassar, melainkan di Surabaya di mana kantor pusat Lekata Group berada.
Dilan perlahan membuka jendela kantor yang terletak di luar ruangan tak jauh di mana ruang kerjanya dan para bawahannya berada.
Itu terletak di lantai empat, lantai kedua tertinggi dari gedung berlantai lima itu.
Pemandangan dari balik jendela gedung menampakkan hiruk-pikuk ciri khas Kota Surabaya.
Dilan senang akan pemandangan itu, terlebih, tempat di mana Dilan sekarang berada, tepat berdekatan dengan Universitas Airlangga, tempat di mana banyak wanita-wanita ayu yang masih muda bertebaran.
Cuci mata yang pas bagi seorang playboy sepertinya.
Walau demikian, entah mengapa kala itu, cantiknya wanita-wanita muda milik Universitas Airlangga tak lebih dari sekadar seonggok kentang di mata pemuda yang dipenuhi nafsu birahi itu.
Mata Dilan pun dengan cepat tertuju ke salah satu tempat teramai di bawah gedung di mana dirinya berada.
Itu adalah sebuah toko es serut kecil yang tersaji di salah satu halaman luas di taman yang bermarkaskan di sebuah kendaraan mini truk.
Khususnya, pandangan Dilan segera tertuju kepada seorang pelayan wanitanya.
__ADS_1
“Ah, apakah aku segitu merindukan Bibi Kania sehingga bahkan Mbak-Mbak pelayan di bawah hanya bisa aku lihat sebagai Bibi?”
Dilan sadar dirinya telah berhalusinasi begitu menyaksikan wajah sang pelayan yang menyerupai wajah sang bibi.
Itu karena di pikiran Dilan, mana mungkin bibinya yang telah dia cari ke mana-mana sejak menghilangnya namun tak juga kunjung ketemu, muncul sendiri begitu saja di hadapannya secara tiba-tiba.
“Ukh.”
Dilan tersenyum kecut menyadari ketidakkerenannya sendiri.
Dia yang telah menyebabkan hampir seratus wanita putus cinta, kini tak berkutik persoalan seorang bibi yang menghilang dari hadapannya.
Ekspresi ceria itu dengan cepat berubah menjadi amarah.
Itu karena Dilan tak bisa melupakan apa yang waktu itu didengarnya dari sang paman, Cassian, sewaktu Kania menghilang.
“Apa? Jadi Paman memberitahu Bibi Kania kalau aku mencintainya bukan sebagai keponakan, tetapi sebagai pria?!”
“Secara teknis, itu bukan aku, tetapi perihal igauanmu sewaktu tidurlah yang membuat Kania mengetahuinya.”
“Tetapi Paman bukannya membantah, malah mengonfirmasinya! Apa Paman tidak punya akal sehat?! Seharusnya Paman bisa mengerti perasaan Bibi Kania setelah Paman mengatakannya! Bagaimana jijiknya Bibi Kania jika mengetahui kalau keponakannya sendiri mengincar V-nya! Pantas saja Bibi Kania jadi kabur seperti ini…”
“Kalau kamu menyadarinya, maka kamu tidak akan pernah menggoda bibimu sendiri begitu kamu mengetahui bahwa Kania adalah bibimu!”
“Urus sendiri urusan Paman!”
Begitulah pembicaraannya terakhir dengan sang paman.
Sejak saat itu, Dilan tak pernah lagi berbicara dengan sang paman, Cassian.
Selama ini Dilan mengira bahwa Kania tidak akan pernah mengetahui sosok sejatinya yang merupakan keponakannya.
Tidak, hal-hal yang terjadi mulai salah ketika Dilan berpikir bahwa Kania takkan pernah mengetahui bahwa Dilan mengetahui identitasnya yang merupakan bibinya tetapi tetap berniat untuk mengincar keperawanannya.
Pantas saja Kania akhirnya kabur karena merasa jijik terhadap keponakannya sendiri yang mengincar keperawanannya secara terang-terangan.
“Semua ini karena salah Paman sialan itu!”
Sayangnya, Dilan justru menyalahkan semuanya kepada Cassian.
Tergoda oleh rasa penasarannya tentang mengapa toko es serut yang baru buka di bawah begitu ramai oleh pengunjung, Dilan pun turun ke bawah untuk turut mengunjunginya.
Sesampainya di sana, Dilan begitu jijik begitu mendapati pelayan yang melayaninya adalah seorang girl boy.
“Mau pesan apa, Cin?”
Dilan secara refleks menarik tangannya begitu sang girl boy hendak menyentuhnya.
“Satu es serut rasa blackcurrant, tolong.”
Namun apa yang didapati Dilan adalah tatapan tajam dari sang girl boy, tidak, rasanya tidak pantas menyebutnya sebagai boy karena usia sang pria kewanita-wanitaan tampak telah berada di paruh bayanya.
__ADS_1
“Ada apa? Mengapa kamu menatapku seperti itu?”
Dilan pun bertanya-tanya dengan penuh rasa penasaran.
Apa itu karena sang girl boy di hadapannya sakit hati karena merasa dilecehkan begitu Dilan menolak sentuhannya?
Jika itu benar, maka Dilan juga tak dapat menghindarinya sebab selera Dilan memang bukan yang seperti itu.
Dilan adalah pemuja wanita cantik sejati.
“Oh, Dilan. Akhinya kamu datang berkunjung juga. Kamu pasti sibuk banget ya di tempat kerjaan. Padahal Bibi sudah jualan di tempat ini sekitar hampir seminggu, tapi kamu baru datang berkunjung sekarang? Padahal Cassian saja rutin menjadi pelanggan kami.”
Ujar seorang wanita di samping girl boy itu dengan senyumnya yang semringah, tetapi diliputi oleh sedikit rasa kekecewaan di balik ucapannya.
Dilan hanya bisa mematung dengan mulut yang ternganga.
Itu perihal apa yang dilihatnya ternyata bukanlah halusinasi.
Sang pelayan wanita tampak sebagai sang bibi di mata Dilan bukan karena dia begitu merindukan Kania.
Itu karena sang pelayan wanita memanglah sang bibi.
“Bibi Kania?!”
“Ya, itu aku. Selamat atas kesembuhannya, Dilan.”
Mengetahui rupanya keberadaan sang bibi yang selama ini dicarinya di seluruh penjuru Kota Makassar tepat berada di pelupuk matanya sendiri, Dilan tak dapat menahan ekstasi rasa senang di dalam raganya.
Begitu inginnya dia segera memeluk sang bibi yang ada di hadapannya itu.
Setidaknya itu sampai suara seorang pria tertentu itu terdengar di telinganya.
“Kania, aku minta tambah es serut stroberinya.”
“Oh iya, tunggu sebentar ya, Cassian! Ah, maaf, Dilan. Bibi lagi sibuk kerja. Bagaimana kalau kita ngobrolnya nanti sore saja setelah toko tutup? Edo, tolong kamu yang layani Dilan ya.”
“Siap, Baby!”
Itu benar.
Seharusnya sang paman, Cassian, tahu benar bagaimana kelabakannya Dilan selama ini dalam mencari sang bibi, Kania.
Tetapi walau demikian, Cassian yang sudah tahu sedari awal keberadaan Kania tak pernah sedikit pun memberitahukannya kepada Dilan.
Hanya satu penjelasannya terhadap hal ini.
Cassian sedari awal tak berniat mengungkapkannya kepada Dilan dan ingin selama mungkin menyimpan rahasia ini untuk dirinya sendiri.
Dilan lebih tahu dari siapapun bahwa sama halnya dengan dirinya, Cassian pun mempunyai rasa suka yang besar terhadap sang bibi, Kania.
Namun melupakan itu, Dilan terkejut oleh hal lain.
__ADS_1
“Eh?! Edo! Kamu Edo yang waktu itu?!”
Tatapannya segera menatap baik-baik wajah girl boy botak yang ada di hadapannya itu.