Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 22 – CEMBURU


__ADS_3

Terlihat di ruangan itu Dilan duduk dengan tenang di atas sebuah sofa empuk di ruangan pribadi kantornya.


Kedua kakinya dirapatkan dan pandangan matanya menunduk disertai hawa ketakutan.


“Kakek.”


Di hadapannya terlihat pula seorang pria tua flamboyan yang sedang duduk dengan setelan jasnya yang terlihat sangat serasi di tubuh tuanya itu.


“Kamu semakin kurus, Nak Dilan. Apa kamu kesulitan makan di sini? Kakek memang pernah dengar kalau rata-rata masakan di tempat ini pedas-pedas dan terlalu asin, sangat berbeda dengan seleramu.”


Dilan menggelengkan kepalanya dengan sopan sembari menjawab pertanyaan sang kakek.


“Tidak kok, Kek. Di sini kulinernya juga sudah berkembang, terutama aku paling suka sama sate Makassar-nya yang sering aku pesan di warung Nike Ardilla di depan.”


“Syukurlah kalau begitu, Nak.”


Terlihat sang kakek mengamati sang cucu yang bukan berasal dari keturunan langsungnya itu dengan tatapan khawatir.


“Oh, iya. Kakek sudah memberikan pelajaran yang setimpal pada anak kurang ajar Cassian itu. Bisa-bisanya dia membuat cucu Kakek ini stres sampai kesulitan makan. Pokoknya jika Cassian mengganggumu lagi, bilang saja pada Kakek. Kakek akan hajar dia lagi sampai babak belur.”


“Baik Kek.”


Jawab Dilan dengan senyum semringah begitu mendengar bahwa sang kakek telah menghajar sang paman pengganggu itu hingga babak belur.


Rupanya sewaktu dia melihat sang paman memar-memar di hari itu, itu adalah perbuatan sang kakek.


Kasino Lekata, anak ketiga sekaligus yang paling bungsu dari pendiri perusahaan Lekata, Andromeda Lekata, adalah orang yang paling menyayangi Dilan di keluarganya, meskipun sejatinya dia bukanlah cucu dari garis keturunannya sendiri, melainkan berasal dari garis keturunan sang kakak, Andrio Lekata, yang telah lebih dulu berpulang meninggalkan dunia ini.


Dilan tak dapat menyembunyikan ketakutannya dari sang kakek yang selalu mengeluarkan aura intimidasi tertentu dari pembawaannya, namun demikian jelas bahwa Dilan juga sangat menyayangi kakeknya itu yang sudah dia anggap sebagai kakek kandungnya sendiri.


“Oh iya, Dilan. Masalah dengan Kakek Buyut-mu sudah selesai. Beliau sudah memaafkan kesalahanmu. Jadi mulai sekarang, kamu bisa kembali ke Surabaya untuk memimpin perusahaan utama kita di sana. Kakek juga perlu untuk segera kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan cabang kita di sana.”


Seharusnya Dilan akan senang dengan pernyataan dari sang kakek tersebut.


Bagaimanapun itulah yang ditunggu-tunggunya selama ini untuk menikmati kembali kehidupan hura-hura di Kota Surabaya yang sangat berbeda dengan di Kota Makassar tempat dia tinggal sekarang itu yang sangat kekurangan hiburan dunia malam.


Setidaknya, itu sampai dia bertemu kembali dengan sang bibi yang telah terpisah darinya sejak sebelas tahun lamanya dalam suatu pertemuan yang tak terduga di suatu pulau asing tersebut.

__ADS_1


Ditambah, kehidupan Dilan di Kota Makassar itu terbilang lebih tenang semenjak kecelakaan-kecelakaan aneh yang kerap kali menimpanya tak pernah lagi terjadi sejak Dilan datang ke kota tersebut.


Namun, Dilan hanya bisa menurut patuh perkara dia hanyalah anak yang terlahir dari hubungan terlarang yang secara beruntung bisa memperoleh posisi yang baik di keluarga.


Betapapun Dilan menginginkan kebebasan, dia tahu benar betapa pentingnya uang di dunia hedonisme ini.


Dan agar simbol hedonisme itu tetap berada di tangannya, dia mau tidak mau harus tetap menunduk patuh di dalam keluarganya.


Lagipula apa, tidak lama lagi Dilan bisa mapan dengan kedua kakinya sendiri.


Di saat itulah Dilan akan menjemput sang bibi tercintanya dengan bangga.


Tentu saja bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai kekasih tercinta.


“Baik Kek, aku akan segera bersiap-siap.”


Jawab Dilan dengan patuh dan terlihat pula sang kakek puas akan jawaban Dilan tersebut.


Namun kemudian, dering telepon terdengar lewat telepon genggamnya.


Dilan ingin segera mematikan saja telepon genggamnya itu perkara palingan sang rekan seperdosaan hanya akan membicarakan hal yang tidak penting belaka, ditambah saat ini sang kakek sedang mengunjunginya.


Namun entah mengapa Dilan merasakan itu sebagai de javu, seolah dia akan menyesal jika tidak mengangkat telepon tersebut sekarang.


Dilan pun memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut setelah menerima izin dari sang kakek.


Toh dia dapat segera mematikannya begitu seandainya hanyalah obrolan tidak berguna yang akan dilontarkan oleh Jamet kepadanya.


Sayangnya, de javu itu benar terjadi.


“Dilan, Gawat! Kania kecelakaan!”


Seakan petir menyambar di kepala Dilan, Dilan kehilangan rasionalitasnya lantas bergegas ke rumah sakit yang diinfokan oleh Jamet kepadanya.


***


“Luka Anda sudah baikan kan?”

__ADS_1


Terlihat di salah satu kamar VIP rumah sakit itu, Kania mengkhawatirkan keadaan Cassian.


“Sudah kubilang luka segini bukan apa-apa bagiku. Perawatan Kania kemarin malam sudah lebih dari cukup sehingga seharusnya aku tak perlu datang ke rumah sakit lagi.”


“Tapi bagaimanapun kita harus memastikannya dengan lebih teliti lagi, siapa tahu bisa timbul tetanus perihal Anda terluka karena sabetan pisau tajam.”


Cassian tidak lagi membalas komentar Kania itu.


Dirinya terlalu lelah saat itu untuk bergerak hingga Cassian hanya berbaring di atas empuknya bantal rumah sakit.


“Tapi apa benar itu tidak mengapa? Mengapa Anda merahasiakan dari petugas rumah sakit bahwa luka Anda disebabkan oleh serangan seseorang? Jika seandainya saja Anda memberitahu petugas rumah sakit yang sebenarnya, kejadian ini pasti sudah akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib.”


“Daripada penjahat, wartawan itu lebih mengerikan, Kania.”


Cassian hanya menjawab pelan pertanyaan Kania itu dalam kondisi tubuhnya yang penuh dengan kelelahan.


“Lupakan itu, tapi bukankah Anda terlalu dermawan? Anda baru saja kena tikam, tetapi mengapa Anda malah menyumbangkan darah Anda pada ibu-ibu hamil barusan yang bahkan Anda tidak kenal?”


“Yah, itu karena golongan darah O- itu sendiri sangatlah langka sehingga kutahu pasti mereka akan kesulitan untuk menemukannya. Aku tahu itu karena hanya aku sendiri dan ibuku saja di keluarga kami yang memiliki golongan darah seperti itu. Dulu aku pernah mendengar cerita bahwa betapa kesulitannya ibuku mendapatkan transfusi darah karena kelangkaan darah itu. Kebetulan aku di sini, jadi sekalian saja aku membantu mereka.”


Suasana sejenak menjadi tenang.


Tidak terdengar lagi jawaban dari Kania mengomentari ucapannya.


Karena penasaran ada apa, Cassian pun yang sejak tadi hanya melihat ke awang-awang dalam keadaan lelah lantas melirik ke wajah Kania.


Rupanya tanpa sengaja pandangan mata mereka saling bertemu.


Itu sekilas membuat Kania merasakan sensasi yang aneh di jantungnya.


Dengan salah tingkah karena tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya, Kania pun membalas ucapan Cassian itu dengan komentar tak berguna seperti, “Ah, sayang ya aku tidak bisa ikut membantu soalnya golongan darahku itu B+, hahahaha.”


Tanpa mereka berdua sadari, rupanya di balik pintu ruangan itu, telah ada Dilan yang mengamati keharmonisan hubungan tiba-tiba mereka berdua.


“Paman, apa-apaan ini? Mengapa Paman menggoda wanita yang aku taksir?!”


Dengan marah Dilan berkata kepada sang paman yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu.

__ADS_1


__ADS_2