Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 28 – CINTA KELUARGA


__ADS_3

“Kamukah itu Dilan?”


Badan Kania gemetar.


Sekujur tubuhnya terasa panas dan sesak.


Wanita itu menatap Dilan yang masih terbaring pingsan dengan mata yang berkaca-kaca.


Ingatannya tumpang tindih antara Dilan kecil sang keponakan di masa lalu yang penurut dengan pemuda bertemperamen panas yang tidak ada sopan-sopannya sama sekali di hadapannya saat itu.


Tiada penjelasan lebih logis lagi karena semua bukti telah mengarah bahwa sang pemuda itulah keponakannya yang telah terpisah darinya sejak sebelas tahun silam.


Di saat itulah terdengar suatu suara langkah kaki.


“Cassian?”


Kania menatap seorang pria paruh baya dengan wajah nan tampan turut memasuki ruang gawat darurat pasien.


“Sudah kuduga kamu baru mengetahuinya.”


“Apa maksudnya itu, Cassian?”


“Aku berbicara tentang Dilan.”


Sontak mata Kania bolak-balik menatap antara Cassian dengan sosok pemuda yang sedang terbaring pingsan itu.


“Jadi benar dia adalah Dilan keponakanku.”


Tatapan Cassian padanya itu sudah jelas memberikan jawaban, namun Kania hanya ingin memperoleh jawaban konfirmasi yang memperjelas semuanya.


“Aku juga tak menyangka bahwa gadis barbar yang dahulu bertemu denganku yang lebih mementingkan konser girlband favoritnya daripada kesehatan keponakannya sendiri, itu kamu, Kania.”


“Itu karena Dilan terlalu pandai menyembunyikan penyakitnya saja! Terlebih aku sudah menantikan konser itu sekian lama karena di daerah kami saat itu hiburannya sangat kurang!”


Ekspresi pemuda itu datar, namun terlihat jelas bahwa dia menikmati pemandangan di mana Kania salah tingkah.


“Ehem. Lupakan apa yang barusan kukatakan. Jadi, Anda yang menemuiku waktu itu rupanya.”


Kania pun merogoh dompetnya. Dia mengeluarkan dua buah kartu nama dari dalamnya.


Satunya masih terlihat sangat baru, sementara yang lain terlihat sudah usang.


Namun baik yang baru maupun yang sudah usang ternyata sama-sama bertuliskan nama yang sama.


Cassian Lekata.


Baik pria paruh baya yang beberapa hari lalu memberikannya kartu nama, maupun pemuda masa lalu yang mengambil Dilan darinya dengan melemparkan sebuah kartu nama padanya, ternyata adalah orang yang sama.


“Aku sama sekali tak pernah menyangkanya. Takdir terkadang benar-benar lucu. Aku yang berusaha menyembunyikan diri dari keponakanku karena tak ingin membuatnya malu di hadapan keluarganya malah berakhir bertemu tak sengaja dengannya di pulau antah-berantah ini.”

__ADS_1


Cassian ingin mengatakan banyak hal kepada Kania terutama bahwa dia tidak perlu malu akan kemiskinannya karena baik dirinya maupun Dilan takkan pernah mempermasalahkan hal itu, namun sulit bagi Cassian menemukan kata-kata yang tepat untuk mengugkapkan isi perasaannya itu secara akurat.


Kemudian di saat itu pulalah tampak dua orang kakek-kakek turut memasuki ruangan.


Yang satunya terlihat jauh lebih tua daripada yang lain.


Sang kakek yang lebih tua tampak berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya dengan digopoh oleh sang kakek yang lebih muda.


“Oh, kamu kah yang telah menyelamatkan cicit tersayangku, Nona Muda? Aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu.”


Ujar sang kakek yang jauh lebih tua tersebut yang tidak lain adalah Andromeda Lekata, kakek buyut Dilan.


“Tidak. Anda tidak perlu berterima kasih. Sudah sewajarnya aku menyelamatkan Dilan karena dia adalah keponakanku.”


Kania berujar dengan tulus seraya tersenyum ramah kepada kedua kakek itu lantas pergi meninggalkan ruangan.


Kedua kakek tak dapat menahan keterkejutannya atas ucapan Kania tersebut, namun mereka terlihat belum memahami benar apa yang dimaksudkan Kania.


“Dia adalah bibi Dilan yang aku temui sewaktu menjemput Dilan, Kakek.”


Cassian-lah yang pada akhirnya mengungkapkan kebenarannya.


Cassian tidak menunggu komentar lanjutan dari sang kakek.


Dia dengan segera turut bergegas meninggalkan ruangan.


Itu karena Cassian tak dapat menahan rasa kekhawatirannya kepada Kania yang baru saja mendonorkan banyak darahnya di luar dari tubuhnya yang kurus kering itu.


Dan benar adanya, baru saja beberapa langkah meninggalkan ruangan, Kania tiba-tiba saja terjatuh lunglai.


Cassian dengan gesit memapah Kania yang tampak telah kehilangan hampir semua energi di dalam tubuhnya.


***


“Anda baik-baik saja?”


Tanya Cassian pada Kania sembari menyodorkannya air putih hangat.


Kania menerima air putih dari tangan Cassian itu lantas meminumnya, namun setelahnya ada jeda panjang sebelum dia menjawab pertanyaan Cassian.


“Aku baik-baik saja. Daripada itu, Cassian, tolong jujur sama aku, apa yang baru saja terjadi pada Dilan? Siapa yang telah menyebabkan semua kejadian ini?”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu, Kania. Sedari dulu, memang ada orang jahat yang selalu meneror calon pewaris Lekata Group. Baik aku dan Dilan telah berkali-kali hampir mati karenanya. Bahkan kakek dan nenek Dilan kemungkinan juga meninggal dengan alasan yang sama.”


Cassian menjawab dengan tulus.


Mata Kania seketika membelalak.


Dia pun segera melayangkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Cassian.

__ADS_1


“Kapan tepatnya itu semua mulai terjadi? Lantas bagaimana dengan ayah Dilan? Ke mana dia pergi sekarang?”


Cassian menghela nafasnya panjang kemudian tatapannya yang intens segera ditujukan kepada Kania.


“Kakek dan nenek Dilan sudah lama meninggal dunia bahkan sebelum Dilan terlahir ke dunia. Adapun untuk Kak Andrea, dia sebenarnya sudah meninggal dunia sewaktu aku menjemput Dilan dari Anda.”


“Apa? Jadi begitu rupanya. Pria bajingan yang menghancurkan masa depan kakakku itu telah lama menyusul Kakak.”


Kania tertawa kecut begitu mengetahui fakta itu sangat terlambat.


“Eh, tunggu!”


Namun kemudian Tatapan Kania yang biasanya lembut dan terkadang agak sedikit penakut, tiba-tiba saja membara dengan penuh amarah.


“Jadi Anda tahu bahwa nyawa Dilan akan terancam jika memasuki keluarga kalian, tetapi Anda tetap membawanya ke dalam?”


Wajah pria paruh baya itu datar, namun tetap nampak rasa bersalah yang mendalam dari ekspresinya.


“Waktu itu aku tidak punya pilihan lain selain mematuhi perintah Kakek dan Nenek untuk membawa Dilan, terlebih saat itu almarhum Nenek sedang sakit-sakitan. Tentu saja itu juga karena aku berpikir bahwa berada di dalam keluarga kami akan membuat Dilan lebih aman setelah keluarga kami mengetahui identitasnya perihal tiada yang menjamin bahwa orang yang selama ini mencelakai keluarga kami juga akan mengetahui informasi tersebut lantas hendak mencelakai Dilan di belakang.”


“Begitu rupanya. Aku juga paham…”


Namun belum selesai Kania berucap, matanya tiba-tiba sekali lagi gemetar.


“Tunggu dulu. Kata Anda tadi Anda juga mengalaminya? Jadi itu semua tidak hanya terjadi pada Dilan seorang, tetapi juga pada Anda dan bahkan telah merenggut nyawa ayah, kakek, dan nenek Dilan? Tetapi mengapa Dilan tidak pernah menceritakan bagian itu padaku? Justru dia bilang bahwa semua ini adalah akibat ulah Anda…”


Sekali lagi Kania tergagap.


Kali ini, itu karena dia menyadari baru saja mengatakan hal yang tak pantas.


“Ah, tentu saja aku tidak mempercayai kata-kata Dilan di bagian bahwa Anda-lah penyebabnya. Pasti Dilan hanya salah paham tentang Anda akan sesuatu.”


Kania menjawab dengan tegas.


Namun alih-alih membenarkan pernyataan Kania yang terakhir, Cassian justru lebih berfokus membahas sang kakak sepupu.


“Itu benar bahwa kakek dan nenek Dilan adalah korban penjahat yang sampai saat ini belum ditemukan identitasnya. Tetapi ayah Dilan meninggal bukan karena itu. Itu karena aku memberinya susu basi.”


Kania ingin bertanya-tanya tentang musibah apa yang sering dialami oleh Cassian akibat ulah sang penjahat misterius.


Apakah itu lebih hebat atau justru lebih remeh ketimbang Dilan, dan bagaimana Dilan justru mencurigainya sebagai pelakunya, apa yang menjadi penyebab hubungan antara Dilan dan Cassian menjadi tidak baik, banyak hal yang membuat Kania penasaran.


Akan tetapi, ucapan Cassian itu segera membuat Kania melupakan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Di masa lalu Dilan pernah berkata padanya.


“Tiada yang lebih jahat dari Paman Cassian. Bahkan ayahku juga telah dibunuh olehnya dengan diracun.”


Tentu saja waktu itu Kania belum mengetahui identitas Dilan yang sebenarnya adalah keponakannya, jadi dia sama sekali tak memiliki klu bahwa orang yang sedang mereka bicarakan adalah pemuda yang dulu telah menodai kesucian kakak tercintanya dan hanya mengangguk-angguk biasa terhadap semua isi curhatan Dilan padanya di hari itu.

__ADS_1


Tetapi kini, Cassian baru saja mengakui dosanya itu, membenarkan ucapan Dilan tersebut.


__ADS_2