Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 24 – SEMENTARA


__ADS_3

“Hah? Dilan, tampaknya telingaku agak terganggu sampai-sampai salah mendengarkan sesuatu. Pasti maksud Dilan, Dilan ingin tetap menjalin hubungan baik saja denganku kan untuk ke depannya?”


Kania seketika tergagap oleh lamaran Dilan yang datang begitu tiba-tiba.


Pandangan mata Dilan hanya lurus menatap wajah Kania dengan ekspresi keseriusan.


“Aku akan segera menjadi pria yang mapan lantas kembali ke sisi Bibi untuk kujadikan istriku.”


Rupanya Kania tidaklah salah dengar.


Dilan benar-benar baru saja mengutarakan hal terkonyol yang bisa dipikirkan oleh Kania.


Bagi Kania, Dilan hanya merupakan sosok adik imut yang dia senang jika bersamanya.


Namun bukan berarti ada cinta untuk lawan jenis di hati Kania untuk Dilan.


Entah itu insting, walau Kania belum mengetahui identitas sejati Dilan yang merupakan keponakannya sendiri, Kania tak pernah sekalipun memandang Dilan melebihi seorang adik imut di luar pesona ketampanan Dilan yang begitu luar biasa itu.


Oleh karenanya Kania saat ini sedang kesusahan.


“Anu, Dilan, kamu mengerti kan apa yang baru saja kau ucapkan?”


“Tentu saja, Bi. Jangan anggap aku lagi sebagai anak kecil. Kali ini, tataplah aku sebagai seorang pria.”


-Gluk.


Kania menelan ludahnya yang kering sembari menatap Dilan dengan pandangan gemetaran.


Dia sedang kebingungan.


Tentu saja Kania kebingungan bukan karena menimbang-nimbang untuk menerima cinta Dilan itu, melainkan sebaliknya, bagaimana dia akan menolaknya tanpa membuat Dilan sakit hati.


“Dengar ya, Dilan, umur kita itu beda jauh…”


“Kan sudah aku bilang kalau aku suka dengan wanita dewasa. Bibi benar-benar tipeku.”


Bahkan belum sempat Kania memberikan alasannya, Dilan sekali lagi menyerangnya dengan perkataan yang tak dapat disanggahnya.


“Itu… Tetap tidak boleh! Dilan pantas mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku!”


“Tiada lagi yang lebih pantas sebagai jodohku selain Bibi!”


“Dilan, aku ini seorang hostess. Apa menurutmu keluargamu akan menerimaku sebagai calon istrimu begitu saja?!”


“Aku tidak peduli dengan semua itu! Pasti akan ada jalan jika kita lewati ini bersama!”


Pada akhirnya Kania menyerah untuk beralasan.


Kania kehabisan kata-kata untuk dapat menggoyahkan keputusan Dilan yang bebal itu.


Sebagai senjata terakhirnya, Kania pun menggencarkan senjata terampuh yang dapat dilakukan oleh seorang wanita.


“Sudahlah, aku tak ingin dengar lagi perkataan konyol barusan! Kalau Dilan tetap ngotot, maka aku akan membenci Dilan untuk selamanya!”


Wanita selalu benar.


Sontak Dilan mematung mendengar komentar tanpa premis tersebut.

__ADS_1


Sebelum Dilan berkomentar lagi, Kania pun segera memaksa Dilan untuk pergi saja dari tempat tersebut.


Pada akhirnya, Dilan mematuhi keinginan sang bibi dan pergi sembari menggulungkan ekornya bahkan sebelum sempat berpamitan pada sang paman.


Akan tetapi, tanpa Kania ketahui, justru setelah penolakan itu, semangat di hati Dilan untuk merebut keperawanannya semakinlah menjadi-jadi.


Pemuda itu semakin dipenuhi oleh hawa nafsu.


***


Usai angin ribut yang dibawa secara tiba-tiba oleh pemuda bertemperamen panas itu mereda, Kania kembali ke sisi Cassian.


Cassian adalah penyelamat hidupnya.


Bagaimanapun, Kania tak dapat menyangkal apa yang baru saja Dilan katakan padanya.


Sebagai orang yang telah hidup lebih lama bersama dengan sang paman, tentunya Dilan akan lebih tahu sifat asli dari Cassian.


Dan melebihi apapun, Kania juga tahu bahwa ada saja orang di luar sana yang bersedia mengorbankan apapun demi meraih ambisinya walaupun itu dengan melukai dirinya sendiri.


Pertemuannya dengan Cassian yang sangat bertepatan dengan munculnya sosok pria jahat yang hampir saja mencelakainya itu terlalu kebetulan.


Akan lebih masuk akal jika berasumsi bahwa Cassian dan pria jahat itu saling bekerjasama untuk menarik simpati Kania.


Akan tetapi jika dipikirkan lebih seksama, untuk apa semua itu?


Apakah sosoknya benar-benar sepenting itu bagi Cassian nekat melukai dirinya sendiri demi menarik simpatinya?


Jika itu untuk mengacaukan Dilan, pasti akan ada lebih banyak jalan lain yang lebih efektif.


Oleh karena itu, Kania pula masih meragukan kecurigaan Dilan tersebut.


“Ah, Kania, kamu sudah kembali. Bagaimana pembicaraanmu barusan dengan Dilan? Pasti anak itu lagi-lagi menjelek-jelekkan pamannya ya.”


Sayangnya, bagaimana pun Kania melihat wajah Cassian yang tiba-tiba terasa polos tak berdosa itu setelah banyak berinteraksi dengannya, Kania sama sekali tak bisa membayangkan lagi bahwa dia orang jahat.


Ekspresinya memang selalu datar, tetapi instingnya mengatakan bahwa Cassian adalah orang yang baik.


“Begitulah. Lagi-lagi bocah itu mengatakan omong kosong jadi aku sedikit memarahinya.”


Pandangan mata Cassian segera menyipit begitu dia menyadari sesuatu.


Telah beberapa saat Kania masuk, namun tampak Dilan belum juga ikut masuk.


Cassian pun segera menanyakan, “Tapi di mana Dilan?”


“Itu… Katanya dia harus segera ke Surabaya hari ini. Makanya dia buru-buru pulang untuk berangkat sore ini juga.”


“Apa?”


Entah karena alasan apa, tetapi Kania tiba-tiba saja bisa merasakan urgensi datang dari ekspresi kepanikan Cassian tersebut.


Cassian yang beberapa saat lalu masih terbaring lemas di atas tempat tidurnya seketika bangkit lantas melepaskan sendiri cairan infusnya.


“Cassian? Apa yang Anda lakukan?”


“Maaf, Kania. Aku harus buru-buru pergi menyusul anak itu.”

__ADS_1


“Apa? Tapi mengapa?”


Mendengar suara khawatir Kania, Cassian segera menoleh kepadanya.


Cassian terdiam sejenak sebelum akhirnya berujar, “Ini bukan sesuatu yang mesti Kania khawatirkan karena aku pasti akan melindungi keponakanku itu dengan taruhan nyawaku sendiri.”


Tentu saja jawaban Cassian itu semakin membuat Kania kebingungan.


“Apa? Apa Dilan sedang dalam bahaya?”


Namun Cassian hanya menggelengkan kepalanya lantas tersenyum lembut kepada Kania.


Kania pun mengartikan itu sebagai jawaban tidak atas pertanyaannya barusan.


“Kania juga, jaga diri Kania baik-baik ya. Alangkah baiknya jikalau Kania keluar saja dari dunia malam itu karena bukankah Kania sudah punya pekerjaan halal yang lebih bagus saat ini? Walaupun gajinya lebih rendah, itu tentunya lebih menenangkan. Jika Kania butuh uang, mungkin aku bisa sedikit membantu. Ambillah ini.”


Ujar Cassian sembari menyodorkan kartu namanya kepada Kania.


Namun Kania menolaknya mentah-mentah.


“Tidak, Cassian. Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa menerima kebaikanmu. Itu karena kita belum terlalu dekat bagiku untuk kamu membantuku segitunya. Tetapi aku mengucapkan terima kasih karena Cassian telah memikirkanku. Aku pun berharap di pertemuan kita selanjutnya, aku bisa menjadi sosok yang lebih baik di matamu.”


Telah lama pula Kania ingin keluar dari dunia malam itu.


Satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah perihal gajinya yang besar.


Dengan gaji yang besar itu, dia dapat segera mengumpulkan uang yang cukup demi punya kebanggaan menemui keponakannya kembali yang kini telah kaya raya.


Namun telah lama Kania sadar, walaupun jumlah gajinya besar, tidak mungkin bahwa uang yang panas itu dapat mengabulkan keinginannya.


Uang yang panas hanya akan mengantarkan kepada kemudaratan.


Terbukti dengan dirinya yang bahkan dengan gaji besar sebagai hostess itu masihlah hidup melarat sampai sekarang perihal banyaknya kebutuhan mendadak yang mesti dikeluarkannya yang kebanyakan karena ulah pelanggan yang nakal semisal biaya rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya akibat serangan pelanggan ataukah biaya konsumsi obat-obatan penenang demi meredakan stres Kania menghadapi berbagai jenis pelanggan hidung belang tersebut.


“Begitu ya. Padahal aku ingin Kania lebih bergantung lagi padaku.”


“Apa?”


“Bukan apa-apa. Tapi alangkah baiknya jika Kania tetap memperoleh kontakku.”


Terlihat Cassian yang panik kemudian memaksa agar Kania tetap menerima kartu namanya itu sebelum akhirnya Cassian pun turut berpisah dengannya.


***


Tak disangka, pertemuan Cassian dengan Kania terjadi lebih cepat dari yang mereka duga.


Itu baru dua minggu sejak perpisahan terakhir mereka.


“Cassian?”


Dengan nafas yang terangah-engah, Cassian yang berdiri di hadapan Kania pun berujar, “Gawat, Kania, Dilan kecelakaan dan membutuhkan pertolonganmu. Bisakah kau ikut denganku segera?”


Berita itu terlalu datang tiba-tiba.


***


Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama.

__ADS_1


Dengan panik, Edo berujar, “Tidak, semoga aku tidak terlambat. Kumohon Kania, jangan jadi orang idiot dan masuk ke perangkap bajingan itu. Kumohon, jangan mau pergi dengannya karena dia berniat mencelakaimu.”


__ADS_2