Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 32 – WAS-WAS


__ADS_3

“Aduh, Cin! Mengapa masih muda begitu kamu penuh ketegangan? Santai saja, Cin. Om nggak akan makan kok, yang jelas di bawahnya nggak ikut tegang kan? Hehe.”


Kata pelayan itu sembari membari memegangi bahu Dilan yang tampak menegang.


Dilan tidak menghindar maupun menampik elusan hangat dari lady boy itu.


Wajahnya dipenuhi ketegangan.


Itu adalah perasaan asing yang baru pertama kali dirasakan oleh Dilan.


Dilan hanya mampu duduk tenang dengan waspada di kursi sembari penuh dengan tanda tanya di kepalanya.


“Bagaimana bisa?”


Bagaimana bisa orang yang sempat dengan sangar menahan nafsu kebengisan Dilan pada Kania beberapa waktu yang lalu ketika Dilan hendak memperkosa bibinya sendiri telah menjadi seorang lady boy yang ngondek.


Seakan kesangaran yang dirasakan oleh Dilan pada pria paruh baya sebelumnya itu hanyalah halusinasi belaka.


Keringat Dilan bercucuran.


Bukannya dia sedang capek atau sakit.


Ya, bisa dibilang kalau Dilan saat ini sedang capek.


Capek mental tepatnya.


Dia hanya bisa memasrahkan bahunya dibelai-belai dengan aneh oleh sang lady boy karena tak ingin wibawanya di hadapan wanita yang ditaksirnya yang tidak lain adalah bibinya sendiri itu jatuh.


Pandangan Dilan seketika tertuju kepada sang bibi yang sedang asyik melayani sang paman di meja lainnya.


Tangan Dilan menegang karena penuh amarah kecemburuan melihat kemesraan paman dan bibinya itu hingga hampir saja memecahkan gelas yang ada di tangannya.


“Cin, kok tegang begitu. Jangan tegang-tegang gitulah atau kamu akan terluka.”


Jika saja bukan sang lady boy-lah yang menarik perhatian Dilan ke arah yang lain.


“Itu… Sejak kapan pamanku jadi dekat dengan Bibi Kania?”


“Hmm. Mungkin sejak insiden di mana Kania hampir tertusuk itu ya. Pria bajingan yang melindunginya mungkin terlihat seperti pangeran berkuda putih yang berkilauan di matanya.”


“Pria bajingan?”


“Ah, aku baru ingat kalau dia itu pamanmu ya, Cin. Maaf, bukannya Om bermaksud kasar, tapi Om hanya tidak bisa percaya pada musang yang terlihat banyak menyembunyikan kejahatan itu.”


“Sepakat.”


“Hmm? Maksudnya?”


“Bukan apa-apa, aku hanya berkata saja.”


Terjadi diam yang lama di jeda obrolan mereka sebelum akhirnya Edo kembali memecahkan keheningan itu.


“Aku sudah dengar detailnya dari Kania, katanya kamu ini keponakan yang selama ini terpisah darinya kan? Itu sebabnya Om tidak akan menganggap kamu sama dengan pria bertampang bajingan itu, jadi tenang saja.”

__ADS_1


Ucap Edo seraya menatap Dilan dengan senyum yang disertai dengan pandangan yang intens, tapi bagaimana pun Dilan melihatnya, dia hanya tak dapat menahan rasa mualnya.


Satu yang luput dari perhatian mereka semua, ada seseorang yang selama ini telah mengamati mereka dari jauh, tentang bagaimana kedekatan hubungan Dilan dan Cassian terhadap Kania.


Dialah sang mastermind sebenarnya dari kemalangan Dilan selama ini sekaligus yang melakukan beberapa teror kepada Kania sebelumnya beberapa waktu yang lalu.


Dialah Alex Lekata.


***


Di malam yang indah namun belum terlalu larut sekitar pukul 7 sampai 8 itu, terlihatlah sepasang sejoli memasuki kompleks mal yang indah.


Itu adalah jam pulang kantor, waktu terbaik bagi para pekerja keras untuk menikmati waktu senggang mereka sejenak sebelum beristirahat di rumah.


Mereka adalah Cassian dan Kania.


“Aku jadi tidak enak meninggalkan Dilan seperti itu barusan.”


Ujar sang wanita sembari menatap sekeliling pemandangan yang indah.


“Dilan masih punya banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikannya, jadi tidak ada waktu baginya buat dia main-main.”


Kania paham benar apa maksud jawaban Cassian itu.


Sebagai calon pemimpin perusahaan yang nantinya akan mewarisi Lekata Group, sudah seharusnya Dilan bekerja lebih keras dari yang lain.


Kania tak ingin menghalangi jalan kesuksesan keponakannya itu sehingga dengan berat hati, dia pun bersama Cassian meninggalkannya untuk bersenang-senang hanya dengan mereka berdua.


Sebenarnya ini bukanlah pertama kali bagi mereka berdua untuk jalan-jalan.


Kania pun tak masalah dengan itu.


Baginya, berteman baik dengan paman sang keponakan bukanlah hal yang buruk.


Kania ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Cassian.


Mungkin dengan demikian, dia bisa lebih membantu Dilan dalam kesusahannya.


Musibah-musibah beruntun yang selama ini terjadi pada Dilan dan orang-orang di sekitarnya.


Bagaimana pun Kania memikirkannya, itu pastinya bukanlah suatu kebetulan belaka.


Terlebih, orang yang sempat hampir menikamnya jika tidak diselamatkan oleh Cassian beberapa waktu lalu, juga terlibat pada kecelakaan mobil sewaktu perjalanan Kania menuju rumah sakit tempat Dilan dirawat yang juga habis mengalami kecelakaan.


Semuanya pastilah ulah rekayasa seseorang.


Namun Kania hanya tidak bisa memikirkan siapa calon tersangkanya.


Satu hal yang pasti, itu bukanlah Cassian.


Mana mungkin pria selembut itu di matanya bisa berbuat setega itu pada keponakannya sendiri.


Walaupun Dilan mencurigai Cassian, lubuk hati Kania mengatakan bahwa pasti itu bukanlah Cassian.

__ADS_1


Itulah sebabnya kini Cassian menjadi orang yang paling Kania percayai untuk menjadi rekannya dalam melindungi Dilan, terlebih Kania telah mengetahuinya bahwa Cassian juga sangat tulus ingin melindungi Dilan.


“Hei, Cassian. Tidakkah sebaiknya kamu sekarang memberitahuku apa yang sebenarnya telah terjadi pada kecelakaan mobil itu? Itu begitu heboh terjadi, tetapi beritanya sama sekali tidak muncul baik di TV maupun di surat kabar. Apa ini ada kaitannya dengan pesaing-pesaing Dilan sebagai calon pewaris di perusahaannya?”


Cassian telah melihat tekad kuat Kania dalam melindungi keponakannya itu.


Kania bahkan sampai jauh-jauh nekat pindah dari Kota Makassar ke Kota Surabaya demi melindungi sang keponakan di luar sepengetahuannya.


Cassian paham benar bagaimana watak keras kepala Kania.


Itulah sebabnya alih-alih mengusirnya untuk kembali ke Makassar, akan lebih aman baginya untuk terus menjaganya secara langsung di sisinya.


Cassian percaya bahwa itulah cara teraman untuk melindungi Kania.


Tidak, walaupun itu tidak sepenuhnya salah, namun itu pastinya kebanyakan dipengaruhi oleh hasrat birahi pemuda yang telah membujang selama 32 tahun itu saja.


Walau demikian, mana mungkin Cassian akan membuat wanita yang dicintainya itu berada dalam bahaya.


“Entahlah, Kania. Itu juga masih diselidiki oleh keluarga kami.”


“Lantas mengapa berita itu dirahasiakan ke publik?”


“Itu sudah merupakan hal yang wajar karena jika beritanya tersiar bahwa calon pewaris utama Lekata Group ditimpa kasus percobaan pembunuhan, itu akan menurunkan harga saham kami.”


“Tapi Dilan kan tidak salah apa-apa? Mengapa dia yang jadi korban, tetapi dia yang menerima dampaknya?”


“Ada mekanisme pasar yang melibatkan probabilitas yang tergantung pada tingkat kepercayaan publik. Itu adalah ilmu ekonomi yang rumit, jadi aku rasa Kania tidak akan tertarik mendengar detailnya kan?”


“Duh, kamu ini…”


Kania kemudian hanya dengan cemberut membuang mukanya sembari menunjukkan emosi yang wajar.


Namun entah mengapa pria yang biasanya berekspresi datar seakan tak mungkin pernah jatuh cinta itu, bisa paling tahu bagaimana melelehkan hati wanita yang ada di hadapannya.


“Kania, coba lihat ke sana?”


“Apaan? Bioskop? Aku sedang tak mood untuk menonton, Cassian.”


“Bukan, tapi di sebelahnya?”


“Di sebelahnya? Wah, indahnya. Tak kusangka permainan ini akan ada di Indonesia.”


“Ayo, Kania. Kita juga mencobanya.”


“Tapi, Cassian. Aku tak pandai main ice skating. Kata Edo itu permainan yang sulit karena mudah membuat orang tergelincir kalau tidak bisa menjaga keseimbangannya.”


“Kania biasa naik sepeda?”


“Kalau itu tentu saja.”


“Maka permainan ice skating pun pasti mudah buat Kania.”


“Eh? Emang ada hubungannya? Eh, tunggu, Cassian!”

__ADS_1


Demikianlah Cassian pun menarik paksa Kania di lengannya dan dalam sekejap wanita itu kembali ceria.


__ADS_2