
Tiada yang dapat menggambarkan bagaimana ketakutan Kania kala itu.
Baginya, walaupun Cassian bertampang menyeramkan dan kaku, dia adalah pria yang baik.
Kecurigaan Dilan pada pamannya sendiri mau tak mau ikut membuat Kania berpikiran negatif pada pria yang ada di hadapannya saat itu.
Namun, pria itulah sendiri yang baru saja mengakui kejahatannya.
“Sedari kecil Kak Andrea adalah orang yang ceroboh, tetapi dia adalah pria yang supel. Kedua orang tuanya meninggal dunia sedari kecil sehingga baik ayah dan ibuku pun sangat menjaga Kak Andrea sudah seperti anak mereka sendiri. Begitu pun aku, kedua orang tuaku tak pernah sekalipun berhenti mengingatkanku untuk menjaga Kak Andrea dengan baik.”
“Tapi karena kekurangcakapanku, berkali-kali Kak Andrea kabur dari pengawasanku lantas mengalami beragam kecelakaan itu.”
Seketika terlintas di benak Kania berbagai kecelakaan maut yang sempat diceritakan oleh Dilan yang dulu selalu hampir merenggut nyawa ayahnya itu.
Tentu saja di kala itu Kania belum mengetahui bahwa pria yang diceritakan oleh Dilan itulah yang ternyata telah merenggut kesucian sang kakak tersayang.
Mulai dari peristiwa pemboman, perahu rusak, kebakaran, jatuh dari kuda, dan masih banyak lagi lainnnya, namun lucunya Dilan mengatakan bahwa ayahnya itu masih dapat selamat berkat keberuntungannya.
Akan tetapi satu hal yang tak dibahas oleh Dilan, yakni bagaimana cara ayahnya itu meninggal dunia.
Dilan hanya selalu mengatakan bahwa itu semua karena perbuatan pamannya.
“Bahkan Dilan yang sewaktu kecil yang sering menuruti nasihatku seketika membenciku begitu mengetahui fakta bahwa akulah penyebab kematian ayahnya.”
Kania mencoba menenangkan pikirannya atas Cassian yang kala itu tiba-tiba saja berada dalam keadaan emosional.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi, Cassian? Apa yang sebenarnya telah Anda lakukan pada ayah Dilan sehingga Anda mengatakan telah membunuhnya dengan meracuninya dengan susu basi?”
“Kala itu Kak Andrea sedang mabuk berat, tapi karena kupikir kami telah berada di rumah, kami aman sehingganya aku menjadi lengah dan pergi ke kamar mandi. Di saat itulah Kak Andrea tanpa sengaja menemukan susu basi di dalam kulkas lantas meminumnya. Lalu musibah itupun terjadi.”
“Apa?”
Kania menganga atas cerita yang baru saja diungkap oleh Cassian kepadanya.
“Mengapa sampai ada susu basi di dalam kulkas?”
Namun sebelum pertanyaan Kania itu terjawab,
“Bibi!”
Sebuah panggilan tiba-tiba saja ditujukan kepadanya.
Pemuda kasar itu dengan tertatih-tatih memasuki ruangan lantas segera mendorong pamannya sendiri menjauh dari tempat tidur di mana Kania terbaring lemah di tengah keadaannya yang juga masih mengenakan infus.
“Dilan, kamu jangan banyak bergerak. Nanti darahmu bisa keluar ke infus.”
“Diam! Jangan sok-sokan menasihatiku deh, Paman! Urus sendiri urusan Paman! Dan satu hal lagi, jangan pernah dekat-dekat lagi dengan Kennie!”
“Dilan, kamu tenanglah.”
__ADS_1
Di kala Kania terbaring di rumah sakit seusai anemia karena menyumbangkan terlalu banyak darah, Dilan telah siuman dan dengan cepat kondisi kesehatannya telah pulih bahkan sebelum lewat sehari.
Namun, di saat pemuda itu mengetahui bahwa bibinya-lah yang telah menyumbangkan darahnya demi menyelamatkan nyawanya bahkan sampai sang bibi sendiri jatuh pingsan karena anemia, betapa dia merasa bersalah.
Oleh karena itu, senyum Kania itu sangatlah berarti baginya.
“Ah, maafkan aku karena telah mengganggu istirahat bibi. Tapi bagaimanapun aku tidak ingin melihat Bibi dekat-dekat dengan bajingan itu.”
“Dilan! Apa yang kamu barusan katakan pada pamanmu sendiri?! Uhuk… Uhuk…”
Kania berteriak cukup keras sehingga tenggorokannya yang memang sudah kering itu menjadi serak.
“Ah, Kania, kamu minumlah ini sebentar.”
“Terima kasih, Cassian.”
Dalam sekejap, Dilan bisa merasakan nuansa itu.
‘Ada apa ini? Mengapa bibiku tiba-tiba saja seakrab ini dengan si paman bajingan?’
Tidak henti-hentinya Dilan menggumamkan pikiran itu di dalam sanubarinya.
Pemuda itu pun marah.
Namun dia menahan amarahnya.
Dia pun dengan nada yang pelan, menyuruh pamannya itu untuk keluar.
“Paman keluar saja. Biar aku yang mengurus Kennie.”
Tanpa mengeluarkan ekspresi sama sekali atau mengomentari ucapan Dilan barusan, justru Cassian-lah yang segera menyeret Dilan keluar.
“Hei, apa yang Paman lakukan?!”
“Kania butuh istirahat. Di samping itu, coba lihat luka-luka kamu sendiri. Apa kamu ingin membuat beban pikiran bibimu bertambah?”
Cassian terlihat natural dalam mengatakannya sehingga Dilan pun gagal menotice di bagian di mana Cassian memanggil Kania sebagai bibi Dilan.
“Lepas! Aku bisa jalan sendiri.”
Dilan lantas melepaskan tangan Cassian itu dari lengannya lantas dengan langkah yang tertatih-tatih, dia dengan kakinya sendiri kembali ke ruangannya.
Cassian yang tak kalah khawatirnya dengan kesehatan Dilan akhirnya memutuskan untuk mengikutinya di belakang setelah berpamitan dengan Kania.
Setelah Cassian keluar, barulah Kania menyadari bahwa ada satu pertanyaannya yang belum Cassian jawab.
Namun masih akan banyak waktu bagi dirinya bersama Cassian lagi sehingga Kania pun berpikir bahwa dia bisa menanyakannya lain kali.
***
__ADS_1
Sementara itu di ruang rawat inap Dilan.
“Apa? Apa yang baru saja Paman katakan?”
“Aku minta maaf karena sama sekali tak mengenali bibimu, Dilan. Tapi itu juga salahmu. Mengapa kamu tidak terus terang saja pada Paman? Apa jangan-jangan kamu masih berpikir bahwa Paman akan melukai orang-orang tersayangmu?”
“Apa maksudnya itu, Paman?”
Mendengar Dilan tak memahami ucapannya, Cassian hanya mengembuskan nafas panjang.
“Jadi maksudku, kamu selama ini dekat-dekat dengan Kania bahkan berulang kali mengatakan kepada keluarga bahwa dia adalah calon istrimu karena kamu sudah tahu bukan, bahwa dia itu bibimu?”
“Bibi apa?”
“Paman sudah tahu identitas Kania yang sebenarnya. Dia adalah bibi yang merawatmu sewaktu kecil kan?”
Seketika pandangan mata Dilan gemetar.
“Apa? Jadi Paman sudah tahu? Bagaimana? Apa Paman lagi-lagi menyelidiki orang-orang yang dekat denganku?!”
Seketika pemuda kasar itu marah.
Dia membentak dengan nada suara yang begitu menggelegar.
“Sudah berkali-kali Paman katakan bahwa itu semua Paman lakukan demi menjagamu. Namun sekarang, itu bukanlah suatu hal yang penting lagi, bukan? Awalnya kukira bibimu itu adalah orang yang materialistis dan akan membawa pengaruh yang buruk bagimu. Tetapi setelah mengenalnya, aku sadar bahwa aku telah salah menilainya. Setelah dipikir-pikir, kini aku merasa bersalah pada Kania, mengapa waktu muda dulu, aku bisa berkata kasar seperti itu padanya.”
Mengabaikan Cassian yang mengingat kenangan nostalgianya dulu sewaktu pertama kali bertemu dengan Kania, Dilan mengatupkan giginya dengan marah sembari mengepal bagian tangannya yang tak terinfus kuat-kuat.
“Menjaga? Hah! Bukankah itu lebih tepat dikatakan mengawasi agar Paman bisa membungkamku untuk selamanya?”
“Dilan!”
“Padahal sudah kukatakan bahwa aku tak tertarik dengan harta Kakek Buyut. Aku bisa dengan murah hati menyerahkan hak warisku kepada Paman selama Paman berjanji takkan pernah lagi mengganggu hidupku. Tapi kini sudah berbeda, Paman. Aku salah menilai keserakahan Paman yang sampai-sampai juga melibatkan Bibi dalam masalah ini. Mulai sekarang, aku berjanji akan menghancurkan hidup Paman jika sampai Paman berani menyentuh Bibi. Camkan itu, Paman. Ini peringatan terakhir dari keponakan yang selama ini Paman pandang lemah.”
Dilan mengatakan dirinya sendiri lemah, namun baik pandangan mata maupun bahasa tubuhnya sama sekali tidak mengatakan demikian.
“Sudah kubilang, bukan aku pelakunya, Dilan…”
Cassian ingin berkilah, namun ketika menatap pandangan mata tajam dari Dilan, dirinya tiba-tiba saja sudah kehilangan niatnya lagi.
“Lakukan saja sesukamu. Toh dia itu bibimu, jadi aku yakin dia takkan berbuat macam-macam padamu.”
Setelah mengatakan itu, Cassian pun hendak meninggalkan ruangan.
Namun perkataan Dilan selanjutnya tak dapat dia abaikan.
“Baguslah kalau begitu, Paman. Kukira kau juga jatuh cinta dengan, Bibi. Pokoknya hanya akulah suami yang pantas buat Bibi Kania. Hanya akulah yang pantas membahagiakannya.”
Cassian pun segera berbalik badan ke arah Dilan kembali dengan pandangan yang terkejut.
__ADS_1