
“Di mana aku pernah melihat ini sebelumnya?”
Di kamar kost-annya yang sempit itu, terlihat Kania sedang mondar-mandir sembari memegang sebuah kartu nama.
Itu adalah kartu nama yang bertuliskan nama Cassian Lekata di dalamnya.
Kania merasa pernah melihat kartu nama itu di suatu tempat sebelumnya.
Sayangnya, bagaimanapun dia memutar otaknya yang pendek itu, dia tetap tak mampu mengingatnya.
“Kania, ayo pergi makan. Makanannya sudah siap.”
Panggilan dari Edo pun segera membuyarkan segala pikiran Kania yang mencoba menemukan secuil ingatannya tersebut terhadap kartu nama itu.
Pada akhirnya, Kania hanya menaruh kartu nama itu di celah tersempit dompetnya yang panjang lantas keluar tanpa rasa bersalah untuk segera memenuhi panggilan perutnya yang sedari tadi telah keroncongan oleh bau masakan Edo yang kelezatannya hampir setara dengan seorang koki terkenal itu.
Tanpa disadarinya, Kania tepat menaruh kartu nama itu di atas sebuah kartu nama lain yang telah dijaganya selama lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Tidak, sejatinya kedua kartu nama itu adalah sama.
Itu karena kedua kartu nama itu bersumber dari orang yang sama.
Kania yang kikuk gagal menyadari bahwa perasaan familiar yang dirasakannya itu karena kartu nama yang diterimanya dari Cassian sehari sebelumnya tersebut adalah kartu nama yang sama yang diterimanya sebelas tahun yang lalu dari seseorang yang telah membawa pergi Dilan dari sisinya untuk selamanya.
Kembali ke ingatan sebelas tahun yang lalu, usai Cassian membawa pergi Dilan dari Kania, Cassian juga menitipkan sebuah kartu nama kepada Kania dengan harapan Kania akan kembali menghubunginya untuk menerima kompensasi uang sebesar satu milyar rupiah atas jasa-jasanya telah merawat Dilan selama sembilan tahun itu sesuai permintaan dari Kania sendiri sebelumnya.
Sayangnya sedari awal, Kania tidak pernah bermaksud untuk menerima kompensasi apapun.
Dia dengan kasar mengatakan itu kepada Cassian sebelumnya hanya untuk menguji kemampuan finansial keluarga dari pihak ayah Dilan.
Akan jadi masalah jikalau hidup Dilan justru akan bertambah sengsara ketika mengikuti sang pihak keluarga ayahnya.
Akan tetapi, jangankan kemampuan ekonomi, kekuatan finansial keluarga Lekata di mana ayah Dilan berada ternyata jauh melebihi imajinasi Kania.
Mereka adalah keluarga konglomerat sehingga Kania tentunya takkan lagi perlu mengkhawatirkan soal Dilan yang hidup menderita jika dirawat oleh pihak keluarga ayahnya.
Kania sama sekali tak berniat mengambil kompensasi itu perihal itu sama saja artinya dia telah menjual Dilan.
Bagi Kania, Dilan takkan mungkin tergantikan walaupun uang itu sebesar satu milyar sekalipun.
Ditambah tentunya pihak keluarga sang ayah akan semakin meremehkan Dilan jikalau bibinya menjualnya hanya demi uang.
Kania pun memilih untuk menghilangkan jejak dari Dilan untuk selamanya tanpa berkata apa-apa.
***
“Bibi. Aku pasti akan bekerja keras untuk membawa Bibi kembali.”
__ADS_1
Sementara itu, Dilan yang telah kembali ke pekerjaan lamanya untuk mengelola kantor pusat Lekata Group di Surabaya, bekerja dengan giatnya dengan harapan dia akan mampu segera kembali hidup bahagia bersama dengan bibinya.
Tentu saja kali ini bukan sebagai pasangan bibi dan keponakan biasa, melainkan sebagai pasangan suami dan istri yang dipenuhi oleh nafsu birahi.
“Senang melihatmu semakin rajin bekerja, Nak Dilan.”
“Ah, Paman!”
Terhadap ucapan pamannya itu, Dilan tersenyum semringah.
Tentu saja paman yang dimaksud bukanlah Cassian, melainkan pamannya yang lain yang bernama Alex Lekata.
Andromeda Lekata, perintis perusahaan Lekata, memiliki tiga orang putra, yakni anak pertama Andy Lekata, anak angkat yang diangkatnya menjadi anaknya sebelum istrinya melahirkan sendiri buah hati mereka yang sesungguhnya.
Kemudian dari rahim sang istri tercinta, Andromeda Lekata memperoleh anak kedua dan ketiga mereka yang dia namakan sebagai Andrio Lekata dan Cassino Lekata.
Andrio Lekata adalah kakek Dilan yang telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis bahkan sebelum Dilan dibuat.
Adapun Cassino Lekata yang saat ini memimpin perusahaan cabang Group Lekata yang paling menghasilkan uang terbesar di perusahaan mereka di Jakarta yang terlihat amat menyayangi Dilan sejatinya adalah ayah Cassian.
Lalu Alex Lekata sendiri, paman Dilan yang lain, adalah anak dari Andy Lekata yang berasal dari buah hati pernikahannya yang gagal bersama dengan mendiang istri yang telah diceraikannya sebelum wafat.
“Kamu tidak usah bekerja sekeras itu, Nak. Jikalau ada masalah, kamu bisa mengonsultasikannya pada Paman.”
“Hehehe, Paman memang yang terbaik. Tapi tak mengapa, Paman. Soalnya Dilan harus menyelesaikan ini sendiri.”
Dengan senyum lembutnya, Alex pun mengusap-usap kepala Dilan tampak bangga dengan keponakannya yang bekerja keras.
Sayangnya, baru dua minggu setelah berpisah dari Kania, Dilan sudah tak dapat membendung rasa rindunya itu.
Dia pun di hari minggu yang kedua setelah berpisah dengan Kania itu, datang kembali berlibur ke Makassar untuk menemui sang bibi tercinta setelah menuntaskan berbagai pekerjaan mendesak yang harus diselesaikannya.
Semuanya seharusnya akan berjalan baik-baik saja.
Dilan pergi menemui sang bibi bukan berarti dia menelantarkan pekerjaannya.
Dilan telah mengurusi segala pekerjaan yang dateline-nya telah dekat hingga tuntas sebelum pergi menemui sang bibi.
Akan tetapi, musibah yang tak diduga-duganya itu pun akhirnya terjadi.
Kecelakaan-kecelakaan aneh yang selama ini menimpa Dilan yang belakangan tak pernah lagi terjadi, kini tiba-tiba saja hadir tanpa peringatan sedikit pun.
Mobil yang dikendarai Dilan dari bandara menuju kediaman sang bibi baru saja terbalik setelah menghindari tiga mobil yang melaju liar di jalan tol.
Untung saja mobil yang dikendarai oleh Dilan adalah mobil tipe luar negeri yang memiliki perangkat busa pelindung benturan ketika terjadi kecelakaan, ditambah Dilan saat itu mendengarkan nasihat bibinya dengan baik untuk selalu mengenakan sabuk pengaman di mana pun dia berkendara.
Alhasil, nyawa Dilan berhasil terselamatkan.
__ADS_1
Hanya saja…
Pendarahan Dilan cukup parah hingga dia kehilangan cukup banyak darah.
“Apa? Stok darahnya habis?! Bagaimana bisa stok darah di semua rumah sakit di kota ini tiba-tiba saja habis, hah?!”
“Maafkan kami, Pak. Kami juga tidak tahu-menahu terhadap hal itu. Stok darah B+ memang sedang kosong saat ini di palang merah Kota Makassar. Ini adalah kota kecil, jadi wajar saja jika terjadi kekosongan stok darah.”
“Itu bukannya darah langka, mengapa stoknya bisa sampai habis di mana-mana, hah?!”
“Percuma juga Bapak mengeluh saat ini. Kami saat ini sudah menghubungi palang merah dari kota lain, berharap mereka ada stok. Jika memungkinkan, mungkin dari pihak keluarga ada yang bergolongan darah sama dengan pasien yang dapat menjadi pendonor darah.”
Alex, sang paman Dilan selain Cassian, terlihat penuh emosi memarahi petugas rumah sakit yang membiarkan keponakannya itu terbaring terinfus tak berdaya tanpa diberikan transfusi darah yang diperlukannya segera demi pemulihannya.
“Tidak, bagaimana ini bisa terjadi? Oh, Tuhan! Apa yang akan terjadi dengan cicitku yang malang itu? Kumohon jangan kau ambil dia seperti kau mengambil ayahnya. Hiks… Hiks…”
Terlihat sang pria tua renta menangis pilu di samping Dilan meratapi sang cicit yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakitnya.
Dialah Andromeda Lekata, perintis perusahaan Group Lekata.
“Ayah, tenanglah. Pasti semuanya akan baik-baik saja.”
Di sampingnya, sang anak angkat tampak berusaha menyemangati sang ayah yang tengah dilanda depresi tersebut.
Dialah Andy Lekata, ayah Alex.
Sayangnya, di antara ketiga yang hadir di rumah sakit itu setelah mengetahui kabar kecelakaan Dilan, tak ada yang sanggup berbuat apa-apa perihal di antara keluarga Lekata, hanya Andrea Lekata, ayah Dilan, beserta Ibu Andrea, istri Andrio Lekata-lah yang memiliki golongan darah B+, yang sama dengan Dilan tersebut.
Namun sayang beribu sayang, keduanya telah almarhum sejak lama.
Itulah sebabnya sang kakek buyut menangis pilu dengan putus asa.
“Mengapa ini selalu terjadi pada keturunanku? Mengapa para keturunanku harus meninggal satu-persatu meninggalkan pria tua renta ini lebih dulu dari dunia ini? Apakah ini hukuman karena perbuatan jahatku di masa lalu?”
“Ayah, tenanglah. Rumah sakit juga pasti sedang mencarikan jalan keluarnya.”
“Bagaimana ini bisa terjadi pada keturunanku? Bahkan kekayaan yang telah kukumpulkan selama ini tidaklah membantu? Hiks… Hiks…”
“Ayah, kumohon, tenanglah!”
“Bagaimana aku bisa tenang setelah semua apa yang terjadi?! Bagaimana dengan Cassino?! Apa dia sudah menghubungi relasi bisnis rumah sakit kita di Jawa?”
“Iya, Ayah. Aku yakin Cassino sudah mengurusnya dengan baik.”
“Lalu bagaimana dengan anak nakal Cassian itu? Kudengar dia juga ada di Makassar saat ini. Lantas apa yang dilakukannya sekarang ketika keponakannya sedang terancam nyawanya?!”
Sayangnya baik Andy maupun Alex tak ada satu pun yang mampu menjawab pertanyaan sang pria tua renta yang sebentar lagi akan memasuki usia 90 tahunnya itu.
__ADS_1
Itu karena keberadaan Cassian Lekata tiba-tiba saja menghilang dari radar mereka.