
Terlihat empat mobil hitam berlari liar di sepanjang garis tol dari Jalan Reformasi menuju bandara.
Itu adalah Kania dan Cassian yang sedang berjuang melarikan diri dari para pengejar mereka yang mengenakan senjata.
-Dor.
Itu bukanlah di Amerika, melainkan sebuah kota kecil bernama Makassar, tetapi baru saja seseorang mengeluarkan tembakan yang seketika membuat panik para pengendara lainnya.
Sebuah palang tol menghalangi, namun dengan sigap Cassian menerobos penghalang itu demi kabur dari para pengejar.
-Dor, dor, dor.
Satu-persatu peluru mengenai badan mobil Cassian, mulai dari ban hingga pada kaca mobilnya.
“Aaaahhh.”
Mengalami kejadian mengerikan itu, Kania tak dapat lagi menahan ketenangannya lantas berteriak sejadi-jadinya.
“Tenanglah, Kania. Kita pasti berhasil kabur dari mereka.”
Namun ternyata mobil yang dikendarai Cassian itu bukanlah mobil sembarangan.
Baik ban maupun kacanya adalah anti peluru yang menyebabkan walaupun itu terkena tembakan, itu tidaklah tertembus.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Cassian? Kukira mereka itu rekanmu?”
Mendengar pernyataan Kania yang polos itu yang selama ini mencurigainya sebagai seseorang di balik pelaku yang merekayasa kenaasan Dilan, Cassian hanya menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya.
Seakan dia tidak berdosa.
Tidak, apa mungkin selama ini, itu hanya kesalahpahaman Dilan belaka?
Kania pun mulai menyangsikan segalanya.
“Mereka sudah sedari tadi mengikuti kita, makanya itu sebabnya aku memutar balik ke arah tol demi menghindari macet. Tak kusangka mereka lihai juga ternyata.”
-Sreeeet.
“Ah, Cassian!”
Itu bukanlah saatnya Cassian untuk menjelaskan perihal salah satu di antara ketiga mobil mulai berhasil menyalipnya lantas berada di samping mobil mereka.
Syukurlah di dalam mobil itu hanya ada seorang pengemudi saja yang dengan artian orang di dalam itu haruslah menyetir sembari menembakkan senjata seorang diri.
Memanfaatkan pegangan sang penjahat yang lengah dari setir kemudi perihal di tangan satunya dia memegang senjata bersiap menembak mereka, tanpa diduga-duga sang penjahat, Cassian pun melakukan overflipped dengan membentuk sudut 135 derajat yang membuat sang penjahat tersentak.
Sang penjahat dengan kikuk mengerem yang justru itu membuat mobilnya tidak stabil dan akhirnya terbalik.
Mobil terbalik mengenai mobil salah satu penjahat lainnya, sementara mobil penjahat yang terakhir terhalang lajunya oleh dua mobil pendahulunya yang terlibat kecelakaan.
Para mobil patroli polisi yang akhirnya tiba di lokasi kejadian akhirnya semakin mengunci pergerakan dari para penjahat tersebut.
Alhasil, Kania dan Cassian pun berhasil kabur dari mereka.
“Cassian, mobil patroli polisinya mengejar.”
“Tenang saja, aku bisa menjelaskannya nanti kepada mereka. Yang jelas kita harus segera sampai ke rumah sakit di mana Dilan dirawat.”
__ADS_1
“Ah, aku mengerti. Tapi…”
Cassian dibuat bingung oleh ekspresi Kania yang seakan ingin mengatakan sesuatu yang penting, namun segera diabaikannya.
Namun tak butuh waktu lama bagi Cassian untuk memahami hal tersebut.
Tidak selamanya apa yang disarankan oleh AI tercanggih sekalipun tepat sasaran.
Cassian tidak mengetahuinya, namun sebagai seseorang yang telah tinggal di kota itu selama sebelas tahun lamanya, Kania lebih mengetahui bagaimana jalan yang hendak dituju oleh Cassian tersebut.
Begitu Cassian akan keluar dari jalan tol menuju ke Jalan Parangloe, mereka pun terjebak macet.
Terlihat hanya Cassian yang kaget dengan hal itu.
Itu sama sekali tak diduganya karena baik di Surabaya tempat tinggal kakeknya maupun di Jakarta di mana dia selalu bekerja, tak pernah sekalipun yang namanya poros jalan tol itu macet.
Namun kini Cassian baru saja terlibat macet.
Melihat ekspresi Kania, Cassian pun segera menyadari bahwa itu bukanlah kejadian baru-baru ini, tetapi pasti sudah biasa terjadi.
“Ini?”
“Sudahlah, Cassian. Kita temui saja Pak Polisi-nya untuk menjelaskan kejadiannya. Dengan bantuan mereka, mungkin kita pasti bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit.”
Begitulah akhirnya mereka pun berhasil terciduk oleh para mobil patroli polisi.
Akan tetapi seperti yang dikatakan oleh Kania, polisi kota kecil itu yang pengertian justru segera membantu mereka hingga mereka pun tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit.
Setelah memberikan kepada Pak Polisi SIM serta KTP mereka masing-masing lantas menjelaskan kronologis kejadiannya, Kania dan Cassian pun tak membuang-buang waktu lagi menuju ke mana Dilan dirawat.
“Aku tak mengapa, Suster. Kumohon, pakai saja darahku! Ini darurat!”
“Tapi Anda hanya 53 kg dan Anda terlihat kurus begitu.”
“Bukankah syarat transfusi darah itu 50 kg, Suster? Jadi seharusnya aku memenuhi syarat.”
“Itu pada donor darah biasa, Mbak. Lagipula ada juga yang namanya cek kesahatan terlebih dahulu.”
“Lalu mengapa tak melakukannya sekarang?”
Mendengar keyakinan Kania itu, sang suster hanya bisa menghela nafas.
Dilihat sekilas pun, Kania terlalu kurus untuk dapat menyumbangkan darahnya.
Cassian yang tepat berdiri di samping Kania juga terlihat bingung ingin mengatakan apa.
Itu perihal dia tak tega melihat Kania mengorbankan dirinya sendiri, namun bukan berarti dia dapat mengabaikan nyawa Dilan yang hanya dapat diselamatkan dengan donor darah Kania itu.
Akhirnya, Cassian pun berkata.
“Kania, mungkin apa yang dikatakan oleh suster itu benar. Kamu tak perlu memaksakan dirimu. Lagipula masih ada Ayah yang sedang berjuang mencari donor darah di Jawa.”
Cassian ternyata lebih memilih mengutamakan kesehatan Kania.
Tetapi itu dengan catatan masih ada harapan dari sang ayah di pulau seberang.
Namun rupanya keanehan itu masih berlanjut.
__ADS_1
Seakan ucapan Cassian itu adalah berupa flag, terdengarlah kabar dari seberang bahwa kendaraan yang ditumpangi oleh sang ayah baru saja mengalami kecelakaan sehingga sang ayah harus pula dirawat di rumah sakit.
Itu tidak parah sehingga tak mengancam nyawanya.
Bagaimanapun, darah yang sudah setengah mati dikumpulkannya malah hilang begitu saja, terhambur selama peristiwa naas itu terjadi.
Lalu yang bertambah aneh, terjadi kecelakaan-kecelakaan di berbagai rumah sakit yang menyebabkan stok darah B+ di semua rumah sakit menjadi kosong.
Tak jelas siapa pelakunya dan bagaimana metodenya dia atau mereka melakukan hal itu.
Namun jelas bahwa ini bukanlah kejadian biasa.
Bagaimana bisa semuanya terlalu kebetulan sehingga seakan ada seseorang atau sekelompok orang yang merekayasa kejadiannya?
Di situlah Kania baru menyadari bahwa apa yang dihadapi oleh Dilan selama ini bukan lagi masalah sepele.
Kania pun membulatkan tekadnya.
Dia yang biasanya penakut akhirnya memutuskan untuk berkorban demi Dilan, sang pemuda kurang ajar yang hampir saja merebut kesuciannya itu.
Sang pemuda tak tahu malu yang lebih muda sembilan tahun darinya yang selalu saja cari-cari kesempatan untuk merayunya.
Kania belum mengetahui identitas Dilan yang sebenarnya adalah keponakannya, tetapi mungkin itu adalah kontak batin, Kania berharap tulus keselamatan Dilan sampai-sampai rela mengorbankan dirinya sendiri.
“Suster, apapun yang terjadi, akulah yang akan bertanggung jawab. Aku bisa membuat surat pernyataan bermaterai untuk itu. Jadi sekarang, kumohon biarkanlah aku menyelamatkan anak itu.”
Melihat kebulatan tekad Kania, para suster dan dokter rumah sakit pun tak ada lagi yang mampu menghalangi keputusan dari wanita yang terlihat rapuh itu, namun sejatinya berpendirian tegar.
Transfusi darah akhirnya berhasil dilakukan.
Berangsur, kondisi Dilan mulai stabil.
Akan tetapi, terjadilah hal itu.
“Bibi Kania, mengapa kamu tega meninggalkan Dilan?”
Igauan dari sang anak yang baru saja lewat dari masa kritisnya terdengar oleh Kania.
Sampai situ, itu belumlah aneh.
Memang cukup unik bahwa Dilan yang namanya sama dengan nama keponakannya juga memiliki kenalan seorang bibi yang bernama sama seperti dirinya.
Namun itu masih bisa saja suatu kebetulan.
Sayangnya, igauan Dilan yang berikutnya tak lagi dapat dibantahnya.
“Andai Nenek Dewinta masih hidup, bisakah kita menjadi keluarga bahagia bertiga selamanya?”
Itu terlalu kebetulan jika Dilan juga punya Nenek yang bernama Dewinta.
“Dilan?”
Penjelasan yang paling logis, jika Dilan sang keponakan sendirilah yang ada di hadapannya saat ini.
Ingatan tentang rupa kecil Dilan dari sebelas tahun yang lalu segera tumpang tindih dengan rupa pemuda tampan yang saat ini berada di hadapannya itu.
“Kamukah itu, Dilan?”
__ADS_1