
Terjadi keheningan sesaat perihal bom yang baru saja dilemparkan oleh Dilan.
“Ap… Apa yang baru saja kau katakan, Dilan?”
Mata Cassian seketika membelalak perihal tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Sudah kubilang, takkan ada lagi yang mampu merebut Bibi Kania dari sisiku.”
-Tuk, tuk, tak, tak.
Sembari mengungkapkan isi hatinya, Dilan melangkah perlahan ke arah Cassian.
“Itulah sebabnya hanya akulah yang pantas mempersunting Bibi Kania, Paman. Tiada yang kurang dariku. Aku kaya, ganteng, berkepribadian baik (?). Takkan ada wanita yang takkan klepek-klepek dipersunting oleh pria kelas atas sepertiku.”
Omongan narsis itu diungkapkan sendiri oleh Dilan di hadapan sang paman, Cassian.
“Kam… Kamu sudah gila, Dilan!”
“Mengapa Paman semarah itu? Apa jangan-jangan aku salah?”
Mendengar bentakan sang paman, mata pria muda nan ganteng itu tiba-tiba bergetar dan berputar-putar.
Dia seketika memandang pamannya sendiri dengan tatapan yang curiga.
“Apa Paman benar-benar mencintai Bibi Kania?! Paman bajingan ini!”
Dilan pun meraih kerah Cassian.
Akan tetapi, Cassian segera menampiknya.
Dilan yang masih lemah pasca operasi pun terjatuh.
Lalu, bekas jahitan yang belum kering itu pun kembali terbuka.
Seketika darah segar terlihat membasahi pakaian atas Dilan.
Melihat itu, Cassian segera panik.
“Suster! Suster! Apa ada perawat di rumah sakit ini?! Ke mana dokternya?! Cepat kemari!”
Dia pun segera menggapai Dilan untuk memastikan kesehatan keponakannya itu sembari berteriak-teriak meminta bantuan dari luar.
Dengan sigap bantuan itu datang lantas merawat Dilan yang kembali terluka.
Cassian mengikuti petugas rumah sakit yang membawa Dilan kembali ke ruang rawatnya.
Dan setelah memastikan kesehatannya membaik, dia pun hendak meninggalkan ruangan itu.
Akan tetapi, Dilan segera berteriak kepadanya.
“Jangan pergi, bajingan! Masih ada yang ingin kusampaikan padamu!”
Begitulah, justru petugas rumah sakitlah yang pergi duluan meninggalkan ruang rawat Dilan tersebut.
Cassian menatap Dilan dengan dingin.
Namun Dilan sama sekali tak peduli dengan tatapan sang paman yang sudah biasa baginya itu.
“Jauhi Bibi Kania, Paman. Dia milikku. Paman tak dapat memilikinya.”
Isi kepala Cassian saat itu masih diliputi kebingungan.
Pasalnya, calon istri yang sedang dibicarakan oleh Dilan itu tak lain adalah bibinya sendiri.
“Kamu benar-benar sudah gila, Dilan. Bagaimana bisa kamu menganggap seorang bibi yang telah membesarkanmu sendiri dengan pandangan yang romantis.”
“Mengapa tidak? Bibi Kania hanyalah bibi angkatku. Tidak ada hukum di Indonesia yang bisa melarang cinta kami.”
“Bajingan ini! Kau… Kau… sudah gila… Dia itu orang yang telah membesarkanmu, memberikanmu ASI, menidurkanmu, menggantikan popokmu sewaktu kecil. Lantas kini kau ingin mempersunting orang itu sebagai istrimu? Kau sudah gila, Dilan. Tidak. Ini semua salahku sebagai pamanmu yang tidak membesarkanmu dengan benar.”
__ADS_1
Cassian merintih, namun Dilan yang melihat penyesalan sang paman justru semakin mencuat amarahnya.
“Siapa Paman yang berani menilai mana yang baik dan benar?! Memangnya apa yang orang yang selalu menyembunyikan perasaannya seperti Paman itu ketahui tentang cinta, hah?! Akh…”
Perihal urat nadinya yang terlalu menggebu-gebu, itu pun kembali mempengaruhi jahitan di luka Dilan.
Dilan merasakan kesakitan yang luar biasa dan itu pun seketika membuat mulutnya yang sedari tadi kurang ajar kepada pamannya terdiam.
Cassian merasakan simpatik kepada sang keponakan, namun pikirannya sudah terlalu kalut saat itu.
Tidak, dia jijik kepada keponakannya itu yang mampu menganggap orang yang telah membesarkannya sendiri dengan pandangan birahi.
“Kamu istirahatlah. Aku akan menemuimu kembali besok, Dilan.”
Dengan murung, Cassian hanya meninggalkan ruangan itu.
***
“Kamu bajingan! Sudah kubilang kau jangan pernah menyentuh Kania!”
Seorang pria botak paruh baya yang nampak sempurna kegantengannya kecuali pada bagian kepalanya yang licin terlihat sedang melabrak seorang pria flamboyan.
“Kekekek.”
Pria flamboyan itu kemudian nampak terkikik seolah ancaman yang datang dari pria ngondek itu hanyalah lelucon semata di pandangannya.
“Lantas apa yang bisa kau lakukan, Edo? Kau ingin berkelahi denganku?”
“Bajingan keparat!”
Pria botak itu pun seketika mengeluarkan jurusnya yang gemulai untuk menyerang sang pria flamboyan.
Terjadi pertarungan sesaat yang cukup getir.
Namun itu kekalahan sang pria botak.
“Kau terlalu banyak main-main, Edo. Itulah yang menyebabkan otot-ototmu kini kaku. Sekarang kau bahkan tak layak lagi menjadi sarung tinjuku.”
Pria flamboyan itu menginjak kepala Edo yang terbaring di lantai.
“Kau keparat, Alex!”
Pria yang dipanggil Alex itu pun menyeringai dengan bejat.
Ya, dialah Alex, salah satu paman Dilan yang lain selain Cassian.
Pria yang paling bertangggung jawab atas kemalangan yang menimpa Dilan selama ini.
“Setidaknya katakan itu setelah kau cukup kuat untuk menghadapiku, Edo. Sampah lemah hanyalah pantas untuk merangkak di tanah seperti ini.”
Berbeda dari tampilannya yang lembut ketika bersama Dilan, pandangan mata Alex kala itu dipenuhi kegilaan.
***
Jelas bukan dia yang selama ini meneror hidup Dilan, namun Dilan kerap kali menuduhnya perkara peristiwa susu basi yang diketahui Dilan dari para pelayan.
Sejak saat itu, sang keponakan yang selalu tersenyum padanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Tak pernah lagi Cassian melihat senyum ala malaikat Dilan yang di masa lalu seringkali menenangkan hatinya di kala berbagai masalah kantor membuat hatinya penat.
Itulah sebabnya perlahan tapi pasti senyum itu pun kini juga terangkat dari ekspresi Cassian.
Cassian tak ubahnya bagaikan robot di mata orang lain yang hanya tahu soal pekerjaan dan keuntungan.
Cassian tahu akan pandangan orang-orang itu padanya, namun dia pun tak dapat berbuat banyak.
Itu perihal senyum sudah menjadi sesuatu yang asing bagi dirinya.
Setidaknya itu sampai dia mengenal Kania.
__ADS_1
Ketika bersama Kania, tanpa sadar bibirnya terangkat naik begitu saja perihal ekstasi kesenangan yang dirasakannya.
Cassian pun teringat perkataan Dilan.
“Apa Paman benar-benar mencintai Bibi Kania?! Paman bajingan ini!”
Awalnya Cassian tak menyadarinya, namun bisa saja apa yang dikatakan oleh Dilan itu benar adanya.
Dari balik kaca transparan jendela rumah sakit itu, senyum Cassian yang sudah lama tak terlihat pun terpantulkan.
“Cassian?”
Dan tanpa sengaja, ada satu orang yang kebetulan menyaksikannya.
“Kania? Sejak kapan Anda berada di sini?”
Seolah itu takdir, perihal orang itu tak lain adalah Kania, penyebab utama mengapa Cassian bisa kembali tersenyum di tengah-tengah hidupnya yang penat.
“Tampaknya Anda sedang memikirkan kenangan yang indah. Anda yang biasanya berwibawa sampai senyum-senyum seperti orang bodoh begitu.”
Kania tertawa dengan maksud ingin menggoda Cassian.
Namun pandangan Cassian begitu lurus menatapnya sehingga Kania tanpa sadar balik bergidik.
“Itu benar, Kania. Aku sedang memikirkan kenangan yang sangat indah. Dan itu kenangan bersama Anda.”
Kania begitu terkaget dengan ucapan tiba-tiba Cassian padanya yang menyebabkannya beberapa saat jadi salah tingkah.
“Apa yang terjadi pada Anda? Apa Anda mabuk? Duh Cassian, mengapa Anda mengatakan hal aneh begitu?”
Wanita yang terlanjur malu padahal dia sendiri yang pertama kali menggoda itu pun hanya bisa segera melarikan diri sebelum pipinya semakin memerah layaknya tomat masak.
Begitu Kania enyah dari hadapannya, di saat itulah Cassian baru tersadar
“Ah, apa yang baru saja kukatakan?” Lantas pipinya pun ikut memerah.
***
Kania kaget dengan ucapan Cassian yang begitu tiba-tiba padanya.
“Apa itu pernyataan cinta secara tidak langsung?”
Namun Kania sama sekali tidak marah akan hal itu.
Itu hanya mungkin karena Kania juga sebenarnya menaruh rasa kepada Cassian.
Akan tetapi, setelah dipikir-pikirnya kembali, ucapan ‘Aku sedang memikirkan kenangan yang sangat indah, dan itu kenangan bersama Anda,’ bisa berarti banyak hal.
Itu bisa saja ungkapan bahagia seorang teman belaka yang senang bersama dirinya.
Seketika Kania tersadar jikalau dirinyalah yang terlalu percaya diri.
Dia pun jadi malu untuk menemui Cassian kembali.
Tentu saja apa yang terjadi sebenarnya bukanlah salah paham Kania, namun masih butuh waktu bagi Kania untuk menyadarinya.
Hari Kania itu seharusnya ditutup dengan impian penuh bunga.
Setidaknya itu sampai dia tanpa sadar mendengarkan gumaman Dilan di ruang rawatnya.
“Hanya akulah yang pantas menjadi suami Bibi Kania!”
Betapa kagetnya Kania mendengarkan hal itu.
Namun pada akhirnya Kania berlalu begitu saja dengan menghipnosasi dirinya bahwa apa yang didengarnya barusan hanyalah halusinasi belaka.
Dia pun mengambil telepon genggamnya lantas menelepon seseorang.
“Edo, maaf meneleponmu tiba-tiba. Sebagai orang yang merawatku selama ini, aku hanya ingin berkabar padamu bahwa mungkin mulai besok, kamu takkan lagi bisa bertemu denganku soalnya aku telah memutuskan untuk pergi meninggalkan kota ini.”
__ADS_1
Wanita lemah itu pun berucap.