Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 26 - PENYELAMATAN


__ADS_3

“Terima kasih atas laporannya.”


Mata Edo seketika menegang.


Pria paruh baya botak bertubuh kekar itu seketika kehilangan ketenangannya.


Usai menutup telepon, dia pun bergegas pergi.


“Ck. Bajingan itu benar-benar mengambil kesempatan di saat dia tahu aku baru saja pergi meninggalkan Kania.”


“Tidak, semoga aku tidak terlambat. Kumohon Kania, jangan jadi orang idiot dan masuk ke perangkap bajingan itu. Kumohon, jangan mau pergi dengannya karena dia berniat mencelakaimu.”


Usai pertengkarannya dengan sang pria flamboyan, Edo menyuruh kenalannya untuk mengawasi gerak-gerik dari pria yang bersangkutan.


Dan sesuai dugaannya, pria flamboyan itu sekali lagi berniat mengincar Kania.


***


Sementara itu, Kania yang masih ada di kost-annya setelah Edo bepergian di hari minggu itu dikejutkan oleh suara ketukan pintu.


“Siapa?”


-Ceklek.


Betapa kagetnya Kania karena begitu dia membuka pintu, rupanya yang datang berkunjung adalah seseorang seharusnya sibuk melakukan pekerjaannya di kota lain.


“Cassian?”


“Kania.”


“Cassian, apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah Anda sibuk dengan pekerjaan Anda?”


Namun, ekspresi tegang Cassian segera menggambarkan urgensi di hatinya.


Kania yang melihat itu segera menelan air liurnya yang kering.


“Gawat, Kania, Dilan kecelakaan dan membutuhkan pertolonganmu. Bisakah kau ikut denganku segera?”


Seakan petir menyambar di kepala Kania, perkataan Cassian hampir saja membuat Kania terjatuh pingsan.


“Kania!”


Namun Cassian dengan gesit menangkap tubuh Kania yang ringan itu.


“Anda baik-baik saja?”


“Cassian.”


“Kania.”


Kania sendiri pun tak sadar apa yang telah dialaminya.


Mendengar berita tentang Dilan itu, mendadak pandangannya menjadi kabur dan kepalanya berat.


Padahal sejatinya Dilan bukanlah siapa-siapanya, tetapi mengapa perasaan di hatinya bisa sesedih ini mendengar berita tentang kecelakaannya?


Kania sendiri pun tak tahu mengapa.


Tentunya mendengar berita seorang kenalan mengalami kecelakaan, hati kita akan turut sedih karenanya, tetapi itu tidak sampai pada taraf di mana kamu akan histeris sehingga emosimu akan meledak-ledak.


Kania segera menyadari ada yang tidak beres dengannya.

__ADS_1


Mungkin tanpa disadarinya, Dilan telah menjadi sosok yang lebih penting daripada yang diduganya.


“Maafkan aku, Cassian. Aku baru saja menunjukkan sisi lemahku.”


“Tidak, Kania. Jika kamu kelelahan, kamu harus istirahat. Untuk masalah Dilan, biar aku pikirkan solusi lainnya.”


Mendengar ucapan itu, Kania segera meremas bahu Cassian yang sedang menyangganya.


“Katakan padaku detail kejadiannya, Cassian.”


“Dilan saat ini berada di rumah sakit di Makassar.”


“Apa?”


“Tampaknya dia berniat menemui Anda di hari liburnya. Itulah sebabnya dia naik pesawat dari Surabaya langsung ke Makassar.”


Cassian melirik Kania sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


“Melihat Anda yang tidak tahu-menahu, tampaknya bocah itu ingin memberikan Anda kejutan. Singkatnya, Dilan mengalami kecelakaan mobil sewaktu dalam perjalanan dari bandara menuju kediaman Anda.”


Mendengar berita itu, kepanikan Kania pun semakin menjadi-jadi.


“Apa? Jadi bagaimana dengan kondisi Dilan sekarang? Dia bisa selamat kan?”


“Tenang saja, tindakan medis darurat berhasil dilakukan, hanya saja…”


Cassian sejenak menghentikan ucapannya sembari menatap Kania dalam-dalam.


“Katakan saja, apa itu, Cassian?”


“Stok darah B+ di rumah sakit tiba-tiba saja habis, sementara juga tidak tersedia di rumah sakit maupun di palang merah mana pun.”


“Kok bisa? Lalu ada apa dengan golongan darahku itu?”


“Apa?”


“Itu benar. Sayangnya, di keluarga kami hanya Dilan seoranglah yang kini memiliki golongan darah tersebut yang dia warisi dari ayah juga neneknya yang telah tiada. Walaupun tindakan penyelamatan darurat berhasil dilakukan, saat ini anak itu kekurangan banyak darah sehingga membutuhkan suplai darah darurat. Hanya saja, stok darah di rumah sakit anehnya kosong. Dan sebelumnya, Kania sendiri yang pernah bilang kepadaku bukan bahwa golongan darah Anda juga B+?”


Ingatan Kania sejenak kembali ke hari di mana Cassian dirawat karena terkena sabetan benda tajam oleh seorang pemuda tak dikenal.


“Ah, sayang ya aku tidak bisa ikut membantu soalnya golongan darahku itu B+, hahahaha.”


Itu benar, dia sempat memberitahukan golongan darahnya secara tidak sengaja kepada Cassian.


“Jadi, Anda ingin aku ikut dengan Anda sekarang untuk memberikan Dilan transfusi darah?”


Dengan pandangan tertunduk yang seolah malu Cassian pun menjawab pertanyaan Kania tersebut, “Seperti itulah.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo segera berangkat.”


“Apa? Tapi bagaimana dengan kondisi kesehatan Anda?”


“Aku baik-baik saja.”


“Tapi Anda barusan hampir pingsan.”


“Itu karena aku terkejut saja.”


“Tapi… pasti ada cara lain.”


“Sudahlah, kondisi Dilan lebih penting saat ini, Casssian.”

__ADS_1


Pada akhirnya, Cassian tak lagi berucap.


Demikianlah akhirnya Cassian berhasil meyakinkan Kania lantas wanita naif itu pun mengikuti Cassian tanpa rasa curiga sedikit pun.


***


Tepat 20 menit setelah Cassian dan Kania baru saja pergi meninggalkan tempat tersebut, barulah Edo sampai kembali ke kost an itu.


“Sial, aku terlambat! Lagipula mengapa kamu mematikan HP-mu, Kania?”


Pertanyaan Edo itu segera terjawab begitu mendapati sebuah telepon genggam yang sedang dicas di sudut kamar Kania.


“Kumohon, semoga kamu baik-baik saja, Kania.”


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Edo segera turut meninggalkan tempat tersebut demi mencari keberadaan Kania.


***


Lama berjalan, Kania segera dikejutkan oleh Cassian yang mengambil rute yang tak biasa.


“Lho, Cassian? Bukankah arah rumah sakitnya seharusnya lewat Jalan Perintis? Mengapa kamu justru belok ke arah Jalan Reformasi?”


Namun, pandangan Cassian hanya datar dengan tatapan mata yang tajam.


Di situlah Kania merasakan ada sesuatu yang tak beres di sana.


Keraguan Kania itu segera terjawab dengan terdapatnya 3 mobil sedan berwarna hitam yang tiba-tiba saja mengepung mobil Cassian.


Dan salah satu wajah sang pengendara sedan hitam bisa terpantul dengan baik di mata Kania.


Itu adalah pelaku penusukan Cassian beberapa tempo silam.


Kania memang merasa sudah aneh bahwa Cassian melepaskan saja pelaku penusukannya itu tanpa dilaporkan ke polisi perihal dia tidak mau menciptakan rumor tak sedap bagi Lekata Group.


Kania bisa saja menjadi saksi karena kebetulan Kania melihat dengan baik wajah sang pelaku kejahatan.


Namun sayangnya, Cassian menolaknya mentah-mentah.


Timbullah pikiran liar Kania kala itu.


Kania pun mengingat kembali perkataan Dilan kepadanya.


“Itu dia! Itu dia yang Paman incar, Bi! Paman sengaja melakukan semua ini untuk menarik rasa simpati Bibi agar Bibi bisa menjadi salah satu pionnya. Jika itu Paman, dia pasti bisa melakukannya. Baginya, mengorbankan diri dengan satu atau dua tusukan pisau, bukan apa-apa asal bisa meraih tujuannya!”


Kania segera merasa menyesal bahwa mengapa dirinya begitu naif?


Mengapa dia bisa mempercayai seseorang begitu saja setelah diingatkan Dilan bahwa dia harus berhati-hati pada orang tersebut?


Apakah itu karena wajah Cassian yang begitu ganteng yang sangat sesuai dengan tipe pria idamannya?


Di situlah Kania menyadari bahwa dirinya tidaklah jauh berbeda dari kakaknya, Sekar, yang selama ini dihujatnya karena terpedaya oleh seorang serigala liar seperti ayah Dilan yang bahkan dia telah lupa namanya tersebut sehingga bisa mengandung Dilan.


Tentu saja Kania sama sekali tidak membenci keponakannya yang terlahir dari rahim sang kakak, tetapi pastilah hidup Sekar akan lebih bahagia jika tak terpedaya oleh serigala berwujud manusia itu.


Namun rupanya dirinya yang dia anggap sudah selalu sangat waspada itu, akhirnya tersadar telah masuk ke dalam perangkap Cassian.


Kania pun bisa segera menangkap maksud tatapan villain Cassian tersebut.


Dia sama sekali tak berniat membantu Dilan, malah sebaliknya, penjahat itu ingin mencelakai dirinya.


Akan tetapi seketika, terjadi adu tabrakan di antara ketiga mobil dengan mobil yang dikendarai oleh Cassian.

__ADS_1


“Kania, pegangan! Kita akan segera kabur dari mobil para penjahat itu!”


Di luar dugaan Kania, Cassian justru bertindak seperti protagonis dalam cerita.


__ADS_2