
"Aduh, Freya kemana si? Kenapa tidak angkat teleponku"
Ah, rasanya Haura sudah kehabisan akal untuk menghubungi sahabatnya ini. Bagaimana dia yang begitu memperjuangkan hari ini agar sahabatnya itu bisa move on dan melupakan mantan pacarnya. Tapi sudah beberapa pria yang dia kenalkan pada Freya, namun masih belum ada yang cocok. Hingga kali ini mungkin yang terakhir, jika yang ini juga gagal. Maka biro jodoh online yang dia buat untuk sahabatnya itu, akan segera tutup sebelum di demo.
Akhirnya Haura benar-benar tidak bisa menghubungi Freya. Sementara dia harus bertanggung jawab pada orang yang jelas sudah dia janjikan untuk bertemu dengan Freya malam ini. Dan mau tidak mau, Haura harus menemui orang itu. Beruntung karena janji yang dibuat adalah di Restaurant milik keluarganya ini.
Haura masuk ke dalam ruangan VVIP di Restaurannya ini. Melihat seorang pria muda tampan yang sepertinya sudah menghabiskan dua gelas minuman. Dia terlihat mulai jengah terus menunggu. Melihat wajahnya yang kesal, membuat Haura jadi sedikit ragu untuk mendekat. Tapi dia juga tidak bisa pergi begitu saja tanpa meminta maaf padanya. Jadi perlahan dia mendekat pada pria itu.
"Maaf Pak Direktur, saya benar-benar minta maaf sekali..." Duh, rasanya Haura langsung kehilangan kata-kata saat melihat tatapan tajam dari Pak Direktur itu. Perlahan Haura duduk di sofa tunggal samping sofa yang di duduki oleh Pak Direktur itu.
"Sepertinya Freya berhalangan untuk hadir, dia bahkan tidak mengangkat telepon saya. Maaf sekali atas ketidak nyamannya, saya akan berusaha carikan waktu lain yang tepat untuk pertemuan kedua ya" ucap Haura dengan sedikit bergetar.
"Berikan nomor ponselnya padaku! Biar aku sendiri yang menghubungi dia" tekan Pak Direktur.
Syahreza Putra, seorang anak dari pemilik perusahaan cukup besar yang berkontribusi dalam bidang makanan siap saji. Dia adalah pewaris utama setelah Kakak pertamanya yang tidak ada lagi kabar sampai sekarang. Seolah hilang ditelan bumi. Publik pun masih belum mengetahui keberadaannya dan keadaannya.
"Tidak bisa Tuan, saya tidak bisa memberikan nomor sahabat saya itu kepada siapapun" ucap Haura.
Janjinya pada Freya, dia boleh mencarikan pasangan untuknya. Tapi tidak dengan memberikan nomor ponselnya dan identitasnya ke sembarang orang. Karena belum tentu juga Freya akan merasa nyaman dengan orang yang Haura jodohkan padanya itu. Jadi untuk mencegah sebuah teror tidak jelas karena ditolak cinta, maka Haura tidak ingin memberikan nomor ponsel sahabatnya pada siapapun.
"Kenapa?" tanya Reza, tatapannya masih terlihat begitu tajam.
"Karena itu perjanjian saya pada sahabat saya, Pak. Nanti akan saya atur pertemuan kedua deh. Saya janji Pak..." Haura menatap dua gelas bekas minuman yang di pesan oleh Reza di atas meja itu. "...Untuk minumannya tidak papa, tidak usah bayar Pak. Ini 'kan juga kesalahan saya karena tidak memastikan dulu kesediaan teman saya itu untuk pertemuan malam ini"
__ADS_1
Reza berdecih pelan, menatap Haura dengan tajam menusuk. "Memangnya kau pikir aku tidak mampu membayar dua minuman ini? Kau ingat ya, aku bukan pria yang harus dikasihani seorang wanita sepertimu!"
Reza mengeluarkan dua lembar uang dari dalam dompetnya dan menyimpannya di atas meja dengan sedikit kasar, hingga membuat Haura sedikit terlonjak kaget.
"Aku tunggu kabar untuk pertemuan kedua itu" tekan Reza sambil melewati tubuh Haura yang berdiri mematung di tempatnya, sedikit menyenggol bahu gadis itu.
Haura hanya memejamkan matanya, dia baru kali ini mendapatkan pelanggan untuk biro jodoh Freya ini yang seperti Reza. Bagaimana dia yang begitu dingin padanya. Tatapannya itu membuat Haura sangat takut.
"Sepertinya salah deh aku menjodohkan Freya padanya. Dia tidak akan cocok untuknya. Ah, aku salah besar sepertinya"
Haura mengambil dua lembar uang yang di letakan oleh Reza tadi di atas meja. Lalu segera keluar dari ruangan VVIP itu dan menyuruh pelayan untuk membereskan bekas minum Reza di ruangan itu. Haura berjalan ke lantai atas menuju ruangannya, yang dia gunakan sebagai Kantor untuk memeriksa semua laporan Restaurant ini.
Dia duduk di kursi depan meja kerja, kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. "Ah, bagaimana ini? Kalau sampai Freya benar-benar berjodoh dengannya, pasti dia akan tersiksa. Dia begitu arogan"
*
Haura terpaksa harus ditugaskan keluar kota hari ini untuk pembangunan cabang Restaurannya ini. Sudah dua bulan lebih sejak pertemuannya dengan Pak Direktur waktu itu. Dan Haura juga sudah tahu dan mengerti apa yang membuat Freya tidak datang malam itu.
Haura yang mendatangi rumah Freya di malam itu juga bersama dengan Sinta, sahabatnya juga dan sepupu dari Freya. Dan dia mendengar semuanya, ternyata Freya memutuskan untuk kembali pada mantan pacarnya yang ternyata mereka memang masih saling mencintai. Hanya saja restu orang tua yang menjadi penghalang. Namun Haura juga tidak bisa memaksa Freya yang sudah mengambil keputusannya.
Sampai pagi ini, dia mendapatkan telepon dari Pak Direktur, setelah berbagai pesan singkat Haura abaikan karena dia yang tidak tahu harus menjawab seperti apa. Tapi kali ini sepertinya Haura tidak bisa menghindarinya lagi. Jadi terpaksa dia mengangkat teleponnya.
"Ha-hallo" Suara Haura sudah terdengar bergetar.
__ADS_1
"Kau ingin lari kemana? Aku sudah mengirim pesan, tapi kau tidak membalas. Hingga sekarang kau tidak ada di Restaurant dan pekerjamu bilang kau pergi keluar kota. Kau ingin bermain-main denganku"
Suara dingin penuh penekanan itu membuat Haura memejamkan matanya. Dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Karena masalahnya, Freya juga sudah menikah dengan pria pilihannya itu. Hal ini yang membuat Haura kebingungan untuk membalas pesannya.
"Pak Direrktur, sepertinya tidak bisa kalau harus bertemu sekarang. Freya sedang banyak urusan, dia juga bilang belum ada waktu luang"
Haura benar-benar bingung bagaimana cara bicara padanya tentang Freya yang sebenarnya sudah menikah sekarang. Pastinya akan terlalu mengejutkan untuk Reza jika sekarang dia tahu kalau gadis yang akan dijodohkan dengannya ternyata sudah menikah.
"Aku akan menemuinya ke tempat kerjanya"
"Jangan!" Refleks begitu saja Haura langsung berteriak. Dia takut akan menjadi huru-hara jika Reza benar-benar datang menemui Freya ke tempat kerjanya.
"Kau berani berteriak padaku! Berani sekali kau!"
"Ah, maaf Pak, saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi, memangnya anda tahu dimana Freya bekerja" ucap Haura, dia memejamkan matanya karena bingung sendiri dengan ucapannya barusan. Malah seperti memberi celah untuk Reza menemui sahabatnya itu.
"Kau pikir aku bodoh? Aku tahu dimana dia bekerja, aku akan menemuinya"
Tut.. Suara panjang itu menandakan jika sambungan telepon sudah terputus. Haura hanya menghembuskan nafas kasar sambil menatap ponselnya yang sudah mati. Sepertinya memang Reza tidak akan menyerah begitu saja.
"Dia ini gigih juga ya, padahal sudah banyak pria yang gagal berjodoh denganĀ Freya, mereka langsung menyerah begitu saja. Kenapa dia kekeuh sekali"
Bersambung
__ADS_1