
Kencan kedua kalinya, Haura benar-benar menyiapkan segalanya dengan begitu tegang. Dia takut kalau sampai Reza mengacaukannya lagi. Padahal jelas Haura sudah ingin segera menyelesaikan tugasnya pada Reza. Karena dia tidak mau kalau sampai nanti dia harus mengatur kencan buta kesekian kalinya.
"Ah, semoga saja kali ini tidak mengacau lagi"
Haura sudah berdo'a dan terus membaca mantra agar Reza tidak lagi membuat kesalahan di kencan kali ini yang sudah dia atur. Meski hatinya tetap tidak yakin jika pria itu tidak akan mengacau.
Saat wanita yang akan menjadi teman kencan Reza datang lebih dulu, Haura langsung menghampirinya dan sedikit menjelaskan tentang bagaimana Reza sebenarnya. Kepribadiannya yang sebenarnya cukup membuat orang-orang di sekitarnya tidak akan sabar dan kuat bertahan lama.
"Tapi meski begitu, Pak Direktur itu sangat lembut dan hangat. Anda lihat saja nanti ya, dia mempunyai perhatian tersendiri dengan caranya sendiri" ucap Haura.
"Baiklah, aku akan mencoba melihat bagaimana dia nanti akan bersikap padaku"
Haura mengangguk pelan, meski hatinya tetap tidak yakin karena mau bagaimana pun dia tahu bagaimana sikap Reza. Apalagi pada orang yang baru dia temui.
Saat Haura keluar dari ruangan VVIP itu, dia berpapasan dengan Reza yang baru saja datang. Haura langsung mengangguk hormat, dia menatap Reza dengan pandangan memohon. Seolah membiarkan matanya yang berbicara jika Reza jangan sampai membuat kesalahan lagi untuk kencan kali ini.
"Semoga kali ini berhasil ya, Pak. Saya benar-benar menantikan kabar baiknya" Tolong jangan persulit lagi kencan kali ini. Aku sudah susah payah menyiapkan semuanya.
Ah, rasanya Haura memang ingin berteriak seperti itu pada Reza. Namun dia tidak berani juga jika harus mengatakannya. Dia tidak mempunyai keberanian sebesar itu.
Reza hanya berdehem pelan, lalu dia segera masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan oleh Haura. Dia menatap seorang wanita yang cantik dengan tubuh bagus dan juga pakaian yang terlihat cukup minim. Reza masih menunjukan ekspresi yang datar, dia duduk di kursi depan wanita itu.
"Hallo Tuan, apa kabar?"
Tidak disangka, Reza memang masih sama meski sudah diberikan banyak panduan oleh Haura agar tidak melakukan kesalahan dan mau sedikit saja untuk berinteraksi dengan teman kencannya itu. Tapi ternyata Reza masih berwajah dingin dan datar di depan wanita cantik ini.
Wanita itu sedikit malu saat dia yang sudah mengulurkan tangannya, namun Reza malah terlihat cuek dan tidak berniat untuk langsung menjabat tangannya itu. Dia menarik kembali uluran tangannya itu.
__ADS_1
"Oh ya Tuan, bagaimana kesehariannya?"
"Biasa saja, aku tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Jadi aku hanya sibuk dengan pekerjaan"
"Begitu ya, pantas saja anda menjadi pengusaha yang hebat"
Sepertinya wanita ini tidak mudah menyerah begitu saja karena dia sudah mendengar semuanya dari Haura. Jika Reza memang mempunyai sisi hangat dan lembut yang tersimpan di balik sikap dinginnya itu. Dia sedang mencarinya saat ini, berharap apa yang dibicarakan oleh Haura waktu itu memang benar adanya.
"Saya ingin mengantar makanan"
"Masuklah"
Dan Haura langsung masuk ke dalam ruangan ini. Mendorong troli makanan itu menghampiri mereka. Haura sedikit menghela nafas lega ketika dia melihat Reza dan teman kencannya itu masih berada disana. Setidaknya waktunya cukup lama daripada durasi kencan yang pertama.
"Saya mengantarkan makanan untuk kalian" ucap Haura dengan tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya penuh hormat.
Saat Haura ingin menyimpan makanan di atas meja, tiba-tiba tangan wanita itu terangkat hingga mengenai tangan Haura dan membuatnya tidak seimbang dan menjatuhkan piring berisi makanan itu.
Haura terlonjak kaget mendengar suara pecahan piring itu. Dia menatap baju wanita tadi yang terkena kotoran makanan. "Ya ampun Nona, saya minta maaf. Saya sangat ceroboh sekali"
Haura melangkah mendekatinya tanpa dia melihat jika banyak pecahan piring di atas lantai. Yang terpikirkan hanya wanita teman kencan Reza itu. Takut kalau sampai dia marah dan malah pergi dari kencan ini.
"Tidak papa, aku yang tidak sengaja menyenggol tanganmu. Maaf ya" ucapnya dengan lembut. Dia menatap pada Reza, berharap jika pria itu langsung beraksi dan memperhatikannya.
"Bodoh!" Reza yang langsung berdiri dan menarik tangan Haura. Dia melihat kaki Haura yang sudah mengeluarkan darah.
Haura begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Reza. Tubuhnya sampai terbentur di tubuh tegap Reza. Sepertinya bukan hanya Haura yang terkejut, tapi teman kencan Reza pun sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"Pak, ada apa?" Gumam Haura yang masih begitu terkejut dengan yang dilakukan oleh Reza barusan.
"Bodoh! Kau melukai dirimu sendiri"
Tubuh Haura langsung tegang seketika, dia merasakan hembusan nafas hangat Reza di telinganya saat dka berbisik seperti itu. Sungguh Haura jadi tegang sendiri merasakannya. Ya Tuhan, kenapa dia melakukan ini. Ah, aku jadi gugup sekarang.
"Em, Pak Direktur, saya tidak papa kok" Haura langsung menjauhkan dirinya dari Reza yang sudah seperti memeluknya. Dia tidak mau kalau sampai Reza membuat kencan kali ini kembali batal.
"Nona, sebentar biar saya bantu bersihkan baju anda" ucap Haura.
Bukannya menjawab, tapi dia malah langsung berdiri dengan wajah yang terlihat kesal. Menatap Haura dan Reza secara bergantian, tentu dia merasa sangat dipermalukan saat ini. Ketika dia yang menjadi teman kencan Reza, tapi malah si biro jodoh yang dia perhatikan saat ini. Padahal jelas dia melakukan ini untuk menarik perhatian Reza, tapk semuanya malah jadi sia-sia seperti ini.
"Tidak perlu, saya tidak ingin melanjutkan kencan ini lagi"
"Nona tunggu, jangan pergi dulu"
Haura ingin mengejar wanita itu yang sudah berlalu pergi keluar ruangan. Namun tangannya langsung di tahan oleh Reza. Membuat Haura langsung menoleh dan menatapnya dengan bingung.
"Pak, saya harus menjelaskan padanya. Dia pasti salah faham dengan apa yang terjadi barusan" ucap Haura.
Reza menatapnya tajam, sama sekali tidak membiarkan Haura terlepas darinya. "Kau tidak lihat keadaan kakimu? Hah?! Sudah terluka seperti itu, masih mau mengejar orang lain. Dia tidak penting bagiku. Kalau memang dia memilih pergi, biarkan saja. Kau tidak perlu mengejarnya!"
Haura langsung terdiam mendengar itu, dia menatap Reza dengan bingung. Ucapan Reza barusan seolah mengandung arti yang besar. Dan entah kenapa jantungnya malah berdebar begitu kencang.
"Saya tidak papa kok" ucap Haura dengan sedikit tergagap. Dia sungguh merasa gugup dengan ucapan Reza barusan.
Reza tidak menajwab apapun lagi, sungguh dia tidak suka dengan cara Haura membantah dan mengatakan dia tidak papa. Padahal kenyataannya dia jelas sedang terluka. Reza langsung menggendong Haura dan mendudukannya di atas kursi.
__ADS_1
"Minta pegawaimu untuk mengambilkan kotak obat!"
Bersambung