
Haura yang baru saja akan masuk ke dalam ruangan VVIP itu untuk mengantarkan makanan, tapi malah dikejutkan dengan gadis itu yang baru saja keluar dari ruangan itu. Bahkan Haura bisa melihat sendiri wajah kesalnya.
"Nona, ada apa ini?" tanya Haura.
"Kau memang tidak bisa di percaya, kau bilang dia akan menyukaiku. Buktinya dia tidak malah menolakku secara terang-terangan"
Haura tertegun mendengar itu, dia menahan tangan gadis itu yang sudah siap pergi dengan kekesalan di wajahnya. "Nona, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini"
Gadis itu menghempaskan tangan Haura yang memegang tangannya. "Sudahlah, aku sudah malas bertemu dengan pria itu lagi. Sungguh membuatku kesal, memangnya dia pikir siapa dia sampai berani memperlakukan aku seperti ini"
Haura hanya diam saja, dia melihat punggung gadis itu yang keluar dari Restarant ini. Dia menghela nafas pelan, merasa bingung dengan apa yang Reza lakukan sampai membuat kencan pertamanya hancur berantakan seperti ini.
"Ah, aku tidak heran kalau wanita tadi sampai pergi. Pastinya dia tetap menunjukan wajah yang dingin dan datar seperti sebelumnya"
Haura kembali masuk dengan membawa troli makanan itu ke dalam ruangan. Dia hampir tidak percaya saat melihat Reza yang malah sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Haura segera menghampirinya dengan mendorong troli makanan itu.
"Pak Direktur, apa yang terjadi? Kenapa wanita tadi malah keluar?" tanya Haura, meski sepertinya dia juga sudah tahu jawabannya. Melihat bagaimana ekspresi Reza ini, membuat Haura sadar tidak akan banyak wanita yang bertahan dengan sikapnya ini.
"Tidak ada, aku hanya bilang kalau aku hanya sedang mencari pengganti wanita yang bisa meluluhkan hatiku. Bukan hanya ingin mengobrol dan basa basi tidak jelas" jawab Reza santai.
Haura sampai tidak mampu berkata-kata lagi mendengar jawabannya yang begitu luar biasa. Bagaimana bisa kencan seperti ini tidak di awali dengan ngobrol dan sedikit basa-basi. Ah, dia memang benar-benar luar biasa.
Untuk sedikit meredam marahnya, Haura duduk di kursi depan Reza. Tempat yang tadi ditempati oleh teman kencan Reza tadi. Haura menatap Reza dengan lekat, masih tidak habis pikir ada seorang pria yang seperti ini.
"Pak, sepertinya ada yang harus saya ajari pada anda agar anda tidak sekaku ini saat menghadapi wanita" ucap Haura.
__ADS_1
Reza menghentikan aktivitasnya dengan ponsel, dia menyimpan ponsel itu di atas meja. Lalu menatap Haura sekilas, sebelum dia menatap ke arah troli makanan yang di bawa oleh Haura barusan.
"Aku lapar, bukannya kau membawa makanan kesini. Siapkan makanannya untukku"
Haura sampai tidak mampu berkata-kata lagi, di situasi yang seperti ini, Reza malah meminta makan. Membuat dia berpikir apa pria ini serius untuk mencari pengganti Freya, atau hanya untuk main-main saja. Ah, rasanya Haura benar-benar tidak bisa menebak pria satu ini.
"Baiklah"
Akhirnya hanya kata itu yang mampu Haura ucapkan. Lalu dia segera menyiapkan makanan yang dia bawa di troli makanan itu beserta minuman dan hidangan penutupnya.
"Kau temani aku makan, karena kencan kali ini gagal. Jadi kau harus bertanggung jawab untuk menemani aku makan malam"
Haura yang baru saja ingin melangkah pergi, langsung menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada Reza yang menatapnya dengan santai.
Hanya bisa memaki di dalam hatinya, Haura juga tidak seberani itu untuk menyalahkan Reza dengan blak-blakan seperti ini. "Baiklah, sebagai pertanggungjawaban saya karena membuat kencan ini gagal"
Reza menahan senyumnya ketika dia mendengar nada penuh penenkanan ketika Haura menyebutkan tentang pertanggungjawaban. "Kau memang harus bertanggung jawab, karena kau sudah janji untuk mencarikan aku pengganti Freya"
Haura memegang garpu dengan kuat, sampai tangannya memerah karena kesal sekali dengan Reza yang seolah dirinya tidak pernah salah. Bagaimana dia bisa melancarkan kencan ini, jika dia tidak ingin hanya sekedar mengobrol. Ah, aku ingin memukulnya sekali saja. Teriak Haura dalam hati, sementara bibirnya hanya bisa tersenyum dipaksakan pada Reza.
"Makanlah, wajahmu jelek kalau kesal seperti itu"
Reza menyodorkan sepiring steak miliknya yang sudah dia potong-potong kecil dan menukarnya dengan piring milik Haura dengan isi makanan yang sama.
Seketika wajah kesal Haura sedikit memudar, dia merasa bingung dan sedikit tertegun dengan apa yang diberikan oleh Reza. Padahal dia bisa menunjukan sisi hangatnya, tapi kenapa dia malah menggagalkan kencan yang sudah di atur ini.
__ADS_1
"Em, te-terima kasih" ucap Haura sedikit tergagap.
Reza tersenyum tipis, dia mulai memakan makanannya dengan tenang. Sesekali melirik ke arah Haura yang juga memakan makanannya tanpa banyak bicara. Wajah kesal yang tadi jelas terlihat, kini sudah memudar.
Sejenak suasana sedikit tenang, sampai selesai makan dan mereka sedang menikmati hindangan penutup. Haura mulai ingin membicarakan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh Reza ketika berkencan seperti ini.
"Pak, seharusnya anda memulai pembicaraan dan mulai menanyakan tentang wanita yang menjadi teman kencan anda itu agar kalian bisa mengenl satu sama lain. Pokoknya, di kencan kedua nanti tidak boleh gagal lagi. Anda harus bisa menaklukan hati seorang wanita" ucap Haura.
Reza menatap Haura dengan lekat, dia tersenyum tipis. "Aku tidak terbiasa berbasa-basi. Lagian sudah tanggung jawab kamu untuk mencarikan aku pengganti Freya di hatiku, kalau memang kencan pertama dan kedua gagal. Maka kau harus tetap mencarikannya sampai berhasil"
Haura menghela nafas pelan, salah dia karena pernah berjanji seperti itu. Tidak memperkirakan kalau kejadiannya akan seperti ini. Kalau saja dia tahu Reza akan bersikap seperti ini, mungkin saja dia tidak akan berjanji seperti itu padanya.
Aku tidak yakin sepuluh kandidat akan bisa ada satu saja yang bertahan dengan sikap arogannya ini. Ah, aku jadi pusing.
"Sudahlah, kau makan saja dan tinggal atur kencan selanjutnya. Akhir pekan nanti aku juga masih senggang" ucap Reza dengan entengnya, tidak tahu kalau Haura sedang terbebani sekarang.
"Baiklah" Akhirnya Haura hanya menjawab dengan pasrah. Karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena sudah terlanjur janji pada Reza.
"Semoga yang kedua nanti lancar ya, Pak. Saya sudah me-seleksinya sampai 10 yang terbaik" ucap Haura, menatap Reza dengan penuh harap agar pria itu tidak mengacaukan lagi kencan yang kedua nanti.
"Sepertinya kau cukup sulit mencarikan yang cocok untukku. Semoga saja dari semua kandidat kamu itu, ada satu saja yang bisa meluluhkan hatiku" ucap Reza.
Haura hanya tersenyum saja, meski nyatanya dia begitu kesal karena kencan pertama untuk Reza yang sudah dia atur, malah harus gagal seperti ini. Padahal dia sudah berharap sekali agar semuanya berhasil di kencan pertama saja.
Bersambung
__ADS_1