Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Kenapa Jantungku Berdebar?


__ADS_3

Haura harus memulai kembali dari awal untuk mengatur sebuah kencan untuk Reza. Berharap sekali kencan kedua ini akan berhasil. Meski entah kenapa hatinya malah merasa tidak yakin, karena melihat sikap Reza yang selalu saja seenaknya.


"Kalau di pikir-pikir, siapa yang akan tahan mempunyai teman kencan seperti ini. Bicara selalu seenaknya dan begitu arogan. Ah, aku harus mengajarinya bagaimana harus bersikap saat berkencan dengan wanita"


Haura harus benar-benar berusaha agar kencan kedua kalinya ini untuk Reza tidak gagal lagi. Dia sudah ingin terbebas dari pria itu. "Baiklah, aku akan menghubunginya sekarang"


Haura langsung menghubungi Reza, dia harus merubah pria itu agar tidak selalu seenaknya ketika sedang berkancan dengan wanita. Dia harus sedikit saja mengerti wanita harus diperlakukan seperti apa.


"Hallo Pak, apa hari ini ada waktu senggang? Sepertinya ada yang harus saya bicarakan" ucap Haura ketika teleponnya tersambung.


"Hari ini ya, kau bisa datang ke Apartemenku nanti jam 7 malam. Aku pulang bekerja jam segitu"


Haura menghela nafas pelan, setidaknya semakin cepat semakin baik. "Baik Pak, nanti saya akan datang ke Apartemen anda"


Hanya sebuah deheman sebagai jawaban dari Reza. Untung saja Haura sudah terbiasa dengan sikap pria ini. Jadi dia sudah bisa memakluminya. Setelah menutup sambungan telepon, Haura langsung menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa. Punggungnya terasa sakit saat seharian ini dia terus mengurus kontrak kerjasama untuk pembangunan Restaurant cabang di luar kota.


Menatap langit-langit kamar dengan helaan nafas pelan. Entah apa yang membuat dia terbayang dengan wajah Reza yang menyebalkan itu. Selalu saja dengan ekspresi yang sama, mau dia berbicara tentang pekerjaan ataupun hal lain.


"Apa mungkin dia terlalu patah hati ya karena Freya yang sudah menikah. Tapi pastinya seperti itu si, dia 'kan sudah sejak SMA menyukai Freya. Eh, pas mau mengungkapkan perasaannya itu malah gadis yang dia sukai menikah dengan pria lain. Ah, pasti sakit sekali"


Haura langsung menggeleng cepat sadar dengan ucapannya itu. "Kenapa aku malah memikirkannya. Ya ampun Haura, sadar, pekerjaanmu masih banyak. Kenapa juga harus memikirkan dia"


Haura langsung bangun dan mengambil kertas di atas meja dan mulai mengotak-ngatik laptopnya. Kembali menggeleng cepat, ketika dia mengingat apa yang dia pikirkan.


"Fokus pada pekerjaanmu, jangan memikirkan dia terus"


Tapi, entah kenapa malah bayangan Reza yang semakin bermunculan dalam ingatannya. Membuat Haura kewalahan dan akhirnya dia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Berbaring sejenak di atas sofa dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mungkin aku terlalu lelah, jadi aku harus istirahat sebentar"


Haura memejamkan matanya, dia tidak boleh jika harus terus memikirkan Reza. Jadi dia memilih untuk tidur sebentar, sampai bayangan Reza itu menghilang dari pikirannya.


*******


Hari ini Reza kembali dengan diantar oleh sekretarisnya. Dia segera pergi menuju lift, menuju lantai dimana Apartemenya berada. Ketika dia keluar dari lift, dia melihat Haura yang sedang duduk di sebuah bangku yang berada di lorong Apartemen ini. Tepat di depan pintu Apartemen yang di tinggali oleh Reza.


"Kau sudah datang rupanya, sepertinya apa yang akan dibicarakan cukup penting" ucap Reza saat sudah berada di depan Haura.


Haura langsung mendongak ketika dia mendengar suara Reza. Tadi dia hanya memainkan ponselnya untuk menghilangkan jenuh saat menunggu Reza. Menyadari keberadaan Reza itu, dia langsung berdiri.


"Baru pulang ya, Pak. Saya hanya ingin berbicara sebentar saja" ucap Haura.


Reza membuka pintu Apartemennya, dia menoleh dan menatap Haura sekilas. "Masuklah dulu, aku lapar. Kau buatkan aku makan malam dulu"


Haura benar-benar terkejut mendengar ucapan Reza. Dia yang dibuat melongo oleh ucapan santai Reza yang seenaknya itu. "Dia ini tidak punya rasa tidak enak apa ya. Masa ada tamu datang malah di suruh membuat makan malam. Tamu itu harusnya di jamu, ini malah harus menjamu"


Haura benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Reza. Memang pria itu sangatlah menyebalkan dalam berbagai hal. Entahlah kenapa dia bisa menjadi seorang pria yang sama sekali tidak bisa mengerti wanita.


"Aku rasa Freya beruntung karena tidak jadi bersamanya. Dia itu hanya pria arogan yang tidak bisa memahami perempuan"


Haura akhirnya masuk ke dalam Apartemen ini, dia tidak menemukan Reza di ruang tengah. Membuat dia langsung berlalu saja ke arah dapur.


"Mungkin dia sedang mandi di dalam kamarnya"


Haura mulai membuka lemari es, mencari bahan masakan yang bisa dimasak dengan cepat dan simple malam ini. Haura memulai masakannya ketika dia sudah menemukan bahan yang tepat. Meski sebenarnya dia sedikit kesal karena Reza yang malah menginginkannya untuk memasak, padahal dia hanya ingin berbicara sebentar saja. Tapi malah di suruh untuk masak oleh Reza. Sungguh menyebalkan.

__ADS_1


"Masak apa kau?"


Suara bariton itu membuat Haura begitu terkejut, dia langsung mendongak dan semakin terkejut ketika melihat penampilan Reza yang hanya menggunakan jubah mandi hingga dada mulusnya itu terlihat dengan jelas. Saking kagetnya, membuat Haura tidak sengaja membuat pisan yang di pegangnya melukai jarinya.


"Awhhh"


Reza langsung menarik tangan Haura saat melihat darah yang menetes dari jari tangannya. Dia  mengambil tisu dan menutup luka itu dengan tisu yang langsung berubah warna merah dengan darah yang terus keluar dari jari tangan Haura.


"Kau ini kenapa tidak hati-hati"


Haura tertegun saat melihat Reza yang langsung menghisap jarinya untuk menghentikan darah yang terus keluar. Hangat mulut dan lidah Reza yang menghisap jarinya itu membuat Haura sedikit berdebar.


Ya ampun, kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini.


"Tunggu disini, aku ambil kotak obat dulu" ucap Reza, dia segera berjalan ke arah laci dan mengambil kotak obat dari sana.


Menarik kursi di samping Haura dan duduk disana. Menarik kembali tangan Haura yang terluka. Lalu dia mengobatinya dan menempelkan plester di jari Haura itu. "Lain kali harus lebih hati-hati. Kalau sampai jarimu ini putus bagaimana"


Haura menghela nafas pelan, entah kenapa tatapan matanya malah terfokus pada dada Reza yang terpampang nyata di depannya saat ini. Membuat dia langsung menggeleng pelan karena pikirannya yang sudah mulai tidak bisa di ajak kompromi. Bahkan saat Reza mengobati luka di jarinya, dia sama sekali tidak merasa sakit atau perih, karena tatapannya malah terus tertuju pada dada Reza itu.


Ya ampun Haura, kenapa malah salah fokus begini.


Saat dia tersadar dengan apa yang dia lakukan dan yang dia lihat. Haura langsung menarik pelan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Reza.


"Terima kasih, Pak. Saya akan melanjutkan memasak, sebentar lagi selesai" ucap Haura.


"Berhati-hatilah" ucap Reza, sebelum dia berdiri dan berlalu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2