Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Aku Rasa Akan Tetap Cantik?!


__ADS_3

"Kau tidak akan makan lagi?" tanya Reza saat melihat Haura yang hanya diam saja melihatnya yang mengambil makanan yang sudah dibuatnya.


Haura menggeleng pelan. "Sudah makan tadi siang, jadi masih kenyang"


Reza menggeleng heran dengan gadis satu ini. "Kenapa kau harus melakukan diet tidak jelas, padahal kau sudah kurus kering begitu"


Memang wanita itu aneh dan pikirannya tidak bisa diterima oleh akal sehat seorang pria.


"Pak, saya tidak mau saja kalau sampai berat tubuh saya terus naik. Kan sudah saya bilang kalau berat tubuh saya ini gampang sekali naik dan akan susah untuk turun kembali. Jadi saya hanya sedang menjaga ke-stabilan berat tubuh saya ini" jelas Haura.


Reza hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Mungkin memang gadis di depannya ini sedikit aneh. "Kalau kau gendut pun, aku rasa akan tetap cantik"


Haura langsung menghentikan tangannya yang akan mengambil minum di atas meja itu. Mendengar ucapan Reza barusan benar-benar membuatnya terkejut. Apa maksudnya dengan ucapan kalau Haura akan tetap cantik meskipun nanti dia gendut? Haura benar-benar tidak mengerti dengan maksud Reza.


"Haha.. Kenapa kau tegang begitu? Bukannya seorang wanita itu mau gendut atau kurus tetap cantik ya? Kan tidak ada darisananya kalau wanita tampan. Tentu aku benar, bukan?" ucap Reza dengan tertawa lucu melihat wajah tegang Haura barusan.


Haura langsung mengerjap pelan mendengar ucapan Reza barusan. Dia memejamkan matanya karena malu sendiri dengan sikapnya ini. Padahal jelas tidak mungkin seorang pria seperti Reza begitu tulus memuji seorang gadis.


Ya ampun Haura, kenapa kau harus terbawa suasana dengan ucapannya barusan. Lagian pria seperti dia tidak mungkin akan memuji kamu seperti itu.


Haura jadi malu sendiri dengan reaksinya karena mendengar ucapan Reza barusan. Sejenak dia seolah lupa kalau Reza adalah pria arogan yang tidak akan pernah mau memuji seorang wanita. Karena sampai saat ini yang berada di hati dan pikirannya, hanya Freya seorang. Jelas sekali dia masih belum bisa move on dari cinta pertamanya itu.


"Em, saya tunggu disana ya Pak" ucap Haura, menunjuk ke arah sofa yang berada di ruang tengah Apartemen ini. "...Nanti selesai anda makan segera kesana ya. Saya ingin berbicara dengan anda tentang kencan kedua nanti"

__ADS_1


Reza hanya diam saja, tapi dia tidak melarang Haura untuk meninggalkan dirinya di ruang makan itu. Reza masih menikmati makanan yang dibuatkan oleh Haura. Entah kapan terakhir kali dia merasakan masakan rumahan dengan rasa seenak ini.


Haura duduk di atas sofa, dia melirik ke sekelilingnya hanya untuk menghilangkan jenuh saja selama menunggu Reza yang sedang makan. Haura melihat sebuah figura foto yang terpajang di atas dinding di ujung ruangan yang dimana disana terdapat sebuah meja kerja bundar yang banyak berkas-berkas dan juga sebuah laptop di atasnya. Sepertinya ini adalah tempat kerja Reza.


Haura berjalan ke arah sana, mengambil figura foto itu dan menatapnya. Foto dua anak SMA dengan menggunakan seragamnya. Tentu saja dia adalah Reza dan Freya.


"Kenapa waktu itu aku tidak sempat melihat foto ini ya. Sepertinya memang mereka begitu dekat ya..." Haura melirik ke arah meja dapur, dimana Reza yang masih menghabiskan makanannya disana. "...Pantas saja dia tidak bisa begitu mudah untuk melupakan Freya"


Haura menyimpan kembali figura foto itu di atas meja kerja. Lalu dia kembali ruang tengah, bertepatan dengan Reza yang juga sudah selesai dengan makan malamnya dan sudah berjalan ke arahnya. Mereka pun duduk saling berhadapan di sofa itu, hanya terhalang sebuah meja.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Reza.


"Pak Direktur, anda itu seharusnya sudah bisa merubah sikap anda kepada seorang perempuan. Jangan terlalu dingin dan judes. Perempuan itu inginnya diperhatikan dan juga di dengarkan saat dia berbicara. Tidak ada salahnya dalam sebuah kencan kalian mengobrol santai" ucap Haura, langsung saja pada inti pembicaraan yang ingin dia bahas dengan Reza kali ini.


Haura menghela nafas pelan, jelas bukan seperti itu apa yang dimaksud oleh Haura. Tapi entah kenapa Reza malah menafsirkan pembicaraannya itu dengan cara seperti itu.


"Bukan seperti itu, Pak. Maksud saya, coba untuk mengobrol sedikit saja dengan teman kencan anda nanti. Jangan terus mencuekan dia dan bersikap dingin padanya. Pastinya perempuan ingin pria yang hangat dan bisa menjadi teman berbicara dengan baik" ucap Haura, masih mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Aku ini mencari seorang calon kekasih yang bisa membuat aku melupakan Freya. Bukan mencari teman mengobrol, kalau aku mencari teman mengobrol, sudah saja aku berbicara denganmu"


Ah, rasanya Haura sudah lelah menjelaskan pada Reza. Karena dia bingung bagaimana lagi cara menjelaskan pada Reza agar dia mengerti maksud dari ucapannya. Nyatanya pria dingin dan arogan seperti dia memang sulit untuk pendekatan dengan Freya.


"Ah, saya jadi bingung bagaimana lagi cara menjelaskannya. Terserah anda saja deh, tapi saya harap kencan kedua ini tidak gagal lagi. Karena saya sudah capek mengatur kencan buta untuk anda" ucap Haura pada akhirnya, dia lelah juga menjelaskan pada Reza.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Reza ketika melihat Haura yang sudah mengambil tasnya.


"Pulang" jawab Haura singkat, dia langsung berjalan menuju pintu keluar dari Apartemen ini.


"Ah, aku pusing sekali menghadapi pria seperti ini. Kenapa dia ini keras kepala sekali. Bagaimana coba ada wanita yang mau padanya, kalau dia terus seperti ini" gerutu Haura sambil terus berjalan menuju lift.


Saat Haura berada di depan lift dan dia sudah menekan tombol disamping lift itu, menunggu pintu lift terbuka. Namun ada sepasang kaki yang tiba-tiba berdiri disampingnya. Haura langsung menoleh dan terbelalak saat melihat Reza yang sudah berdiri disampingnya dengan mantel yang sudah dia pakai. Tinggi badannya yang cukup jauh dengan pria itu, membuat Haura harus mendongak untuk menatap wajahnya.


"Pak Direktur, anda mau kemana?" tanya Haura.


"Mengantarmu pulang" Menjawab singkat dan langsung masuk ke dalam lift ketika pintu lift sudah terbuka.


Haura masih terdiam mematung mendengar ucapannya barusan. Masih terlalu terkejut jika Reza akan mengantarnya pulang.


"Sampai kapan kau akan berdiam di situ?"


Suara penuh penekanan itu membuat Haura mengerjap, dia segera masuk ke dalam lift. Berdiri dengan sedikit canggung, berada di ruangan tertutup dan hanya berdua dengan Reza seperti ini, sungguh membuat Haura sedikit merinding. Apalagi ketika udara di sekitarnya tiba-tiba terasa mencekam.


Aduh, kenapa suasananya jadi menyeramkan begini ya.


Haura mengusap tengkuknya sendiri ketika dia merasa merinding. Sama sekali tidak berani menoleh ke belakang dimana Reza berdiri dengan wajah dinginnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2