Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Sebenarnya Aku Kenapa?


__ADS_3

Haura masih begitu terkejut saat dia melihat apa yang dilakukan oleh Reza saat ini. Bagaimana pria itu yang berlutut di atas lantai dengan mengangkat kaki Haura yang terluka dan menopangkannya di atas lututnya. Sebenarnya Haura merasa sangat tidak sopan karena sudah menaruh kakinya di atas lutut orang terhormat seperti Reza ini. Tapi mau bagaimana lagi, karena Reza sendiri yang tidak membiarkannya lepas begitu saja.


"Pak, saya benar-benar tidak papa. Saya bisa mengobati lukanya sendiri" ucap Haura.


Reza langsung mendongak dan menatap Haura dengan tajam. "Kenapa kau ceroboh sekali? Dan kenapa juga kau memakai sandal jepit tipis seperti itu. Apa pekerja disini juga memakai seperti ini? Sungguh tidak bermodal sekali"


Haura mencebikan bibirnya dengan mendengus pelan. "Saya biasanya pakai sandal seperti ini saja kalau disini. Lebih nyaman, kalau pekerja saya tentunya memakai sepatu agar lebih aman"


Reza bedecak pelan mendengar jawaban Haura yang seperti itu. "Kau ingin karyawanmu aman, tapi untuk diri sendiri tidak aman"


Haura meringis pelan saat Reza mulai membersihkan lukanya setelah dia mencabut pecahan piring yang sempat menempel di kakinya. Haura menatap Reza yang membersihkan lukanya dengan sedikit meniup lembut luka itu, agar meredakan rasa sakitnya.


Kenapa dia selalu terlihat lembut dan hangat seperti ini. Tapi di saat dengan orang lain, maka dia selalu bersikap arogan. Membuat orang-orang akan salah menilainya.


"Tahan sedikit, ini akan sedikit lebih perih" ucap Reza yang siap mengoleskan obat ke luka di kaki Haura.


Dan benar saja, Haura langsung merasa perih yang luar biasa di kakinya. Sampai dia tidak sadar memegang lengan Reza dengan kuat. Menahan rasa perih di kakinya itu.


"Awhhh..."


Reza meniup-niup pelan luka di kaki Haura itu, agar dia bisa sedikit saja menghilangkan rasa perih itu. "Masih sakit? Aku akan tempelkan perban"


Haura mengerjap pelan, dia melihat tangannya yang memegang lengan Reza. Segera dia melepaskannya saat sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Sudah lebih baik Pak" ucap Haura sedikit tergagap.

__ADS_1


Reza mengangguk pelan, dia mulai membalutkan perban di kaki Haura. Sepertinya dia cukup pandai juga dalam hal ini, karena begitu mudah dan rapi saat membalutkan perban di kaki Haura yang terluka.


"Sudah selesai, lain kali harus perhatikan keselamatan kamu juga"


Haura mengangguk, entah kenapa hatinya langsung merasa tersentuh dengan ucapan Reza barusan. Semua yang dilakukannya benar-benar membuat Haura merasa sangat tersentuh. Tapi dka langsung menyadarkan dirinya sendiri jika Reza tidak mungkin menaruh perasaan lebih padanya. Dan Haura juga harus sadar diri tentang hal itu.


"Terima kasih ya Pak, anda malah harus repot mengobati luka saya" ucap Haura, dalam hatinya dia masih menyesal karena kencan yang dia rancang kali ini untuk Reza juga tetap gagal.


Reza berdiri dan menyimpan kotak obat di atas meja. "Lain kali lebih hati-hati, perhatikan keselamatan dirimu sendiri sebelum orang lain"


"Iya Pak, terima kasih banyak. Dan maaf karena kencan kali ini juga harus gagal karena saya" ucap Haura.


Reza kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Haura. Menatap gadis itu dengan lekat. "Aku tidak peduli, kau bisa atur ulang 'kan? Bukannya kau sudah berjanji akan membantu aku menemukan pengganti Freya yang sebenarnya"


Ya Tuhan, kenapa harus terulang kembali. Ah, aku jadi kesal sendiri.


"Sekarang temani aku makan, kau sudah membuat aku mengobati lukamu. Jadi sekarang berikan aku makan malam yang enak" ucap Reza, menatap santai pada Haura.


Lagi? Setiap acara kencan yang dia siapkan untuk Reza, entah kenapa malah selalu berakhir mereka berdua yang makan malam bersama. Ah, Haura saja jadi bingung sendiri kenapa malah jadi seperti ini. Tapi Haura juga tidak mungkin menolak, apalagi memang benar jika Reza telah berjasa mengobati lukanya. Seorang terpandang mengobati luka di kaki Haura, hanya seorang rendahan.


Ah, rasanya aku sangat rendah diri sekarang.


Dan akhirnya malam ini terjadi seperti sebelumnya. Berakhir dengan makan malam berdua diantara Haura dan Reza. Padahal niatnya adalah mengatur kencan untuk Reza agar bisa melupakan Freya yang sekarang sudah menikah dengan cinta pertamanya. Tapi entah kenapa belum ada kencan yang benar-benar bisa berjalan dengan lancar.


*******

__ADS_1


Haura yang sedang tiduran di atas tempat tidur di dalam kamarnya, dia terus memikirkan tentang apa yang terjadi tadi di Restaurant. Haura mengangkat kakinya menjulang ke atas, menatap perban yang terpasang di kakinya itu. Kembali teringat bagaimana Reza yang memasangkan perban itu dengan begitu telaten pada kaki Haura yang terluka.


"Kenapa aku jadi berdebar seperti ini setiap kali mengingat tentang Pak Direktur"


Haura yang bahkan tidak mengerti sendiri dengan perasaannya ini pada Reza. Bagaimana dia yang selalu mengingat tentang Reza hingga membuat jantungnya berdebar. Bahkan Haura masih tidak mengerti dengan perasannya saat ini.


"Sebenarnya aku kenapa ya?" Haura memegang dada bagian kiri. "...Kenapa jantung ini selalu terus berdebar saat mengingatnya"


Haura meraih ponselnya, dia iseng mencari apa yang dia rasakan di internet. Takut jika ternyata Haura malah mempunyai penyakit jantung yang tidak dia sadari. Jadi dia memilih untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dia rasakan ini.


Jantung yang berdebar ketika berada di dekat seseorang atau bahkan hanya dengan memikirkannya saja. Selamat, kamu sedang merasakan jatuh cinta yang membuat jantungmu berdebar. Cinta yang akan membuat kamu bahagia.


Seketika ponsel di tangan Haura langsung jatuh ke atas tempat tidur saat dia membaca artikel itu. Merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia baca. Haura memegang kembali dada kirinya. Jantungnya masih berdebar, apalagi saat dia merasa kaget dengan artikel yang barusan dia baca.


"Tidak mungkin. Masa aku jatuh cinta padanya. Ah, pasti artikel itu salah menilai apa yang aku tulis"


Haura mengambil kembali ponselnya, mengecek apa yang dia ketik di halaman pencarian, sampai internet malah menunjukan artikel tentang jatuh cinta. Tapi memang benar apa yang dia tulis itu, dia menuliskan apa yang saat ini dia rasakan.


"Tapi masa iya aku telah jatuh cinta padanya? Ah, rasanya tidak mungkin"


Haura menggeleng pelan, dia menyangkal apa yang ada di artikel itu. Karena selama ini dia belum pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, yang sering dibicarakan orang-orang.


Kehidupan Haura memang terlalu sempurna selama ini, mempunyai kedua orang tua yang lengkap dan saling menyayangi. Dan dia juga tidak hidup kekurangan dan tidak berlebih. Semuanya terasa normal saja, hingga dia tidak pernah memikirkan tentang cinta dan pasangan sampai saat ini. Jadi untuk merasakan jatuh cinta, memang belum pernah terpikirkan oleh Haura.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2