Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Terima Kasih Untuk Hari Ini


__ADS_3

Reza terbangun, merasakan tubuhnya sudah lebih baik. Bahkan suhu tubuhnya sudah turun, meski tubuhnya cukup masih terasa lemas. Reza melirik jam dinding, terkejut saat dia sadar kalau dia tidur sampai selama itu.


"Ah, aku tidur terlalu lama..." Reza memijat tengkuknya, lalu dia baru mengingat sesuatu. "...Apa dia sudah pulang ya? Ah, pastinya sudah. Dia akan mati kebosanan menunggu aku yang tidur terlalu lama"


Reza turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar. Dia melihat ruang tengah yang kosong, mungkin memang benar dugaannya jika Haura pastinya sudah pulang. Apalagi hari yang sudah hampir gelap sekarang.


Tapi tunggu! Ketika Reza akan melangkah ke arah dapur, sudut matanya tidak sengaja melihat seseorang yang terbaring di sofa. Reza menghentikan langkahnya dan berbalik untuk memastikan jika penglihatannya itu tidak salah. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik begitu saja melihat Haura yang terbaring di atas sofa dengan tenang.


"Dia tidak pulang ternyata, sepertinya dia begitu mendengarkan ucapanku. Memang gadis penurut"


Perlahan Reza berjalan ke arah Haura yang tertidur di atas sofa. Dia duduk di sofa tunggal samping sofa yang ditempati Haura. Menatap wajah gadis itu yang begitu tenang saat tertidur seperti ini. Tahi lalat kecil di bawah bibirnya, entah kenapa membuat Reza menatap ke arahnya.


Tangan Reza terangkat, dia menepuk pelan pipi Haura untuk membangunkannya. "Bangun, sudah malam"


Mata Haura mulai mengerjap pelan, dia bisa merasakan tepukan tangan Reza. Ketika dia membuka kedua matanya, dia langsung bangun terduduk saat melihat Reza yang berada di depannya.


"Em, anda sudah bangun ya. Bagaimana keadaan anda?" tanya Haura, masih setengah sadar karena nyawanya yang belum kumpul semuanya setelah tidur cukup lelap barusan.


"Kau bisa lihat keadaanku sekarang. Aku baik-baik saja, terlihat sudah lebih baik 'kan" ucap Reza.


Haura mengangguk, dia sedikit merapikan rambutnya yang berantakan. "Syukurlah kalau begitu, apa sekarang saya sudah boleh pulang saja?"


"Tunggu!"


Haura langsung menoleh pada Reza, menatapnya dengan bingung. Haura menunggu apalagi yang akan diucapkan oleh Reza padanya.

__ADS_1


"Em, sekarang aku lapar. Kau bisa buatkan aku makanan? Aku masih belum bisa memakan junkfood untuk saat ini" ucap Reza.


Haura mengangguk, dia langsung berdiri dan mengikat rambutnya dengan asal dengan ikat rambut yang dia simpan di dalam saku celananya. "Kalau begitu biar saya memasak. Anda mau dibuatkan makanan apa?"


"Apa saja, yang terpenting jangan pedas. Lambung ku tidak kuat dengan makanan pedas"


Haura mengangguk, dia segera berjalan ke arah dapur. Membuka lemari es dan melihat ada bahan makanan apa saja di dalam sana yang bisa menjadi bahan masakan untuk malam ini. Haura mengambil beberapa sayuran dan juga daging dari dalam lemari es. Dia akan memasakan masakan sederhana yang cepat saja. Agar dia bisa segera pulang, lagian dia juga tidak nyaman terus berada di Apartemen pria seperti ini.


Reza diam di sofa sambil menatap Haura yang terlihat sudah lihai dengan urusan dapur. Seolah gadis itu sudah menguasai semua yang ada di dalam dapur. Leher jenjangnya itu terlihat jelas ketika rambutnya di cepol asal seperti itu. Dan entah kenapa malah menjadi pusat tatapan matanya saat ini.


Reza berdiri dan memutuskan untuk menyusul Haura ke arah dapur. Duduk di kursi meja makan disana, menatap Haura yang sedang sibuk mengaduk masakannya di dalam wajan. 


"Jadi, kapan jadwal kencan yang akan kau bahas itu?" ucap Reza.


Haura terdiam sejenak, dia baru teringat dengan tujuan utamanya datang kesini adalah untuk membahas itu. Aku bahkan lupa kalau aku sedang menjadi biro jodohnya. Ah, dasar kamu ini Haura. Gumamnya dalam hati.


Reza menatap sepiring nasi goreng di depannya yang terlihat begitu menggiurkan. Lalu dia menatap Haura yang duduk di depannya. "Kenapa hanya ada satu piring nasi goreng? Kau tidak makan juga?"


Haura menggeleng pelan. "Saya sedang diet, tidak banyak makan di malam hari"


Reza langsung menatap tubuh Haura dari atas sampai bawah. Lalu, dia menggeleng tidak percaya. "Apa yang mau kau dietkan? Tubuhmu sudah kecil begitu"


Haura langsung memegang pipinya, seolah ingin menunjukan bagian mana yang selalu membuatnya insecure. "Lihatlah pipi saya, Pak. Sudah chubby sekali, jadi aku ingin membuat pipi saya ini tirus. Lagian tubuh saya ini adalah tubuh yang gampang sekali naik berat badan, dan sulit untuk turun kembali. Jadi, saya menjaga itu"


Reza hanya menggeleng pelan dengan mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Memang wanita itu aneh-aneh sekali ya. Mungkin hanya Freya yang aku kenal dan aku merasa dia adalah wanita yang tidak melakukan hal-hal tidak perlu seperti kebanyakan wanita lainnya"

__ADS_1


Haura hanya tersenyum saja, dia tahu bagaimana sahabatnya itu memang terlalu sederhana dan apa adanya. Tapi mungkin ksederhanaan itu harus sedikit berubah saat dia sekarang menjadi seorang istri dari anak pemilik Perusahaan cukup terkenal.


"Ya, dia memang berbeda dari wanita lainnya. Saya saja sebagai wanita kagum padanya, apalagi anda sebagai pria" ucap Haura.


Reza mengangguk, dia mulai menyendok nasi goreng yang dibuatkan oleh Haura. Untuk suapan pertama dia sudah merasa jatuh cinta pada rasa di masakan ini.


"Wah ini enak sekali, kau memang pandai memasak. Pantas saja kau menjadi pemilik Restaurant" ucap Reza yang terlihat begitu menyukai nasi goreng buatan Haura itu.


Haura hanya tersenyum saja, tidak terlalu menanggapi ucapan Reza barusan. Haura meraih ponselnya di atas meja, lalu mulai membuka data beberapa kandidat untuk perempuan yang akan direncakan kencan buta dengan Reza ini.


"Saya sudah menyiapkan sekurangnya 10 orang untuk kencan anda. Namun, akan di atur sesuai jadwal senggang anda saja. Jika yang pertama ini gagal dan anda tidak merasa cocok, maka langsung cancel pada saya dan akan saya jadwalkan lagi untuk kencan selanjutnya" jelas Haura.


Reza hanya mengangguk saja, seolah tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan Haura itu. Reza hanya sedang menikmati nasi goreng buatan gadis itu saja. Sungguh terasa enak dan seolah membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengunyah.


"Jadi, jadwal senggang anda kapan?" tanya Haura.


Reza meminum air di dalam gelas yang sudah disediakan oleh Haura, lalu kembali menyimpan gelas itu. Menatap Haura dengan tenang. "Mungkin akhir pekan ini aku senggang. Kau atur saja semuanya"


Haura mengangguk. "Baiklah, saya akan mengatur kencan di sabtu malam ya. Bagaimana?"


Reza mengangguk saja, dia terlihat sekali tidak tertarik dengan pembahasan kencan buta ini.


"Baiklah kalau begitu, Pak. Saya izin pulang dulu" ucap Haura yang sudah berdiri dari duduknya.


"Em, terima kasih untuk hari ini. Aku akan membalasnya nanti" ucap Reza.

__ADS_1


Haura hanya tersenyum. "Sama-sama, semoga terus sehat ya, Pak"


Bersambung


__ADS_2