Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Reza Sakit


__ADS_3

Haura terpaksa memberi tahu Freya dengan alasan jika pria itu memang sudah tertarik pada Freya setelah melihat fotonya. Namun sebenarnya salah Haura yang pernah berjanji untuk memberikan waktu kencan buta kedua.


Hingga sekarang Haura benar-benar menyesal karena sudah memberikan janji seperti itu. Dan hal baru yang diketahui Haura, ternyata Reza adalah teman semasa sekolah Freya. Tentu saja hal ini membuat Haura jadi mengerti kenapa dia begitu kekeuh ingin bertemu dengan Freya.


Dan ketika hari ini Haura mendapatkan sebuah pesan dari Freya jika dia akan datang dengan Reza ke Restaurantnya untuk membicarakan tentang masalah diantara mereka berdua. Mungkin Freya ingin memperjelas pada Reza jika dirinya sudah menikah dan tidak mungkin dia memberikan harapan terus menerus pada pria itu.


"Ah, semoga saja semuanya bisa terselesaikan dengan baik"


Haura hanya diam saja di tempat kasir, dia menatap ke arah meja di ujung ruangan. Bagaimana keduanya sedang berbincang. Melihat dari ekspresi Reza, pasti pria itu sangat terluka dan kecewa karena mengetahui jika Freya sudah menikah.


"Sebenarnya dia memang sangat kasihan, tapi bagaimana lagi karena cinta tidak akan bisa dipaksakan"


Haura jadi sedikit prihatin pada Reza yang harus menerima kalau dia itu sudah tidak mempunyai kesempatan apapun lagi untuk bisa bersama dengan Freya.


Setelah Freya pergi, Haura melihat Reza yang hanya diam dengan kepala menunduk. Pastinya akang sangat melukai hatinya saat dia tahu wanita yang dia cintai ternyata sudah menikah. Haura menghela nafas pelan, lalu dia berjalan menghampirinya untuk sekedar memberikan sebuah penyemangat saja. Meski dia tidak yakin tentang itu.


"Yang sabar ya Pak Direktur, nanti aku carikan lagi jodoh yang cocok buat kamu agar bisa melupakan sahabat saya itu" ucap Haura dengan wajah yang sedikit bingung dan ragu, bahkan dia tidak tahu harus bagaimana menghibur orang yang sedang patah hati.


Reza menghembuskan nafas pelan, dia mendongak dan menatap Haura dengan lekat. Tatapannya itu cukup membuat Haura takut. "Aku ragu bisa jatuh cinta ke lain hati. Karena selama ini saja, aku tidak bisa melupakan dia. Jika bukan terhalang waktu dan jarak, mungkin sudah dari dulu aku mengungkapkannya. Tapi karena kebodohan aku yang terus mencari waktu yang tepat, hingga akhirnya waktu memang tidak tepat sekarang"


Haura terdiam, dia jadi bingung sendiri bagaimana caranya menghibur Reza yang sedang patah hati itu.  "Pasti bisa Pak, nanti aku akan berusaha mencarikan yang cocok untuk Tuan"


Sepertinya biro jodoh untuk Freya akan aku ganti judul, menjadi biro jodoh Pak Direktur. Kalau di pajang fotonya yang tampan ini, pastinya akan sangat banyak wanita yang langsung tertarik, sepertinya tidak akan sulit.


Reza berdiri dari duduknya, dia menatap Haura sekilas. "Terserah apa yang akan kau lakukan"

__ADS_1


Haura hanya menatap penuh khawatir pada Reza yang berlalu keluar dari Restaurannya ini. "Kasihan sekali dia, pastinya sangat kecewa. Sudah memendam cinta selama ini, tiba-tiba dia harus menerima kenyataan kalau wanita yang dia cintai malah sudah menikah. Ah, pastinya sangat terluka"


*****


Hari ini, Haura mulai mencari gadis yang bisa di jodohkan pada Reza. Benar saja, setelah satu jam dibuka untuk biro jodoh Pak Direktur itu, sudah banyak sekali yang daftar untuk di atur kencan buta oleh Haura.


Namun, sepertinya Haura juga tidak bisa sembarang memilih seorang gadis yang akan kencan buta dengan Pak Direktur. Melihat sikapnya yang sedikit dingin dan tegas. Pastinya dia juga mempunyai selera sendiri. Mungkin setidaknya harus secantik dan sebaik Freya.


Haura menanyakan banyak hal tentang kepribadian setiap gadis yang menjadi kandidat utama untuk bisa pergi kencan dengan Pak Direktur. Meski sebenarnya Haura juga tidak begitu yakin kalau Pak Direktur akan bisa berpaling ke lain hati, sesuai dengan ucapannya waktu itu.


Haura meraih ponsel dan menghubungi Reza untuk memastikan jadwal kencan. "Hallo Pak, saya ingin membicarakan tentang jadwal kencan anda ini. Apa bisa bertemu?"


Tidak langsung mendapat jawaban, Haura malah mendengar Reza yang terbatuk-batuk. Sepertinya keadaan pria itu sedang tidak baik.


"Em, ba-baik Pak"


Dan setelah mendapatkan alamatnya, Hauara langsung pergi menuju Apartemen Reza. Karena dia tahu kalau Reza sedang tidak enak badan, membuat dia merasa tidak nyaman kalau hanya datang dengan tangan kosong. Jadi dia membawa makanan dari Restaurannya dan beberapa obat juga.


Sampai di kawasan Apartemen mewah, Haura segera menuju lantai dimana Apartemen Reza berada. Meski sedikit bingung karena dia pertama kali datang kesini.


"Benar ini sepertinya, aku tidak salah nomor pintunya 'kan"


Haura menyamakan nomor yang berada di pintu Apartemen ini, dengan pesan yang dikirimkan oleh Reza tadi. Dia takut salah, tapi memang benar jika pintu Apartemen di depannya ini adalah alamat yang benar sesuai yang dikirimkan oleh Reza.


Haura menekan bel pintu, menunggu beberapa saat sampai pintu terbuka dan dia melihat Reza dengan keadaan sedikit kacau. Rambut yang biasanya tertata rapi, terlihat cukup acak-acakan. Belum lagi wajah pucat dan bibir yang kering, membuat Haura jadi merasa kasihan melihat keadaannya ini.

__ADS_1


"Pak Direktur, sebenarnya anda sakit apa? Apa sudah di periksa ke Dokter?" tanya Haura.


Reza bersandar di dinding dengan berpegangan pada handel pintu yang masih terbuka. Dia benci sakit, karena jika sedang sakit seperti ini maka dirinya selalu merasa sangat lemah dan tidak berdaya.


"Hanya kecapean biasa, masuklah"


Haura mengangguk, dia membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah yang tersedia di rak sepatu dekat pintu keluar ini. Haura mendongak dan melihat Reza yang berjalan perlahan dengan berpegangan pada dinding, sepertinya memang keadaan dia cukup lemah. Membuat Haura langsung menghampirinya dan membantunya berjalan ke arah sofa di ruang tengah.


"Tubuh anda terasa sangat panas, sepertinya anda harus diperiksa" ucap Haura saat dia merasakan suhu tubuh Reza yang cukup tinggi.


Reza menundukan pandangannya, dia terdiam melihat gadis pendek dengan tubuh sedikit berisi, tapi tidak bisa dibilang begitu gendut. Hanya berisi saja. Entah kenapa Reza seolah mendapatkan sebuah getaran yang aneh dalam hatinya.


"Duduk disini Pak"


Saat Haura mendongak dan tidak sengaja bersitatap mata dengan Reza yang sedang menundukan pandangannya. Tubuh Haura seolah langsung membeku. Bahkan dia jelas merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Ah, duduklah dulu Pak. Aku membawakan makanan untuk anda dan juga obat. Biar nanti aku siapkan dulu" ucap Haura sedikit gelagapan.


Reza mengangguk pelan, dia juga bingung karena dirinya yang sejenak bisa blank ketika melihat mata bulat Haura yang mirip dengan mata boneka. Besar dan bulat dengan bola mata hitam pekat.


"Terima kasih" ucap Reza.


Haura mengangguk, dia langsung berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan makanan yang dia bawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2