
Berada di dalam mobil mewah milik Reza, Haura malah merasa dirinya berada di kandang macan yang kapan saja bisa menerkamnya. Lihatlah bagaimana ekspresi wajah Reza yang masih sama seperti saat mereka masuk ke dalam lift di gedung Apartemennya tadi. Tetap terlihat dingin dan datar. Membuat suasana di dalam mobil malah terasa mencekam bagi Haura.
Ini si wajar saja kalau wanita yang menjadi teman kencannya langsung kabur. Melihat wajah dinginnya saja sudah langsung merubah suasana kencan yang tadinya romantis, jadi mengerikan.
Sesekali Haura akan melirik ke arah Reza yang sedang fokus mengemudi. Garis wajah yang sempurna untuk ukuran perempuan yang memiliki selera tinggi atas tampang seorang pria. Namun, sikap dingin dan arogannya itu pasti membuat orang-orang berpikir dua kali untuk memilih hidup bersamanya.
Dia memang tampan, tapi kenapa dia harus memasang wajah dingin seperti itu. Para wanita pastinya akan sangat takut melihatnya.
Ah, rasanya Haura bingung mencari topik pembicaraan dengan pria disampingnya ini. Belum lagi dia juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada Reza, tentang dirinya yang harus bersikap lebih manis pada seorang perempuan agar teman kencannya itu tidak kabur lagi. Tapi tentu saja sangat sulit menjelaskan pada pria seperti dia.
"Aku tahu aku ini sangat tampan dan banyak sekali wanita yang mengincarku. Tapi apa kau tidak bosan terus memandangku seperti itu?"
Deg,, Haura langsung memalingkan wajahnya seketika dengan dia yang terbatuk-batuk karena begitu terkejut dengan ucapan Reza barusan. Dia tidak menyangka kalau Reza menyadari jika Haura sedang menatap ke arahnya.
"Maaf Pak, tadi ada nyamuk di wajah anda" kilah Haura, dia merasa malu sekali jika harus ketahuan sedang memandangi wajah Reza barusan.
Reza menoleh dan menatap Haura dengan lekat, kebetulan sedang berada di lampu merah. Jadi dia bisa menatap Haura dengan cukup lama tanpa khawatir dengan kondisi jalan di depannya.
"Mana? Coba kau tangkap nyamuk hina yang berani menempel di wajah mulusku ini" ucap Reza.
Haura langsung tersenyum masam, rasanya tidak percaya akan ada seorang pria dingin tapi narsistik seperti ini. "Ah, sudah tidak ada Pak. Mungkin nyamuk itu langsung sadar kalau dia terlalu hina berada di wajah anda"
__ADS_1
Reza tersenyum tipis, dia mengangkat bahunya acuh tak acuh. Kembali fokus pada kemudinya ketika lampu merah itu sudah berubah hijau. Haura hanya diam saja dengan mengelus dadanya pelan. Rasanya masih merasa terkejut dengan apa yang barusan terjadi.
Jangan lagi menatap wajahnya, dia mempunyai mata dimana pun. Bisa melihat siapa yang menatapnya seperti itu.
Bagaimana tidak, ketika jelas Haura melihat Reza yang hanya fokus pada jalanan di depannya dan seolah tidak menyadari kalau ternyata Haura menatap ke arahnya. Namun ternyata dia tahu jika Haura sedang menatapnya.
"Kau pemilik Restaurant cukup terkenal juga, tapi kau tidak membawa mobil?" tanya Reza.
Haura terdiam sejenak saat mendengar Reza yang membuka pembicaraan lebih dulu. "Aku tidak bisa bawa mobil"
Jawaban singkat itu membuat Reza melirik sekilas pada Haura dengan salah satu alisnya yang terangkat. Merasa aneh dan bingung saat pemilik sebuah Restaurant cukup terkenal, bahkan tidak bisa mengendarai mobil.
"Dulu aku mengalami kecelakaan cukup hebat, jadi aku takut lagi untuk membawa mobil sendiri"
"Aku juga pernah mengalami kecelakaan yang hebat. Tapi aku tidak mempunyai trauma itu, karena aku tidak begitu ingat jelas bagaimana kecelakaan itu terjadi" ucap Reza.
Haura menghela nafas pelan, dia sebenarnya malas mengingat lagi kejadian yang menimbulkan trauma yang besar dalam dirinya. "Jika yang mengalami kecelakaan itu aku hanya seorang diri, mungkin aku juga tidak akan mempunyai trauma. Tapi saat itu aku bersama dengan Nenek dan keponakan aku. Mereka harus tewas dalam kecelakaan itu. Semuanya karena aku, karena aku tidak bisa mengendarai mobil dengan baik"
Reza langsung terdiam mendengar itu, melihat jelas ekspresi wajah Haura yang langsung berubah saat dia menceritakan tentang kecelakaan itu. Membuat Reza diam dan tidak lagi ingin membahasnya, sepertinya dia bisa melihat bagaimana Haura yang begitu trauma dengan kecelakaan yang dia alami.
Sampai di depan rumahnya, Reza langsung menghentikan mobilnya. "Turunlah, istirahat dengan baik. Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, karena kita tidak akan bisa mengulang semuanya dan mungkin saja sudah takdir. Lanjutkan saja hidupmu yang sekarang, dan orang-orang yang menyayangimu pasti akan senang melihatnya"
__ADS_1
Haura langsung menoleh dan menatap Reza. Rasanya baru kali ini ada seseorang yang mengatakan hal seperti itu padanya setelah tahu kisah kecelakaan itu. Disaat banyak orang yang hanya menyuruhnya sabar dan ikhlas yang sebenarnya sangat sulit dilakukan. Seolah belum ada yang melihat sebuah penyesalan yang besar dalam diri Haura. Terkadang mereka yang tahu cerita ini, malah menyalahkan Haura karena dia yang mengemudikan mobil pada saat itu.
Reza tersenyum tipis, dia mengelus air mata Haura yang berada di pipinya. Sepertinya Haura sendiri tidak sadar kalau dia telah meneteskan air mata.
"Sedih wajar saja untuk kehilangan orang yang kita sayangi. Tapi, bukan berarti harus terus terjebak dengan kejadian yang sudah lama terjadi. Karena kita tidak tahu bagaimana caranya Tuhan mengantarkan maut untuk kita. Tidak ada yang tahu tentang akhir hidup seseorang. Jadi, tidak perlu menyalahkan diri sendiri" ucap Reza.
Haura mengerjap pelan dengan air mata yang langsung saja kembali menetes di pipinya. Kali ini dia menyadarinya, segera dia mengusap kasar air mata itu. Masih tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari pria seperti Reza.
"Maaf Pak..." Haura mengusap sisa air matanya itu, merasa tidak enak karena malah menangis di depan Reza seperti ini. "...Saya langsung masuk ya, terima kasih sudah mengantarkan saya"
Reza mengangguk, dia menepuk bahu Haura pelan. "Kau pasti kuat dan akan bisa menjalani semuanya dengan baik"
Haura mengangguk, dia segera turun dari mobil Reza. Mengusap kembali ujung matanya yang masih menyisakan air mata. Haura menganggukan kepalanya pada Reza saat mobil itu mulai melaju dan meninggalkannya.
Haura menghembuskan nafas kasar, dia membuka pintu gerbang dan berjalan masuk ke halaman rumahnya. Masih teringat dengan ucapan Reza tadi yang benar-benar membuatnya tidak menyangka jika pria seperti Reza memang benar-benar mempunyai sisi lembut dan hangat.
"Sepertinya aku saja telah salah menilainya. Dia tidak seburuk itu" gumam Haura yang terus berjalan masuk ke dalam rumah.
Haura langsung ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan menatap langit-langit kamarnya itu. Lagi, bayangan Reza yang terlintas dalam ingatannya. Apalagi ketika dia melihat senyuman pria itu yang terlihat tulus. Ucapannya yang benar-benar membuat Haura sedikit tenang.
"Dia memang pria dewasa yang memiliki dua sisi sekaligus. Dia hangat dan lembut, meski terkadang dia selalu terlihat dingin dan menyebalkan. Ah, tidak seharusnya aku menilainya hanya melihat luarnya saja. Nyatanya dia tidak seburuk itu"
__ADS_1
Bersambung