Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Tunggu Saja Disini!


__ADS_3

Reza menatap Haura yang sedang menyiapkan makanan yang dia bawa di atas meja makan kecil disana. Entah kenapa dia melihat wajah polos itu penuh dengan ketulusan atas apa yang dia lakukan.


Haura berjalan ke arah Reza setelah selesai menyiapkan makanan dan juga obat untuk Reza. Menyimpannya di atas meja depan sofa, lalu Haura duduk disamping Reza. Meski sedikit canggung saat harus duduk berdampingan dan sedekat ini dengan Reza.


"Maaf Pak Direktur, apa bisa makan sendiri?" tanya Haura dengan sedikit gugup, dia tidak mungkin langsung menyuapi Reza begitu saja. Meski maksudnya hanya berinisiatif, tapi tetap saja akan merasa sangat canggung.


Reza yang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa karena sangat lemah. "Tidak perlu makan saja, aku merasa tubuhku sangat lemah. Jadi tidak bisa makan sendiri"


Haura mengatupkan bibirnya ke dalam, rasanya bingung juga. Tapi tidak mungkin dia membiarkan orang sakit tidak makan. Yaudahlah, menyuapi orang sakit bukan sebuah dosa besar. Jadi tidak apa kalau disuapi saja.


Perlahan Haura mengambil makanan di atas meja itu. Dia merubah posisi duduk menjadi sedikit miring, agar lebih mudah menyuapi Reza yang duduk disampingnya itu.


"Kalau begitu biar saya saja yang suapi, tidak papa 'kan?" tanya Haura, dia masih merasa tidak enak dan juga gugup. Pertama kalinya menyuapi seorang pria dewasa selain Ayahnya.


"Baiklah"


Hanya itu yang terucap dari bibir Reza, membuat Haura menyimpulkan jika dia memang di izinkan untuk menyuapinya. Haura menatap wajah Reza yang pucat dengan bibir yang kering.


"Em, apa anda ingin minum dulu agar bibirnya tidak terlalu kering seperti itu?" ucap Haura, lagi-lagi dia tidak bisa menghindari suaranya yang terdengar begitu gugup.


Reza membuka matanya yang sejak tadi terpejam, hanya sekedar ingin sedikit saja menghindari pusing di kepalanya. Reza mengangkat tubuhnya yang bersandar ke sandaran sofa. Menatap Haura yang juga sedang menatapnya. Dan terulang kembali, kontak mata diantara keduanya. Namun Haura yang segera memalingkan wajahnya.


"Mana minumnya, aku ingin minum dulu. Tenggorokan aku sangat kering" ucap Reza.


Haura mengangguk, dia menyimpan kembali piring makanan yang sudah berada di tangannya sejak tadi. Lalu mengambilkan segelas air putih di atas meja, memberikannya pada Reza.

__ADS_1


"Bi-bisa minum sendiri 'kan, Pak?"


Reza mengangguk saja, dia segera mengambil gelas air minum di tangan Haura dan meminumnya. Kembali menyimpannya di atas meja setelah dia rasa cukup untuk membasahi tenggorokan dan mulutnya yang kering.


Haura segera mengambil kembali makanan di atas meja, menatap wajah datar Reza. Sungguh dia sedikit ragu untuk membantunya menyuapi makan. Tapi, Haura juga tidak akan tega melihat orang sakit yang bahkan tidak mau makan sama sekali karena sangat lemah dan tidak bisa makan sendiri.


"Em, saya suapi ya, Pak"


Haura mulai menyendok makanan di atas piring, lalu mulai menyodorkan pada Reza yang langsung membuka mulutnya. Reza hanya terus fokus mengunyah setiap makanan yang disuapi oleh Haura. Sementara Haura juga hanya fokus menyuapinya makan. Hingga belum ada pembicaraan apapun diantara mereka selama beberapa menit ini, sampai makanan di piring hampir habis. Namun Reza langsung menghentikannya, karena dia yang merasa sudah kenyang.


"Minum dulu obatnya Pak, biar anda bisa cepat sembuh" ucap Haura sambil menyodorkan obat dan minum pada Reza. Dia membantu Reza untuk meminum obatnya.


Reza menatap Haura yang membereskan piring bekas makannya di atas meja. Dia sedikit heran karena gadis ini begitu perhatian padanya. Padahal mereka juga baru kenal.


Setelah selesai mencuci piring bekas makan, Haura kembali menghampiri Reza yang masih terlihat lemah di atas sofa. "Em, Pak sebaiknya anda istirahat saja dulu. Membicarakan tentang jadwal kencan, biar nanti saja kalau anda sudah sembuh"


Dia penggila kerja juga ya, meski sedang sakit masih harus mengecek pekerjaan. Gumam Haura dalam hati. Dia tersenyum tipis, Haura tidak tega saja melihat keadaan Reza yang cukup lemah saat ini.


"Sebaiknya anda tidur saja dulu, biar nanti aku datang lagi kesini kalau keadaan anda sudah lebih baik. Anda bisa langsung mengabari saya" ucap Haura.


Akhirnya Reza menyerah juga, dia tidak mungkin memaksa Haura. "Baiklah, kau tunggu saja disini. Mungkin aku hanya butuh setengah jam untuk tidur"


Tubuh Haura sedikit membeku mendengarnya, tentu saja dia tidak menyangka jika Reza akan memintanya untuk tinggal sebentar di Apartemen ini hanya untuk menunggunya selesai istirahat.


"Bantu aku ke kamar"

__ADS_1


Saat Haura baru saja akan membuka mulutnya untuk menolak ucapan Reza barusan. Tapi malah keburu pria itu berbicara dan meminta bantuannya untuk ke kamar. Akhirnya Haura tidak jadi berbicara. Dia membantu Reza untuk ke kamarnya. Memapahnya menuju kamar.


Tuhan, ada apa denganku? Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini?


Haura melirik tangan Reza yang merangkul bahunya, karena dia yang sedang memapahnya. Sebelah tangan Haura juga berada di pinggangnya. Jadi merasa sangat aneh saat Haura harus berada di jarak yang begitu dekat dengan seorang pria seperti ini.


Reza membuka pintu kamarnya, bahkan pintu kamar saja pakai sidik jari. Membuat tidak sembarang orang bisa memasukinya. Mungkin memang kepribadian Reza sangatlah tertutup atau bagaimana, Haura tidak tahu. Dia hanya menebak-nebak saja.


"Hati-hati Pak"


Haura mengangkat kedua kaki Reza untuk naik ke atas tempat tidur. Melepaskan sandal rumah yang dipakainya. Lalu, Haura menarik selimut untuk menutupi tubuh pria itu.


"Kalau begitu saya keluar dulu"


Saat Haura sudah berbalik dan akan melangkah menuju pintu keluar, namun tangannya langsung di tahan oleh Reza. Membuat Haura terdiam, dia melirik tangan Reza yang memegang pergelangan tangannya. Lalu tatapan Haura beralih pada Reza.


"Ada apa, Pak? Apa ada yang ingin saya lakukan?" tanya Haura.


"Terima kasih, aku akan membalas kebaikanmu ini"


Haura terdiam mendengarnya, lalu dia melihat Reza yang bahkan sudah kembali menutup matanya setelah dia mengucapkan itu. Haura tersenyum tipis melihatnya, Haura melepaskan tangan Reza yang bahkan masih memegang pergelangan tangannya. Dia membenarkan selimut Reza, sebelum keluar dari kamar itu.


"Ah, dia itu punya sisi hangat juga. Kalau pria arogan, biasanya tidak tahu mengucapkan terima kasih.Tapi setidaknya dia bisa mengucapkan terima kasih pada kebaikan seseorang"


Haura berjalan mengelilingi ruangan di Apartemen ini hanya untuk melihat-lihat saja. Ada beberapa foto saat Reza masih kuliah sepertinya, dan juga ada sebuah rak kaca yang menyimpan banyak piala penghargaan. Sepertinya memang dia sudah berprestasi sejak remaja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2