
Haura menatap layar laptopnya, dia terdiam dengan memijat pelipisnya. Rasanya begitu pusing dan pening saat ini, bagaimana dia yang harus banyak melakukan semuanya sendiri, namun dia tidak bisa bicara apapun jika memang ada masalah yang dia alami. Alasannya hanya satu, karena dia tidak mau kalau sampai membuat orang tuanya khawatir.
Beginilah nasib seorang ana tunggal yang bahkan tidak punya tempat untuk cerita. Akhirnya Haura selalu mencoba menyelesaikan semuanya seorang diri. Meski terkadang dia lelah dengan semuanya.
"Kenapa bisa sebodoh ini, Haura. Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang"
Hanya bisa berteriak pada udara di sekitarnya yang jelas tidak akan bisa menjawab atau membantu apapun. Haura menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan matanya sejenak agar dia bisa lebih tenang. Sampai terdengar suara ketukan di pintu, membuat Haura langsung menutup laptopnya.
Haura menoleh dan ternyata itu adalah karyawan Restorannya. "Ada apa?"
"Itu ada tamu di bawah yang cariin Kak Haura"
Haura langsung mengerutkan keningnya, dia tidak merasa membuat janji dengan siapapun. "Memangnya siapa yang datang? Aku tidak membuat janji dengan siapapun"
"Yang waktu itu sering datang kesini, Kak Haura biasanya panggil dia Pak Direrktur"
"Hah?!" Haura seketika langsung berdiri dengan kaget, lalu meringis pelan saat luka di kakinya kembali tertekan pada lantai. "...Aduh, kenapa dia datang tiba-tiba sekali. Apa dia ingin makan atau apa, kenapa tiba-tiba bisa datang kesini"
"Tidak, dia bilang hanya ingin bertemu dengan Kak Haura. Mungkin memang ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan dengan Kakak"
Haura menghela nafas pelan, entah kenapa dia malah merapikan rambutnya. Seolah penampilannya harus bagus dan cantik ketika bertemu dengan Reza. Namun saat dia sadar dengan apa yang dia lakukan dan pikirkan, dia langsung menggeleng cepat. Apasi kau ini Haura.
"Kalau begitu kamu suruh dia kesini saja. Dan tolong buatkan minum untuknya" ucap Haura.
"Baik Kak"
Haura merapikan atas meja di depan sofa itu, ada beberapa berkas yang dia remas dan langsung dia buang ke tempat sampah. Lalu Haura duduk di atas sofa untuk menunggu kedatangan Reza.
Lagi, dia merapikan rambutnya tanpa sadar. "Ya ampun, kenapa si kamu ini Haura. Kayak yang mau ketemu pacar saja"
__ADS_1
Haura menggeleng pelan ketika dia sadar dengan apa yang dirinya lakukan. Bahkan dirinya sendiri tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya dia lakukan, padahal hanya bertemu dengan Reza. Tapi entah kenapa reaksinya seperti ini.
Pintu terbuka oleh pekerjanya yang sengaja mengantarkan Reza ke ruangan ini. Segera mempersilahkan Reza untuk segera masuk ke dalam ruangan Haura. Reza menatap ruangan Haura ini dengan sedikit menilai penampilan dari ruangan Haura ini.
"Ternyata seorang Bos ya, lumayan juga" ucapnya.
Haura langsung berdiri, dia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Reza barusan. Entah itu sebuah pujian atau hinaan, karena jelas Reza saja mempunyai Perusahaan yang besar dengan jabatan yang tinggi. Jadi, apalah Haura ini jika dibandingkan dengannya. Hanya serpihan debu.
"Em, maaf Pak, ada apa ya tiba-tiba datang kesini?" tanya Haura.
Reza menoleh dan menatap Haura dengan lekat. Lalu tatapannya beralih pada kaki Haura yang masih dibalut oleh perban. "Apa kau tidak mempersilahkan tamu kamu ini duduk?"
Haura tersenyum masam, memang berbeda satu orang ini. Dan Haura harus banyak bersabar jika menghadapinya. "Silahkan duduk, Pak Direktur. Sebentar ya, pekerja saya akan membawa minum kesini"
Reza mengangguk, dia langsung duduk di sofa tunggal disana. Menatap Haura dengan tatapannya yang datar, tentu saja Haura merasa tidak nyaman. Apalagi saat dia tidak bisa mengartikan arti dari tatapan Reza itu.
"Hah?" Haura malah seperti orang linglung saat mendengar ucapan Reza barusan. Bahkan dia butuh waktu beberapa detik untuk mencerna ucapan Reza barusan. "...Ah, kaki saya ya. Ba-baik kok, hanya luka kecil, jadi anda tidak perlu khawatir"
"Cih, siapa yang mengkhawatirkanmu. Aku bukan orang sibuk yang tidak punya pekerjaan sampai harus mengkhawatirkanmu" ucap Reza.
Haura langsung terdiam, masih merasa bingung dengan sikap pria ini yang terkadang sangatlah menyebalkan. "Kalau dia memang tidak khawatir, kenapa juga datang kesini hanya untuk menanyakan kakiku yang terluka"
"Apa kau bilang?" Spertinya Haura hanya bergumam kecil, hingga Reza tidak terlalu jelas mendengarnya.
Haura tersenyum, meski hatinya cukup kesal dengan sikap aneh pria ini. "Tidak Pak, bukan apa-apa"
Reza hanya mengangguk kecil, lalu dia menatap ke sekelilingnya. "Ruanganmu cukup bagus juga"
"Ah, iya Pak"
__ADS_1
Haura malah bingung dengan kedatangan Reza kali ini. Karena dia tidak menceritakan apa tujuannya datang ke tempat Haura. Ketika saat itu, datanglah pelayan yang membawakan dua kopi untuk Reza dan Haura.
"Minumnya, Tuan"
"Terima kasih ya" ucap Haura sambil tersenyum.
"Iya Kak, kalau begitu aku kembali bekerja ya"
Haura hanya mengangguk, setelah pekerjanya pergi, maka dia langsung menyuruh Reza untuk minum kopi yang sudah dibuatkan oleh pekerjanya itu.
"Kau seorang Bos disini, kenapa mereka memanggilmu Kakak?" tanya Reza, dia meraih cangkir kopinya dan meminumnya dengan perlahan.
Haura tersenyum, mungkin memang sedikit aneh bagi segelintir orang mendengar panggilan para pekerja disini pada Haura sebagai atasan mereka.
"Lagian aku tidak setua itu untuk di panggil Bos. Aku juga lebih nyaman dipanggil Kakak saja. Karena merasa lebih dekat dengan pekerja disini. Dan aku 'kan anak tunggal, jadi aku merasa mempunyai banyak saudara" ucap Haura.
Reza tersenyum tipis mendengar ucapan Haura. "Sungguh Bos yang begitu mengerti pekerjanya"
Haura hanya tersenyum saja, dia memang seorang atasan disini. Tapi dia lebih suka berbaur dengan semuanya, agar tidak ada kata segan.
Dan entah apa yang terjadi, tapi sebuah obrolan mengalir begitu saja. Mulai dari tanya tentang pekerjaan hingga pada kebiasaan dan kesukaan maisng-masing. Meski sebenarnya Reza yang lebih banyak mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya. Sementara Haura masih harus banyak menebak pribadi pria itu, karena tidak semua pertanyaannya dijawab dengan benar oleh Reza.
"Bukannya anda mempunyai seorang Kakak ya, saya pernah dengar beritanya. Dimana dia sekarang? Kenapa tidak pernah terdengar lagi? Apa mungkin sedang berada di luar Negara?" tanya Haura.
Namun bukannya menjawab, ekspresi wajah Reza langsung berubah begitu saja. Membuat Haura merasa salah berbicara.
"Ah maaf, kalau saya salah berbicara" ucap Haura dengan gugup, dia meraih minumannya dan meminumnya untuk menghilangkan rasa gugup karena tatapan Reza.
Bersambung
__ADS_1