Biro Jodoh Pak Direktur

Biro Jodoh Pak Direktur
Mengatur Strategi Untuk Kencan Buta


__ADS_3

Haura yang tidak bisa tidur sepulang dari Apartemen Reza. Dia merasa bingung dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang terus memikirkan tentang Reza. Padahal dia seharusnya tidak perlu memikirkan tentang pria itu yang sebenarnya tidak ada kaitan apapun dengannya, selain tentang biro jodoh yang sedang diusahakan oleh Haura.


"Ah, sepertinya aku harus memberi tahu gadis-gadis yang akan berkencan buta dengannya. Mereka harus tahu bagaimana sikap Pak DIrektur yang sulit di tebak seperti ini. Aku harus berhasil menemukan seorang pengganti Freya di hatinya. Karena aku juga malas terus berurusan dengannya"


Haura ingin segera mengakhiri tentang biro jodoh ini. Sebenarnya jika saja dia tidak bertemu dengan Reza dan pria itu tidak gagal move on seperti sekarang ini dari Freya yang sudah menikah. Mungkin Haura sudah menutup biro jodoh ini, tapi dia yang tidak bisa melihat Reza yang kecewa karena Freya yang ternyata sudah menikah dan memilih pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Membuat Haura merasa bersalah, hingga dia harus membantu Reza untuk bisa mendapatkan pengganti Freya di hatinya.


"Baiklah, akhir pekan ini aku akan membuat kencan buta yang sangat romantis agar mereka bisa langsung jadian dan akhirnya tidak akan lagi membuat aku mengatur kencan selanjutnya"


Haura sudah harus mengatur strategi untuk kencan buta yang akan dilakukan oleh Reza dan kandidat pertama yang dipilih olehnya untuk mendatangi kencan ini. Haura hanya berharap ada satu kencan saja, agar dirinya tidak perlu mengatur kencan selanjutnya untuk Reza.


"Ah, kenapa aku malah terus memikirkan dia si. Ayo Haura, kamu harus tidur nyenyak dan tidak memikirkan dia lagi. Ah, mungkin karena kau sangat takut kalau kencan ini akan gagal, jadi aku terus terpikirkan dia"


Haura yang terus mencoba untuk memejamkan matanya dan tertidur lelap. Tapi bayangan Reza itu yang malah selalu muncul dalam ingatannya. Membuat Freya jadi bingung sendiri kenapa dia seperti ini. Namun karena tubuhnya yang cukup lelah, perlahan Haura bisa terlelap meski dirinya tetap dihantui dengan bayangan Reza dalam ingatannya.


Ketika pagi ini Haura terbangun dengan sangat malas. Dia masih cukup mengantuk karena semalam yang kesulitan tidur. Namun, suara alarm jam loker disampingnya terus berbunyi, membuatnya tidak mungkin untuk tidur lagi. Akhirnya Haura memilih bangun dan segera mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Haura segera keluar kamar dan menemui Ayah dan Ibunya. Mereka sudah menunggunya di ruang makan. Haura datang menghampiri Ayah dan mengecup pipi Ayahnya itu. Anak perempuan satu-satunya adalah sosok seorang anak yang akan selalu menjadikan Ayah sebagai cinta pertamanya.


"Selamat pagi Ayah dan Ibu" ucap Haura dengan senyuman penuh ceria di pagi ini.


"Anak kesayangan Ayah, apa rencanamu hari ini, Nak?" tanya Ayah.


Haura menarik kursi dan duduk disana, sedikit mengingat-ngingat apa yang akan dia lakukan di hari ini. Sebenarnya memang cukup banyak yang akan dia lakukan, belum lagi Haura yang sedang mengurus sebuah pembangunan cabang Restaurant baru di luar kota.

__ADS_1


"Hari ini seharusnya aku bertemu dengan isvestor untuk pembangun Restaurant kita yang baru, Yah. Perusahaan ini siap untuk bekerja sama dengan kita dan memberikan dana untuk penyelesaian pembangunannya" ucap Haura.


"Em, baiklah. Buat kontrak yang baik dan teliti ya Nak. Ayah percaya semuanya pada kamu. Sungguh kamu sangat membanggakan sebagai putri Ayah"


Haura tersenyum, dia selalu merasa bahagia ketika Ayahnya menunjukan rasa bangga padanya. "Ayah do'akan saja Ra ya. Semoga saja Ra tidak melakukan kesalahan"


Ayah mengangguk. "Tentu saja, Nak"


******


Beberapa hari berlalu, sudah waktunya mengatur kencan buta untuk Reza. Haura sudah menyiapkan ruangan VVIP di Restaurannya ini dengan menghiasnya dengan cukup indah. Haura menatap meja bundar yang berada di tengah ruangan ini, terlihat rapi dan indah dengan lilin di tengahnya dan juga vas bunga kecil.


Dibayangkan, nanti akan ada dua orang yang duduk disana dan saling berbicara. Haura berharap semuanya akan berjalan lancar, karena dia sudah menyiapkan tempat ini dengan seromantis mungkin.


"Aku yakin semuanya akan berhasil, suasananya sudah sangat romantis seperti ini. Masa mereka tidak akan merasa jatuh cinta dan terbawa suasana si"


"Baiklah"


Haura mengangguk pelan sebelum akhirnya dia memilih untuk segera keluar darisana. Haura menunggu di meja kasir, menatap ke arah pintu Restaurant. Menunggu kedatangan Reza. Sampai akhirnya dia melihat pria itu datang dengan setelan jas mahal yang melekat indah di tubuhnya. Rambut yang tersisir rapi dengan wajah datar yang membuat siapa saja terpesona.


Ah, dia keren sekali. Bahkan sejenak Haura juga sempat terpesona dengan ketampanan Reza yang baru saja datang. Tentu saja dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika dia melihat Reza yang berkharisma sekali. Namun saat dia sadar dengan pikirannya sendiri, segera dia menggeleng untuk mengusir pikiran buruk di kepalanya itu.


Apa si yang kamu pikirkan Haura. Ayo fokus untuk pekerjaan ini, kamu harus menepati janji kamu pada dia.

__ADS_1


Haura segera menghampiri Reza. "Mari Pak, saya akan antar anda ke ruangannya. Dia sudah menunggu disana"


Reza mengangguk saja tanpa berkata apapun. Dia mengikuti langkah Haura menuju ruangan VVIP di Restaurant ini.


Haura membukakan pintu untuk Reza, dia juga menganggukan kepalanya itu. "Silahkan Pak, sebentar lagi akan diantarkan makanan untuk kalian berdua"


Reza hanya mengagguk pelan, lalu dia masuk ke dalam ruangan itu dan Haura yang langsung menutup pintu kembali. Reza menatap seorang gadis yang tersenyum begitu lebar padanya. Namun dia tetap memasang wajah biasa saja, datar dan seolah tidak begitu tertarik pada gadis itu.


Reza duduk di depannya, menatap sekitarnya dengan kening sedikit berkerut. Apa dia sengaja mendesain ruangan ini seperti pasangan kekasih yang sedang merayakan hari jadi mereka. Ah, aneh sekali gadis ini. Gumamnya dalam hati. Sejenak Reza malah terfokus pada suasana di ruangan ini, bukannya lada gadis yang duduk didepannya.


"Hallo Tuan, apa kabar?" Tanya gadis itu dengan berbasa-basi. Senyumannya tidak pernah lepas dari wajahnya itu.


Reza langsung menoleh padanya. "Kau bisa lihat sendiri, aku baik-baik saja"


Gadis do depannya langsung tersenyum masam mendengar jawaban Reza yang begitu dingin. Tapi dia tidak akan menyerah, karena menaklukkan hati seorang pria seperti Reza adalah sebuah tantangan yang menyenangkan.


"Sepertinya saya langsung saja memberikan penjelasan pada kamu. Saat masuk, saya sudah tidak merasa tertarik padamu. Kau sama sekali tidak seperti tipe yang saya inginkan"


Gadis itu langsung terbelalak mendengar ucapan Reza yang begitu to the point. Padahal dia saja belum memulai pembicaraan apapun. Perkenalan saja belum terjadi, tapi Reza sudah mengatakan hal itu lebih dulu. Benar-benar menyebalkan sekali.


"Maaf Tuan, tapi kita bahkan belum mengobrol"


"Aku datang kesini bukan untuk ngobrol, tapi untuk mencari pengganti wanita yang bisa meluluhkan hatiku. Lagian aku banyak pekerjaan jika hanya untuk ngobrol tidak jelas"

__ADS_1


Apa?!


Bersambung


__ADS_2