
" kalau dia nakal jewer saja kupingnya ini" Ucap Dinda sambil menjewer telinga sang adik.
"Aduh kak.. sakit tau" Nanda mengusap-usap telinga yang ditarik Adinda.
"Oh iya, Kakak kesini mau kasih tau kamu, kalau sebentar lagi kamu mau jadi aunty" Dinda tersenyum sambil mengelus-elus perutnya. Sudah dua tahun semenjak ia menikah dengan Kevin akhirnya kabar yang ditunggu-tunggu pun datang.
"Kakak hamil??? Waaahh... sebentar lagi aku jadi aunty" Nanda teriak kegirangan sambil memeluk kakaknya.
"Apa Kevin sangat sibuk sehingga dia tak bisa mengantar mu periksa?" Tanya Nenek Ros.
"Hari ini ada meeting yang ga bisa diwakilkan, jadi Mas Kevin nyuruh Putra yang nganter aku Nek" Jelas Dinda.
"Tapi ini kan anaknya, apa itu tidak lebih penting? Dasar bocah itu" Nenek Ros masih merasa kesal dengan Kevin.
"Bulan depan Mas Kevin akan mengosongkan jadwalnya dari jauh-jauh hari Nek buat nemenin aku" Adinda mencoba menenangkan Nenek Ros.
"Kayaknya ada yang lagi ngomongin aku neh" Ucap Kevin yang tiba-tiba datang.
"Bagus lah kalau kamu mendengar, jadi aku tidak perlu bicara dua kali"
"Kenapa seh Nenek ku sayang??" Kevin memeluk sang Nenek
"Kamu itu, apa pekerjaan lebih penting dari anak mu sendiri?"
"Tadi aku ada rapat penting Nek, bulan depan aku akan mengosongkan jadwal ku" Kevin lalu memeluk dan mengelus-elus perut Adinda.
"Beruntung Adinda mengerti, biasanya emosi ibu hamil itu naik turun, kamu harus bisa bersabar menghadapinya" Nenek Ros memberi nasehat pada Kevin.
Adinda dan Kevin berada di rumah Nenek Ros sampai makan malam.
"Kok Kak Dinda ga nginep seh??" Nanda memeluk Dinda ketika Dinda hendak pulang.
"Kapan-kapan aku nginep ya, kalau kamu kangen kan tinggal dateng ke apartemen aja"
"Okey, kapan-kapan aku main, hati-hati ya Kak"
-
-
"Nek, aku berangkat dulu ya.." Nanda pamit untuk berangkat kuliah pada Nenek Ros yang sedang menyiram bunga.
"Kenapa kamu ga mau diantar supir?" Tanya Nenek Ros.
"Gpp Nek, aku naik ojek online aja" Jawab Nanda sambil tersenyum.
Nanda pun berjalan keluar gerbang, Pak Tono dengan sigap membukakan pintu gerbang.
"Makasih Pak" Nanda berjalan sambil melihat ke ponselnya untuk melihat ojek online yang sudah dipesannya.
"Neng ojek neng.." Panggil seseorang, suaranya seperti sudah tak asing di telinga Nanda.
Nanda lalu menengok ke arah suara tersebut. Ia melihat motor Kawasaki Ninja yang kemarin mengantarnya pulang.
"Ngapain ini orang kesini" Pikir Nanda.
__ADS_1
"Nyari ojek kan? yuk bareng ke kampus" Ajak Revan
Nanda bergidik membayangkan kejadian kemarin saat ia diantar pulang.
"Aku udah pesen ojek, sebentar lagi dateng kok" Tolak Nanda.
"Cancel aja lah.."
"Jangan, kasian lah abangnya udah jalan kesini, tuh kayanya" Nanda melambaikan tangan pada seorang driver ojek online yang berhenti di depan gerbang rumah Nenek Ros. Driver ojek itu segera menghampiri Nanda.
"Dengan Kak Nanda ya?" Sapa sang driver.
"Iya Mas"
"Maaf mas, dicancel aja.. dia sama naik sama saya" Dengan cepat Revan menarik tangan Nanda.
"Apaan seh?" Nanda kesal dengan sikap Revan sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Dia pacar saya, lagi ngambek.. neh saya bayar ongkosnya" Revan memberikan selembar uang berwarna biru pada driver tersebut.
Driver tersebut sedikit kebingungan, tapi akhirnya ia menuruti perintah Revan.
Revan tersenyum pada Nanda. "Udah pergi kan abang ojeknya, yuk naik" Ia memberikan sebuah helm berbeda dari yang kemarin, helm ini terlihat masih baru.
"Ayo.. nanti telat, gue janji ga bakal kaya kemarin" Revan mencoba membujuk Nanda.
Dengan berat hati Nanda mengikuti perintah Revan, ia segera memakai helm yang diberikan Revan.
"Pelan-pelan loh.. aku ga mau mati konyol sama kamu" Ucap Nanda sambil sedikit memajukan bibir bawahnya.
Nanda menutup panggilan telepon dari Adinda.
"Siapa Nan?" Tanya Tiara.
"Kakak ku, minta aku datang ke apartemennya"
"Oh.. jadi nanti kamu dijemput sama Kakak mu?"
"Hm.. bukan dijemput Kakak ku tapi dijemput asissten pribadi kakak ipar ku" Jelas Nanda, pipinya sedikit merona membayangkan ia akan dijemput oleh Putra.
"Mau dijemput sama asissten pribadi kakak ipar kok senyum-senyum gitu.. kaya mau dijemput pacar aja" Goda Tiara.
Wajah Nanda semakin merona, selama ini ia tak pernah dijemput oleh Putra. Jadi membayangkan Putra menunggunya membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Braak..!! Tiara menggebrak meja dengan tangannya membuat Nanda terkejut.
"Jangan-jangan.. dia cowok yang kamu suka???" Tiara memandang Nanda sambil tersenyum lebar "Aku harus lihat pokoknya...." Pekik Tiara sambil memeluk Nanda.
"Tiaraaa... malu tahu..!" Protes Nanda karena merasa risih dipeluk oleh Tiara. Tiara tak peduli ia hanya tertawa.
Nanda dan Tiara berjalan ke arah parkiran, tak berapa lama seseorang menelepon Nanda.
"Iya aku diparkiran, kakak dimana? Oh.. aku jalan keluar ya.."
"Dimana?" Tanya Tiara penasaran.
__ADS_1
"Di halte depan, kamu mau ikut ke depan juga?"
"Iya lah..." Jawab Tiara sambil menarik tangan Nanda.
"Pelan-pelan Tiara.. kenapa kamu jadi yang ga sabar?" Nanda tak ingin jika Putra curiga dengan sikap Tiara.
"Kamu cemburu ya???" Tiara mulai menggoda Nanda.
"iiiih.. apaan seh, bukan gitu, aku takut nanti Kak Putra curiga loh sama sikap kamu"
"Curiga kenapa??" Tiara menghentikan langkahnya.
"Curiga kalau aku suka sama dia" Jelas Nanda sambil menunduk. Selama ini ia hanya memendam perasaannya sendiri.
"Ya bagus doong kalau dia tahu, siapa tahu cinta kamu ga bertepuk sebelah tangan" Tiara tersenyum sambil menarik tangan Nanda. Nanda terpaksa mengimbangi langkah Tiara yang menuntunnya.
"Itu mobilnya?" Tiara menunjuk sebuah mobil Mercedez Bens berwarna putih yang tengah menepi di dekat halte.
"Iya itu" jawab Nanda.
Tiara semakin tak sabar untuk menyapa pria yang mengendari mobil tersebut. Belum sempat Nanda dan Tiara mengetuk kaca mobil tersebut tiba-tiba Revan menarik tangan Nanda dari belakang.
"Lo ngapain disini? Gue nyariin lo tahu gak?" Kata Revan kesal. Nanda yang tidak mengerti maksud perkataan Revan menatap ke arah Tiara dan Revan bergantian.
"Apaan seh lo Van?" Kata Tiara sambil berusaha melepaskan tangan Revan dari Nanda.
"Lo ga usah ikut campur" Balas Revan.
"Gak usah ikut campur gimana? Nanda sahabat gue, gue ga suka sahabat gue di deketin lo" Tiara tak kalah sewot dari Revan.
"Nanda..." Panggil Kak Putra yang ternyata sudah keluar dari mobil, ia berjalan menghampiri Nanda.
"Ada apa?" Tanyanya sambil melihat tangan Nanda yang masih dipegang Revan.
"Enggak Kak, ini... " Nanda berusaha melepaskan tangannya yang semakin kencang dipegang Revan.
"Lepasin aku Revan.." Pinta Nanda
"Tolong lepasin tangan Nanda" Kata Putra pada Revan.
Revan hanya diam, menatap Putra yang juga menatapnya.
"Saya masih bicara baik-baik sama kamu, jangan sampai saya buat keributan disini" Nada bicara Putra sudah berubah.
Revan sepertinya tidak gentar, ia semakin kencang memegang tangan Nanda.
"Revan sakit..." Nanda meringis kesakitan. Revan menatap Nanda yang kesakitan, ia langsung melepaskan pegangan tangannya.
"Kamu gpp kan?" Tanya Putra sambil melihat pergelangan tangan Nanda.
"Gpp Kak.." Jawab Nanda sambil melirik ke arah Revan. "Aneh banget neh cowok" pikirnya.
"Ya udah masuk yuk" Putra membukakan pintu mobil untuk Nanda.
"Aku duluan ya Tiara..." Nanda pamit pada tiara sambil tersenyum, Tiara lalu melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Dasar aneh.." Ucap Tiara pada Revan yang masih berdiri mematung melihat kepergian Nanda.