
"Dia pacar kamu?" Tanya Putra ketika sudah berada di dalam mobil.
"Bukan" jawab Nanda cepat, ia tak ingin orang yang disukainya selama ini menganggap ia sudah punya pacar.
"Kemarin dia yang nganter kamu juga kan?"
Nanda melihat ke arah Putra yang fokus menyetir. "Dia masih inget" pikir Nanda.
"I-iya.. dia yang nganter kemarin" Nanda sedikit bingung bagaimana menjelaskan pada Putra, ia tak ingin Putra salah paham, tapi ia juga ragu apa harus menjelaskan pada Putra.
Nanda malu jika nanti ia menjelaskan pada Putra dan ternyata Putra tak peduli.
"Mungkin dia suka sama kamu" Ucap Putra sambil melirik ke arah Nanda.
"Hah..!! Dia itu playboy di kampus, mungkin dia lagi bosen sama cewek-cewek yang ngejar dia, jadi dia iseng sama aku" Jelas Nanda sambil memandang keluar, mengingat Revan membuatnya sedikit kesal.
"Jadi kamu ga suka sama dia?"
Nanda langsung menatap Putra "Ya enggak lah.."
"Oh..." Cuma itu yang keluar dari mulut Putra.
"Oh apa?? Kamu suka kan kalau aku ga suka sama dia?? Kenapa cuma jawab Oh" Nanda membathin seorang diri. Ia tak bisa membaca ekspresi Putra.
*FLASHBACK ON*
__ADS_1
Nanda menatap dua orang pria yang tengah duduk di depan ruang perawatan, ia ingin bertanya pada salah satu pria tersebut dimana kakaknya di rawat.
Nanda mendapat kabar dari Vino bahwa kakaknya menjadi salah satu korban penembakan. Vino memberitahunya letak kamar kakaknya dirawat.
Dengan perasaan campur aduk ia menghampiri pria yang tengah berbincang itu. Raut wajah kedua pria itu menampakan kecemasan.
"Apakah kedua orang pria ini ada hubungan dengan Kak Dinda? Pria yang lebih dewasa ini seperti pria yang ada dalam foto itu, lalu pria satu lagi? apa termasuk salah satu kekasih kak Dinda?" Pikirnya.
"Maaf, apa benar Kak Adinda yang jadi korban penembakan tadi?" Tanya Nanda air matanya mulai mengembang.
Kondisi jiwanya saat ini sedang terguncang, ibunya yang mendapat serangan jantung dan masih terbaring lemah, kini ia mendapat kabar bahwa sang kakak menjadi korban penembakan.
"Duduklah" Kata pria dewasa itu. Nanda menuruti. Pria itu menjelaskan padanya tentang kondisi sang kakak. Ia tak tahu harus berkata apa, ia hanya ingin menangis. Ia hampir kehilangan sang ibu ditambah kakaknya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga mendapat musibah seperti ini.
*FLASHBACK OFF*
"Kakak mu minta dibelikan rujak cingur" Suara Putra membuyarkan lamunan Nanda.
"Eh iya kak" Nanda melihat Putra sudah menepikan mobilnya, lalu ia keluar dari mobil dan berjalan menghampiri tukang rujak cingur yang ada dipinggir jalan.
Nanda menatap Putra dari dalam mobil. Hatinya berdetak dengan kencang memandang pria yang menjadi cinta pertamanya.
Sampai saat ini ia tak berani mengungkapkan perasaannya pada Putra. Ia malu jika menyatakan perasaannya terlebih dahulu.
Setelah beli pesanan Adinda, Putra pun segera mengendari mobilnya ke apartemen Kevin.
__ADS_1
Ting-tong.. Putra memencet bel apartemen tersebut.
Adinda membuka pintu apartemennya lalu tersenyum menyapa sang adik.
"Nanda...." Ia memeluk adiknya lalu menatap Putra.
"Ini pesanan Mba Dinda" Katanya sambil menyerahkan bungkusan rujak cingur yang tadi dibelinya.
"Kamu apa Mas Kevin yang membelinya?" Tanya Adinda.
"I-itu... "
"STOP... Aku sudah tahu jawaban kamu" Adinda mendengus kesal, ia langsung menelepon Kevin.
"Mas... kan sudah aku bilang, aku maunya kamu yang beli, bukan Putra...!" Tanpa mendengar jawaban Kevin Adinda langsung mematikan ponselnya.
"Itu buat kamu aja.." Ucap Adinda pada Putra, Putra hanya menunduk, ia tak berani membantah.
Nanda melihat Putra dengan tatapan iba. "Kak... kasian loh Kak Putra udah beliin, Mas Kevin kan lagi sibuk, kalau nunggu Mas Kevin pulang nanti rujaknya keburu habis"
Adinda yang masih kesal dengan Kevin mendengus kesal. "Ya udah sini..!!" ia meminta bungkus plastik itu lagi pada Putra.
Nanda tersenyum melihat kakaknya menuruti saran darinya.
Adinda lalu menelepon Kevin lagi. "Ga usah marahin Putra, aku makan rujaknya"
__ADS_1