BOMA GENDENK

BOMA GENDENK
10 SUKA-SUKA CINTA (NENEK-NENEK DI SAMPING RANJANG)


__ADS_3

DI DALAM Opel Blazer yang diparkir di bawah ke rindangan pohon besar, Vino mencolek bahu Ronny Celepuk sambil bibirnya dicibirkan ke arah Gita yang tidur di kursi belakang bergelung bantal kecil. Saat itu hujan turun rintik-rintik. Udara kota hujan Bogor terasa sejuk mendekati dingin.


"Orang gemuk memang penyakitnya begitu Ron. Enggak di mana, enggak di mana maunya tidur melulu. Nggak boleh nemplok langsung lengket. Kayak keong aja."


"Sialan, siapa yang tidur," tiba-tiba terdengar sahutan Gita walau matanya masih tetap terpejam tubuhnya tidak bergerak.


"Eh, sorry, gua kira tidur. Habis tadi sampai ngorok segala," kata Vino.


"Brengsek! Enaknya aja bilang gua ngorok!" mata Gita masih terpejam.


"Ngiler lagi. Tuh, liat. Jok mobil ampe basah," Ronny Celepuk menimpali.


Kini sepasang mata Gita gendut serta merta terbuka nyalang, dia bangkit dari tidurnya dan duduk di kursi mobil. Ucapan Ronny tadi membuat Gita di luar sadar menyekakan tangan ke mulut. Ronny dan Vino tertawa.


"Kalian berdua pada brengsek. Lu tau nggak gue lagi kecapean?" ucap Gita.


"Semua kita memang kecapean Tante..." kata Vino.


"Ajie gile! Lagu lu, sekali lagi lu panggil gue Tante bener-bener gue peperin iler lu!"


"Sabar teman, sabar," Ronny berkata sambil mengangkat tangan dan sambil tertawa.


"Tadi ada wartawan," Vino memberitahu. "Nanya-nanya segala macam. Katanya ada keanehan sewaktu kita diselamatkan di Gunung Gede..."


"Keanehan apa?" tanya Gita.


"Banyak. Mulai saat kita ditemukan berjejer di pinggir longsoran. Lalu kunang-kunang, sampai makhluk-makhluk gaib..."


"Ron, kau inget nggak Pak Nugroho bilang. Waktu rombongan kita ditemukan, kita semua berada dalam kantong tidur. Padahal..."


"Gue nggak ngerti." Gita Parwati memotong ucapan Vino.


Ronny Celepuk tertawa. "Kamu sih memang banyak nggak ngertinya, Git. Inget nggak omongan Kepala Sekolah soal cerita Letda Sofyan sama Pak Tatang."


Gita mengangguk. Lalu berkata. "Mang Sambas, wakil Pak Tatang juga pernah bilang sama aku waktu masih di Rumah Sakit di Sukabumi. Dia heran, kok temen-temen kita bisa diselamatkan begitu cepat. Menurut perhitungan dari lokasi mereka ditemukan sampai di pos paling tidak makan waktu lima jam. Nyatanya mereka bisa sampai dalam tiga jam. Lalu ada anggota pencari yang membisik aku, katanya ada makhluk halus yang kagak kelihatan menolong mengangkat usungan. Ih, gue jadi merinding. Tapi..." Gita diam.


"Tapi apa Ndut?" tanya Ronny Celepuk.


"Ada yang bikin gue lebih merinding," jawab Gita.


"Apa-an?" tanya Vino. "Lu liat cowok telanjang?"


"Setan gombal lu! Aku serius..." kata Gita Parwati. Dua mata belok anak perempuan yang gemuk berkulit hitam ini menatap lurus ke depan.


"Jadi beneran kau liat cowok telanjang? Di mana? Siapa?" Vino masih bergurau.


"Jangan bercanda. Salah-salah kau bisa jadi seperti Boma. Diserang demam panas, mengigau tak karuan..."


Ronny Celepuk dan Vino saling pandang. "Wah, nyumpahin teman sendiri nih!" kata Vino.


"Gita, kau ini bicara apa sih?!" tanya Ronny.


"Gila, sekarang gue yang jadi merinding!" kata Vino pula sambil menggeser duduknya lebih rapat ke pintu mobil.


"Kalian tau nggak. Waktu aku ngejagain Boma dikamar..." kata Gita, "aku sering-sering ketiduran karena kecapean. Tapi setiap aku terbangun dan melihat ke arah tempat tidur Boma, aku samar-samar melihat ada orang berdiri di sampingnya. Perempuan..."

__ADS_1


"Itu pasti Ibunya," kata Vino pula.


Gita menggeleng. Sepasang matanya masih memandang lurus ke depan. "Bukan, bukan ibunya Boma. Sosok perempuan itu bukan ibunya Boma. Walau terlihat cuma samar-samar, aku yakin itu bukan ibunya Boma. Wong ibunya Boma ada di sisi ranjang sebelahnya."


"Lalu siapa? Kau ngenalin orangnya?" tanya Ronny Celepuk. Mulutnya mendadak terasa asam. Dia ingat rokok di kantong blue jins. Tangannya merayap mengambil, baru setengah bungkusan rokok keluar, sepasang mata Gita melirik ke arah saku celana Ronny lalu berputar memandang lekat-lekat ke wajah anak lelaki itu. Entah mengapa Ronny merasa hatinya jadi ciut lalu masukkan bungkusan rokok kembali ke dalam saku celana.


Dua mata Gita kembali memandang lurus ke depan. Mulutnya berucap. "Sosok yang aku lihat itu, agak bungkuk. Berdiri nggak bergerak-gerak di samping ranjang Boma. Sosok itu sosok seorang nenek-nenek..."


"Apa?!" tanya Ronny.


Vino meraba tengkuknya yang mendadak terasa dingin.


"Yang berdiri di samping tempat tidur Boma adalah seorang nenek-nenek. Nenek-nenek aneh, kulitnya hitam. Mukanya cekung. Wajahnya serem sekali. Dua matanya angker mengerikan. Pakaiannya rombeng. Di kepalanya aku melihat seperti ada hiasan aneh..."


Ronny mengigit bibirnya sendiri. Menatap wajah Gita. "Gita, lu nggak ngarang cerita kab?"


Gita menggeleng. "Buat apa aku ngarang? Apa untungnya?" sahut Gita. Lalu dia meneruskan. "Mula-mula aku tidak acuh. Pertama kali aku melihat nenek-nenek itu aku kira cuma perasaan atau pandangan khayal mataku doang. Tapi setiap kali aku terbangun dan membuka mata, aku kembali ngeliat nenek-nenek itu. Ngeliat sebentar, lalu sosoknya hilang. Ngeliat, hilang, Gitu terus-terusan..."


Saat itu udara mendung dan hujan masih turun rintik-rintik. Kota Bogor gelap lebih cepat. "Ada satu hal lagi," kata Gita Parwati.


"Apa-an?" tanya Vino dan Ronny berbarengan.


"Setiap nenek-nenek itu muncul, aku nyium bau Pesing, santer banget."


"Bau Pesing?" ujar Ronny.


"Iyya." jawab Gita.


"Aneh..." kata Ronny perlahan.


"Setan sialan lu!" maki Gita lalu melemparkan bantal yang dipegangnya ke arah Vino.


"Gue rasa udah magrib. Aku mau sholat dulu di musholla... kata Vino. Tapi suara mulut dan suara hatinya saling bertolak belakang. mulut memang berucap mau sembahyang tapi dalam hati entah mengapa anak ini merasa tidak enak mau beranjak keluar dari Opel Blazer itu.


"Jangan pergi dulu Vin. Cerita Gita belum selesai."


Kebetulan Ronny melarang. Vino tetap duduk di tempatnya.


"Nenek-nenek yang kau liat itu, dia cuma berdiri di samping tempat tidur Boma? Nggak ngelakuin apa-apa?" bertanya Ronny.


"Cuma diam. Berdiri menyoroti Boma dengan matanya yang angker," jawab Gita.


"Aneh," ujar Ronny Celepuk. Lalu bertanya. "Kelihatannya cuma malam doang atau..."


"Malem lebih sering. Kalau siang seingat ku cuma dua kali. Sebentar doang lalu hilang..." jawab Gita.


"Aku jadi ingat Boma waktu ngigau. Kadang-kadang suaranya berubah seperti suara nenek-nenek..." kata Ronny pula.


"Ya, aku ingat," kata Vino membenarkan ucapan Ronny. "Mungkin, ah aku nggak berani bilang!"


"Bilang aja. Kau mau bicara apa?" ujar Gita.


"Mungkin teman kita Boma kemasukan roh halus..."


Saat itu mendadak di jalan raya terdengar suara ban mendenyit panjang di aspal. Menyusul suara benturan keras. Lalu suara orang-orang berteriak dan berlarian. Di dalam mobil Gita terpekik. Ronny dan Vino tersentak kaget.

__ADS_1


"Tabrakan..." kata Vino perlahan.


"Aku pengen kencing, Ron. Temenin aku ke kamar mandi..."


"Lu gila, masa sih kencing aja minta di temenin."


"Lu yang gila. Emangnya gue minta temenin sampai masuk ke dalam. Sampai pintu doang. Jagain aku di pintu. Aku takut.. "


Vino tertawa. Ternyata yang takut bukan cuma dirinya.


"Gede-gede begini penakut amat sih..." kata Ronny sambil tangannya membuka pintu mobil.


Dia turun duluan, baru Gita. Vino yang tak mau ditinggal sendirian segera pula turun. Ketika ketiga anak itu jalan berdampingan ke bagian belakang rumah sakit, beberapa orang memasuki halaman, menggotong seorang anak muda yang kening bocor. Darah bergelimang menutupi wajah dan sebagai kemejanya. Seorang satpam mendatangi sambil membawa kereta dorong. Ronny, Vino dan Gita memberi jalan. Sewaktu kereta dorong lewat di depan mereka tercium bau minuman keras santar sekali.


"Pasti nyetir dalam keadaan teler," kata Gita.


Di pintu depan menuju WC wanita Vino dan Ronny Celepuk berdiri menunggu. Ini kesempatan merokok, pikir Ronny. Anak ini segera mengeluarkan rokoknya dari kantong blue jins. Dari kantong lain dia mengeluarkan korek api gas. Tiba-tiba di dalam WC terdengar suara perempuan menjerit. Lalu suara orang lari.


"Ron, Gita Ron!" kata Vino yang mengenali suara temannya itu. Bungkusan rokok dan korek api di tangan Ronny langsung jatuh ke ubin. Sesaat kemudian Gita muncul berlari, sendal cuma sebelah, wajah pucat, nafas sesak. Anak gemuk ini hampir jatuh terjerembab kalau tidak cepat di tolong Vino dan Ronny.


"Ada apa Git?" tanya Vino. "Kau kenapa Git?"


"Aku takut. Cariin supir gue Ron. Aku mau pulang aja ke Jakarta. Aku mau pulang aja." Suara Gita gemetaran setengah Meu menangis.


"Pasti, tapi kenapa? Ada apa? Kenapa kau barisan menjerit lalu berlari!" ujar Ronny.


"Kau udah kencing?" tanya Vino.


"Belum, nggak jadi..."


"Ada apaan sih Git?" Ronny kembali bertanya.


Gita berpaling, memandang sekilas ke arah pintu WC. "Aku... Aku nggak berani bicara di sini. Nanti aja di dalem mobil. Anterin aku ke mobil. Cariin supir gue Ron..."


Sampai di mobil Ronny kembali bertanya.


" Sekarang kau bisa ngomong Git?"


"Iyya, cerita Git. Mukamu pucat, kau keringatan..."


Gita Parwati mengusap wajahnya yang gembrot, lalu mengusap lengannya yang basah oleh keringat. Lengan kanan dengan lengan kiri, lengan kiri diusap dengan lengan kanan. Dadanya masih turun naik. Setelah tenang sedikit anak ini baru berkata. "Waktu aku mendorong pintu WC, mau masuk, aku lihat nenek-nenek bongkok itu di sudut WC."


Wajah Ronny dan Vino langsung pucat. Sunyi, tak ada yang bicara dalam mobil itu.


"Ron, supir gue. Tolong cariin..." Gita akhirnya yang bicara.


Ronny mengangguk. Dia memutar tubuh siap melangkah pergi mencari supir. "Biar gue temenin Ron," kata Vino lalu beranjak dari kursi mobil yang baru saja didudukinya. Sebenarnya anak ini merasa serem ditinggal sendirian bersama Gita.


"Gue ikut!" kata Gita cepat-cepat membuka pintu mobil dan meloncat turun.


Tiga anak SMA Nusantara III itu sama-sama mencari supir yang kemudian mereka temui sedang asyik menyantap soto mie.


...********************...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2