
DWITA TIFANI keluar dari Starlet merah, melangkah di lorong pendek yang menghubungkan garasi dengan bagian belakang rumah. Capek badannya tidak seberapa dibandingkan dengan pikirannya yang kacau. Mbok Mirah muncul di ambang pintu menuju pintu ruang dalam.
"Dari mana aja Non? Bapak sama Ibu menanyakan terus..."
Dwita tak menjawab. Dia menyerahkan tas kulitnya pada si pembantu seraya berkata. "Bawain ke kamar saya."
Maya kakak Dwita sedang membaca sebuah majalah, menurunkan bacaannya, memandang ke arah adiknya. "Aduh, anak Mama. Dari pagi ngilang baru pulang gini hari."
"Aku capek kak May," jawab Dwita lalu menjatuhkan diri duduk di sofa seberang Maya.
"Jelas, dari tampangmu yang lecek kusut udah keliatan. Tapi kalau aku perhatikan kamu ini lebih banyak capek pikiran dari pada capek badan."
"Tau deh." Dwita melepaskan sepatu berhak rendah dari kedua kakinya lalu enak melemparkan sepatu-sepatu itu ke sudut ruangan dimana terletak sebuah rak sepatu. Hebatnya dua sepatu itu jatuh tepat di bagian rak yang kosong, seperti diletakkan secara baik-baik.
Maya tersenyum melihat perbuatan adiknya itu. "Kau habis dari mana?" Maya bertanya.
"Bogor. Rumah Sakit PMI."
"Boma?" Dwita mengangguk. "Masih di rawat anak itu. Gimana keadaannya?"
Dwita tak segera menjawab. Di sandarkannya kepala ke sofa, menatap langit-langit ruangan sebentar lalu malah memejamkan mata.
"Non cakep, jangan tidur di situ," kata Maya. "Ayo mandi. Ganti baju. Papa sama Mama tadi bilang kalau kau sudah pulang kita makan malam bersama-sama."
"Nggak biasa-biasanya ada pesan makan malam bersama-sama. Pasti ada yang mereka mau bicarakan."
"Mungkin aja. Biasanya sih gitu," jawab Maya.
"Mungkin kau tau soal apa kak, May?" Maya mengangkat bahu. Dwita menggeliat lalu berdiri dari sofa. Dia berlari-lari kecil Menaiki tangga ke tingkat atas rumah di mana kamarnya terletak.
"Hai! Non! Katanya capek! Kok bisa naik tangga sambil lari? Aneh kau ini!" berseru Maya. "Jangan lupa periksa kamar mandimu Dwita! Siapa tau gorila tempo hari nungguin kau di sana!'
...*****************...
DI MEJA makan kayu jati bundar malam itu Nyonya Tia Erlan mengunyah makanan dalam mulutnya perlahan-lahan. Setelah menelan makanan dan meneguk sedikit air dia melirik pada Dwita lalu memandang pada suaminya yang duduk di seberang meja.
"Bagaimana keadaan teman-temanmu di rumah sakit?" Tia Erlan bertanya sambil menyendok nasinya.
"Yang enam orang sudah pulang, Ma. Cuma Boma yang masih di rawat."
"Boma, anak yang jadi team leader pendaki Gunung Gede itu.?
"Benar Ma."
"Memang sakitnya berat sampai masih perlu terus di rawat. ayah Dwita yang bertanya.
"Saktinya aneh Ma."
"Aneh gimana?" bertanya sang ibu, hampir berbarengan dengan Maya.
"Fisiknya sehat, nggak ada luka nggak ada apa-apa. Hasil pemeriksaan darah di Lap juga bagus. Tapi dia mengalami serangan panas tinggi terus-terusan."
"Mungkin ada gejala penyakit yang lain. Dokter pasti tau, tapi biasanya nggak pernah bilang..."
"Justru di situ letak keanehannya Ma. Dokter yang merawat Boma tidak menemukan sebab-sebab panas tinggi yang di alami Boma. Nggak ada tanda-tanda atau gejala thypus. Demam berdarah juga nggak. Nggak ada luka atau infeksi. Obat penurun panas tidak membantu."
"Dokternya nggak bener kalau gitu," ujar Ibu Dwita. "Masa punya pasien tapi nggak tahu penyakitnya apa."
"Tapi Bomanya sadar?" tanya Maya.
Dwita menggeleng. " Matanya merem terus. kadang-kadang ngigau tak karuan. Kalau ngigau suaranya bisa berubah seperti nenek-nenek. kalau panasnya lagi naik di suka kejang-kejang, berontak-berontak. Juru rawat terpaksa mengikat tangan dan kakinya ke besi tempat tidur."
"Jangan-jangan anak itu kemasukan mahkluk halus," ucap Erlan Sujatmiko ayah Dwita.
"Papa ini ada-ada saja. Orang demam panas tidak heran kalau ngigau, ngomong ngacau. Malah ada yang mau mengamuk. Boma masih untung belum sampai ke situ..." Erlan Sujatmiko diam saja. "Papa percaya hal seperti itu?" Dwita tiba-tiba bertanya.
"Hal-hal yang mana?"
"Adanya makhluk halus, adanya hal-hal aneh dan gaib," ujar Dwita pula.
"Kenapa tidak?"
"Ayah Boma memang sudah minta bantuan orang pinter."
"Dukun?"
Dwita mengangguk. Nyonya Tia Sujatmiko menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak sakit panas kok di minta tolong sama dukun. Bisa-bisa nanti tambah tak karuan anak itu."
"Bagaimana kau tahu ayahnya Boma minta tolong dukun?" tanya Maya.
"Aku di minta tolong nganterin ke rumah dukun itu. Dekat Bogor juga."
"Apa yang dilakukan dukun itu?" tanya ayah Dwita.
...****************...
ORANG pintar yang tinggal di Kedung Halang itu bernama Sobirin Kartalegawa. Dia dikenal dengan panggilan Haji Sobirin karena memang sudah empat kali naik haji ke tanah suci Makkah. Kabarnya tahun depan dia akan menunaikan Rukun Islam yang kelima itu untuk kelima kalinya. Haji Sobirin berusia lebih tujuh puluh tahun.
Namun fisiknya masih kelihatan sehat gagah. Wajahnya yang kelimis di hias kumis dan janggut putih. Dia menyambut kedatangan tamu-tamunya dengan segala keramahan. Apa lagi sebelumnya memang sudah kenal dengan Pak Supangat, lelaki yang membawa ayah Boma ke rumahnya.
__ADS_1
"Pak Supangat, lama kita tidak bertemu. Ada kabar apa ini?" tegur tuan rumah.
Supangat menyalami Haji Sobirin lalu memperkenalkan ayah Boma. "Ini Pak Sumitro Danurejo, sahabat saya di Jakarta."
Ayah Boma dan Haji Sobirin saling mengulurkan tangan. "Ini gadis cantik Putrinya siapa? Putri Pak Supangat atau Putri Pak Sumitro?" tanya Haji Sobirin sambil memandang pada Dwita Tifani.
"Ini teman anak saya," menerangkan Ayah Boma. "Dia yang ngantarkan kami ke sini."
Haji Sobirin mengangguk-angguk. Setelah di persilahkan duduk oleh tuan rumah Pak Supangat langsung saja pada maksud tujuan kunjungannya.
"Pak Haji mungkin dengar peristiwa rombongan anak-anak sekolah yang mengalami musibah di Gunung Gede?"
"Oo itu? Cucu saya memang pernah cerita. Katanya dimuat di koran..."
"Kedatangan kami ini ada hubungannya dengan kejadian itu. Salah seorang anak sekolah itu. Putra Pak Sumitro ini, saat ini masih di rawat di rumah sakit. Teman-temannya yang enam orang sudah keluar..." Lalu Pak Supangat menuturkan riwayat sakit yang dialami Boma dan keadaannya sekarang ini. Pak Supangat menutup ceritanya dengan ucapan. "Kami datang, mudah-mudahan Pak Haji mau membantu. Tolong lihat, apa benar mungkin sakitnya anak Pak Sumitro ini ada kelainan. Lalu kalau betul mohon bantuan penyembuhannya sekalian..."
Lama Haji Sobirin terdiam, mungkin di dalam hati membaca sesuatu. Lalu di berkata. "Pak Sumitro, saya sering bilang sama Pak Supangat, saya ini bukan orang pinter. Apa lagi kalau di sebut dukun. Tapi yang namanya orang minta tolong, saya tidak berani menolak. Saya akan lakukan apa yang saya bisa. Tapi ingat semua bukan karena ilmu atau kepandaian saya. Semua adalah petunjuk dari Yang Maha Kuasa."
Waktu menyebut Yang Maha Kuasa Haji Sobirin menunjukkan jari telunjuknya ke atas. Lalu dia bangkit berdiri, menutup pintu depan dan semua jendela. Setelah itu dia mengajak ke tiga orang tamunya itu masuk ke ruangan dalam. Setelah duduk di ruang dalam Haji Sobirin bertanya pada Pak Supangat.
"Siapa nama putra Bapak Sumitro ini?"
"Boma," jawab Pak Supangat.
"Boma Tri Sumitro." berkata ayah Boma menyebutkan nama lengkap anaknya.
"Ingat tanggal lahirnya putra Bapak? " tanya Haji Sobirin selanjutnya.
Sumitro Danurejo mengusap rambut di belakang beberapa kali. "Maaf, Pak Haji. Saya lupa." Tanggal lahir anaknya sendiri lelaki ini tidak ingat.
"Hari lahirnya mungkin?" tanya Haji Sobirin lagi sambil tersenyum.
"Kalau harinya saya ingat betul Pak Haji. Hari Kamis malam Jum'at Kliwon. Jam sebelas tiga puluh malam.
Haji Sobirin mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dia pejamkan kedua matanya. Telapak tangan dikembangkan, diletakkan di atas paha. Ayah Boma dan Pak Supangat memperhatikan dengan pandangan mata yang hanya sekali-kali berkedip. Dwita diam-diam merasa tegang. Apa yang tengah dilakukan orang tua berkumis dan berjanggut putih ini? Apakah sesuatu akan terjadi di tempat itu?
Anak perempuan ini semakin tegang ketika dilihatnya tubuh sebelah atas dan kepala Haji Sobirin tersentak-sentak. Wajahnya yang putih klimis kini berubah kemerahan dan peluh bercucuran di keningnya. Ayah Boma berpaling pada Pak Supangat. Kalau ayah Boma taman mulai ada rasa tegang, sebaliknya Pak Supangat tenang saja. Mungkin seperti ini biasa dilihatnya setiap dia mengantar orang meminta pertolongan Pak Haji.
Tak selang lama sentak-sentakan di tubuh dan kepala Haji Sobirin berhenti. Perlahan-lahan kedua matanya pun terbuka kembali. Sambil mengucap istighfar beberapa kali dia mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Lalu dia memandang pada ayah Boma. Hanya memandang saja, tidak berkata apa-apa. Hal ini membuat Sumitro Danurejo merasa tidak enak. Lelaki ini bertanya,
"Bagaimana Pak Haji?"
Yang ditanya mendehem beberapa kali. "Pak Sumitro, mungkin di rumah Bapak ada menyimpan barang-barang pusaka? Benda-benda kuno?" Ayah Boma menggeleng. "Coba Bapak ingat-ingat. Mungkin saja sebilah keris, atau pisau kecil. Mungkin juga batu atau jimat..." kata Haji Sobirin lagi.
Sumitro Danurejo coba mengingat-ingat. Tapi memang dia tidak pernah menyimpan benda-benda seperti yang disebutkan Haji Sobirin itu, maka kembali dia menggeleng kepala. "Saya tidak ada menyimpan benda-benda seperti Pak Haji katakan itu."
Haji Sobirin pejamkan mata sesaat, seperti merenung. Ketika membuka matanya kembali, dia memandang pada ayah Boma lalu berkata. "Dalam petunjuk yang saya lihat putra Bapak tengah menghadapi satu perkara besar. Saya juga melihat ada cahaya putih. Pertanda perkara itu bukan suatu yang buruk. Mungkin, mungkin ada seseorang hendak menurunkan atau memberikan ilmu pada putra Bapak..."
"Tidak bisa saya pastikan. Yang jelas bukan ilmu tulis baca, bukan ilmu Sekolahan..." jawab Haji Sobirin.
Sumitro Danurejo bertanya lagi. "Siapa yang hendak memberikan ilmu itu, Pak Haji?"
"Mungkin di antara kakek dari kakeknya Bapak, mungkin juga dari garis istri Bapak pernah ada seorang yang memiliki ilmu tertentu?"
"Dari saya jelas tidak ada. Entah dari ibunya Boma. Tapi saya rasa juga tidak..."
"Pak Sumitro yakin?"
"Saya yakin."
"Kalau begitu..." kata Haji Sobirin sambil mengusap janggut putihnya. "Mungkin ada orang lain yang hendak mewariskan ilmunya pada Boma. Tapi putra Bapak menolak..."
"Karena menolak dia lalu mendapat serangan demam panas?" tanya ayah Boma.
"Mungkin saja, tapi tidak selalu begitu..."
"Pak Haji, orang yang mau mewariskan ilmu itu kepada Boma, dia..." Sumitro Danurejo tak bisa meneruskan kata-katanya. Dia seperti tak tahu mau bicara apa lagi.
"Pak Mitro," kata Haji Sobirin. "Kalau mau cari tahu siapa orangnya itu adalah hal yang sulit. Tapi yang jelas orang itu sudah lama tiada. Sudah berada di alam barzah, alam roh, sejak puluhan mungkin ratusan tahun silam.
"Jadi hantu, jin?" ujar Sumitro.
Dwita merasa kuduknya dingin. Pak Supangat tak bergerak dari kursinya. Haji Sobirin tersenyum. "Apa yang akan terjadi itu di luar kuasa kita. Mungkin sudah begitu jalan hidup putra Bapak. Di luar kuasa kita manusia, sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Yang dapat kita lakukan ialah berusaha supaya putra Bapak tidak mengalami hal-hal tak diinginkan."
"Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk dapat menolong anak saya?" tanya Sumitro Danurejo pula.
"Kita sama-sama meminta pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan putra Bapak." Haji Sobirin diam sebentar baru meneruskan. "Satu hal yang perlu Pak Mitro ketahui, saya melihat bahwa putra Bapak mempunyai kepribadian yang kuat, rasa welas asih dan setia kawan yang tinggi, memiliki keberanian luar biasa tetapi yang ditutupnya dengan senyum dan keramahan, kadang-kadang dengan Senda gurau."
Haji Sobirin bangkit berdiri dari kursinya. Meminta ketiga tamunya untuk menunggu sebentar lalu masuk ke dalam kamar. Ketika tak selang berapa lama keluar dari kamar, Haji Sobirin membawa satu botol air putih dalam botol plastik ukuran satu liter. Dia menyerahkan botol itu pada ayah Boma seraya berkata,
"Kompreskan air ini dengan handuk kecil atau sapu tangan ke kepala putra Bapak. Setiap Bapak mengompres, baca apa saja yang Bapak bisa baca. Paling tidak ucapkan Bismillah. Mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan."
Ayah Boma mengangguk, menerima sebotol air putih. Baru saja dia mengungkapkan terima kasih, tiba-tiba di wuwungan rumah terdengar suara menggelepar keras sekali. Dwita terkejut, juga ayah Boma dan Pak Supangat. Ketiganya memang ke atas. Yang nampak cuma eternity putih. Haji Sobirin merenung sejenak. Lalu berkata pada ketiga tamunya.
"Ikuti saya. Ada tamu di atas atap..."
Dengan langkah-langkah tercekat Dwita, ayah Boma dan Pak Supangat mengikuti Haji Sobirin keluar rumah. Halaman rumah Haji Sobirin menyelimuti. Di salah satu ujung halaman Haji Sobirin berhenti. Dia membalikkan badan, memandang ke arah atap rumah.
Di bagian atap yang paling tinggi ke tiga orang itu melihat bertengger seekor burung putih besar, kepalanya diarahkan pada orang-orang di halaman seolah membalas pandangan mereka. Di kejauhan tiba-tiba terdengar suara panjang raungan anjing.
"Burung putih..." kata Haji Sobirin perlahan cukup terdengar oleh ketiga orang yang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Orang yang hendak memberikan ilmu kepandaian itu mengutus burung putih. Memberi tanda bahwa dia tidak bermaksud jahat, tapi sekaligus memberi tahu bahwa maksudnya jangan di halangi. Kalau saja dia mengirim burung hitam, akan lain artinya..."
Begitu Haji Sobirin selesai berucap, burung putih besar di atas atap merentangkan sayapnya. Terdengar suara menggelepar keras. Burung itu melesat ke udara, berputar satu kali di atas rumah Haji Sobirin lalu melayang ke arah timur dan lenyap ditelan gelapnya malam.
...******************...
DI MEJA makan Dwita meneguk air putih dalam gelas sampai setengahnya lalu menyeka bibir dengan kertas tisu.
"Makannya cuma dikit. Masakan Mama tidak enak atau sudah makan tadi di jalan?"
Dwita tersenyum mendengar pertanyaan ibunya itu. "Masakan Mama enak. Perut sebenarnya masih mau nerima, Ma. Tapi cukup sedikit aja, takut gemuk."
"Anak sekarang. Kalau makan nasi banyak-banyak dirumah katanya takut gemuk. Tapi kalau jajan makanan yang banyak fit-nya di luar, wah tidak pernah cari alasan..."
Dwita tersenyum, mendekatkan wajahnya ke wajah sang ibu lalu mencium pipinya. Anak ini kemudian berpaling pada ayahnya. " Pa, apa mungkin air putih bisa menyembuhkan orang sakit?"
Erlan Sujatmiko menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Dia maklum pertanyaan putrinya itu ada kaitannya dengan sakitnya Boma. Sang ayah menjawab.
"Tergantung daya khasiat air itu serta apa penyakit yang hendak disembuhkan. Kalau yang Dwita maksud air putih tadi, air putih untuk obat temanmu itu, mungkin saja bisa jadi sumber kesembuhan. Karena penyakit temanmu itu di luar wajar. Di luar jalur ilmu kedokteran. Tentunya jangan lupa sembuh apa tidaknya semua itu akan tergantung pada kehendak Yang Maha Kuasa."
"Papa kalian memang suka percaya pada hal-hal seperti itu. Kekuatan gaib, black magic, santet, guna-guna..."
"Saya tidak begitu saja percaya Ma. Lagi pula orang-orang pintar zaman sekarang yang katanya dukun itu, tidak semuanya bisa di percaya. Ada yang cuma dukun-dukunan, menipu orang saja kerjaannya. Malah ada juga dukun cabul. Baca di surat-surat kabar. Beberapa banyak saja yang sudah di tangkap. Lalu kalau saya tidak mengalami sendiri, mana mungkin mau percaya begitu saja? Ingat peristiwa tujuh tahun lalu?
"Memangnya ada kejadian apa tujuh tahun lalu Pa?" tanya Maya.
"Tidak ada apa-apa. Tak perlu di ceritakan pada anak-anak," kata Nyonya Tia Erlan.
"Lebih bagus di ceritakan pada anak-anak. Agar mereka tahu bagaimana sebenarnya hidup dari kehidupan ini. Lagi pula peristiwa sudah cukup lama berlalu."
"Ya, cerita dong Pa," kata Dwita.
"Iya, Kami kepingin tahu. Masa pakai rahasia segala sama kami anak-anak," pinta Maya.
Erlan Sujatmiko meneguk airnya lalu mulai bercerita. "Waktu tujuh tahun lalu di kantor sudah tersiar kabar bahwa Papa akan diangkat dan ditugaskan sebagai Konsul di luar negeri. Tiga bulan menjelang keberangkatan, papa jatuh sakit. Yang sakit di bagian perut. Mula-mula seperti diare. Buang-buang air selama seminggu. Badan Papa susut. Berat badan merosot terus. Papa masuk rumah Sakit. Hampir dua minggu dirawat sembuh, Boleh pulang. Tapi belum satu hari sampai di rumah, sakit perut kumat lagi. Kali ini bukan diare tapi buang air campur darah segar. Untuk kedua kali Papa masuk ke rumah sakit lagi. Beberapa dokter ahli menangani. Karena banyak dokter jadi diagnosanya juga banyak. Hasil ronsen tidak menunjukkan apa-apa. Padahal perut Papa sakitnya seperti ditusuk-tusuk. Lalu ada seorang kawan menasihati agar penyakit Papa coba dilihat pada orang pintar. Papa, juga Mama tadinya nggak mau. Namun teman itu secara diam-diam pura-pura menengok Papa mendatangkan orang pintar tadi ke rumah sakit. Kalau tidak salah orang itu bernama Susilo. Setelah melihat Papa, Pak Susilo memberi tahu pada temen Papa, bahwa Papa bukan penyanyi biasa, tapi ada yang dengki karena Papa diangkat jadi Konsul. Katanya Papa lebih baik pulang saja, percuma dirawat di rumah sakit. Sampai kapanpun tak bakalan sembuh. Nanti kalau sudah di rumah dia yang akan berusaha menolong. Papa berunding dengan Mama. Akhirnya disepakati Papa tidak boleh dibawa pulang. Kalau orang pintar itu memang mampu, dia harus mengobati Papa langsung di rumah sakit. Karena begitu permintaan Papa, orang pintar yang mau menolong tidak keberatan. Papa ingat, hari Jum'at malam Sabtu. Hari Sabtunya hari ulang tahun Papa yang ke empat puluh dua. Setelah jam kunjungan selesai, teman Papa tadi dan orang pintar itu tetap tinggal di kamar tempat Papa dirawat..."
...**********************...
"Pak Erlan, apa saya boleh mematikan lampu besar, Mengantikan dengan lampu kecil saja...?" Susilo, orang yang hendak mengobati Erlan Sujatmiko bertanya.
Lelaki itu belum sempat menjawab istrinya mendahului. "Kalau boleh biar terang seperti ini saja, Pak. Suami saya tidak biasa gelap, suka pengap..."
"Baik Bu, tidak apa-apa. Tapi janji, ibu atau Bapak jangan kaget melihat nanti apa yang terjadi. Pak Erlan, kalau terasa sakit usahakan ditahan. Jangan sampai berteriak."
Susilo kemudian membuka baju piyama yang dikenakan Erlan Sujatmiko menurunkan celana sampai ke pinggul. Dia pejamkan kedua matanya sementara mulutnya tampak berkomat-kamit.
Erlan Sujatmiko tiba-tiba melihat wajah Susilo berubah putih seolah tidak berdarah lagi. Dalam keadaan seperti itu perlahan sekali, dia gerakkan tangan kanannya. Telapak tangan di kembangkan menghadap ke bawah. Lalu ditempelkan di atas perut, dekat pusar sebelah kanan,
Erlan Sujatmiko merasa perutnya panas seperti ditindih seketika. Dia hendak menjerit tapi masih ingat ucapan Susilo agar tidak berteriak apapun yang terjadi. Ternyata rasa sakit itu hanya sebentar. Ketika Susilo mengangkat tangannya dari atas perut, rasa sakit itu serta merta menghilang.
Susilo membalikkan telapak tangannya. Tangan itu tampak berlumuran darah. Di atas lumuran darah ada tujuh buah jarum yang rata-rata sudah hitam karatan. Ketika Erlan Sujatmiko memeriksa perutnya, dia tidak melihat bekas luka, hanya sedikit noda darah di dekat pusarnya.
...*******************...
"Waktu itu tengkuk Mama terasa dingin merinding. Tapi masih belum bisa percaya," kata ibu Dwita. "Bagaimana mungkin ada tujuh buah jarum di perut Papa kalian. Dan Pak Susilo mengeluarkan dengan cara begitu luar biasa."
Erlan Sujatmiko meneruskan ceritanya. "Dua hari kemudian Papa minta pulang. Para dokter melarang karena katanya akan ada pemeriksaan khusus sekali lagi. Tapi Papa bilang Papa sudah sembuh. Mereka semua heran. Karena kenyataannya Papa memang mereka lihat benar-benar sehat. Lalu jarum-jarum itu, masih Papa simpan sampai sekarang."
"Ih, dibuang aja Pa. Buat apa disimpan-simpan," kata Dwita.
"Hitung-hitung buat kenang-kenangan," jawab sang ayah.
"Soal permintaan Pak Susilo yang Mama tolak waktu minta mematikan lampu, sebenarnya cuma pura-pura saja. Papa kalian tidak pengap dalam gelap, malah senang gelap-gelapan..."
Erlan Sujatmiko tertawa terbahak-bahak. Ibu Dwita meneruskan. "Maksud Mama begini. Kalau Pak Susilo dukun bohongan, dalam gelap siapa tau apa yang dikerjakannya. Jangan-jangan jarum-jarum karatan itu bisa saja sudah disiapkannya lebih dulu. Ternyata dia memang orang pintar beneran."
"Papa tau siapa orang yang ngejailin Papa itu?" Maya bertanya.
"Ya, duga-dugaan memang ada. Tapi hal semacam itu suatu yang sulit untuk dibuktikan. Yang penting Papa sembuh. Bersyukur pada Tuhan. Lagi pula Pak Susilo berpesan, agar Papa jangan punya rasa dendam kepada siapapun. Pulangkan semuanya pada Yang Maha Kuasa..."
Erlan Sujatmiko meneguk kopi yang baru saja diantarakan Mbok Mirah. Setelah meletakkan cangkir kopi kembali dia berkata. "Sekarang kita bicara soal lain. Ada kemungkinan, bukan, bukan kemungkinan. Tapi hampir pasti. Awal tahun depan Papa akan diserahkan satu Jabatan di New York. Di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa."
"Ya illah Papa! Di Jakarta baru enam bulan, sudah mau pindah lagi. Gimana dong sekolah Dwita." Dwita seperti protes.
"Tadinya Papa memang ingin mengusulkan tugas itu diserahkan pada teman lain yang lebih senior. Tapi namanya tugas dan Papa pegawai Pemerintah yang diberi kepercayaan, tidak baik kalau menolak. Lagi pula sekali ini semua teman mendukung Papa untuk jabatan baru itu. Itu mungkin ini tugas Papa yang terakhir sebelum memasuki pensiun."
Dwita terdiam. Dia merenung memandangi piring kosong di depannya. Yang terbayang olehnya saat itu adalah Boma. Malam itu ketika hendak memasuki kamar masing-masing, sambil melangkah di samping adiknya Maya berkata,
"Aku tau, apa yang ada dalam benakmu waktu di meja makan. Waktu Papa bilang ada tugas baru di New York. Berarti kita ikut boyongan ke sana..."
"Apa? Apa yang ada di benakku? Sok tau kau kak May." ujar Dwita Tifani sambil tersenyum.
"Boma." Senyum Maya berubah jadi tawa. "Iya kan?"
"Anggep aja iya!" sahut Dwita.
"Boma! Namanya sih keren. Garang. Gimana sih anaknya. Aku jadi ingin tau orangnya," kata Maya.
Dwita melambaikan tangan, mencibir lalu masuk ke dalam kamarnya.
...*****************...
__ADS_1
...Bersambung......