BOMA GENDENK

BOMA GENDENK
6 SUKA-SUKA CINTA (BERSATU DALAM DO'A)


__ADS_3

CUACA mendung gerimis ketika Panther biru gelap itu berhenti di depan Pos Gunung Gede. Dwita melihat banyak orang berkumpul di halaman. Selain teman-teman sekolah di situ juga ada Pak Syafei Wali Kelas I-4, Pak Ibrahim Wali Kelas II-9, Ibu Renata, guru Bahasa Inggris. Lalu para orang tua dan keluarga anak-anak rombongan pendaki gunung.


Semua kelihatan dalam wajah-wajah mencekam. Yang membuat Dwita terduduk di kursi mobil, tak segera turun adalah ketika dia melihat mobil-mobil Polisi, lalu empat mobil ambulan dan dua kendaraan dinas Pemda setempat. Dada anak perempuan ini terasa sesak. Dia memandang pada Wiwiek, teman yang duduk di sampingnya.


"Wiek, kok ada ambulan? Jangan-jangan..."


Pintu belakang salah satu ambulan terbuka. Dua orang petugas menurunkan dua tandu lipat. Kedua bicara dengan tiga anggota Polisi. Salah seorang anggota Polisi bicara lewat handy-talky. Tak lama kemudian orang-orang itu masuk ke dalam Pos Pengawas, Ketika keluar lagi mereka membawa perlengkapan, semuanya siap bergerak ke arah Gunung Gede.


Dwita segera turun dari mobil. Wiwiek dan kawan-kawannya mengikuti. Dwita mendekati anggota Polisi yang membawa handy-talky, gagah, masih muda, berpangkat Letnan Dua. "Pak, saya boleh ikutan ke gunung?"


"Adik siapa?" tanya anggota Polisi itu.


"Saya... Saya teman anak-anak yang..."


"Maaf Dik, yang boleh naik ke atas cuma petugas. Para orang tua tadi juga banyak yang memaksa ikut naik. Mereka ingin membantu. Tapi tidak diperbolehkan. Semua sudah ada yang menangani, termasuk penduduk setempat yang jadi petunjuk jalan. Jadi sebaiknya bergabung dengan orang-orang di depan Pos."


"Maaf Dik, saat ini saya tidak bisa memberi keterangan apa-apa..."


"Teman-teman saya. Mereka... Mereka masih hidup?" Dwita bertanya, ingin kejelasan. Pertanyaannya tidak terkontrol lagi.


Jawaban yang diterima dari Letnan Polisi itu justru membuat hati Dwita ciut. "Lokasi tujuan anak itu sudah ditemukan. Bagaimana keadaan mereka belum dapat dipastikan. Adik agar tenang saja, silahkan gabung dengan yang lain-lain di depan Pos. Saya harus segera bergabung dengan Tim Pencari yang ada di gunung."


Ketika Dwita dan Wiwiek serta teman-temannya yang lain melangkah ke arah Pos Pengawas, dia sempat mendengar ada yang berkata.


"Uh, soknya mau ikutan ke gunung segala! Datangnya aja baru gini hari! Kita-kita udah nongkrong dari subuh!"


Dwita berpaling. Walau tidak melihat tapi dia sudah bisa menduga siapa yang bicara. Ketika dia melihat wajah itu dugaannya tidak keliru. Yang barusan bicara adalah Trini. Anak itu duduk di dekat Pos Pengawas, di antara serombongan anak-anak kelas II-9 SMA Nusantara III. Sesaat pandangan mata Dwita dan Trini saling beradu. Wiwiek yang ada di samping Dwita memegang lengan temannya itu lalu berkata.


"Acuh aja. Itu anak memang begitu. Mulut ember. Suka bicara seenak jeroannya..."


"Badan ku lemes Wiek. Aku mau duduk di mobil aja," kata Dwita


"Ayo aku anterin," kata Wiwiek. "Tapi kau nggak mau ketemu orang tuanya temen-temen dulu. Yang duduk di bawah pohon sana kalau aku nggak salah bapak sama ibunya Boma..."


"Kalau aku ke sana nanti tu cewek ngomong yang nggak-nggak lagi..." kata Dwita.


"Jangan di pikirin. Sama bapak atau ibunya Boma siapa tau kita bisa tanya apa yang sebenarnya terjadi..."


Dwita setuju dan mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi kita temui Wali Kelas dulu, Wiek."


Setelah menemui dan menyalami Wali Kelas I-4, Wali Kelas II-9 dan Guru Bahasa Inggris Ibu Renata, Dwita dan Wiwiek beserta teman-temannya yang barusan dan dari Jakarta mendatangi para orang tua yang duduk menggelar tikar di bawah pohon. Mereka adalah orang tua Boma, Ronny, Gita, Vino, Rio, Andi dan Firman. Beberapa di antara orang tua itu, yang datang malam tadi tertidur keletihan.


"Saya Dwita, temannya Boma Pak," kata Dwita ketika bersalaman dengan Sumitro Danurejo, ayah Boma. "Maafkan saya dan teman-teman datang terlambat. Baru tau tadi siang..."


Ayah Boma, lelaki berkacamata plus 6 sesaat pandangi wajah anak perempuan yang menyalaminya. Dia tak berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepala lalu berpaling pada istrinya yang duduk bersandar di sebelahnya.


"Bu... " Dwita menyalami ibu Boma. Belum apa-apa perempuan itu sudah mengucurkan air mata. "Do'akan ya Nak. Do'akan agar Boma dan teman-temannya selamat..."


Dwita mengangguk haru. Tadi banyak yang hendak ditanyakannya tapi kini mulutnya tak sanggup berucap. Dia berpaling pada Wiwiek. Anak ini maklum artinya pandangan itu lalu bertanya pada ibu Boma.


"Bu, saya dan teman-teman baru dapat kabar tadi siang. Itu juga lewat telepon. Nggak tau jelas kejadiannya..."


Ibu Boma menyeka air matanya. "Dulu Ibu sudah melarang Boma. Jangan naik gunung. Apa lagi musim hujan. Tadi malam Pak Nugroho, Bapak Kepada Sekolah datang. Memberi tahu. Rombongan anak-anak SMA Nusantara III mengalami musibah di Gunung Gede. Nyawa Ibu rasanya amblas..."


Perempuan itu menahan isak, mengusut lagi air matanya. Suaminya memeluk bahunya dan berbisik sesuatu. Ibu Boma melanjutkan. "Malam tadi kami dan Bapak Kepala Sekolah, sama-sama orang tua murid yang lain kesini. Cuma sampai di sini. Tidak boleh naik ke Gunung. Cuma Pak Nugroho Kepala Sekolah satu-satunya yang di perbolehkan naik oleh petugas. Itupun sesudah Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas bantu minta izin sama petugas. Harusnya Boma sama teman-teman sudah turun Minggu sore. Sekarang hari Selasa. Dua hari anak-anak itu tidak diketahui nasibnya. Kasihan... Kasihan Boma..."


"Tadi ada kabar dari Pak Letnan, lokasi anak-anak sudah di ketahui. Mereka siap melakukan evakuasi..." Untuk pertama kali Ayah Boma ikut bicara.

__ADS_1


"Mereka cuma menemukan. Tapi tidak memberitahu bagaimana keadaan anak-anak. Apa masih hidup atau..."


Ibu Boma tak sanggup lagi menahan gerungan. Ibu-ibu yang lain juga ikut mengucurkan air mata. Ayah Boma kembali berbisik, berusaha menenangkan dan membujuk istrinya.


"Sudah Bu, kita serahkan saja semua pada Yang Maha Kuasa. Sebentar lagi pasti ada kabar lewat radio komunikasi di Pos."


"Dwita, kita di Pos saja. Sambil nunggu kabar," bisik Wiwiek.


"Aku lebih suka di mobil saja," jawab Dwita. "Aku tadi lihat Trini sudah duluan masuk ke sana."


Di dalam mobil Dwita menghidupkan mesin lalu menyalakan AC. Tubuhnya terasa gerah dan juga letih. "Hatiku nggak enak Wiek..." kata Dwita.


"Semua kita merasa nggak enak, Dwita..."


"Tadi malam aku nggak bisa tidur. Bangun kesiangan. Sebelum bangun aku mimpi. Mimpi serem Wiek..."


"Segala mimpi, buat apa di pikirin. Apa lagi kalau mimpinya udah tengah hari bolong," kata Wiwiek pula. Tapi setelah berdiam sesaat dia ingin tau juga apa yang dimimpikan Dwita. "Memangnya kau mimpi apa?"


Dwita lalu menceritakan mimpinya pada Wiwiek. Wiwiek tersenyum. "Kalau kau mimpi dibunuh orang berarti umurmu bakalan panjang. Percaya aku! Lagian mungkin kau kebanyakan dongkol sama si Trini. Jadi keinget terus, kebawa mimpi. Mimpinya mimpi gombal."


"Habis, siapa yang nggak dongkol Wiek. Tadi aja kau dengar sendiri. Orang begini banyak enak aja dia ngelecehin gua. Bodok amat dia mau datang dari subuh kek, nggak usah ngomong gitu. Gimana kalau aku bener-bener pacaran sama Boma. Uhhhh, habis kali gua dikerjain!"


"Kalau kau pacaran sama Boma, Trini tak bakalan muncul di sini. Malu dong dia..."


"Orang seperti dia mana punya rasa malu," ujar Dwita pula.


"Sebenarnya kau sama Boma gimana sih?" tanya Wiwiek. "Maksud gimana gimana?"


"Kalian pacaran?"


"Kalian siapa?"


"Menurut mu gimana?"


"Aku nanya kok kamu balik nanya!"


"Udah Wiek, aku capek. Aku mau melonjor dulu..." Dwita menurunkan sandaran kursi mobil. Dua kakinya dilunjurkan panjang-panjang. Matanya perlahan-lahan dipejamkan. Hatinya berdo'a.


Ayah Boma dan beberapa orang tua murid baru saja selesai sembahyang Ashar ketika ada berita dari tim pencari lewat radio komunikasi bahwa tim sudah bergerak menuruni lereng Gunung Gede. Di harapkan akan sampai Pos Pengawas sekitar lima jam, berarti sekitar pukul 9 malam.


Trini dan kawan-kawannya yang ada di dalam Pos, bersama Sambas petugas pengawas yang memonitor radio komunikasi meminta agar pengawas itu menanyakan keadaan teman-teman mereka. Namun dari ujung sana tidak ada jawaban. Hal itu menimbulkan tanda tanya dalam hati semua orang. Apakah Boma dan teman-temannya di temukan masih dalam keadaan hidup?"


"Jangan-jangan teman-teman kita sudah nggak ada," bisik Trini dengan suara bergetar.


"Jangan dulu berpikir sejauh itu Rin," seorang teman membisik.


"Kalau mereka masih hidup, pasti pimpinan memberitahu..."


"Pimpinan tim kan ayahmu sendiri. Coba saja kau kontak langsung," kata teman tadi.


Trini mendekati Sambas, petugas Pengawas. "Kak Sambas, saya boleh pakai radionya, mau kontak Bapak..."


"Silahkan," jawab Sambas sambil menyerahkan mikropon radio komunikasi dan mengajarkan cara pemakaiannya pada Trini.


"Trini dari Pos Pengawas. Meminta bicara dengan pimpinan tim pencari..."


Tak ada jawaban. Trini mengulangi. "Trini dari Pos Pengawas. Meminta bicara dengan pimpinan tim pencari..."

__ADS_1


Tetap tak ada jawaban. Trini mengembalikan mikropon lalu mendekati teman-temannya. "Mustahil mereka tidak menerima panggilan. Kayaknya ada yang di rahasiakan..."


"Sabar aja Rin. Mungkin mereka berada di gunung malam-malam begini bukan pekerjaan gampang..."


"Menggotong orang apa menggotong jenazah," bisik Trini.


Temannya terdiam. Semua anak-anak yang ada di dalam Pos jadi tercekat.


Menjelang jam 7 malam di lereng terbawah Gunung Gede kelihatan nyala lampu-lampu petromax. Lalu di radio ada permintaan agar ambulan disiap siagakan. Semua orang tua yang sudah keletihan seperti mendapatkan tenaga baru, berdiri di depan Pos dengan mata tidak putus-putusnya memandang ke arah kaki Gunung Gede dikejauhan. William Kaunang, ayah Ronny tampak berdiri berdampingan dengan istrinya.


Kedua orang ini merapatkan tangan memejamkan mata, berdoa menurut agama Protestan. Begitu juga ayah ibu Boma dan semua orang tua serta anak-anak SMA Nusantara III yang ada di tempat itu, sama-sama memanjatkan doa menurutKepercayaan masing-masing. Semuanya menjadi satu dalam menyampaikan harap permintaan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.


Sambas petugas di Pos Pengawas keluar dari Pos, memandang ke arah kegelapan. "Aneh, mereka sampai dua jam lebih cepat. Bagaimana mungkin?"


Hanya beberapa menit menjelang jam 7 malam rombongan evakuasi sampai di Pos Pengawas. Tujuh tandu di gotong cepat ke arah empat buah ambulan. Di atas masing-masing tandu tergolek sosok terbungkus kantung plastik. Semua orang yang ada di sana serta merta berusaha mendekati. Para orang tua berteriak histeris memanggil nama anak masing-masing. Anak-anak SMA Nusantara III menangis, ada yang memekik menyebut nama kawan mereka. Para petugas menjadi sibuk.


"Anak saya... Bagaimana anak saya! Mana anak saya! Gita! Gita!" Ibu Gita Parwati, satu-satunya anak perempuan dalam rombongan berteriak memanggil-manggil anaknya.


Dua orang anak perempuan berusaha menembus pagar petugas. Itu Trini dan Dwita. Mereka berusaha mencari Boma. Tapi halaman depan Pos Pengawas agak gelap, sosok-sosok di atas tandu setengah terbungkus kantung plastik dan para petugas bertindak cepat. Semua orang kecewa.


Sesaat setelah empat ambulan meninggalkan tempat itu dengan kawalan dua mobil polisi, seorang lelaki berjaket loreng mendatangi orang-orang di depan Pos Pengawas. Dia adalah Letnan Kolonel Polisi Kusumo Atmojo, ayah Trini Damayanti. Di sampingnya mengikuti Pak Nugroho, Kepada Sekolah SMA Nusantara III.


"Pak bagaimana anak saya?"


"Pak anak kami bagaimana?"


Perwira Menengah dari Polda Jaya itu mengangkat tangan kanannya. "Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak SMA Nusantara III. Kami memahami kekecewaan semua yang ada di sini. Kami harus bertindak cepat. Anak-anak itu berada dalam keadaan sangat kritis. Saat ini mereka di larikan ke Rumah Sakit di Sukabumi untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah itu jika diperlukan dan keadaan mengijinkan direncanakan dipindah ke Rumah Sakit PMI Bogor. Semua harap sabar dan tenang. Tujuh anak itu walau sangat kritis tapi mudah-mudahan nyawa mereka masih dalam lindungan Yang Maha Kuasa...


Isak tangis dan jeritan histeris memenuhi halaman Pos Pengawas. Terdengar suara doa diucapkan. "Terima kasih Yesus. Terima kasih Allah Bapa di Surga."


"Allah Akbar. Tuhan, tolong anak-anak itu. Tolong kami semua..."


Malam itu juga, semua orang yang ada di Pos Pengawas termasuk Tatang Suradilaga, Kepada Pos Pengawas berangkat ke Rumah Sakit di Sukabumi. Di atas mobil setelah berdiam diri cukup lama.


"Wiek..."


"Hemmmm..."


"Kayaknya aku ragu sama omongan Bapaknya Trini tadi..."


"Ragu bagaimana?"


tanya Wiwiek.


"Kalau Boma dan teman-teman masih hidup, mengapa mereka dimasukkan dalam kantong-kantong plastik? Lalu Pak Nugroho Kepada Sekolah diam saja. Nggak ngomong apa-apa."


Wiwiek diam. Teman-teman yang lain juga tak ada yang bicara.


"Sudah, kau lagi mengemudi. Capek. Jangan mikir yang nggak-nggak," kata Wiwiek.


"Tapi Wiek..."


"Tunggu dulu," Wiwiek tiba-tiba ingat sesuatu. "Kantong-kantong plastik itu adalah kantong tidur yang biasa di pakai pendaki gunung. Bukan kantong mayat! Lalu apa kau nggak meratiin. Setiap tandu di gotong dua petugas. Lalu ada petugas ke tiga memegang infus. Kalau temen-temen sudah pada mati masakan diinfus. Mana ada sih jenazah diinfus."


"Kau benar Wiek," kata Dwita agak lega. Anak ini mainkan lampu dim ketika dia berusaha menyusul truk diesel yang bergerak merayap di satu tanjakan.


...*****************...

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2