BOMA GENDENK

BOMA GENDENK
14 ABG/ANAK BARU GENDENK (DWITA DATANG )


__ADS_3

PAGI itu Boma baru selesai mandi. Setelah berpakaian dia memperhatikan wajahnya di depan kaca persegi yang tergantung di dinding kamar. Pucat, Beker kecil di atas meja belajar menunjukkan pukul 9.05 pagi. Selagi Boma memencet-mencet jerawat di dagu kiri tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki banyak sekali menaiki tangga kayu. Boma melangkah ke pintu.


Begitu pintu di buka pertama sekali dilihatnya kepala Ronny Celepuk. Lalu Vino. Menyusul Firman dan Rio. Lalu Andi. Dibelakangnya si gemuk Gita dan terakhir sekali Dwita. Wajah Boma bersinar segar ketika melihat anak perempuan ini.


"Hallo my friend!" Ronny Celepuk menyapa. Lalu meletakkan ke lantai satu tandan pisang emas yang di bawanya. "Pisang kesukaan lu, Bom." kata Ronny.


"Gila, banyak banget! Kau mau bikin aku mencret apa!"


"Tadinya mau beli anggur." kata Vino. "Tapi takut perutmu nggak bisa nerima buah import." Vino tertawa, teman-temannya ikut tertawa.


"Mulai deh pada konyol!" kata Boma sambil menowel hidungnya.


Ronny membuka pintu kamar lebar-lebar, memandang ke arah Dwita dan berkata. "Silahkan, yang kangen masuk duluan."


"Apaan sih kamu! Masuk aja sama-sama!" kata Dwita sambil mundur menjauh.


"Loh, tadi di mobil bilang kangen sama Boma. Sekarang udah ketemu kok malu-malu." yang bicara menggoda si gemuk Gita.


"Enak aja. Siapa yang bilang?" kata Dwita. Wajah merengut kemerahan, tapi kemudian tersenyum juga.


Gita mendorong punggung Dwita. Ronny menarik lengan anak perempuan itu. Mau tau mau Dwita melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu Dwita berada di dalam Ronny cepat-cepat menutup pintu.


"Ron! Apa-apaan sih lu! Buka!" teriak Boma dari dalam.


Ronny Celepuk dan teman-temannya sama-sama tertawa cekikikan. Rupanya hal ini memang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Lalu ada suara pintu dipukul-pukul dari dalam. Menyusul suara Dwita, berteriak agar pintu dibuka. Boma berusaha membuka pintu. Tapi handel pintu sebelah luar ditahan kuat-kuat oleh Ronny.


"Udah belom?!" teriak Ronny Celepuk.


"Apa yang udah?!" teriak Boma dari dalam.


"Ala, belagak bodoh kau!" teriak Andi.


"Brengsek kau Ron! Buka buruan!"


"Kesempatan Bom! Kesempatan!" teriak Rio.


"Kangen... Orang kangen musti dikasihani Bom!" Gita ikut berteriak.


"Udah Bom! Puas nggak?!" seru Ronny. "Kalau udah puas gua buka nih!"


"Brengsek lu! Kalian brengsek semua!" teriak Boma.


Ronny akhirnya melepaskan handel pintu. Begitu pintu terbuka Boma mendamprat. "Brengsek! Kalian sinting semua!"

__ADS_1


Tangan kanannya diacungkan hendak menjotos. Ronny Celepuk cepat menghindar mundur. Di sebelah Boma berdiri Dwita dengan wajah merah keringat. Enam anak di depan pintu tertawa riuh. Di ruangan bawah ayah Boma berkali-kali menurunkan kacamata plus enamnya, memandang ke langit-langit di atasnya lalu menoleh pada istrinya.


"Ngapain sih anak-anak itu di atas? Berisik amat."


Ibu Boma hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Biasa Pak, anak-anak kalau sudah ketemu pasti riuh.


"Sorry Bom, sorry Dwita. Kami teman-teman cuma mau kasih kesempatan. Lebih kurangnya terserah kalian berdua yang lagi saling kangen!" kata Ronny Celepuk lalu masuk ke dalam kamar sambil membawa pisang setandan. Lima temannya mengikuti hingga kamar berlantai papan yang tak seberapa besar di tingkat atas itu jadi penuh.


"Kawan-kawan, kita ke bawah aja," kata Boma.


"Di sini aja Bom," jawab Gita. "Soalnya di bawah sana ada Bokap lu. Orangnya sih baek, tapi tampangnya angker banget. Tadi aku diliatin sampai kaca mata tebalnya diturunkan ke hidung..."


"Nggak heran kalau kau diliatin kayak gitu Git," kata Vino. "Soalnya ayahnya Boma mungkin heran. Tanya-tanya dalam hati. Ini kira-kira makhluk apa ya...?"


Suara tawa anak-anak diputus oleh jeritan Vino yang kesakitan karena disengat cubitan Gita Parwati.


"Aku takut nih kamar jebol!" kata Boma.


"Wah, gua lagi yang kena sasaran!" kata Gita. "Belom apa-apa, baru juga baek, Boma udah nyindir gua!" kata Gita Purwati yang gemuk dan berbobot lebih seratus kilo.


Di dalam kamar Boma hendak menyembuhkan tabloid yang ada di atas tempat tidur ke bawah lantai. Tapi Vino lebih cepat menyambar tabloid itu.


"Nggak usah diumpetin Bom. Kami udah tau semua." kata Vino.


Boma memandang ke arah Dwita. Anak perempuan itu tenang-tenang saja. Berdiri di samping meja belajar sambil bersandar ke dinding. Tak tahu mau berkata apa akhirnya Boma ingat. "Dwita, terima kasih kembangnya."


"Dwita mengangguk. "Say it with flower! Ca illa!" Vino menyengir. "Kalau orang intelek mengatakan rasa suka sama kembang. Kalau kita kita bangsa krocoan sama siomay!"


Kamar di tingkat atas itu kembali gemuruh suara tawa.


"Bom..." Ronny berkata sambil memasukkan tangan ke saku blue jins.


"Ron, awas lu ngerokok di sini! Apa mau bikin kita mati pengap semua!" kata Gita memotong ucapan Ronny. Rupanya dia sudah tahu kalau Ronny hendak mengeluarkan rokok.


Tapi Ronny bandel. "Ala, kalau jendelanya di buka kan nggak apa-apa," jawab Ronny yang mulutnya sudah terasa masam. Dia melangkah ke dekat jendela, membukanya lebar-lebar lalu menyalakan sebatang rokok. Setelah menyedot dan menghembuskan asap rokoknya beberapa kali Ronny meneruskan kata-katanya yang tadi terpotong ucapan Gita.


"Aku sama teman-teman datang selain mau ngeliat kamu, juga ada yang mau ditanyain."


"Tanya aja, apa sih yang mau kalian tanyakan?" ujar Boma.


"Itu ada sangkut pautnya dengan berita dalam tabloid," kata Andi.


"Soal ucapan Trini?" Boma melirik ke arah Dwita.

__ADS_1


Anak perempuan itu masih tegak bersandar ke dinding, memang keluar jendela, pura-pura tidak memperhatikan apa yang di bicarakan teman-temannya.. padahal diam-diam dia memasang telinga.


"Bukan, bukan soal kucing garong itu," kata Gita Parwati. Anak ini memang sudah benci lama sama Trini dan menyebut Trini kucing garong sejak peristiwa di warung bakso Mang Asep.


"Kalau bukan soal Trini lalu soal apa?" tanya Boma.


"Itu Bom, yang menyangkut semua keanehan itu. Kami pernah di datengin wartawan tabloid. Tapi terus terang kami bilang nggak ada yang tau soal aneh-aneh itu. Wartawan itu pasti nyari kau. Sebelum kau cerita sama dia, maunya kami, kau cerita duluan sama kita-kita ini..."


Boma tak segera menjawab.


"Kok diem?" ujar Gita. "Kami yakin kau tau semua menyangkut keanehan itu. Soalnya waktu di Rumah Sakit PMI Bogor, sakitmu aneh. Kau sering ngigau. Memanggil-manggil nenek-nenek. Suaramu juga berubah seperti suara perempuan tua. Lalu Dwita cerita, dia pernah nganterin bokap mu ketemu satu orang pinter di Bogor. Sehabis dikasih air putih sama orang pinter itu kau baru sembuh. Panas mu turun, ngacokmu hilang."


"Aku nggak tau tuh kalau aku ngigau..."


"Betul Bom, kau mesti cerita sama aku dan teman-teman..." kata Ronny Celepuk pula.


Boma menowel hidungnya.


"Towel terus sampai tua!" kata Vino.


"Yang nolang kita, yang nyelamatkan kita Tuhan. Apa anehnya. Tuhan Maha Kuasa. Kita harus berterima kasih, bersyukur padaNya..."


"Tau Bom, Kami tau," kata Gita.


"Tapi menurut Dwita, waktu nganterin bokap mu ke rumah orang pinter di Bogor itu..." Gita diam sebentar, berpaling pada Dwita. "Siapa Dwita, nama orang pinter itu?"


"Haji Sobirin," jawab Dwita.


"Haji Sobirin," mengulangi Gita.


Menurut orang pinter itu, ada seseorang mau ngewarisin ilmu kepandaian padamu. Tapi kau menolak..."


Boma pandangi wajah temannya satu persatu lalu tertawa membahana. "Ajie busyet, Ajie gombal! Kalian percaya aja sama omongan orang. Siapa yang mau ngewarisin ilmu sama aku? Ilmu apa? Matematika, fisika? Teman-teman mendingan kita ngobrol soal lain aja!"


"Bom, aku dan teman-teman tau kalau kau ngerasain sesuatu. Kenapa sih nggak mau cerita pada kita-kita ini?" ujar Ronny. "Apa perlu Dwita yang maksa kamu?"


Ronny menyengir. Boma menowel hidungnya, menghela nafas beberapa kali. Memandang keluar jendela. Lalu melirik ke arah Dwita. "Iyya deh, gue cerita. Tapi awas, cuma sama kalian aku beritahu. Jangan bilang sama siapapun. Jangan ngomong sama wartawan, terutama wartawan tabloid yang muat berita aku sama Trini itu. Kalian semua musti bersumpah!"


"Oke bos! Kami semua swear!" kata Vino mengangkat tangan kanan, mengacungkan jari dalam bentuk huruf V.


Tapi jari-jari kiri dikepitkan ke ketiak kanan. Teman-teman Boma kecuali Dwita ikut-ikutan melakukan hal yang sama sambil tertawa cekikikan. Semua anak-anak itu kemudian duduk di lantai. Boma duduk sambil bersandar ke pinggir tempat tidur. Tujuh pasang mata memandang padanya, tujuh pasang telinga siap mendengar dan tujuh hati berdebar dalam keheningan.


...*****************...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2