
Boma agak bingung. Dwita tenang-tenang saja. Perlahan-lahan di lepaskannya pegangannya pada tangan Boma. Lalu sambil senyum dia berkata.
"Aku pergi Bom. Nanti cerita yang banyak ya..."
Boma tidak menjawab, mengangguk juga tidak. Dia melirik ke arah Trini sekilas. Saat itu Dwita sudah beranjak, melangkah ke pintu. Di ambang pintu dua cewek itu saling pandang. Trini tunjukkan wajah ditekuk. Dwita tetap tenang saja. Malah menegur.
"Rin, aku duluan ya."
Trini tidak menyahut. Kepalanya tidak menoleh tapi matanya seperti mau di putar ke belakang memperhatikan Dwita. Lalu Trini melangkah memasuki warung, duduk di kursi di depan meja Boma. Setelah menatap wajah Boma, Trini bertanya,
"Ngapain tu cewek datang ke sini?"
"Ngobrol..."
"Ngobrol? Di warung Segede ini cuma kalian berdua? Ngobrol? Kok pakai pegang-pegangan segala?"
"Dia yang megang, bukan aku,' jawab Boma. Sesaat dia masih bingung. Kemudian sambil menyandarkan punggung ke kursi dia mulai bersikap tenang.
Trini tersenyum. "Dia pasti pengen ikutan."
"Ikutan apa?" tanya Boma.
"Ala, berlagak nanya lagi. Memangnya aku nggak tau. Kau dan teman-teman kan punya Proyek yang namanya GG atau Gunung Gede."
"Kok tau?" tanya Boma.
Trini tidak menjawab. Malah balik bertanya.
"Dikasih?"
"Kok kamu mendadak ke sini sih, Rin? Biasa-biasanya acuh aja sama aku, sama teman-teman."
Trini menguncupkan bibirnya. Dua matanya memperhatikan amplop di atas meja.
"Apaan tuh?"
"Amplop," Jawab Boma.
"Ya amir, aku nggak buta Bom! Jelas itu amplop! Yang aku mau tau isinya apa? Surat, batu, pasir!"
"Tau, lihat aja sendiri!' Boma mulai kesel. Dia yakin Trini tidak mau mengambil amplop itu. Apa lagi melihat isinya.
Keyakinan Boma meleset. Tangan kanan Trini bergerak. Diambilnya amplop di atas meja. Enak saja dirobeknya salah satu sisi pendek, lalu mengintip isinya. Tidak ada surat, batu ataupun pasir. Yang terlihat adalah setumpuk lembaran uang puluhan ribu. Masih baru-baru. Sekilas bisa di duga paling tidak jumlahnya sekitar dua ratus ribu.
"Wauw! Banyak amir!" kata Trini.
"Si Trini itu nggak tau etika! Surat orang enak aja di buka!" Gita Gendut mengomel di tempat pengintipan di dalam dapur.
"Soalnya si Boma ngebiarin aja! Sok sabar! Si Trini jadi lancang. Songong!" kata Rio kesal.
"Sekarang tanggal berapa ya?" Trini bertanya pada Boma.
"Tau, memangnya kenapa?" Boma balik bertanya, heran.
"Nggak, aku kira akhir bulan. Kau baru terima gajian dari putri Duta Besar itu."
"Ah, kau bercanda aja, Rin." kata Boma mulai gerah. Lalu menowel hidungnya.
"Duit buat apa-an?" tanya Trini.
"Dia nyumbang. Buat temen-teman yang mau naik ke Gunung Gede..."
"Nggak heran. Anak orang kaya. Duit segitu sih nggak ada artinya. Lalu imbalannya kau dapat apa Bom?"
__ADS_1
"Nggak dapat apa-apa. Lagian siapa yang minta imbalan?"
"Cuma bisa ngelus. Tangan doang?"
"Aku nggak ngelus. Dia yang ngelus," jawab Boma, Trini tertawa.
"Uh, ketawanya kayak kuntilanak kebelet belok!" bisik Vino di belakang dapur. Membuat teman-temannya cepat menangkap mulut menahan tawa.
"Pasti kau mengajak dia ikut naik Gunung Gede."
"Dia memang minta tapi aku sama teman-teman tidak mau..." Boma menyahut ucapan Trini.
"Cewek secakep itu di tolak ikut? Sungguh suatu tragedi. Aku nggak percaya. Cewek anak Duta Besar, Pasti pandai di plomasi. Pasti kau nggak bisa nolak permintaannya.
"Rin, kau ini lama-lama aku rasa seperti serse nanyain tangkapan..." kekesalan Boma mulai keluar.
"Bisa saja begitu. Percuma bokapku polisi." jawab Trini. Ayah Trini memang seorang perwira menengah di Polda.
"Maksud ku, kau perlu-perlunya datang. Tanya ini tanya itu. Padahal selama ini..." Boma tak meneruskan ucapannya.
"Padahal selama ini kenapa?"
"Kita satu kelas dari kelas satu. Lalu sama naik ke kelas dua. Juga bakalan di kelas yang sama. Selama ini aku berusaha berteman dekat sama kamu. Tapi kamu selalu acuh. Jangan mau pulang bareng, pinjam buku atau nanya sesuatu saja kau rasanya seperti bukan teman satu sekolahan. Kalau kau berteman milih-milih. Lalu waktu Dwita masuk enam bulan lalu, aku lihat kau banyak berubah. Puncak perubahan adalah saat ini. Dengan segala keanehannya..."
"Aku rasa aku nggak berubah, enggak ada yang aneh. Coba lihat wajah ku. Lihat tubuh ku..." Trini bangkit berdiri. Dua tangannya dinaikkan ke atas hingga pangkal ketiaknya terlihat putih menantang. Lalu dia memutar badannya seratus delapan puluh derajat. " Kau liat Bom, apa yang berubah pada diri ku? Coba bilang?"
Di dapur Gita menyikut Vino sambil berbisik. "Liat, lagaknya si Trini gombal. Kayak peragawati aja."
"Potongan sih ada, kaitannya yang nggak pas," jawab Vino
Boma tertawa, menowel hidungnya lalu bertanya. "Sebenarnya, terus terang ada apa sih kau datang ke sini Rin?"
"Nah gitu dong! Basa-basi dikit" kata Trini sambil tersenyum. Lalu dia duduk kembali. "Terus terang,,,, terus terang, aku mau ikutan."
"Memangnya kau dan taman-taman mau ke Gunung Sindur?"
Boma tertawa kalem. "Tadi Dwita juga minta ikut. Aku dan teman-teman menolak..."
"Di sini aku lihat cuma kamu sendirian. Memang aku lihat ada motor si Celepuk di luar. Tapi orangnya nggak tahu di mana. Kau menolak Dwita, sebodoh teuing! Apa kau menolak aku juga Bom?"
"Sama saja Rin. Kami sudah sepakat untuk tidak menambah anggota baru. Dwita bisa mengerti..."
"Jangan samain aku dengan Dwita dong Bom. Dia memang anak Duta Besar. Anak orang kaya. Tapi terus terang dia masih belum bisa masuk level kita-kita..."
Di dapur Gita Gendut pencongkan mulut dan tangannya lalu mencolek Ronny Celepuk. "Keren banget tuh cewek, ngomong soal level segala. Uhh... Ron, lu level berapa sih? Level one, two, three...?"
"Gua sih level three on one!" Vino yang menyahuti
"Rin," kata Boma pada Trini. " Aku janji, aku sama teman-teman naik gunung lagi, kau pasti kami bawa."
"Ha ha ha..." Trini tertawa.
"Kok ketawa?" tanya Boma.
"Aku jadi ingat nyanyian tempo dulu. Tinggi gunung seribu janji. Lain di mulut lain di jilat."
Boma menowel hidungnya. "Kalau Boma yang janji pasti nggak pernah ngawur, deh.
"Oo... Begitu?" ujar Trini. " Gita kok diajak?"
"Dia punya pengalaman. Pernah ikut tim Mapala UI."
"Oo, bukan karena dia gemuk. Jadi enggak perlu pakai kasur."
__ADS_1
"Sialan! Tu cewek bacotnya kok jadi kurang ajar begitu. Minta gue tampar apa?!" Di dapur Gita mengomel marah. Dia hendak melangkah keluar dari balik dinding dapur.
Tapi Firman cepat memegang bajunya. "Sabar Dut, orang sabar cepat singset. Lu mau kurus kan?"
"Ah, lu juga brengsek!" sungut Gita. Matanya mendelik, diarahkan pada Trini. Mulutnya mengomel. " Cewek, biar cakep kalau mulut usil pasti nggak ada cowok yang demen, liat? Kapan-kapan gue kerjain tu anak! Belom tau Gita Gendut ya...!'
Boma menyengir mendengar ucapan Trini tadi.
"Bom, gini aja. Nggak boleh ikut nggak apa-apa. Tapi sekarang anterin aku pulang..."
Di belakang dapur Vino berbisik pada temannya. "Kok si Trini jadi Kolok. Dulu Boma sampai nguber-nguber. Boro-boro dilirik sebelah mata, sebelah ketek juga nggak. Malah Boma sering-sering di kerjain..."
"Sekarang lain," jawab Andi. "Trini punya saingan sejak enam bulan lalu. Khawatir Boma lolos ke tangan Dwita, kini dia ganti yang ngejar. Ini namanya semacam politik dumping!"
"Mendiang kalau dumping," Vino menyahuti. "Jangan-jangan politik kuda lumping. Jalan baru selangkah, tapi tapi goyang udah lima kali..."
Lima mulut sama ditekap menahan tawa mendengar kata-kata Vino itu.
Boma bingung. Mau nganter Trini apa tidak. Kalau di antar kelanjutan hubungannya dengan Trini bisa mulus.
"Mungkin cewek ini udah tobat ngerjain aku..." pikir Boma.
Saat itulah dari balik papan triplek di sudut dapur Boma melihat ada enam tinju di kepal ke udara. Boma terpanah. Coba mengartikan apa maksud enam kepalan teman-temannya itu. Dia maklum, kira-kira begini artinya: "Awas lu kalau mau mauan nganterin Trini!"
Trini memperhatikan mata Boma. Anak ini tak memandang ke padanya, tapi melihat sesuatu di belakang sana. Trini menoleh. Enam tinju serta merta lenyap dari belakang papan triplek. Tapi sekilas mata Trini sempat melihat bayangan enam tangan itu. Anak ini segera berdiri dari kursi.
"Celaka, ketauan!" kata Boma dalam hati. "Rin, duduk dulu," Boma coba mencegah, jangan sampai Trini menyelidiki ke dapur.
Tapi cepat sekali Trini sudah nyelonong ke dapur. Di dalam dapur, si lantai di balik papan triplek anak duduk bertumpuk berdempetan. Mata sama-sama membesar memandang pada anak perempuan yang berdiri di depan mereka. Trini menyeringai. Sambil bertolak pinggang berkata,
"Hemm... Jadi kalian ngumpet di sini rupanya. Kayak tikus aja. Nanti aku bilangin sama Mang Asep supaya nebarin racun tikus!"
"Kalau kami tikus, kau kucingnya!" kata Firman tapi sambil nyengir.
"Kucing garong!" menyambung Gita Gendut.
Trini keluarkan suara mendengus dari hidungnya lalu cepat-cepat beranjak dari dalam dapur, terus keluar dari dalam warung. Boma bangkit berdiri dari kursinya, menyusul.
"Gile si Ajie busyet itu!" kata Firman tidak tenang. "Mau juga dia nganterin Trini..."
Selagi Boma dan Trini melangkah menuju pintu gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar suara Vino.
"Temen-temen, liat di atas meja!"
"Amplop dari Dwita ketinggalan! Geblek amat si Boma itu! Amplop berisi uang ditinggalin begitu aja!"
Ronny, Firman, Rio, dan Andi berserabutan melompat masuk ke dalam warung. Ronny lebih dulu menyambar dan mengamankan amplop tebal itu.
"Awas! Ada yang berani nilep gue jitak!" Tiba-tiba Boma muncul di pintu warung.
"Ngeliat aja belum sempet Bom! Apa lagi mau nilep!" kata Ronny lalu melemparkan amplop berisi uang itu ke arah Boma.
"Bom, kau nggak jadi nganterin kucing garong itu?" Gita tiba-tiba bersuara.
Boma menggeleng. Ternyata tadi dia cuma mengantar Trini sampai di depan pintu gerbang sekolah....
...***********************...
...Bersambung,,,...
^^^***🖐️Hallo aku olil😁^^^
Jadi,,,, aku mau kasih tau,,, jadi aku masih pemula banget jadi cerita ini masih jauh dari kata bagus, semoga kalian mau memahami dan memaklumi kalau ceritanya sangat amburadul dan dan jauh dari ekspresi kalian...
__ADS_1
Hehehe udah itu aja kalau mau lanjut baca boleh banget, makasih atas perhatiannya***,,,