
BRAM DWI SUMITRO mendorong pintu pagar. Tergulung di tangan kanannya sebuah tabloid terbit hari itu. Sumitro Danurejo ayah Bram keluar dari rumah itu. Sebelum membuka pintu pagar lelaki ini menatap wajah anaknya yang tampak keletihan.
"Bagaimana tes lamaran kerjamu?"
"Belum tau Yah. Sehabis tes masih ada wawancara. Mungkin hari Jum'at baru ketauan hasilnya." jawab Bram sambil menyeka keningnya yang basah oleh keringat.
Sumitro membuka pintu pagar. Di ruang depan, Hesti Sumitro ibu Bram yang sedang menyetrika, memalingkan kepala. Seperti suaminya yang penuh harap, dia juga ingin tahu hasil tes lamaran kerja putranya itu.
"Hasil Bram?"
"Jum'at depan Bu. Baru ketauan..." jawab Bram.
Nyonya Hesti meletakkan seterika listrik. "Adikmu sudah pulang. Ada di atas." Perempuan itu memberi tahu.
"Boma pulang?" Wajah dan suara menunjukkan rasa gembira. Setelah berlari pemuda berusia 24 tahun S1 Teknik Elektro yang sudah satu tahun menganggur itu Menaiki tangga. Pintu kamar tidur Boma tidak tertutup Bram langsung masuk ke dalam kamar. Boma terbaring di atas ranjang, menelentang. Hanya pakai singlet dan celana jins. Matanya terbuka, pandangannya kosong seperti melamun.
Bram memukul paha adiknya dengan gulungan tabloid. "Bom, kapan kau pulang."
"Siang tadi," jawab Boma. "Kata Ibu hari ini kau ngikutin tes lamaran kerja."
Bram mengangguk. "Sorry aku nggak bisa ngejemputmu di Rumah Sakit."
"Nggak apa-apa." jawab Boma. "Gimana tesmu Kak Bram?"
"Bisa semua
Dari sembilan pelamar yang disaring, yang lulus tes cuma empat, termasuk aku. Lusa ada wawancara. Dari hasil wawancara nanti baru ketauan siapa yang bakal diterima."
Aku doa-in supaya kau yang diterima."
Bram Dwi Sumitro tersenyum mendengar kata-kata adiknya itu. Namun lubuk hatinya tersentuh dalam. Sejak ayahnya pensiun memang terasa sekali akan adanya seseorang yang dapat menunjang biaya kehidupan rumah tangga mereka, termasuk biaya sekolah Boma.
"Udah, kita jangan bicara soal kamarku. Baca dulu ini." Bram melemparkan gulungan tabloid yang sejak tadi di pegangnya. "Kau jadi orang kesohor sekarang."
"Kesohor? Ada apa? Kok nyuruh aku..."
"Aku tau, kau paling males baca surat kabar. Tapi yang satu ini lain Bom. Liat halaman duanya," kata Bram Dwi Sumitro memotong ucapan adiknya.
Boma membuka gulungan tabloid, langsung membuka halaman dua. Bram langsung berkata. "Kau liat! foto siapa tuh! Kenal nggak? Lihat judul beritanya!"
Di halaman dua tabloid sebelah kiri atas terpampang foto besar Trini Damayanti. Cantik dan tersenyum. Di bawah foto ada caption : Trini Damayanti, pacar Boma. Di sebelah foto dengan huruf-huruf besar tertera judul berita. Pacar Boma mengakui. Lalu dengan huruf-huruf lebih kecil dibawah judul menyusul sub-judul berbunyi Ada Misteri Dalam Penyelamatan Korban Musibah Gunung Gede.
"Sialan! Apa-apaan nih!" kata Boma setengah berteriak. Tabloid di bantingkannya ke lantai lalu beringsut, duduk ke dinding. Matanya membesar menatap ke arah kakaknya.
Bram mengambil tabloid yang tercampak di lantai, di letakkan di pangkuan Boma. "Tenang Bom, jangan emosi. Baca dulu beritanya sampai habis."
"Tapi ini jelas nggak bener! Siapa bilang aku pacaran sama dia. Wartawan geblek!"
"Pacaran apa nggak, itu sih bukan soal. Lagian mungkin bukan wartawannya yang geblek. Biasanya wartawan nulis apa adanya. Jadi kau harus baca dulu." kata Bram sambil senyum-senyum.
__ADS_1
Boma menowel hidungnya beberapa kali. Lalu mengambil tabloid di pangkuannya dan mulai membaca. Beritanya cukup panjang, sampai menghabiskan empat kolom lebih. Menurut sang wartawan yang berinisial "TB" tulisan itu merupakan sambungan dari berita Minggu sebelumnya dan adalah hasil wawancaranya dengan Trini Damayanti, Putri Letkol (Pol) Kusumo Atmojo, pelajar SMA Nusantara III yang sejak lama sudah menjadi pacar Boma Tri Sumitro.
Dalam berita dikatakan selamatnya tujuh pelajar tersebut merupakan satu peristiwa luar biasa, baru pertama kali terjadi. Sang wartawan mengutip keterangan dari beberapa sumber dipercaya yang juga diakui oleh Trini Damayanti bahwa semua penyelamatan dilakukan, terjadi beberapa peristiwa aneh.
Keanehan pertama dialami oleh Bapak Tatang Suradilaga, Kepada Pos Pengawas Gunung Gede. Satu hari sebelum terjadinya musibah atas rombongan para pelajar SMA Nusantara III, lelaki ini bermimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Tiga tahun lalu Pak Tatang pernah mimpi seperti itu. Beberapa hari kemudian rombongan mahasiswa dari Bandung yang mendaki Gunung Gede mengalami kecelakaan. Lima dari enam mahasiswa itu ditemukan tewas.
Lalu setahun setelah itu kembali Pak Tatang mimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Besoknya empat pelajar STM Bogor ditemukan dalam keadaan kaku tak bernyawa di salah satu lereng Gunung Gede. Pertanda mimpi yang sama mau tak mau membuat Pak Tatang jadi khawatir. Takut kalau musibah yang dialami oleh mahasiswa dari Bandung dan pelajar STM dari Bogor akan menimpa pula rombongan para pelajar SMA Nusantara III dari Jakarta.
Ternyata hal itu memang terjadi. Tetapi kali ini semuanya selamat. Tidak seorang pun dari tujuh pelajar itu tewas. Keanehan kedua menurut perhitungan pelaksanaan evakuasi yaitu membawa dan menyelamatkan anak-anak itu dari lokasi ditemukan sampai ke kaki gunung paling cepat akan memakan waktu lima jam. Ternyata regu penolong dan tim medis mampu melakukan dalam waktu hanya tiga jam.
Padahal saat itu malah hari, udara dingin dan jalan licin. Menurut Letda Sofyan Polisi Sukabumi yang memimpin regu penolong, malam itu secara aneh di depan mereka ada puluhan kunang-kunang. Binatang yang tubuhnya mengeluarkan cahaya ini bukan saja terbang menerangi jalan yang ditempuh tapi sekaligus seolah menjadi petunjuk jalan.
Keanehan berikutnya yang di ungkapkan oleh wartawan tabloid berinisial "TB" itu ialah pengakuan regu penolong yang menggotong anak-anak yang celaka. Bukan perkejaan mudah menandu seseorang menuruni gunung dalam gelapnya malam dan buruknya cuaca. Tapi anak-anak yang mereka tandu, termasuk Gita Parwati yang gemuk lebih dari seratus kilogram, terasa ringan. Seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat dari makhluk-makhluk gaib ikut menggotong tandu!.
Keanehan yang paling luar biasa dan sampai saat itu masih menjadi teka-teki inilah ketika tujuh anak pertama kali di lokasi kecelakaan. Mereka ditemukan berjejer rapi di dalam kantong-kantong plastik yang mereka bawa. Siapa yang mengatur begitu rupa, dan yang lebih jadi pertanyaan, bagaimana mereka bisa berada dalam kantong-kantong plastik tebal itu.
Padahal jangankan masuk dan menggunakan kantong plastik, bergerak saja anak-anak itu sudah tak sanggup karena kondisi tubuh yang lemah. Menurut tim medis dan dokter yang menolong di Rumah Sakit Sukabumi, seandainya anak-anak itu tidak berada dalam kantong plastik tersebut, kemungkinan besar nyawa mereka tidak akan tertolong akibat dinginnya udara dan lemahnya daya tahan tubuh.
Menurut wartawan yang menulis, semua teka-teki ini akan terungkap setelah Boma, Pimpinan rombongan pendaki dapat ditemui dan dimintakan keterangannya. Enam anak anggota rombongan telah dihubungi dan perna diwawancarai, namun tidak bisa memberikan keterangan banyak. Terutama menyangkut semua keanehan itu.
Boma melipat tabloid yang barusan dibacanya.
"Gimana?" tanya Bram.
"Brengsek!"
"Cerita tentang keanehan ini memang betul. Tapi soal aku pacaran sama Trini! Itu yang brengsek!"
"Kau merasa pacaran sama tu cewek nggak?"
Boma tak menjawab. Dia turun dari tempat tidur, mengambil kemeja yang tergantung di sangkutan dan mengenakannya.
"Kau mau ke mana?" Kakak Boma bertanya.
"Nelpon."
"Nelpon? Nelpon siapa?" Bram bertanya lagi.
"Kau punya koin cepean nggak?"
"Kau masih sakit Bom. Sebaiknya istirahat, tidur saja. Jangan kemana-mana dulu..."
"Tapi aku musti nelpon Trini. Brengsek seharusnya di rumah ini ada telpon!" Boma duduk di tepi tempat tidur setengah membantingkan diri.
Bram gelengkan kepala. "Boro-boro telpon Bom. Buat bayar rekening listrik aja setiap bulan ayah sudah susah..."
"Itu karena usaha ayah sendiri. Sablon, boros listrik!"
"Huss, pelan-pelan, nanti kedengaran ayah. Doain lamaranku di terima. Bisa kerja, bisa membantu ayah dan ibu."
__ADS_1
Dua kakak beradik itu sama-sama terdiam cukup lama.
"Kak Bram..." Boma akhirnya memecah kesunyian.
"Hemmmm..."
"Kau tau cerita ada yang bayarin biaya perawatanku di Rumah Sakit..."
"Ya, aku dengar dari ibu. Kau tau siapa orangnya?"
Boma menggeleng. "Aku mesti cari tau..."
"Menurut ayah biaya perawatanmu hampir satu setengah juta."
Boma kaget. "Satu setengah juta Kak Bram?
" Bram mengangguk. "Gila!"
"Itu masih nggak seberapa Bom, masih termasuk kecil. Kau musti mengetahui siapa orang yang berbuat baik itu. Paling tidak buat ucapin terima kasih. Jaman sekarang makin sedikit orang yang berbaik dan berbudi ikhlas Bom..."
"Boma mengangguk. "Setahuku ayah kan bisa bayar pakai Askes..."
"Betul, tapi waktu ayah baru nanyain berapa biaya perawatanmu di kantor Rumah Sakit, pegawai Rumah Sakit bilang sudah ada yang melunasi. Lagian pakai Akses rasanya tidak seluruhnya bisa ditanggung... Kau tau kira-kira siapa orangnya yang baik sama kamu?"
"Dugaan ku cuma satu. Mungkin, masih mungkin Kak Bram. Mungkin Dwita..."
"Dwita apa Trini?" ujar Bram sambil senyum dan memandang seputar kamar. Untuk pertama kali dia melihat vas kuning karangan bunga mawar merah di atas meja kecil di sudut kamar. "Kembang dari siapa Bom?"
"Dwita," jawab Boma.
"Aaahhh. Kayaknya dia baik amat sama kamu."
"Kami cuma teman biasa. Teman satu sekolah. Juga Trini. Cuma Trini mungkin mulutnya nggak ketulungan. Pasti dia yang bicara banyak dan yang nggak-nggak pada wartawan tabloid itu."
"Aku rasa dugaanmu benar Bom. Mungkin Dwita yang bayar biaya perawatanmu di Rumah Sakit. Kelihatannya dia serius sama kamu. Anak pejabat, banyak duit."
Boma tidak menjawab, hanya menowel hidungnya beberapa kali. Entah mengapa saat itu rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Dwita. Paling tidak mendengar suara anak itu kalau saja di rumahnya. Kalau saja di rumahnya ada telpon.
"Bom..."
"Hemmmm... Apa?"
"Kau siap-siap aja. Wartawan tabloid itu bakal ngewawancarain kamu."
Boma menowel hidungnya. "Brengsek!" katanya perlahan.
...*******************...
...Bersambung......
__ADS_1