
PAGI ITU ketika Dwita datang, ibu Boma tengah mengompres kening anaknya dengan sehelai handuk yang dibasahi air es dari dalam rantang. Saat itu memang belum jam kunjungan, namun para juru rawat memberi banyak kebebasan pada keluarga dan teman-teman Boma.
Di luar kamar Dwita bertemu dengan Firman dan Andi. Dekat pintu kamar kelihatan Ronny dan Vino . Gita duduk terkantuk-kantuk di salah satu sudut. Tadi malam anak ini ikut bergadang bersama teman-temannya menunggu Boma. Hanya Rio yang tak kelihatan.
Orang tua Boma berulang kali memberi nasihat pada Ronny dan kawan-kawan agar tidak usah datang dulu menjenguk karena keadaan anak-anak yang baru keluar dari rumah sakit itu juga masih lemah. Khawatir mereka jatuh sakit.
Tapi anak-anak itu malah membuat semacam Posko di halaman parkir rumah sakit. Yang jadi tempat istirahat dan tidur secukupnya adalah dua buah mobil. Satu Toyota Kijang milik saudara Ronny, satu lagi Opel Blazer kepunyaan ayah Gita.
Di atas ranjang Boma kelihatan seperti tidur nyenyak. Lengan dan kaki diikat ke besi tempat tidur. Jarum infus menancap di tangan kirinya yang tampak agak bengkak kebiruan. Dwita ngobrol sebentar dengan Ronny, Vino, Firman dan Andi, melayangkan senyum pada Gita lalu masuk ke dalam kamar.
" Bagaimana keadaan Boma, Bu?" tanya Dwita dengan suara perlahan sambil berdiri di samping Nyonya Hesti Sumitro, ibu Boma.
"Panas nggak turun-turun. Tadi malam Boma kejang-kejang lagi. Mengigau, ngomong sendirian. Tidak jelas apa yang di ucapkan. Kadang-kadang suaranya berubah seperti suara perempuan tua. Lalu sesekali dia memanggil-manggil Nek... Nek... Tidak Nek... Jangan Nek. Nggak tau nenek siapa yang dipanggil. Heran, semua teman-temannya sudah pulang. Kini malah nungguin dia. Tapi dia sendiri masih begini."
"Dokter bilang apa Bu?" tanya Dwita.
"Dokter Erawan tadi malam bicara sama Bapak. Katanya dari hasil pemeriksaan darah, nggak ada tanda-tanda Boma terserang gejala thypus atau demam berdarah. Di dadanya nggak ada luka, berarti nggak ada infeksi. Tapi heran mengapa panasnya tinggi terus. Yang bikin kami takut igaunnya itu. Suaranya yang bisa berubah. Lalu nenek yang di panggil-panggilnya ... Sudah dua malam dia begini terus. Jangankan sadar atau ngomong, buka mata saja tidak."
Tidak terasa air mata mengucur jatuh ke pipi. Nyonya Hesti cepat menyeka wajahnya dengan ujung lengan panjang pakaiannya. "Ibu sama Bapak pikir-pikir, bagaimana kalau Boma dipindahkan saja ke rumah sakit lain di Jakarta. Tapi Bapak bilang mau ikhtiar yang lain. Nggak tau mau ikhtiar apa." Nyonya Hesti memasukkan handuk kecil ke dalam rantang berisi es.
Dwita mendekat seraya berkata. "Mari Bu, biar saya bantuin ngompres. Ibu pasti capek. Duduk saja..."
"Ibu sudah nggak mikirin capek atau ngantuk atau lapar. Ibu ingin anak ini cepat-cepat ketahuan apa penyakitnya. Cepat sembuh..."
"Boma pasti sembuh Bu. Mari saya bantu..."; Dwita mengambil handuk kecil dari dalam rantang, memerasnya lalu di meletakkannya di atas kening Boma.
"Nek... Jangan Nek... Saya nggak mau. Jangan Nek..."
Tiba-tiba Boma mengeluarkan ucapan. Lalu suara anak itu berubah seperti suara perempuan tua. Tapi tak jelas apa yang diucapkannya. Dwita sampai tergagau dalam kejutan. Termos di atas meja kecil di samping tempat tidur hampir terjatuh terlanggar sikutnya. Untung masih sempat di pegang oleh Nyonya Hesti. Sesaat pucat wajah Dwita.
Kalau tidak mendengar sendiri rasanya tadi di kurang percaya akan ucapan ibu Boma. Setelah agak tenang, Dwita kembali mengompres handuk kecil ke kening Boma.
Pada waktu itulah di pintu kamar muncul Trini Damayanti. Tapi anak ini membatalkan niatnya masuk. Air mukanya berubah ketika melihat Dwita yang sedang mengompres kepala Boma. Berbagai rasa yang bermuara dari rasa cemburu memenuhi hati anak ini. Dwita sendiri saat itu tidak melihat Trini.
Di sudut kamar Gita yang terkantuk-kantuk membuka matanya ketika melihat ada orang muncul di pintu. "Hemmmm, kucing garong..." kata cewek gendut ini dalam hati lalu meramkan matanya kembali, pura-pura tidur.
"Kok nggak jadi masuk?" Ronny yang berdiri dekat pintu bertanya.
"Belum jam kunjungan. Nanti aja," jawab Trini.
"Nggak apa-apa, masuk aja," kata Vino.
"Nanti juru rawatnya marah."
"Juru rawat yang mana?" tanya Vino heran. "Perasaan gua nggak ada juru rawat," kata Ronny Celepuk.
Trini meruncingkan bibir. "Itu tuh... Yang pakai stelan jins. Tau dong yang aku maksud..." Yang dimaksud Trini dengan jururawat pakai stelan jins tentu saja adalah Dwita Tifani. Sambil melangkah pergi dalam hati Trini berkata. "Pinter juga tu cewek ngambil hati ibunya si Boma. Huh!"
"Heran si Trini," kata Vino begitu Trini berlalu. "Teman lagi sakit masih sempat-sempatnya nunjukin rasa cemburu."
"Cinta Vin, cinta SMA kau tau dong," kata Ronny. "Cinta SMA artinya cinta Sekolahan Memang Amburadul."
...*****************...
DI DEPAN Rumah Sakit Trini Damayanti memandang seputar halaman parkir. Di belum melihat Suzuki Katana hitam itu. Matanya dilayangkan ke arah jalan raya yang diirindangi pohon-pohon besar.
"Mungkin belum datang. Mungkin dia nggak langsung ke sini..." Trini menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.
"Gimana ya? Mestinya sih di sini ada telpon kartu." Dari dalam tasnya Trini mengeluarkan selembar kartu telpon dan sehelai kertas kecil bertuliskan catatan nomor telepon. Ketika dia hendak beranjak matanya melihat sebuah jip Suzuki Katana hitam baru saja dipikir, di pinggir jalan di depan rumah sakit.
"Mudah-mudahan dia." Trini melangkah cepat. "Betul, memang dia."
Dari dalam Suzuki Katana itu keluar sosok gemuk bertopi pet terbalik.
"Mas, Tuyul! Hai!"
__ADS_1
Tuyul Bengkak yang wartawan membalikkan badan. "Kirain siapa! Cepat juga nyampainya. Udah lama?"
"Barusan. Mas Tuyul, saya boleh minjam handphonenya?"
"Boleh, boleh. Asal jangan sambungan kosong kosong satu saja." 001 adalah sambungan langsung internasional.
"Nggak, cuma dekat sini kok," jawab Trini sambil menerima handphone yang diacungkan Tuyul Bengkak.
Jari-jari Trini Damayanti dengan cekatan memijit tombol-tombol angka sambil matanya melirik ke kertas kecil di mana tertera sederetan nomor telepon.
...****************...
SEORANG juru rawat muncul di kamar tempat Boma dirawat. Dia menanyakan apakah ada yang bernama Dwita Tifani di kamar itu.
"Saya Dwita. Ada apa suster?"
"Ada telpon di kantor. Dari Jakarta. Katanya penting."
Dwita mengikuti juru rawat itu menuju kantor rumah sakit. Juru rawat menunjuk ke sebuah pesawat Telpon yang tergeletak di atas meja. Dwita segera mengambil pesawat itu.
"Hallo..." Tak ada jawaban. Karena memang telpon itu sudah mati. "Nggak ada suara suster..."
"Mungkin putus. Akhir-akhir ini memang suka ada gangguan," jawab juru rawat.
"Yang nelpon tadi laki-laki atau perempuan? Mungkin memberitahu nama?" bertanya Dwita.
"Perempuan. Katanya Ibu Dwita. Dari Jakarta penting"
Perlahan-lahan, Dwita meletakkan pesawat telpon ketempatnya. Setelah mengucapkan terima kasih dia keluar dari kantor rumah sakit. Hatinya bertanya-tanya. "ada apa Mama menelpon aku?"
Dwita sampai di depan kamar tempat Boma dirawat. Langkah anak itu terhenti. Si situ, di dalam kamar dia melihat Trini Damayanti tengah mengompres kepala Boma dengan handuk kecil. Persis seperti yang dilakukannya tadi. Dwita Tifani tertegun diam sesaat di ambang pintu. Benaknya berpikir-pikir, hatinya bertanya-tanya.
"Pasti dia. Dia ngerjain aku. Licik!" Dwita memutar langkah lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
"Yang satu ini lain lagi modelnya,Ron," kata Vino.
"Iyya, tadi aku dengar dia seperti ngomong sendirian kayak orang kesambet."
Ronny melirik ke dalam kamar. Lalu berkata pada Vino. "Pasti gara-gara juru rawat yang lain ngompres kepala teman kita itu."
"Bisa jadi," sahut Vino. "Ron, ngomong-ngomong Ibu Bahasa Inggris sempat-sempatnya datang ke Pos Pengawas. Lu liat nggak?"
"Liat. Itu kan biasa aja Vin. Namanya guru sama murid. Murid ditimpa musibah. Guru ikut prihatin. Punya kesempatan datang. Wajar aja gua rasa? Ada apa sih di otak kotor lu?" tanya Ronny.
"Kamu nggak tau?" balik bertanya Vino.
"Tau apa?" kini Ronny Celepuk yang balas bertanya.
"Ada isu..." jawab Vino.
"Au? Isu apa-an?"
"Ibu Renata suka sama Boma."
"Ajie gombal lu!" kata Ronny. "Kok ada sih yang punya pikiran begitu. Setiap guru musti suka dong sama murid. Maksud gue suka dalam arti sebatas hubungan antara guru dan murid. Itu wajar menurut gue. Kalau guru nggak suka murid ya jangan ngajar!"
"Ada yang bilang begini Ron. Waktu di kelas satu, Ibu Renata katanya pernah minta anterin Boma nonton. Katanya film yang di tonton banyak persamaannya dengan kisah hidup Ibu Renata..."
"Masa iyya sih?" Ronny mulai percaya. "Terus Boma nemanin Ibu Renata."
"Itu yang nggak di ketahui. Mungkin Iyya, mungkin nggak," jawab Vino.
"Ala ude, deh. Gue juga kalau diminta Ibu Renata nemenin dia ke mana aja, pasti mau. Habis masih muda, Baek banget, cakep lagi..."
"Kalau kamu sih jangan di tanya Ron. PPD!"
__ADS_1
"Apa tu PPD ? Perusahaan Pengangkutan Djakarta? Bis PPD?"
"Pacaran Paling Doyan,"jawab Vino.
Ronny Celepuk tertawa lebar. "Anak laki doyan pacaran sih jamak-jamak aja Vin. Dari pada lu nggak punya cewek."
"Waktu hari Sabtu, hari terakhir sekolah. Sebelum liburan, lu nyium si Sarah ya..."
"Ajie busyet! Jangan ngarang lu!"
"Ada anak yang bilang. Dia ngeliat lu lagi nyium Sarah dekat gudang sekolah. Benar kan? Bilang aja Iyya."
Ronny Celepuk kembali tertawa. "Kalau cuma ciuman nggak bakal ketularan AIDS Vin. Percaya gue!" kata Ronny lalu tertawa cekikikan.
***********************
DWITA TIFANI melangkah cepat di halaman parkir rumah sakit. Dia mendengar langkah-langkah berat di belakangnya. Ada seorang mengikuti. Dwita ingat mimpinya tempo hari. Jangan-jangan Trini yang mengejarnya. Dwita membalikkan badan. Orang yang mengikuti terkejut, cepat hentikan langkahnya sebelum menabrak anak itu. Tangannya bergerak membetulkan letak kacamata tebal plus 6 yang merosot di penampang hidungnya.
"Oo Bapak tak kirain siapa," kata Dwita ketika dilihatnya yang mengikuti ternyata ayah Boma.
"Maafkan Bapak. Saya Sumitro, ayahnya Boma."
Dwita mengangguk. "Bapak tau anak ini temannya Boma, tapi lupa namanya. Jadi Bapak cuma mengikuti..."
"Nggak apa-apa Pak. Saya Dwita. Kelihatannya Bapak terburu-buru. Bapak mau ke mana?"
"Nak Dwita Bawa kendaraan?"
"Bawa."
"Sama supir?"
"Bawa sendiri."
"Bapak boleh minta tolong?"
"Boleh aja..."
"Kalau tidak merepotkan Nak Dwita, bisa antarkan Bapak ke Kedung Halang. Tidak jauh dari sini."
"Hemmmm, bisa Pak..."
"Kalau begitu tunggu sebentar."
Ketika kembali ayah Boma ditemani oleh seorang lelaki berpeci hitam. " Ini Pak Supangat, masih pamannya Boma. Kita berangkat sekarang?"
"Boleh..."
Di pertengahan jalan tak ada yang bicara. Dwita tak tahan juga. Dia bertanya. "Pak Sumitro, kita ke Kedung Halang ke tempat siapa?"
"Rumah kenalan," jawab Sumitro Danurejo, ayah Boma. " Rumah orang pintar."
"Maksud Bapak Doktor, Profesor?" tanya Dwita.
Sumitro Danurejo tertawa. Lelaki berpeci hitam bernama Supangat tersenyum. "Orang pintar yang Bapak maksud bukan Doktor bukan Profesor. Tapi orang pintar yang pandai mengobati penyakitnya Boma..."
"Maksud Bapak dukun?" tanya Dwita polos.
"Sebenarnya bukan dukun. Tapi ya, bisa dikatakan begitu. Anggap saja dukun. Orangnya sendiri tidak mau dikatakan sebagai dukun. Ini berkaitan dengan sakitnya Boma. Sampai saat ini dokter Erawan tidak tau apa sakitnya Boma. Bapak dan Pak Supangat ini sudah lama memperhatikan adanya kelainan dalam sakitnya Boma. Bapak pikir, semua jalan harus di coba."
Dwita terdiam. Dia ingat pada ucapan-ucapan Boma dirumah sakit tadi. Serasa terngiang kembali bagaimana suara Boma berubah seperti suara seorang nenek-nenek. Dalam hati anak ini berkata. "Heran, di abad serba modern ini, apa Iyya orang masih percaya sama dukun? Tapi sakitnya Boma memang aneh. Kalau dokter tidak tau penyakitnya, apa dukun tau penyakitnya dan bisa menyembuhkan?"
...***********************...
...Bersambung......
__ADS_1