
KETIKA Letkol Polisi Kusumo Atmojo keluar dari Rumah Sakit di Sukabumi banyak wartawan dari berbagai media telah menunggu. Ini satu hal yang tidak diduganya. Perwira Menengah ini menggulung lengan kiri jaket lorengnya. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 11.25 malam.
"Wawancara? Sudah larut malam. Ini semua peristiwa biasa. Buat apa wawancara segala?" Kusumo Atmojo menolak halus.
"Katanya waktu penyelamatan dilakukan ada berbagai peristiwa aneh di Gunung Gede," ucap seorang wartawan.
"Betul Pak, kami hanya ingin mengkonfirmasikan. Karena Bapak sebagai Pimpinan Tim Pencari..."
"Tidak... Bukan, saya bukan Pimpinan Tim. Pencarian secara keseluruhan dipimpin oleh Letda Sofyan dari Kepolisian Sukabumi. Saya ikut melakukan pencarian karena diminta putri saya Trini. Rombongan anak-anak yang hilang adalah teman-teman satu sekolahnya di SMA Nusantara III." Letkol Kusumo Atmojo melangkah ke halaman parkir.
"Pak, tunggu..."
"Mengenai keanehan-keanehan itu Pak..."
"Keanehan apa?" Kusumo Atmojo seperti tidak acuh.
"Menurut Letda Sofyan dan Pak Tatang dari Pos Pengawas Gunung Gede..."
"Wah, kalau memang ada keanehan tanyakan saja pada mereka. Saya tidak menemukan keanehan apa-apa. Atau nanti Tanya pada anak-anak itu kalau mereka sudah sembuh. Sekarang keadaan mereka masih kritis..."
"Tapi tak ada yang meninggal Pak?" tanya seorang wartawati.
"Tidak, tidak ada." jawab Letkol Kusumo Atmojo. "Sudah saya capek. Mau segera kembali ke Jakarta."
"Kalau capek jangan jalan dulu Pak. Istirahat sebentar di kantin sana. Kopi tubruk paling asyik malam-malam begini."
Yang bicara sambil senyum adalah seorang wartawan bertubuh besar gemuk, berjaket kulit dan pakai topi pet dibalik. Dia mewakili sebuah tabloid ibukota dan di antara rekan-rekan wartawan dia dikenal dengan panggilan Tuyul Bengkak. Nama ini cocok dengan keadaan dirinya yang gemuk besar, kepala botak licin yang selalu di sembunyikan di bawah topi pet.
"Kamu ini pinter ngomong..."
"Kalau nggak pinter ngomong namanya bukan wartawan, Pak. Jadi kita ke kantin sana Pak?" kata Tuyul Bengkak pula.
"cukup disini saja. Kalian mau tanya apa?"
__ADS_1
"Mengenai keanehan itu Pak. Menurut Letda Sofyan ketika tujuh anggota rombongan pendaki gunung ditemukan, mereka berada di tepi ketinggian tanah gunung yang longsor. Mereka berada dalam kantong tidur plastik masing-masing..."
"Itu betul. Apa anehnya?" ujar Letkol Kusumo.
"Yang pasti aneh Pak," jawab wartawan si pinter ngomong Tuyul Bengkak. " Menurut Pak Tatang dari Pos Pengawas. Ketujuh anak-anak itu di temukan berjejer rapi seperti ada yang mengatur..."
"Siapa yang mengatur?"
"Nggak tau Pak. Justru kami tanya Bapak..."
"Saya nggak tahu siapa yang ngatur. Mungkin itu cuma satu kebetulan saja."
Seorang wartawan lain berkata. "Menurut saudara Sambas, Wakil Kepala Pos Pengawas waktu evakuasi, dalam gelap malam dan buruknya cuaca paling cepat dari lereng gunung sampai ke Pos akan makan waktu sekitar lima jam. Ternyata Tim Pencari hanya membutuhkan waktu tiga jam..."
"Lah, apa anehnya? Letda Sofyan punya pengalaman dalam menangani berbagai bencana alam di gunung. Apa lagi beberapa penduduk ikut membantu dan Juga jangan lupakan peranan Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas..."
"Bagaimana pendapat Bapak Tatang kunang-kunang?" seorang wartawan ajukan pertanyaan.
"Betul Pak. Katanya sepanjang perjalanan menuruni gunung ada sekelompok kunang-kunang terbang di sebelah depan rombongan. Seperti menuntun jalan..."
Letkol Kusumo Atmojo hendak tertawa tapi tak jadi. Dia mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut-janggut pendek kasar. " Kunang-kunang bisa saja muncul dimana-mana. Di pinggir laut, di hutan, di gunung..."
"Katanya kunang-kunang itu lenyap begitu saja sesaat setelah rombongan Tim Pencari selamat berada di kaki gunung..."
"Saya tidak begitu memperhatikan. Waktu evakuasi dilaksanakan, saya tidak sempat memperhatikan..."
"Satu lagi Pak. Dua orang anggota tim yang mengusung tandu bilang, bukan pekerjaan mudah mengusung orang menuruni gunung, apa lagi di malam hari. Tapi waktu mengusung anak-anak itu mereka tidak merasakan berat sama sekali. Enteng-enteng saja..."
"Namanya saja anak-anak, bobot mereka berapa sih beratnya? Coba kalau si gendut ini. Pasti berat!" Letkol Kusumo menunjuk pada wartawan si pinter ngomong yang berbadan gemuk besar. Gelak tawa memenuhi halaman parkir itu.
Wartawan yang tadi bicara masih belum mau mengalah. "Salah satu anggota rombongan pendaki gunung seorang perempuan gemuk. Bobotnya paling tidak seratus kilo. Tapi dua orang yang mengusung juga bilang enteng, gak berat."
Letkol Kusumo Atmojo tersenyum. Dia menegakkan kerah jaketnya lalu berkata. " Anak perempuan gemuk itu, juga teman-temannya hampir dua hari tidak makan-makan. Pasti badan mereka pada kayak balon kempes semua. Pada enteng."
__ADS_1
"Tapi Pak..." Wartawan tadi kembali bicara. "Aduh, maaf Pak, bulu saya jadi merinding Pak..."
"Kamu ini ada-ada saja. Merinding kenapa? Bulu yang mana yang merinding?"
Ucapan Letkol Kusumo itu membuat tempat tersebut kembali dipenuhi tawa bergelak para wartawan.
"Sungguhan Pak, saya nggak bohong. Menurut salah seorang pengusung, dibenarkan oleh beberapa orang lainnya, seperti ada yang membantu mengusung anak-anak itu."
"Wah, kalau ada yang bantuin ya bagus dong! Harus berterima kasih. Tapi situ tau siapa yang membantu?" tanya Letkol Kusumo Atmojo.
"Itu yang membuat saya merinding Pak. Katanya yang membantu mengusung itu tidak kelihatan. Tapi jelas terasa ada..."
"Ah!" Letkol Kusumo lambaikan tangannya. "Siapa yang membantu? Setan, demit, jin? Ada yang mengarang. Tapi... Itu bagus buat berita sensasi. Muat di halaman pertama sebagai head line. Pasti oplaag koran kalian naik. Ha ha ha!" habis tertawa Letkol Kusumo itu melangkah menuju kendaraannya.
Sebelum masuk ke dalam jip Letkol Kusumo berbalik. "Satu hal kalian harus ingat," katanya pada semua wartawan yang belum beranjak dari tempat masing-masing. "Berhasilnya penyelamatan tujuh anak SMA Nusantara III itu adalah berkata bimbingan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan karena siapa-siapa."
Mata Pak Letkol berkedip ke silauan ketika lampu kilat berkekuatan tinggi dari kamera seorang wartawan menyapu wajahnya. Wartawan tabloid yang kondang dengan nama Tuyul Bengkak itu bersandar ke pintu Suzuki katana hitam, membuka topi pet lalu mengusap-usap kepala botaknya yang keringatan. sepasang matanya masih memandang kearah lenyapnya cahaya lampu belakang kendaraan yang dikemudikan Letkol Kusumo Atmojo.
"Letnan Kolonel itu..." Tuyul Bengkak bicara sendirian. "Aku yakin dia tau semua keanehan yang terjadi waktu penyelamatan dilakukan. Ada kandungan misteri besar dalam peristiwa ini. Apa alasannya? Jabatan? Religi? Apapun alasannya aku harus menemui dia sekali lagi. Juga anak gadisnya itu. Trini, banyak berita yang bisa digarap. Honorku bulan ini bisa lumayan gede..." Tuyul Bengkak tersenyum. Dia pakai topinya kembali lalu masuk ke dalam Suzuki katana.
*************
KEESOKAN harinya, hari Rabu, banyak media masa memberitakan berhasilnya penyelamatan tujuh anak SMA Nusantara III yang mendaki Gunung Gede. Sebelumnya sudah sering diberitakan musibah yang menimpa banyak rombongan pendaki gunung. Tapi peristiwa sekali ini dianggap satu kejadian langka. Umumnya dalam peristiwa seperti itu jarang korban bisa diselamatkan, apa lagi secara keseluruhan dan setelah dua hari dinyatakan hilang.
Beberapa kejadian aneh seperti adanya kunang-kunang, kecepatan waktu penyelamatan, adanya bantuan makhluk-makhluk gaib ikut pula diungkapkan dalam media. Nama Letkol Kusumo Atmojo, Letda Sofyan, Nugroho Sutanto, Tatang Suradilaga, Boma dan teman-temannya di sebut-sebut dalam pemberitaan. Di ruang kerjanya pada hari Rabu itu, Letkol Kusumo geleng-geleng kepala.
"Apa sih maunya wartawan-wartawan itu. Segala makhluk gaib disebut-sebut..."
Tiga hari kemudian empat dari tujuh anak yang dirawat di Rumah Sakit di Sukabumi diperkenankan pulang. Mereka adalah Firman, Rio, Ronny dan Andi. Dua hari setelah itu menyusul Vino dan Gita juga diperbolehkan pulang. Kini tinggal Boma seorang diri. Tubuhnya di serang demam tinggi dan sesekali di sertai kejang-kejang. Selain itu dari mulutnya sering keluar suara seperti mengigau. Lalu sekali suara Boma berubah menjadi suara perempuan tua. Atas permintaan kedua orang tuanya Boma kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit PMI Bogor.
...******************...
...Bersambung ......
__ADS_1