BOMA GENDENK

BOMA GENDENK
2 SUKA-SUKA CINTA (DWITA TIFANI)


__ADS_3

Hari-hari libur panjang warung bakso di sudut timur SMA Nusantara III sapi. Mang Asep, si pemilik warung ikutan libur, kabarnya pulang kampung Minggu depan. Sekalian nyunatin anak lelakinya paling besar. Siang itu hanya satu meja yang berisi. Di sekeliling meja duduk Boma, Vino, Firman, Andi, Rio dan satu-satunya cewek, berbadan gemuk. Itulah Gita.


Boma memegang tangan Vino yang dilingkari arloji. "Hampir jam sebelas. Si Celepuk masih belum nongol."


Baru saja Boma berucap tiba-tiba terdengar suara pekak deru motor. Sesaat kemudian Ronny Celepuk muncul di pintu warung.


"Uuuhhhhh!" Enam anak di sekeliling meja meledek.


"Sorry teman-teman," kata Ronny sambil meletakkan helm di atas meja. "Ada kesalahan prosedur!"


"Ajie busyet! Keren amat omongan lu! Memangnya ada apa Ron?" tanya Boma.


"Aku salah mutar! Maksud gue sih baik. Mau lebih cepat nyampe. Biasa! Kena tilang!" Ronny lalu tertawa lepas.


"Ron, tumben lu pakai helm." Firman nyeletuk.


"Ini yang bikin urusan," sahut Ronny. "Sehari-hari nggak pakai helm nggak ada urusan. Pakai helm malah apes!" Anak ini garuk rambut gondrongnya lalu bertanya. "Gimana, semua udah beres? persiapan oke?"


"Oke!" jawab Rio.


"Ijin oke!" sahut Firman.


"Yang belum oke, kita perlu tambahan dana. Takut tekor!" Vino yang bicara.


Ronny menarik kursi, lalu duduk di samping Boma.


"Ada lagi yang kagak oke Bom..."


"Maksud lu?" tanya Boma. Semua mata ditunjukkan pada Ronny.


"Bocor!"


"Apa yang bocor" tanya Rio.


"Ya, apa yang bocor?" ujar Boma. " Ban motor lu atau pantat lu?!"


Tawa meledak di seputaran meja. Ronny tidak ikutan ketawa. Tampaknya kelihatan serius. Lalu setengah berisik dia berkata. "Proyek kita Bom. Proyek GG. Bocor!"


"Maksud lu bocor gimana?" Boma jadi tidak sabar.


"Dwita dan Trini tau rencana kita naik Gunung Gede."


Enam mulut ternganga, enam pasangan mata menatap lekat-lekat pada Ronny Celepuk.


"Ajie busyet! Gimana bisa bocor? Siapa yang kasih tau?" tanya Gita.


"Pasti lu yang ngebocorin!" Andi menuduh Ronny.


"Sweer!" Ronny Celepuk angkat tangan kanannya, dua jari membentuk huruf V. "Ada lagi temen-temen. Dua cewek itu tau kita bakal ngumpul di sini. Mereka mau datang ke sini. Mau minta ikutan..."


Semua mata diarahkan ke pintu warung, terus ke halaman parkir sekolah yang luas, terus lagi ke pintu gerbang di kejauhan sana. Sepi.


"Dari pada acara rusak, gimana kalau kita pindah rundingan di tempat lain," mengusulkan Vino.


"Betul, ke rumah lu aja Di," kata Firman sambil memandang pada Andi. "Rumahmu kan dekat dari sini."


"Tenang teman-teman," Boma bicara. "Nggak perlu pergi ke mana-mana. Kenapa mesti takut sama teman sendiri? Kalau Dwita dan Trini datang, kita bilang aja mereka tidak bisa ikut. Habis. Beres kan?"


"Tapi," kata Gita si cewek gendut. "Kalau Dwita atau Trini mintanya sambil memegangi tangan lu, hati ku pasti lumer!"


Boma menowel hidungnya. "Semua teman kita. Tapi kita bertujuh di sini sudah kompak enggak nambah teman lain ikutan ke Gunung Gede. Oke?" Boma ulurkan tangan, telapak dikembangkan ke atas. Tujuh telapak kemudian ditempelkan bersusun.


"Okeee!" Tujuh mulut berseru serempak.


"Bom, Ronny nggak bohong! Starlet merah. Dwita nongol beneran!" Tiba-tiba Vino berkata sambil kepalanya di putar ke arah halaman sekolah.


Sebuah Starlet merah meluncur melewati halaman parkir lalu berhenti tepat di depan pintu warung Mang Asep. Pintu kanan terbuka. Keluar lah cewek ramping tinggi semampai, berkulit putih. Rambut hitam sebahu, agak acak-acakan ditiup angin. Kacamata mungil menghiasi wajah yang manis. Celana jins ketat, kemeja jins lengan panjang di gulung, duq kancing sebelah atas sengaja di buka. Inilah Dwita Tifani, kembang baru kelas II SMA Nusantara III anak kedua seorang Duta Besar yang enam bulan yang lalu kembali dari tugasnya di luar negeri.


Sambil melangkah kaki yang cuma memakai sandal tebal cewek ini membuka kacamatanya. Sesaat kemudian dia sudah berada di dalam warung, tersenyum di depan meja Boma dan kawan-kawan. Baru wanginya parfum memenuhi warung yang tadinya rada-rada apek itu.


" Rapatyan serius banget. Boleh ikut nggak?"


"Nggak, eh boleh!" kata Vino bergurau menjawab pertanyaan Dwita.


"Jadi besok kita berangkat?" Dwita berkata, sikap tenang tapi suara serius.


"Kita? Berarti termasuk dia?" kata-kata itu hanya di ucapkan dalam hati saja oleh tujuh anak yang ada di seputar meja.


Ronny berdiri dari kursinya. "Dwita, duduk. Nggak Baek cewek berdiri aja. Nanti kontet kau! Teman-teman, aku tinggal dulu ya?"

__ADS_1


"Eh, kau mau kemana Ron?" tanya Boma.


"Aku mau kencing dulu." ini cuma alasan. Ronny ngacir pergi.


Dwita memandang pada Boma. Matanya bagus bening. Senyuman mempersona. "Aku boleh ikut kan Bom?"


"Astaga, aku lupa belum bayar pisang goreng Bang Jalil." Ini juga alasan. Gita Gendut berdiri lalu melangkah ke pintu warung.


Vino mengedipkan matanya pada Firman. Dua anak itu lalu berdiri. "Aku sama Vino cari majalah Aneka dulu, Bom. Ada foto anak Oomku dimuat..." kata Firman lalu menarik tangan Vino.


Sama saja. Alasan yang di buat-buat. Tinggal Rio dan Andi.


"Kalian juga mau kencing? Atau bayar pisang goreng? Atau mau cari majalah?" tanya Boma lalu menowel hidungnya.


"Mungkin semuanya!" Jawab Rio. Lalu dia tendangan kaki Andi. Dua anak itu keluar dari warung.


Sepasang alis mata Dwita sesaat naik ke atas. Lalu anak ini tersenyum. " Teman-teman mu itu. Kok..."


"Teman-teman mu juga..." memotong Boma.


Dwita kembali tersenyum. "Mereka kelihatannya sengaja menghindar. Nggak suka aku ada di sini."


"Hemm... Bukan, bukan. Bukan nggak suka. Tapi kayaknya sengaja memberi kesempatan agar kita bisa ngomong berdua aja. Habis selama ini nggak pernah kejadian kan? Mereka melihat atau merasa ini satu kejutan. Orang kaget kan nggak boleh ditemanin. Nanti bisa latah!"


Dwita tertawa lepas dan letakkan kaca matanya di atas meja. " Aku kan anak baru, Bom. Cuma enam bulan di kelas satu. Lalu naik kelas dua. Takut di bilang rese kalau suka nyelonong sana nyelonong sini. Salah-salah ada teman yang merasa diinjak kakinya. Benernya sih Dwita ingin dekat sama kamu..."


"Nanti Zaldi marah, mukanya bisa ditekuk lihat aku," kata Boma. Tapi cuma dalam hati.


"Tapi takut nggak enak sama Trini," Sambung Dwita.


"Memangnya ada apa sama Trini?" tanya Boma.


"Kabarnya Trini..."


"Udah. Kita ngomong soal lain aja," ujar Boma. "Liburan panjang nggak ikutan tour, home stay..."


"Ah bosan yang gitu-gituan," jawab Dwita. Entah polos entah ngak menyombong. "Dwita justru mau ikutan kamu dan teman-teman..."


"Ikut ke mana?" tanya Boma


Dwita memajukan kepalanya sedikit hingga kemeja yang tidak terkancing menyibakkan dadanya sebelah atas. Boma merasa seolah berhenti bernafas.


"Tau dari mana, dari siapa?" tanya Boma.


Pokoknya tau aja," jawab Dwita. " Bisa kan? Boleh kan?"


"Bisa saja, tapi..."


"Wah, gelap deh kalau pakai tapi segala," kata Dwita.


"Bilang aja nggak mau ngajak."


"Bukan gitu. Dalam ijin cuma terdaftar tujuh orang. Kalau kau ikutan berarti ijin musti di perbarui. Urusannya nggak gampang. Lalu kami juga khawatir. Situ kan anak pejabat. Kalau ada apa-apa tanggung jawab kami teman-teman..."


"Memangnya ada beda anak pejabat sama anak kucing dalam soal mendaki gunung?" tanya Dwita. "Memangnya anak pejabat nggak boleh naik gunung?"


Boma melirik nakal ke dada yang masih tersingkap. Dwita sadar tapi tidak berusaha menutup kemejanya yang terbuka. "Gini, Dwita, rencana naik gunung ini bukan cuma satu kali. Nanti, kali berikutnya kau, siapa saja pasti kami ajak. Aku janji."


"Gita kok ikut?"


"Dia andalan kami. Dia sebelumnya sudah punya pengalaman naik gunung. Jadi teman-teman nggak khawatir."


"Oo gitu..."


"Kakaknya anggota Mapala UI. Gita sudah beberapa kali di ajak mendaki gunung..."


"Oo gitu..." kata Dwita lagi.


"Lain kali. Aku janji."


"Oo gitu..." ulang Dwita lagi seperti menyindir. Lalu tangannya yang di atas meja meluncur mendekati tangan Boma. Dan persis seperti yang tadi dikatakan Gita. Dwita meremaskan jari-jari tangannya ke lengang Boma. Anak lelaki ini merasa detak jantungnya lebih keras dan aliran darahnya lebih deras. Di balik dapur bakso Mang Asep, Ronny Celepuk dan lima temannya diam-diam mengintip ke dalam warung.


"Apa aku bilang," bisik Gita Gendut. "Terbukti kan? Dwita megang tangannya Boma. Pasti lumer hati kawan kita itu?"


"Gile, nggak nyangka. Diem-diem si Dwita agresif juga," kata Vino. "Boma tenang-tenang aja keliatannya. Hatinya pasti kedut-kedut. Seneng pasti dipegang-pegang..."


"Kalau aku pasti aku balas megang," kata Ronny.


"Lu emang celamitan!" sergah Gita.

__ADS_1


"Si Boma cuma belagak bodoh aja!" menyeletuk Vino.


"Kalau di tempat lain, apa lagi rada-rada gelap, pasti si Dwita udah di sangsot..." Muka Vino mengerenyit begitu sikut Gita Gendut menyodok rusuknya.


Di dalam warung. "Ajie busyet... Lumer nggak nih... Lumer nggak nih hati gua!" kata Boma dalam hati. Kembali dia ingat ucapan Dwita tadi.


"Dwita boleh ikut ya?" suara Dwita Tifani perlahan merdu, memohon manja.


Boma pandangi jari-jari halus yang memegang lengannya. Lalu tersenyum. Boma melirik ke arah dapur warung. Dia ingin membalas memegang jari-jari Dwita, tapi tidak dilakukannya. Belum berani. Atau malu ketauan teman-teman.


"Nah, kau senyum. Tandanya boleh kan? Asyikkk." Dwita usap-usap lengan Boma.


Kepala Boma menggeleng. Mata Dwita mengecil. Kening mengerenyit. "Kok?"


"Aku janji. Kalau kedua kalinya, aku dan teman-teman naik gunung kau pasti aku ajak. Tapi yang kali ini... Harap kau mau mengerti..."


"Kalau Dwita nggak mau ngerti?"


Wajah Boma tetap tenang. Tetapi dia tak bisa menjawab. Dwita tersenyum ketika melihat ada keringat memercik di kening Boma dan lengan cowok yang masih berada dalam genggamannya itu terasa dingin. "Bom, mentang-mentang aku anak kelas lain, nggak satu kelas sama kamu lantas enggak boleh ikutan ya? Gunung Gede cuma buat anak dua doang ya?"


"Bukan begitu. Gimana aku mesti berangin."


"Kalau nggak boleh ikut ya sudah..." kata Dwita pula.Punggungnya disandarkan ke kursi tapi tangannya masih memegang lengan Boma.


"Kau marah?" tanya Boma.


"Marah buat apa? Cuma sedih aja."


"Kok sedih?"


"Iyya..."


"Dwita, kalau teman-teman tidak mau kau ikut, bukan berarti mereka nggak suka sama kamu. Bukan karena kau tidak satu kelas dengan kami. Mereka takut kau kenapa-napa. Mereka tidak mau kalau nanti kau sakit. Berarti mereka meratiin kamu. Sayang sama kamu..."


"Oo gitu? Terima kasih kalau mereka memang meratiin aku. Terima kasih kalau mereka sayang sama aku. Tapi kalau Dwita boleh nanya, itu kan teman-teman. Kau sendiri sayang nggak sama Dwita?"


Tenggorokan Boma bergerak. Setengah tercekik menelan ludah sendiri. Tidak disangka Dwita bertanya seberani itu. Atau cuma bergurau? Muka Boma berubah merah. Di coba tersenyum tapi justru wajahnya jadi tambah merah. Apa lagi Dwita menunggu jawaban sambil matanya yang bening bagus memandang tidak berkedip padanya.


" Tenang... Tenang Boma. Kau lagi diuji. Kau lagi diuji..." kata Boma dalam hati coba menenangkan diri. "Otakmu boleh geblek tapi hatimu musti tabah! Ini tantangan baru. Ini baru tantangan!"


"Nanti aja kita ketemu dan bicara lagi." akhirnya Boma berucap.


"Nggak seneng ya Dwita lama-lama di sini? Takut ada yang marah?" Boma menowel hidungnya. " Hidung ditowel melulu. Lama-lama bisa copot!" kata Dwita.


Boma hendak menowel lagi tapi urung. "Oke deh..." Dwita memasukkan tangan kanannya ke saku blue jins. Waktu di keluarkan ada sehelai amplop dalam pegangannya. Amplop itu diletakkannya di atas meja.


Melihat pada bentuk dan ketebalan amplop Boma tahu amplop itu bukan berisi surat. Kalaupun ada suratnya pasti ada sesuatu yang lain.


"Apa-an ini Dwita?" tanya Boma.


"Apa-apa-an apa?" ujar Dwita.


"Itu..." Boma goyangkan kepala ke arah amplop di atas meja.


"Tambahan dana."


"Tambahan dana? Tambahan dana apa?"


"Aku tau naik Gunung Gede perlu dana lumayan besar. Hitung-hitung aku ikut nyumbang."


"Jangan Dwita semua sudah beres. Termasuk soal dana..." Boma hendak mengambil amplop di atas meja. Mau dikembalikan pada Dwita. Tapi Dwita cepat. Memang lengannya.


"Bom, kalau kau kembali, Dwita marah. Beneran Bom! Marah berat! Dwita nggak mau kenal lagi sama kau!"


Di belakang dapur Ronny Celepuk mengomel sendiri. "Ajie busyet! Dasar anak geblek! Kujitak benjut kepalanya kalau sampai amplop di kembaliin.


"Dwita aku..."


Kembali ke belakang dapur bakso Mang Asep. Gita yang pertama kali melihat. Cewek ini menggamit Ronny lalu berkata. "Ron, teman-teman. Liat siapa yang datang!"


Enam pasang mata di putar ke arah pintu warung. Di situ telah berdiri Trini. Rambut di kuncir di atas kepala, baju dari kaos tanpa lengan, singkat menggantung hingga perutnya di atas pinggang blue jins tersembul memutih.


...**********...


...Bersambung.......


^^^🖐️Hallo aku olil😁^^^


Jadi,,,, aku mau kasih tau,,, jadi aku masih pemula banget jadi cerita ini masih jauh dari kata bagus, semoga kalian mau memahami dan memaklumi kalau ceritanya sangat amburadul dan dan jauh dari ekspresi kalian...

__ADS_1


...Hehehe udah itu aja kalau mau lanjut baca boleh banget, makasih atas perhatiannya,,,...


__ADS_2