
TRINI DAMAYANTI menggeliat di atas tempat tidur. Dia sudah lama terbangun dan sudah beberapa kali mendengar Bibi Sarkah mengetuk pintu. Entah pada ketukan yang keberapa akhirnya Trini berteriak.
"Ada apa sih Bi?"
"Ada tamu Non." jawab Bibi Sarkah dari luar kamar di depan pintu.
"Siapa? Cewek, cowok?!"
"Cowok! Katanya wartawan."
Trini turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar dan mengeluarkan kepalanya sedikit di celah pintu.
"Wartawan?"
"Iyya Non..."
"Ngapain?"
"Katanya udah ada janji sama Non..."
"Ah nggak, nggak ada janji tu. Apa lagi sama wartawan."
"Orangnya sih Baek Non. Cuma gendut nggak ketulungan."
"Orangnya dimana?" tanya Trini.
"Duduk di teras."
Trini membuka pintu kamar. Lupa kalau saat itu dia cuma memakai ****** ***** mini dan kaos pendek berbentuk singlet, melangkah berjingkat-jingkat ke ruangan tamu. Dari balik hordeng tebal dia mengintip keluar. Di kursi teras dia melihat seorang lelaki gemuk memakai topi pet terbalik duduk sampai menikmati sebatang rokok. Di pinggir jalan di depan rumah ada sebuah Suzuki katana hitam. Trini ingat, orang itu pernah dilihatnya di Rumah Sakit di Sukabumi pada malam anak-anak SMA Nusantara III di selamatkan. Seperti tadi, berjingkat-jingkat Trini kembali ke kamar.
Waktu melewati Bibi Sarkah dia berkata. "Saya nggak mau nemuin tu orang Bi. Bilang aja saya udah keluar..."
"Wah, wong Bibi tadi bilang Non ada. Kasihan kalau nggak ditemuin Non. Mungkin ada hal sangat penting..."
"Si Bi bisa-bisaan aja sih! Udah, suruh nunggu sana..."
"Baik Non, Bibi bikinin kopi tamunya...?"
"Nggak usah. Nanti jadi anteng keenakan. Malahan tamunya jadi lama. Bilang aja saya lagi mandi."
Setengah jam kemudian ketika akhirnya Trini muncul di teras, sebelum sang tamu bicara Trini menegur duluan. "Memangnya saya ada janji sama situ Mas?"
"Maaf Mbak. Kalau nggak pakai trick pasti sulit nemuin orang penting seperti Mbak." Lalu wartawan bertubuh gemuk itu cepat-cepat mematikan rokoknya, tersenyum lebar, membungkuk sedikit dan mengeluarkan tangan memperkenalkan diri.
"Saya Tuyul Bengkak dari tabloid..."
"Ih, namanya kok aneh sih," Trini langsung memotong ucapan orang.
Wartawan itu tertawa lebar. Dia berdiri dari kursi, membuka topi pet hingga kelihatan kepalanya yang botak plontos. "Mbak Trini lihat sendiri. Cocok enggak nama saya dengan keadaan potongan saya. Gendut buntak, kepala botak..."
__ADS_1
Lalu seperti seorang pragawan si gendut botak ini melangkah melenggang lenggok di lantai teras, berputar satu kali, kembali duduk ke kursi. Tawa Trini Damayanti meledak lepas. Kalau sebelumnya ada rasa kurang senang pada orang ini kini mulai muncul rasa suka.
"Nama itu memang cocok sama orangnya," kata Trini. "Tapi masa iya sih situ namanya Tuyul Bengkak. Nggak lucu ah!"
Si gemuk tertawa lebar. Lalu dengan mimik serius dia berkata. "Nama saya sebenarnya Simatupang."
"Simatupang? Situ dari Batak ya..."
"Bukan. Simatupang saya itu bukan nama Marga..."
"Lalu?" Trini heran.
"Simatupang itu singkatan dari Siang Malam Tunggu Panggilan."
Kembali Trini tertawa cekikikan. "Ada-ada saja... Kok situ tau alamat saya?"
"Wartawan... Tuyul Bengkak... Alamat siapapun mesti tau..."
"Serius nih, nama situ siapa sih sebenarnya? Nanti kalau ketemu di jalan masa saya teriak :Hai! Tuyul Bengkak!"
"Itu nama yang afdol buat saya! Sudah nempel kiri kanan atas bawah depan belakang!"
"Oke deh, saya nggak maksa kalau nggak mau kasih tau nama..." kata Trini . Matanya memperhatikan sebuah telpon genggam terletak di atas meja. "Handphone siapa nih?"
"Saya, Mbak."
"Keren amat wartawan punya handphone."
"Jangan-jangan sadapan punya," kata Trini.
"OOO, yang begituan sih udah nggak jaman, malu-maluin aja, Tuyul Bengkak pakai telpon sadapan..."
Trini tersenyum. "Oke, sekarang keperluannya nemuin saya ada apa?"
"Sebetulnya saya mau ketemu Bapaknya Mbak Trini. Tapi susah banget. Mungkin Bapak juga lagi sibuk. Waktu di Sukabumi kami rekan-rekan dari wartawan minta penjelasan mengenai keanehan-keanehan yang terjadi sewaktu penyelamatan tujuh anggota pendaki gunung. Bapak menyangkal ada keanehan. Hal ini membuat kami para wartawan merasa kejadiannya makin misterius. Kami yakin Bapak tau peristiwa itu. Tapi karena alasan tertentu nggak mau ngomong. Menurut Mbak Trini sendiri gimana?"
"Panggil aja Trini. Nggak usah pakai sebutan Mbak segala," kata Trini.
"Oke, menurut Trini sendiri gimana? Terasa nggak adanya hal-hal aneh..."
"Saya nggak ngalamin sendiri. Jadi kurang tau. Tapi kalau dengar cerita Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas, juga ucapan Letda Sofyan, ditambah cerita Pak Sambas yang memonitor radio komunikasi di Pos. Lalu keterangan beberapa penduduk yang ikut mengusung teman-teman, kayaknya sih memang ada yang aneh. Malah tadi malam, waktu Bapak makan malam sama Ibu, saya nguping dengerin mereka membicarakan hal tersebut..."
"Nah, kalau gitu jelas memang ada misteri di Gunung Gede. Ada keanehan, saya mau coba menghubungi Kepada Sekolah, juga anak-anak yang sudah pulang. Siapa tau ada cerita tambahan. Mungkin juga nanti Boma..."
"Boma masih di Rumah Sakit."
"Saya tau..."
"Mas Tuyul, kalau wawancaranya sudah selesai, saya mau berangkat ke Rumah Sakit PMI Bogor. Mau ngeliatin Boma. Sorry, bukan ngusir nih..."
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Saya juga mau ke sana. Cari bahan berita baru. Mau barengan?"
"Nggak usah deh..."
"Takut ya sama orang gendut?"
"Iya, takut ketularan gendutnya," jawab Trini sambil ketawa.
Tuyul Bengkak ikut ketawa. "Saya minta fotonya ya..."
"Lah, kok pakai foto segala?"
"Foto adalah sejuta kata yang tidak bisa dituliskan dengan pena. Cia illa...!" Tuyul Bengkak berpuisi. Dari dalam tas hitam yang diletakkannya di lantai teras dikeluarkannya sebuah kamera Nikon AF. Dia mengambil foto Trini dari tiga arah, semuanya semi close-up.
"Terima kasih, terima kasih banyak-banyak."
Tuyul Bengkak memasukkan kameranya kedalam tas lalu mengenakan topi petnya. Seperti biasa topi itu dipasang terbalik. Dia bangkit dari kursi tapi tidak langsung melangkah. "Masih ada satu pertanyaan lagi. Tadi kelupaan."
"Apa?"
"Hubungan Trini sama Boma, selain teman satu sekolah apa ada hubungan lain yang istimewa?"
"Istimewa maksudnya pake madu susu telor plus jahe?"
Tuyul Bengkak tertawa lebar. "Saya cuma ingin negesin aja. Takut nanti salah tulis. Benar nggak?"
Trini Damayanti terdiam sesaat. Terbayang olehnya wajah Boma. Tiba-tiba ikut terbayang wajah Dwita Tifani. Sepasang mata anak ini membesar. Senyum bermain dibibirnya. "Ini kesempatan. Kesehatan besar! Biar dia tau rasa..." kata Trini dalam hati.
"Hemmm!" suara Tuyul Bengkak menyadarkan Trini. Anak ini tersenyum. "Malu ah bilangnya!"
"Nggak usah malu-malu! Ini akan jadi satu berita besar, loh."
Trini mengangguk. "Memang, terus terang kami sudah lama pacaran. Mulai sama-sama masih di kelas satu..."
"Boma anaknya agresif nggak?"
"Ajie busyet! Kok nanyanya sampai ke situ?" Trini cemberut tapi kemudian tersenyum.
"Ajie busyet!" Mengulangi Tuyul Gendut. "Wah! Itu kata-kata baru. Nggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Musti di catet..." Lalu wartawan ini membuat catatan kecil dalam notes kecil yang sudah di lecak dan selalu dibawa-bawanya. "Bukan apa-apa
Soalnya kalau menurut saya Boma itu kan singkatan dari Bom Atom. Jadi pasti panas terus, bahkan sewaktu-waktu bisa meledak. Ha ha ha..."
"Kalau Boma Bom Atom, lalu situ Bom apa?" tanya Trini.
"Saya mah tetep aja Tuyul Bengkak!" jawab sang wartawan. "Oke deh, terima kasih atas waktunya. Sampai ketemu di PMI Bogor.
Trini mengangguk. Begitu masuk ke dalam rumah anak ini melompat kegirangan. "Dwita! Rasakan kau! Kalau berita itu muncul di koran, semua orang bakalan tau kalau Boma memang pacar gue! Lu boleh gigit jari!"
...**********************...
__ADS_1
...Bersambung......