BOMA GENDENK

BOMA GENDENK
5 SUKA-SUKA CINTA (MIMPI BURUK)


__ADS_3

DWITA TIFANI melangkah sepanjang halaman sepi disisi kanan Pondok Indah Mall. Malam terasa dingin, terlebih ketika angin bertiup. Lalu hujan turun rintik-rintik.


"Heran, kok sepi amat. Pada kemana orang-orang. Masa sih takut sama hujan gerimis?" Dwita bertanya sendiri. Di rapikannya kerah kemeja blue jins nya. Di betulkannya letak tali tas yang tersangkut di bahu kiri. Lalu anak ini melangkah menuju halaman parkir.


"Mati lampu? Kok gelap...?" Dwita seolah baru sadar kalau keadaan sekelilingnya gelap. Hanya ada satu lampu menyala di kejauhan di halaman parkir sebesar itu." Ah, kok aku jadi takut. Brengsek!"


Dwita melanjutkan langkah. Di depannya ada sebuah tempat sampah besar terbuat dari besi, berbentuk empat persegi dengan ketinggian hampir sepundak. Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara anjing melolong. Dwita hentikan langkah di depan sampah besi. Dia memandang sekeliling.


"Ada anjing melolong. Tapi anjingnya nggak kelihatan..."


Dwita memandang sekeliling sekali lagi. Sunyi, dingin dan gelap. Walau gelap dia masih bisa melihat mobil Starlet merahnya dari kejauhan sana. Dwita menggerakkan kaki melanjutkan langkah. Tiba-tiba dari balik tempat sampah besi melompat seseorang. Dwita terkejut, hampir terpekik. Dikiranya rampok atau orang jahat. Kejutnya agak mengendur ketika dia mengenali siapa adanya orang di hadapannya. Tapi mendadak dadanya berdebar ketika melihat orang itu berdiri sambil mengacungkan sebilah belati besar, berkilat terkena cahaya lampu di kejauhan. Dan mata itu. Mata itu merah sekali, begitu ganas mengerikan! Di sudut bibirnya ada lelehan cairan merah. Darah?


"Trini..." ujar Dwita.


"Bagus, kau mengenali aku. Aku memang Trini. Trini Damayanti..."


"Ngapain kau disini...?" tanya Dwita.


"Ngapain aku disini?" Trini tertawa panjang. "Kau lihat pisau ini? Kau lihat?"


"Trini, kau punya maksud apa? Pisau itu! Kau membawa pisau segala! Untuk apa?!"


"Untuk apa?!" Trini kembali tertawa. Lelehan cairan merah semakin panjang turun ke dagu. "Kau anak baru SMA Nusantara III. Berani-beraninya mau merampas Boma dari tangan ku hah?!"


Pisau di tangan Trini menusuk ke depan, menembus udara. Dwita terpekik, cepat melangkah surut. "Bilang! Ngaku! Kau mau merampas Boma dari tanganku!"


"Tidak... Siapa bilang aku merampas Boma." jawab Dwita. Trini bergerak. Dwita mundur lagi. punggungnya membentur tempat sampah dari besi. Dia tidak bisa mundur lagi. Trini mendekat. Jarak mereka kini hanya terpisah tiga langkah.


"Bohong! Dusta! Penipu busuk! Aku tau kau memang mau merampas Boma! Kau malah menyodok dengan uang. Sekarang uang, nanti apa? Mungkin tubuhmu cih!" Trini membuang ludah. Ludah tampak merah. "Memalukan! Cewek rakus! Aku akan membunuhmu! Lihat pisau ini! Akan ku cabik-cabik tubuhmu!"


"Trini! Kau waras nggak! Kau... Kau habis minum obat ya?!"


"Apa?! Aku minum obat katamu?!" Trini membentak lalu tertawa panjang. "E*tacy?!" Trini tertawa lagi, "Aku memang minum obat! Tapi bukan obat b*US! Obat yang aku tenggak namanya obat kebencian! Obat dendam! Benci, dendam sama kau! Aku mau minum darahmu!"


Trini melompat ke depan. Pisau di tangan kanannya berkelebat. Menderu dingin mengerikan. Dwita angkat tasnya, melindungi wajahnya yang hendak di babat. Tapi tumit sepatu sebelah kirinya terpeleset. Tubuhnya goyah. Tasnya terjatuh. Dirinya tak terlindung lagi.


"Craaassss!" Belati besar menancap di leher Dwita. Darah muncrat dari mulut anak perempuan itu. Seperti orang kerasukan setan Trini tertawa panjang. Belati berdarah di tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Dwita kembali menjerit.


***********


TUBUH DWITA digoyang keras. "Dwita! Bangun! Dwita!"


Tubuh terbungkus daster tipis pendek itu menggeliat. Lalu seperti disentakkan Dwita bangkit, terduduk di kepala tempat tidur. Matanya membelikan. Wajah teringat, dia hendak menjerit lagi tapi tak ada suara yang keluar. Satu tangan menutup mulutnya dengan cepat. Suara gerungan tersendat di tenggorokan. Dwita lalu memeluk sosok Maya, kakak perempuannya yang duduk di samping tempat tidur. Memegang kedua bahunya.


Pintu kamar terbuka. Nyonya Tia Sujatmiko ibu Dwita langsung bertanya. "Ada apa Maya? Kenapa Dwita?"


"Mimpi Ma, Dwita pasti mimpi," jawab Maya, sambil mengusap keringat di kening adiknya. "Ma, jaga dulu. Saya mau ambil air putih."


Nyonya Tia duduk di tepi tempat tidur. Ditekapkannya dua tangannya di wajah anaknya."Kau pasti mimpi yang nggak enak. Berbaring dulu, biar lebih tenang..."


"Saya memang mimpi jelek Ma," kata Dwita.


"Mimpi apa? Kau mau cerita pada Mama?"


"Ah, sudahlah. Cuma mimpi. Nggak apa-apa."


"Itulah, Mama kan sering bilang. Kalau tidur jangan kelewat malam. Kau tau sekarang sudah jam berapa? Hampir jam sebelas siang..."


"Masa sih Ma?"


"Kok nggak percaya..." sang ibu mengambil Beker di meja kecil di samping tempat tidur lalu memperhatikannya pada Dwita. Dwita tersenyum Nyonya Tia Sujatmiko agak lega melihat senyum putrinya itu.


Maya masuk membawa segelas air putih. Nyonya Tia Sujatmiko berdiri. " Maya, Mama mau menelpon Papamu...?"


"Masa cuma anak mimpi aja mau di kasih tau Papa segala?" ujar Maya.


" Eh, siapa yang mau ngasih tau soal mimpi? Mama mau nelpon Papa, mau ngasih tanya apa Pak Sundoro Dubes, teman Papamu itu jadi datang nggak ke sini. Mama kan harus menyiapkan makan siang. Hari ini Mama sengaja memasak tongkol kuah tauco kesenangan Pak Sundoro. Dwita, habis minum lekas mandi. Biar seger."

__ADS_1


"Iya Ma..."


Setelah ibunya keluar Maya bertanya pada adiknya. "Kau mimpi apa Wita?"


"Serem kak May. Aku mau dibunuh..."


Maya tertawa. "Ada-ada aja kau ini. Siapa yang mau membunuhmu?"


"Trini.... Cewek sekolahan yang pernah aku ceritakan padamu."


Maya tersenyum. Dibelainya rambut adiknya. "Sudah segala mimpi nggak perlu dipikirin."


"Lagian siapa yang mikirin. Tapi aku punya firasat. Cewek seperti si Trini itu mau-maunya aja ngerjain aku."


"Gara-gara Boma?" Dwita menjawab dengan tarikan nafas panjang.


"Cinta monyet! Sekarang bukan jamannya lagi," kata Maya


"Kau boleh menganggap aku monyet kak May. Tapi yang aku hadapi justru seekor Gorila," kata Dwita pula. "Sudah, aku mau mandi dulu."


"Sebelum mandi periksa dulu kamar mandimu. Siapa tau gorilanya sudah nongkrong di situ!" Maya tertawa cekikikan.


"Ah, jangan nakutin dong kak May! Brengsek kau!" Acuh saja Dwita membuka dasternya. Tanpa ada yang menutupi auratnya dia melangkah menuju kamar mandi.


Maya geleng-geleng kepala. "Firasat ku, gorila yang ada di kamar mandi bukan gorila betina. Tapi gorila jantan!"


"Sinting kau!" kata Dwita dengan wajah cemberut.


**************


SEHABIS mandi Dwita Tifani duduk di teras belakang rumah, berjemur matahari sambil mengerikan rambut. Matanya menatap ke arah kolam renang kecil di belakang rumah besar. Mbok Mirah datang membawa secangkir teh manis panas dan dua potong roti panggang berlapis mentega dan selai strawberry kesukaannya. Biasanya jika dibawakan roti seperti itu Dwita langsung menyantapnya.


"Non Dwita, nggak lapar?" menegur Mbok Mirah ketika melihat Dwita masih duduk diam memandang ke kolam, seperti merenung.


Dwita tak menjawab. Juga tak bergerak. Matanya masih memandang ke arah kolam. Dua kaki dilipat di atas kursi.


"Mbok, sekarang hari apa Mbok?" tiba-tiba Dwita bertanya.


"Aneh si Non ini. Anak sekolah nggak tau hari, mungkin kelamaan libur ya? Sekarang hari Selasa Non "


Dwita seperti terkejut mendengar ucapan pembantu itu. "Mbok, ambilin telpon. Tolong Mbok. Cepetan!"


Tergopoh-gopoh si pembantu masuk ke dalam rumah. Tergopoh-gopoh pula keluar sambil membawa telepon wireless. Dengan cepat Dwita menekan tombol-tombol angka pada handset lalu mendekatkan pesawat itu ketelinga kirinya.


"Sambil nelpon rotinya di makan dong Non. Sudah siang belum sarapan nanti sakit," ujar Mbok Mirah lalu masuk ke dalam.


Dwita menunggu. Tak ada jawaban dari seberang sana. "Tut tut tut melulu. Aneh masak sih nggak ada orang di rumahnya?" Dwita menunggu lagi. Masih Tut Tut Tut . "Ah mungkin aku salah pencet..." Dwita mengulang mendial nomor tadi. Tetap saja tak ada jawaban.


"Git... Gita dimana kau. Aduh angkat dong...." Dwita menunggu lagi. Tetap tak ada yang menjawab. "Mungkin rusak," Dwita memandangi handset telpon wireless yang di pegangnya. "Hatiku.... Hatiku, mengapa mendadak nggak enak? Mimpi buruk itu... Mungkin..." Dwita berpikir sesaat. Mengingat-ingat. "Ronny... Ronny. Kalau mereka sudah pulang... Mudah-mudahan anak itu ada di rumah." Dwita lalu menelpon rumah Ronny. Lama sekali baru di angkat. Yang menerima pembantu.


"Hallo, saya Dwita, temannya Ronny." menerangkan Dwita. "Ronny nya ada?"


"Rumahnya, kosong Neng, semua orang pada pergi..."


"Jadi Ronny belum pulang dari Gunung Gede?"


"Justru itu Neng, ayah sama ibunya Nak Ronny, juga saudara-saudaranya semua pada pergi ke Gunung Gede. Ada kecelakaan Neng."


"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Siapa yang celakaan ?" tanya Dwita.


"Rombongannya Nak Ronny. Anak-anak itu hilang di Gunung Gede. Katanya Polisi juga sudah ke sana."


Paras Dwita Tifani berubah. "Bibi tau dari mana?"


"Ibu yang bilang sebelum pergi..."


"Lalu ibu tau dari siapa?" Dwita coba menyakinkan.

__ADS_1


"Ada teman Nak Ronny yang nelpon ke sini... Bibi lupa namanya."


"Laki apa perempuan?" tanya Dwita lagi.


"Perempuan."


"Polisi... Polisi... Anak perempuan..." Dwita membatin dalam hati. Dia ingat Trini. Ayah Trini seorang anggota polisi. "Bi, anak perempuan yang nelpon itu namanya... Namanya Trini?"


"Trini... Betul Neng! Trini. Dia yang nelpon."


"Bibi tau nomor teleponnya Trini?"


"Nggak tau Neng..."


"Di situ ada buku telpon? Catatan nomor telepon?"


"Ada sih ada Neng..."


"Tolong Bi! Mungkin di situ ada nomor telepon Trini..."


"Maaf Neng. Bibi nggak bisa baca. Bibi buta huruf..."


Dwita menggigit bibir, memijat-mijat keningnya sendiri. Dadanya terasa sesak. "Ya sudah Bi... Terima kasih." Dwita mematikan telpon wireless itu, meletakkannya di atas pangkuan.


Berpikir-pikir siapa lagi yang harus di telponnya.Dari anak kelas I-4 yang sekarang naik ke kelas II-9 dia cuma tau nomor Gita dan Ronny. Mendadak telpon berdering, membuat Dwita tergaga kaget lalu cepat-cepat menekan tombol on dan mendekatkan telpon ke telinga kirinya.


"Hallo, bisa bicara sama Dwita?"


"Saya sendiri, siapa nih?"


"Dwita, gue Wiwiek..."


Ternyata yang nelpon Wiwiek teman satu kelas Dwita. "Tumben kau nelpon aku. Nggak sari-sarinya," kata Dwita.


"Dwita, kau udah denger belum?"


"Denger apa?" Dada Dwita kembali sesak. Dia ingat lagi pada mimpi buruknya. Ingat pada keterangan pembantu Ronny tadi.


"Boma sama teman-temannya yang naik ke Gunung Gede. Mereka semua hilang. Nggak diketahui gimana nasibnya. Katanya kalau sampai hari ini anak-anak itu nggak di temukan, tim Sar mau diturunkan. Saat ini katanya sudah ada tim dari Kepolisian Sukabumi yang naik ke Gunung Gede..."


"Kau... Kau tau dari mana Wiek?"


"Dari Trini. Semua teman-teman sudah pada ditelponin. Siang ini anak-anak kelas I-4 yang lagi liburan mau ngumpul di sekolah. Rencananya sebelum jam dua belas langsung ke Sukabumi..."


"Wiek..." suara Dwita gemetar. " Aku... Kau punya nomor teleponnya Boma?"


"Dirumahnya nggak ada telpon. Lagian aku rasa orang tua sama saudara-saudaranya pada berangkat ke Sukabumi."


Dwita menggigit bibir. "Dwita, udah dulu. Aku mau ke sekolahan. Kau ikutan?"


"Ya... Ya. Harus." suara Dwita terdengar pahit.


"Dwita... Dwita!"


"Ya..."


"Kalau kau punya mobil kijang atau panther... Teman-teman banyak yang mau ikut. Kendaraan kita kurang..."


"Ya... Ya ..." jawab Dwita tapi telpon wireless sudah jatuh ke pangkuannya, terus berir jatuh ke tanah berumput. Apa terjadi dengan Boma dan enam orang temannya? Hati Dwita mengucap. "Ya Tuhan tolong mereka. Tolong Boma, tolong teman-teman saya..."


...***************...


...Bersambung......


**🖐️Hallo aku olil😁


Jadi,,,, aku mau kasih tau,,, jadi aku masih pemula banget jadi cerita ini masih jauh dari kata bagus, semoga kalian mau memahami dan memaklumi kalau ceritanya sangat amburadul dan jauh dari ekspresi kalian...

__ADS_1


Hehehe udah itu aja kalau mau lanjut baca boleh banget, makasih atas perhatiannya**,,,


__ADS_2