
ROMBONGAN anak-anak SMA Nusantara III menjemput Boma di Rumah Sakit PMI Bogor termasuk ayah serta ibu Boma terdiri dari lima kendaraan. Boma si sakit yang baru sembuh berada dalam mobil urutan dua Opel Blazer milik ayah Gita. Mobil ini tadinya khusus hanya di tumpangi oleh tujuh anak Anggota rombongan Proyek GG yaitu Boma, Gita Parwati, Andi, Firman, Vino, Rio dan Ronny. Tidak boleh campur dengan anak-anak lain bahkan orang tua juga tidak. Ternyata ketika Boma dan enam temannya masuk, Trini sudah lebih dulu berada dalam mobil.
"Hai! Aku boleh dong gabung di sini! Habis kangen sama Boma!" kata Trini.
Mungkin kaget dan tak terduga, mungkin juga kurang senang, tak ada yang menyahuti. Ronny Celepuk langsung duduk di belakang kemudi. Gita di kursi depan sebelah Ronny. Tampangnya yang gendut jelas di tekuk karena kesal. Hatinya menggerutu.
"Enak aja tu kucing garong naik mobil gue. Ngomong kek, ijin kek!"
Untuk menghilangkan suasana yang mendadak jadi tidak enak, Vino berkata. "Boleh aja Rin. Asal mau dempet-dempetan!"
"Dempet-dempetan! Itu yang di cari!" kata Andi yang duduk nyempil di pinggir kiri.
Di sebelahnya Boma, lalu diseling oleh Vino duduk Trini, baru yang lain-lain. Enam orang di sebelah belakang memang lumayan sesak. Tapi anak-anak itu tidak peduli. Yang penting mobil bisa jalan. Ke Jakarta, Boma sudah sembuh!.
"Ron, memangnya kau udah punya SIM?" tanya Boma.
"Beres Bom, jangan khawatir."
"Kalau KTP terus terang gue belom punya. Tapi SIM udah. Itu hebatnya Ronny Celepuk!" Ronny mengagumkan diri."
"Pasti SIM nembak!" kata Rio.
"Coba gue liat! Jangan-jangan SIM lu SIM kuda!" kata Vino.
Tawa pertama meledak dalam Opel Blazer itu.
"Ude Ron, jalan," kata Gita. Barusan bisa ketawa tapi kini kembali cemberut sebel. "Di belakang temen-temen udah pada nglakso. Lu nggak denger apa?"
"Tenang aja Git," jawab Ronny. Lalu seperti penyair ramalan cuaca anak ini berkata. "Udara cerah tak berawan. Suhu sekitar dua puluh tiga derajat celsius. Kecepatan angin rata-rata dua puluh kilometer per jam. Kalau gua kebut setengah jam pasti sampai di Jakarta!"
"Betul! Tapi langsung RSCM!" teriak Andi.
Tawa kedua menggema dalam mobil itu. Begitu Opel Blazer keluar dari pintu gerbang Rumah Sakit PMI, Ronny mulai menyanyi. Lagunya kembali ke Jakarta yang biasa dinyanyikan Koes Plus. "Di sana rumahku, dalam kabut biru. Hatiku sedih di hari Minggu. Di sana kasihku sendiri menunggu. Di batas waktu yang telah tertentu."
Mula-mula suara Ronny sendiri dan perlahan. Lalu Gita mulai mengikuti. Terus yang lain-lain tak mau ketinggalan. Mobil itu seolah meledak ketika semua anak yang ada di dalamnya menyayikan keras-keras Refrain dari lagu.
__ADS_1
Ke Jakarta aku kan kembali. Walaupun apa yang kan terjadi. Ke Jakarta aku kan kembali. Walaupun apa yang kan terjadi.
Selama perjalanan ada satu hal yang ingin ditanyakan Boma. Dia tidak melihat Dwita. Dia mau bertanya pada Andi yang duduk di samping kirinya. Tapi harus cari kesempatan baik karena Trini berada di sebelahnya, hanya terpisah oleh Vino yang duduk tepat di samping kanannya. Dalam keadaan seperti ini, kebiasaan Boma muncul. Dia mulai menowel-nowel hidungnya sendiri. Lewat kaca spion di atasnya Ronny kebetulan melihat kelakuan Boma. Langsung saja dia berucap. "Bom, sakit segitu lama, gue kirain lu udah pada lupa nowelin hidung."
Boma cuma mesem dan menowel hidungnya sekali lagi. Ketika mobil meluncur melewati pintu keluar tol Cibinong baru Boma dapat kesempatan. Dia berbisik pada Andi.
"Aku nggak ngeliat Dwita. Dia nggak tau aku pulang hari ini?"
"Tau Bom. Dia tau. Katanya mau datang. Mungkin ada halangan..." jawab Andi.
"Halangannya mungkin Trini," bisik Boma lagi. "Karena Trini ikut rombongan kalian, dia ngalah. Ngindarin ketemu Trini. Aku dengar dari Ronny tadi Dwita marah besar sama Trini karena dibohongi pakai telpon. Benar, yang itu memang benar. Tapi soal Dwita nggak datang aku rasa..."
Boma membenturkan pahanya ke paha Andi ketika sudut matanya melihat Trini memperhatikan dirinya dan berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakannya dengan Andi berbisik-bisik.
...**********************...
Rumah kecil di ujung gang yang tadi penuh sesak oleh anak-anak SMA Nusantara III kini tenggelam kesunyian. Boma masih berdiri di pintu pagar walau teman-temannya sudah lama pulang. Hatinya haru. Persahabatan terkadang melebihi dari segala-galanya.
"Boma, kok masih berdiri di pagar? Ayo masuk. Kau masih perlu istirahat..." Ibu Boma memanggil anaknya dari ruang tamu. Sementara ayah Boma mulai sibuk dengan pekerjaan sablon.
"Kakakmu itu hari ini mengikuti tes dalam rangka melamar kerja. Mungkin sore baru pulang," menerangkan Ibu Boma. "Kau mau tidur di kamar bawah saja, biar Bram yang di atas?"
"Saya di kamar atas saja Bu. Di atas..."
"Kau bisa naik tangga sendiri?"
"Masa sih nggak bisa Bu. Boma kan sudah sembuh."
Nyonya Hesti Sumitro tersenyum mendengar jawaban anaknya itu. "Sudah, naik sana. Hati-hati. Tidur, nanti ibu buatkan makanan kesenanganmu."
"Terima kasih Bu," kata Boma. Diciumnya pipi ibunya lalu naik ke tingkat atas.
Begitu masuk kamar matanya langsung tertumbuk pada satu karangan bunga mawar merah dalam vas kuning, terletak di atas meja kecil dekat kepala tempat tidur. Pada plastik pembungkus sehelai amplop ditempelkan dengan selotip. Boma mengambil amplop itu lalu membukanya. Isinya sehelai kartu, bergambar setangkai bunga mawar ditebari tetesan embun segar. Di sebelah dalam kartu tertera serangkaian tulisan.
Welcome home Boma
__ADS_1
I Miss you very much and Will see you soon. Take care.
Dwita
"Dwita, tadi aku memang merasa kecewa. Namun melihat bunga ini, aku tahu kau selalu memperhatikan diriku."
Boma duduk di tepi tempat tidur. Dibukanya plastik pembungkus bunga mawar. Diangkatnya vas kuning dari atas meja. Kuntum-kuntum bunga mawar merah didekatkannya ke hidungnya lalu mencium. Terasa keharuman yang segar memasuki rongga dadanya.
"Ibu lupa memberi tahu. Bunga itu dari seorang temanmu. Namanya Dwita. Malam tadi, dia sendiri yang mengantarkan ke sini."
Boma memandang ke pintu. Di situ ibunya berdiri. Boma merasa, agaknya kedatangan ibunya bukan hanya hendak memberitahu perihal bunga mawar dalam vas kuning itu saja. Ada sesuatu yang lain. Boma bisa merasakan. Dan dia tidak menunggu lama.
"Boma, ada yang ingin ibu katakan. Sekalian mau ditanyakan. Sewaktu ayahmu hendak membayar biaya perawatanmu di kantor Rumah Sakit, pegawai di sana memberi tahu, semua biaya sudah di lunasi. Ayahmu terkejut sekali. Padahal sampai kemarin dia masih bingung mencari pinjaman untuk membayar biaya Rumah Sakit. Tahu-tahu ketika mau dibayar sudah ada orang yang melunasi..."
"Ayah tidak menanyakan siapa yang membayar?"
"Ada. Kata pegawai Rumah Sakit yang membayar seorang perempuan. Itu dilakukannya siang setelah minta perincian pembayaran sampai kau keluar."
"Pegawai itu nggak nyebutin nama?"
Ibu Boma menggeleng. "Kelihatannya dia tidak mau diketahui siapa dirinya."
"Lucu," kata Boma. Dia berpikir-pikir. "Ayah tidak tanya ciri-ciri orang itu?"
"Saat itu ayahmu mana ada pikiran sejauh itu. Sudah dibayarkan orang saja kagetnya bukan main. Tapi bersyukur senang. Mungkin kau tahu siapa kira-kira yang berbudi baik itu?"
Boma meletakkan vas kuning kembali ke atas meja kecil. "Boma nggak tau Bu. Nggak bisa menduga," jawab Boma. Namun di lubuk hatinya anak ini bicara sendiri.
"Dwita? Dia mampu melakukan. Karena uangnya banyak. Tapi masa sih dia sampai berbuat sebaik itu? Mungkin Trini? Rasanya tidak. Tapi siapa tau. Aku harus nyelidikin. Saat ini aku cuma bisa berdoa pada Tuhan. Agar orang itu dilimpahi Rahmat, Berkah dan Rejeki berlipat ganda atas kebaikan budinya."
Boma berpaling ke pintu. Hendak menanyakan berapa besar biaya perawatan dirinya yang telah dibayar orang itu. Namun memandang ke pintu ibunya tak ada lagi di situ.
...******************...
...Bersambung......
__ADS_1