BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 21


__ADS_3

Geliatku pagi ini terasa berbeda. Hambar tak sebagaimana biasa menyambut awal hari, dengan kepul panas secangkir kopi. Teruntuk seseorang di bawah sana, lengkap dengan balutan handuk yang masih basah serta bertelanjang dada. Ah, sungguh menjemukan kini. Asa menggebu tak lagi seru. Memburu impian sedari awal tarikan paru, perlahan memudar di akhir waktu.


Bram, mungkinkah dia cinta pertamaku? Sulit sekali melumpuhkan kekuatan rasa ini dari harapnya. Mengganti dengan daya sumber yang lain? Kecil kemungkinan terjadi. Walau kesempatan itu ada di depan mata. Andre.


Seperti halnya hari ini. Benakku sulit untuk bekerjasama. Raga ini hampa dari tutur kata. Melewati desah kosong di gendang telinga. Itu terjadi hingga ....


"Yakin elu gak mau ikut gue nemenin Tante Cassandra, Cuy?" tanya Della usai jam kuliah habis. Aku menggeleng lesu. "Masih gak enak badan?"


Aku menoleh sejenak. "Aku mau langsung pulang saja, Del. Maaf, ya."


Della menarik napas panjang, mengangkat bahu, lalu menghempaskan sisa hirupnya. "Ya, sudah. Gue gak mau maksa," ujar Della kemudian. "Yakin elu bisa pulang sendiri? Soalnya, gue mau langsung ke kantor Papah. Menjemput Tante Cassandra."


"Aku sudah pesan taksi online, kok, Del. Tenang saja. Aku baik-baik saja," tukasku seraya bersiap meninggal kelas. "Maafkan aku, ya, Del."


Kali ini sikap Della lebih kalem. Tak seperti biasa, sesuai dengan karakter aslinya. 3C; Cuek, cempreng, dan 'cablak'.


"Elu sehat, kan, Cuy?" Della menatapku tajam. "Aku pengen istirahat," jawabku pendek. Sambung gadis itu kemudian, "Maksud gue, hati elu."


Aku tersenyum kecut. "Memangnya terlihat bagaimana, Del?"


"Luar-dalam elu lagi sakit."


"Ah, kamu bisa saja, Del."


"Bukan karena Papah gue mau kawin, 'kan?"


"Kamu ini apaan, sih?" Buru-buru aku menangkis. Khawatir pertanyaan Della akan berlanjut. "Orang tua sendiri nikah, masa jadi beban?"


Pertanyaan aneh. Apakah Della sudah bisa menduga sikapku pada Om Bram? Selama ini dia kerap bertanya ke arah itu. Gawat!


"Apa elu—"


Kutepuk lengannya. "Sudah, ah. Ndak usah ngomong macam-macam. Aku pulang sekarang, ya, Del. Titip salamku buat calon Mamah baru kita, Tante Cassandra."


Sengaja menghindari adu tatap dengan gadis itu. Aku takut suasana akan semakin canggung. Sekaligus tak kuasa menahan kontrol lisan ini dari kalimat, 'Aku mencintai Papahmu, Del. Kauharus memahami itu!'


Tak ada percakapan di sepanjang perjalanan. Melangkah berdampingan bagai dua insan terasing. Hening dan beku menghiasi.


Aku tahu, Della ingin lebih banyak bertanya. Mengorek kabar atas perubahan yang ada. Itu terlihat dari sudut mata ini, sering kali dia mencuri pandang.


"Aku langsung pulang, ya, Del. Daahh," ucapku seraya melempar lambai pada gadis itu.


"Hati-hati, Cuy. Kalo ada apa-apa, elu calling gue, ya," pinta Della sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Atau gini aja, elu gue anterin sampe rumah. Habis itu, gue ke kantor Papah buat ngejemput Tante Cassandra. Gimana?"


"Ndak usah, Del. Aku bisa pulang sendiri, kok," kataku menolak. "Lagian orderanku udah nunggu di depan kampus," lanjut tuturku seraya membuka notifikasi pesan instan yang baru masuk.


"Tapi gue gak bisa ngebiarin elu pulang sendiri, Cuy. Sahabat macam apa gue? Elu lagi sakit." Della bersikukuh.


"Ndak apa-apa. Terima kasih. Aku akan baik-baik saja, kok."


"Tahu dari mana elu bakalan gak apa-apa. Kalo di tengah jalan elu pingsan, gimana?" Della bersikeras.


Hhmmm, itu tak akan terjadi, terkecuali karena ulah papahnya. Om Bram.


"Percayalah, Del. Itu ndak akan terjadi."


Della mendengkus kesal.


Akhirnya, aku pun segera berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Della yang masih berdiri di samping kendaraan. Lalu teriakan itu pun menghentikan langkah, "Alya!"


Aku menoleh. Gadis itu berlari menghampiri, langsung merengkuh, dan mendekap sedemikian erat. "Maafin gue, Lya. Maafin gue," bisik Della lirih.


"Maaf tentang apalagi, Del?" Aku bingung di antara pelukannya.


"Pokoknya ... gue minta maaf elu, Lya." Kudengar laun isak dari Della.


Ada apa ini? Selama kenal dan bersamanya, tak pernah sekalipun aku melihat Della menangis. Lalu sekarang? Aneh.


"Kamu menangis?" tanyaku begitu peluk kami terlepas. "Del .... "


Gadis itu menggeleng dengan wajah tertunduk.


"Del," panggilku, "ada apa, sih?"


Della masih terdiam. Dia sibuk mengusap air matanya. Kemudian berkata lirih, "Gue ... gue ... ah, gue belum bisa ngomong sekarang, Lya. Gue .... " Ragu dia meneruskan.


"Ngomong tentang apaan, sih?" Aku penasaran. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


Kembali Della menggeleng. "Bukan itu maksud gue. Tapi ... ah, sudahlah."


"Del," panggilku menegaskan sambil menatap resah bola matanya.


"Jangan lihat gue kayak gitu! Gue makin pengen mewek, Lya!" protes Della seraya mengibaskan tangan di depan wajahku.


"Masa, sih?" Sengaja kukejar tatapnya sambil menggoda. "Ayolah, nangis sekencangnya, Del. Aku menyukai tangisan pertamamu barusan."


"Lya! Iiihh ... apaan, sih, lu?" Della memberontak. "Gue calling-in Andre, ya?"


Aku tersentak. "Buat apa?" Tak seperti biasanya. Selama ini Della hampir selalu berusaha untuk menghindar dari sosok lelaki itu.


"Supaya dia mau nganter elu pulang."


Refleks aku bereaksi, "Jangan! Ndak usah! Ini malah akan memperkeruh suasana."


"Enggak, Lya! Serius, gue mau minta bantuan dia," Della bersikeras memaksa.


"Ndak usah, Del."


"Mau."


"Ndak."


"Mau!"


"Ndak!"


"Harus!"


"Ndak! Ndak!"


"Wajib, Lya. Harus! Kudu! Mesti! Enggak boleh enggak!"


"Mengapa, sih, kamu maksa?"


"Kenapa juga elu nolak?"


"Mengapa aku harus nerima?"


"Karena harus!"


"Kalau nolak?"


"Haruslah."


"Harus apa?"


"Wajib dipaksa!"


"Hentikan! Aku pusing, Del."

__ADS_1


"Tuh, kan ... elu pusing lagi?"


"Tapi bukan karena sakit kepala."


"Lalu?"


"Kamu keras kepala."


"Artinya elu tetep sakit, 'kan?"


Aku mendengkus kesal. "Ya, sudah! Terserah kamu saja. Mau panggil ambulans juga, aku terima!"


"Yang ini mobil jenazah, Lya!"


"Ndak sekalian keranda mayat?"


Sialan! Obrolan macam apa ini?


Della tertawa keras.


"Mengapa sekarang tertawa? Tadi kamu nangis," ujarku merasa heran. "Lucu aja, Lya. Hahaha," balas Della masih disertai gelak khasnya.


"Hhmmm."


"Udah. Terima aja, deh. Elu gak bakalan menang debat ama gue," seru gadis itu. "Orang yang ditunggu udah dateng tuh."


"Siapa?"


"Andre. Si Londo jomlo!"


Aku membalik badan. Mencari sosok yang dituju pandang oleh Della. Benar saja, Andre sedang berjalan mengarah ke tempat kami.


"Andre?"


Anak muda itu melambai dari kejauhan.


"Kapan kamu manggil dia, Del?" tanyaku heran. Della gelagapan. "Eh, tadi. Ya, tadi ... waktu kita jalan dari kelas."


"Kamu ... ngirim pesan ke dia?"


Della salah tingkah. "Ya, apa salahnya?"


Keningku berkerut. "Jadi selama ini kamu menyimpan nomor kontak dia juga?"


"Dia, kan, temen sekelas kampus kita. Salah gitu kalo gue nge-save nomor ponsel dia? Termasuk nomor si Alex. Aneh bagi elu?" kilah Della tak mau kalah.


Tidak! Bukan masalah itunya, tapi aku pikir selama ini Della dan Andre juga sering berkomunikasi. Lho, bukannya Della membenci anak muda itu? Ada apa ini? Misteri bertambah.


"Hai," sapa Andre begitu tiba di dekat kami. "Ada apa ini?"


Aku mendelik. "Kamu pikir, ada apa?"


"Gak tahu. Ada apa, sih?" Andre menggaruk kepalanya.


"Anterin Alya pulang," titah Della.


"Sekarang?" tanya anak muda paruh bule itu kembali.


"Kapan lagi?" sentak Della mulai galak.


"Kenapa gak bareng? Biasanya sama elu, Del."


"Gue ada keperluan laen."


"Nah, itu juga. Biasanya apa-apa selalu kalian berdua lakuin bareng-bareng," tukas Andre. "Ada apa, sih? Kalian marahan, ya?"


"Jangan, ah, Del. Aku trauma naik motor ama dia. Kemaren saja aku sakit, gara-gara dia," seruku merasa keberatan.


Della membalas, "Elu berdua naek angkutan umum online, Lya."


"Astaga!"


"Kenapa lagi, sih?"


Aku menoleh keluar area parkiran kampus. "Orderanku nunggu dari tadi."


"Makanya elu berdua buruan sana, pulang!" seru Della memekakkan telinga. Sifat aslinya keluar. "Mau, 'kan, Ndre?"


Andre tersenyum. "With my pleasure."


"Del," panggilku.


"Udah, sana jalan!"


Percuma protes. Tak akan menang. Gadis itu keras kepala.


Terpaksa kuturuti, walau hati dilanda gusar. Disertai ancaman pada Andre, bergegas meninggalkan sosok Della, "Awas, ya, kalo kejadian waktu kemaren terulang."


"Kejadian apa, Lya? Yang waktu ke toilet itu?" tanya Andre.


"Bukaaaannnn!"


"Terus?"


"Au, ah!"


Aku segera mendekati sebuah kendaraan yang terparkir di depan gerbang kampus. " ... dengan Mbak Alya, ya?" tanya sopir.


"Betul. Maaf, Pak. Lama nunggu?" Aku masuk ke dalam kendaraan di kursi belakang, diikuti Andre. "Enggak juga, Mbak," jawab sopir seraya tersenyum ramah. "Sesuai alamat tujuan, 'kan, Mbak?"


"Iya, Pak."


"Baik, kita berangkat, ya."


Kendaraan mulai melaju perlahan meninggalkan area kampus.


"Lya .... "


Kutoleh Andre yang duduk di sebelah. "Apa?"


Anak muda itu terdiam sejenak. Kemudian lanjut berkata, "Maafkan aku soal yang kemarin."


"Yang mana?" tanyaku menatap ke depan. Enggan rasanya beradu pandang dengan mata biru Andre. "Semuanya," jawab Andre.


"Hhmmm."


"Aku dan Della memang sudah merencanakannya. Pertemuan kita dengan Pak Bram di pusat perbelanjaan kemarin itu, bukan kebetulan," tutur Andre.


"Kamu dan Della sering berkomunikasi, 'kan?" selidikku. Andre tak menjawab. "Aku pikir, selama ini Della benar-benar ndak mau deket sama kamu."


"Baru kemarin dia menghubungiku. Itu pun terkait rencana bikin surprise kamu, Lya."


"Begitu?" Aku belum percaya.


"Iya."


Aku menarik napas panjang. "Aku mencium ada aroma lain di antara kalian."


"Maksudmu, Lya?" Andre seperti terkejut.

__ADS_1


"Kalian punya hubungan khusus?"


"Enggak. Kami hanya teman. Ya, sebatas berkawan saja."


"Hhmmm."


Andre menggeser duduk, mendekatiku. "Kamu punya perasaan lain sama Pak Bram, Lya?"


Kulirik anak muda itu sejenak, diiringi senyum kecut. "Cuma anak dan orang tua. Om Bram sudah menganggapku layaknya anak sendiri. Begitu pula denganku."


Andre menggeleng. "Enggak. Ada hal lain yang kamu sembunyikan, Lya."


"Hal lain apa?" Aku tertawa sendiri. Padahal dadaku mulai bergemuruh. Makanya masih enggan beradu mata dengannya.


Setelah agak lama terdiam, Andre menjawab, "Kamu naksir Pak Bram."


"Hahaha." Aku tertawa garing dengan bibir kaku. Lama tergelak hingga mata sopir sesekali mengintipku melalui front mirror.


"Masih mau lanjut ketawanya?" tanya Andre setelah sekian lama menunggu gelakku reda. "Aktingmu payah, Lya. Suara tawamu gak menggambarkan kelucuan. Justru seperti sedang menutupi kegundahan."


"Sok tahu kamu!" sahutku buru-buru menanggapi ucapan Andre tadi.


"Terserah kamu mau jawab apa, tapi aku merasa ... kamu memang menyukai Pak Bram, 'kan?" Andre mulai menyerangku.


Aduh, mendadak panas. Gerah. "Pak, AC-nya bisa lebih dingin ndak?" pintaku pada sopir.


"Ini sudah level terdingin, Mbak," jawab sopir.


"Tapi masih panas begini, ya? Mungkin freonnya bermasalah?" Aku mengipas-ngipas tangan di depan wajah.


"Ini mobil baru, Mbak." Sopir tersenyum di balik kemudinya. Sesekali dia menatapku melalui cermin depan.


"Oh, begitu? Tapi .... "


"Masih mau terus berpura-pura dan mengalihkan pembicaraan ini, Alya?" potong Andre tak lepas memperhatikan sikapku dari tadi.


Kulirik dia sesaat. "Dih, kamu ngomong apa, sih, Ndre? Gajebo, ah."


"Bukan AC-nya yang bermasalah, Lya. Tapi wajahmu itu yang mendadak merah padam," Andre terus mencecarku. Sopir terkekeh di balik kemudi. "Jujur saja, deh. Benar, 'kan, kamu mencintai papahnya Della?"


"Aku ndak mau membahas soal ini. Maaf," jawabku sambil menundukkan kepala. Gara-gara Andre, perih itu kini melanda kembali.


Andre mengangguk-angguk. "Sekarang aku mulai paham tentangmu, Lya. Aku paham."


"Ndak ada, Ndre. Ndak ada yang kamu ketahui tentang aku. Kamu ndak paham itu. Kamu hanya menebak-nebak, 'kan?" Aku menggeleng kembali. Berusaha menyangkal apa pun yang mulai diselami oleh Andre.


"Hhmmm," anak muda itu mendeham.


Laju kendaraan berhenti, tepat di depan pintu pagar tinggi sebuah rumah besar.


"Terima kasih, ya, Pak," ucapku seraya memberikan sejumlah uang pada sopir. "Wah, Mbak. Banyak banget. Ini kelebihan," ujar laki-laki di belakang kemudi tersebut.


Aku tersenyum. "Ndak apa-apa, Pak. Ambil saja semua."


"Terima kasih, Mbak," ujar sopir tersebut semringah. Sebelum pergi, dia berseru di balik kemudi. "Semoga apa yang Mbak cita-citakan, terwujud, Mbak."


Aku tersenyum. Haru.


'Aamiin.'


Andre berdiri di sampingku, melirik-lirik. "Lya, aku pergi lagi, ya."


"Mau ke mana, Ndre?"


"Ke kampus. Motorku, kan, masih di sana."


"Ndak nemenin aku dulu?"


Andre memperhatikan sekeliling rumah. "Pak Bram dan Della sedang gak ada di rumah, 'kan?" Aku mengangguk. "Aku takut ada siluman di antara kita."


Kutepuk lengan anak muda itu. Dia mengutip obrolan kami waktu di dalam bioskop kemarin. "Bisa saja kamu, Ndre."


"Kan, kamu yang ngajarin."


Aku hanya tersenyum kecut.


"Ya, sudah. Aku pergi, ya, Lya," kata Andre sambil melangkah pergi. Kuperhatikan sosok yang mulai menjauh itu.


"Ndre!"


Andre berhenti. Membalik badan, lalu memandangku.


Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin menangis. Tak tahan lagi. Dari tadi begitu meledak-ledak rasanya.


"Alya .... " Andre berlari menghampiri. "Ada apa denganmu?"


"Ndre!" jeritku sambil memeluk anak muda tersebut.


"Alya ... kamu menangis? Ya, Tuhan!" Andre balas memelukku. "Ada apa ini?"


Aku tak mau menjawab. Dadanya terasa makin sempit dan sesak. "Jangan memelukku terlalu rapat, Ndre."


"Kenapa?"


"Aku susah napas. Sesak, tahu!"


"Oohh," ujar Andre seraya melonggarkan rengkuhannya. "Maaf."


Syukurlah, sekarang sudah agak lega. "Bawalah aku ke mana pun kausuka, Ndre. Aku ndak ingin tinggal di rumah ini lagi."


Andre tertegun. "Kenapa, Lya?"


Aku menggeleng. "Rasanya sudah ndak sanggup. Aku ingin pergi jauh."


"Lya .... "


"Ndre."


"Hhhmmmffft, A-aly-a, uh!"


"Kamu kenapa juga?"


Napas Andre megap-megap. "Dadaku ... ini."


Kulepas pelukan. Memperhatikan wajah anak muda itu. Memerah laksana kepiting rebus. "Kamu bengek?"


Andre menggeleng. "Bukan. Dadamu menyesakkan dadaku. Sesak."


"Ih ... !!!"


Andre mendekatkan wajah, dengan bibir bergetar. Semakin mendekat dan terus mendekat.


"Andre?"


Aku diam terpaku.


BERSAMBUNG


Sukabumi, 7 Juni 2020

__ADS_1


__ADS_2