BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 31


__ADS_3

BUCIN (31)


Penulis : Daoed Soelaeman


"Pernikahanmu gagal, Bram?" Kupandang laki-laki perlente itu dengan saksama. "Maksudku, ndak jadi nikah dengan Tante Cassandra?"


Bram terdiam. Matanya lekat menatap sosok Della yang terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen. "Aku memikirkan anakku, Lya," jawabnya, "kaupikir, orang tua mana yang tega melihat anaknya terbujur sakit seperti itu? Haruskah aku terus melangsungkan pernikahan di saat kondisi Della sakit?"


Aku mengangguk-angguk. Ada benarnya juga. Sekaligus memberi kesempatan untuk terus mendekati laki-laki itu. "Sampai kapan?" tanyaku kembali. Berharap Bi Mamas tak datang dulu hingga percakapan ini usai. 


Terdengar dengkus Om Bram. Gusar? Mungkin. Namun bagiku, justru ini berita membahagiakan. "Entahlah. Aku sendiri belum bisa berpikir ke arah itu," jawab Om Bram pasrah.


'Memang lebih baik begitu, Om. Fokus saja sama aku. Buat apa menguras energi untuk janda beranak satu itu. Di depanmu ada yang lebih penting, lho,' kataku dalam hati. ' ... perawan ting-ting dan menarik.'


Tadinya sempat berpikir untuk mundur dari kancah persaingan ini. Lebih memilih dekat dengan Della, atau pergi menjauh dari kehidupan mereka. Namun pintu kesempatan kembali terbuka lebar. Siapa tahu takdir berkata lain, 'kan?


"Belum berpikir atau memang ada rencana lain, Bram?" 


"Maksud Alya?" Laki-laki itu menoleh.


Aku tersenyum kecut. 'Segitu aja masa ndak ngerti sih, Bram? Laki-laki dewasa macam apa kamu ini? Peka dikit, kenapa? Ada cewek lagi berharap nih, Bram!'


"Pikir sendiri sajalah," kataku seraya membelakanginya. Sekali lagi, berharap ada jemari kekar membelai rambut ini. Lalu perlahan menarik pundak, lanjut ....


Terdengar napas perlahan. Kutunggu sambil memejamkan mata. Bersiap-siap untuk merajuk manja begitu serangan laki-laki itu mulai menyentuh. 


"Kkkrrrr!"


Apa itu? Zombikah?


Segera kubalik badan. Tampak Bram duduk menyandar dengan mata terpejam dan mulut menganga.


"Dih!" 


Dia malah tertidur. Namun jadi ada kesempatan banyak untuk memandanginya dengan bebas. Mumpung ada di depan mata. 


Seraya senyum-senyum sendiri, kutatap wajahnya. 'Mungkin dia kelelahan,' gumam dalam hati. 'Hhmmm, kasihan sekali kamu, Bram. Lelaki mapan rupawan tanpa pasangan. Bertahun-tahun hidup dalam kesendirian. Kini hadir seorang perawan, malah kaukebingungan. Cuciaannn …. !!!'


Tiba-tiba, aku juga jadi mengantuk. Rasanya jika berbantalkan dada Om Bram, akan semakin lelap. Apalagi di ruangan ini tak ada kursi lain. Namun ... ah, tidak. Tak boleh semurah itu. Harus tetap mengedepankan harga diri sebagai sosok perempuan muda dan mandiri. Cinta tak harus memperdaya serta merawak rambang.


Ya, tak harus dan tak boleh. Seiring dengan perlahan tubuh ini condong, hendak tumbang ke dalam dekapan Om Bram. Kemudian ....


TOK!


Pintu terkuak tiba-tiba. Disertai munculnya seraut wajah bulat milik Bi Mamas. "Eh, maaf!" seru wanita setengah tua itu beringsut hendak ke luar lagi.


"Bi!" panggilku sembari bangkit mengejar. 


"Maaf, Non. Saya pikir Non Alya dan Pak Bram .... " Wajah Bi Mamas memerah dan kikuk, begitu menjawab di luar ruangan.


"Kenapa dengan kami, Bi?" tanyaku mulai kepo. Bi Mamas menunduk, lalu menggeleng. "Kenapa sih, Bi?"


"Non Alya dan Pak Bram lagi ... ngobrol, 'kan?" Bi Mamas ketar-ketir.


"Iya. Lalu?"


"Gak apa-apa, Non."


"Kalau ndak ada apa-apa, kenapa Bi Mamas tadi keluar lagi?"


Dia tak menjawab. Hanya menunduk dengan bibir bergerak-gerak. Kuperhatikan dengan saksama, lalu bertanya, "Bi Mamas baca mantra?"


Tiba-tiba wanita itu mendelik. "Bukan, Non. Saya lagi mengomeli diri sendiri."


"Kenapa harus ngomel? Pake suara dong. Jangan di-silent begitu, Bi." Aku tertawa.


"Ah, Non Alya ini bisa aja. Memangnya saya hape?" Bi Mamas ikut tersenyum. Entah karena lawakanku lucu, atau sekadar menghibur. Itu tak penting.


Setelah beberapa saat hening, kubuka kembali percakapan dengannya, "Bibi lapar ndak?"


Bi Mamas menyeringai. "Iya, Non. Dikit."


Kulirik bungkusan plastik yang tergantung di jemari wanita tersebut. "Terus, itu … yang di tangan Bibi, apa?"


"Ya, Tuhan!"


"Kenapa, Bi?"


"Maaf, Non. Saya lupa ngasihin ini sama Non Alya." Bi Mamas bergegas memberikan bungkusan itu padaku. "Saya tadi iniselotif beli makanan sendiri tanpa disuruh Bapak. Maafkan saya ya, Non."


Dahiku mengerut. "Iniselotif? Apa itu, Bi?"


Bi Mamas berpikir sejenak, lanjut berkata, "Itu lho, Non, kalo ngerjain sesuatu tanpa dikasih perintah. Apa istilahnya ya? Ini … ini … selop … apa gitu? Lupa saya, Non."


"Inisiatif," balasku membetulkan seraya memeriksa isi bungkusan. Martabak!


"Iya! Itu, Non!" seru Bi Mamas nyaring.

__ADS_1


"Ssstttt! Ini rumah sakit, Bi. Haduh!"


"Eh, iya. Maaf, Non. Keceplosan. Hihihi."


"Ya, sudah. Kita duduk saja di kursi itu. Yuk, Bi. Di dalam, Om Bram lagi tidur." Aku melangkah menuju kursi panjang di luar ruang perawatan.


"Apa gak sebaiknya Pak Bram diajak juga, Non. Saya tadi disuruh Bapak buat beli rokok, 'kan?" Bi Mamas ragu. Dia menoleh beberapa kali ke arah ruangan tempat Della dirawat.


"Ndak usah, Bi. Di dalam ada makanan, kok. Lagipula, Om Bram ndak merokok." Kuhempaskan bokong di atas kursi besi panjang. Diikuti Bi Mamas. "Makanlah, Bi. Mumpung masih hangat."


"Maaf ya, Non. Saya comot satu." 


"Ambil saja."


Beberapa waktu, kami berdua tenggelam dalam diam, menikmati makanan khas tersebut. Kemudian kuperhatikan raut Bi Mamas yang sedang asyik mengunyah. "Bi …. "


"Ya, Non." Wanita itu menoleh.


"Obrolan kita yang tadi, belum beres," kataku sambil mencungkil serpihan biji kacang martabak di sela gigi dengan ujung lidah.


"Masalah rokok itu?" Bi Mamas menghentikan kunyahannya. "Saya kasihin sama suami saya aja ya, Non."


"Suami Bibi merokok?"


"Iya, Non. Kadang saya juga," jawabnya malu-malu. Keningku berkerut, lalu kembali bertanya, "Bibi merokok juga?"


Mendadak wajah Bi Mamas tersipu. "Hehe. Rokok punya suami, Non. Eh …. " Dia menutup mulut dengan tangannya yang tengah memegang sisa martabak..


'Ngomong apa sih, si Bibi?'


"Maksudnya?" Aku sama sekali tak paham. Namun mengapa pipi Bi Mamas berubah seperti ebi goreng?


Wanita itu mengalihkan pandangan. Enggan beradu mata. "Sudahlah. Gak usah dibicarakan, Non. Saya lupa, kirain lagi ngerumpi ama tetangga. Eh, hehehe."


Aku mengangkat bahu. "Maksudku, mengenai pembicaraan tadi, Bi."


"Jangan, Non. Yang rokok itu, 'kan? Saya malu. Keceplosan." Bi Mamas masih membuang muka.


"Bukan, Bi." Kutepuk bahunya. Masih dengan isi kepala bingung. "Itu kita tadi, obrolan sebelum Om Bram datang."


Wanita itu menoleh. "Yang mana ya, Non? Saya lupa."


Gemas sekali. Ingin rasanya menjitak sedikit kening Bi Mamas yang agak bulat maju itu. "Tentang Andre itu lho, Bi."


"Andre?" 


"Oh, dia."


"Kenal?"


Bi Mamas mengangguk ragu. "Ada apa dengan Nak Andre? Non Alya naksir pemuda itu?"


"Dih!" Kukibaskan tanganku di depannya. "Ngaco, ah! Bukan itu maksudnya, Bi."


"Lalu?"


"Della sudah lama mengenal Andre?" tanyaku mengawali interogasi. Bi Mamas tampak berpikir sambil mengunyah pelan martabak kacangnya. "Bibi gak terlalu merhatiin sih, Non. Tapi … dulu, sebelum Non Alya tinggal dengan keluarga Pak Bram, Nak Andre beberapa kali pernah terlihat main ke rumah."


"O, ya? Bertemu siapa?" Aku penasaran.


Bi Mamas menatapku. "Kurang tahu, Non. Mungkin … bertemu Pak Bram. Mungkin juga Non Della."


"Yang bener, yang mana sih, Bi? Ketemu Om Bram atau Della?"


"Saya gak tahu, Non. Suwer deh." Bi Mamas mengacungkan dua jarinya.


"Masa Bibi ndak tahu sih? Kan, pernah lihat dia ngobrol sama siapa, begitu?" Aku mengernyit. Aneh.


Bi Mamas mencomot lagi martabak di dalam bungkusan. "Ya, Non Alya sendiri 'kan, tahu. Saya di sana gak selalu ontem di sana."


"Ontem?" Bahasa apalagi yang digunakan wanita itu. Otakku berusaha mencerna sebisa mungkin. Jawab Bi Mamas, "Itu … maksudnya, selalu bersiaga berada di rumah Pak Bram siang dan malam."


"Oh, on time!"


"Iya, itu. Ontem, Non," ujarnya kembali. "Lagipula, saya selama itu fokus ke pekerjaan rumah. Hanya sesekali bertemu muka dengan Nak Andre."


'Hhmmm, insting-ku mengatakan, Bi Mamas sedang tak jujur. Apa iya?'


"Tapi aku lihat, sepertinya Bibi sudah akrab banget sama dia? Itu artinya, ndak sekali dua kali dong, si Andre bertamu ke rumah dan bertemu Bibi?" Aku menyelidik.


Bi Mamas mendelik. "Kan, saya bilang juga beberapa kali, Non. Tapi gak inget detailnya."


"Beneran?"


"Suwer!" Kembali dua jari wanita tersebut mengacung.


"Cuma itu saja? Sempat ngobrol atau bagaimana, mungkin?"

__ADS_1


Bi Mamas berpikir sejenak. Kemudian menjawab, "Paling … waktu itu cuma muji-muji masakan saya, Non. Soalnya, Nak Andre sering ikut makan di rumah."


"Sama siapa?"


Dia agak ragu. Namun tak lama menyebut nama, "Della."


"Cuma Della?"


"Ya, kadang sama Pak Bram juga, kalo kebetulan Bapak lagi ada di rumah."


"Kapan?"


"Udah lama, Non. Sebelum—"


"Maksud aku itu … pagi, siang, sore, atau malam?" Aku makin bersemangat mengorek informasi dari sosok lugu ini.


"Eeuummhhh …. " Bi Mamas berpikir. Kali ini lama tak menjawab.


"Kapan, Bi?"


"Ya, sudah lama, Non."


Tiba-tiba aku merasa geram. Ingin rasanya menggigiti sosok Bi Mamas ini sampai tak berwujud. "Waktunya, Bi. Pagi, siang, sore, petang, malam, atau bahkan dini hari. Bi Mamas ndak sedang menyembunyikan sesuatu, 'kan?"


"Ya, enggaklah, Non. Saya bicara apa adanya kok," tandasnya dengan bibir membulat maju.


"Lalu?" Harus ekstra sabar menghadapi sikap orang yang satu ini. Entah karena dia tak tahu, atau sedang berpura-pura lupa. Satu hal yang harus kusadari dalam situasi seperti sekarang, jangan sama-sama 'lemot'. Bahaya!


"Saya … ketemunya … biasa sih, sorean gitu deh, Non," ujar Bi Mamas pelan. "Kalo malam, saya gak pernah ngelihat."


"Masa?"


"Iyalah. 'Kan, saya gak pernah nginep di rumah Pak Bram."


'Iya juga sih. Ndak ada yang salah.'


"Terus … menurut Bi Mamas …. " Ucapanku tak berlanjut, ketika terdengar suara knop pintu ruang perawatan Della diputar dari dalam. 


Seraut wajah muncul dari sana. Om Bram dengan wajah lesunya. "Della siuman, Lya."


Aku langsung bangkit memburu pintu. Diikuti Bi Mamas dari belakang. Tak peduli walau sempat bertabrakan dengan laki-laki itu.


"Hati-hati dong, Alya," sahut Om Bram pelan.


'Ah, masa bodoh. Aku memang sengaja menubruknya. Kesal, gara-gara tadi lagi fokus ngobrol malah ditinggal tidur. Tapi, jujur sih … mau dong, tabrakan lagi!'


Kulihat Della tersenyum lemah di atas pembaringan. "Lya …. " ucapnya lirih.


"Jangan banyak bicara dulu, Del. Ingat, kamu harus banyak istirahat." Aku mewanti-wanti.


"Non Della. Alhamdulillah. Akhirnya Non bangun juga," ujar Bi Mamas di sampingku. "Gimana keadaannya sekarang, Non?"


"Bi, jangan diajak bicara dulu." Kembali aku memperingatkan.


Della tersenyum. "Gak apa-apa, Cuy. Gue baik-baik aja kok. Hehe."


"Alhamdulillah … ya Tuhan. Non Della sembuh," seru Bi Mamas diiringi seringai bahagia. Namun ….


"Dih, Bi," kataku bergidik melihat senyum wanita itu tadi. Bi Mamas melongo. "Kenapa, Non Alya? Ada yang salah sama saya?"


Kulirik Della dan Om Bram sejenak, kemudian berbisik pelan dekat daun telinga Bi Mamas. "Gigi Bibi banyak nyelip kacang martabak. Sana, kumur-kumur dulu, Bi."


Spontan, wanita itu tersurut menjauh. "Masa sih, Non?"


"Sudah, sana. Ke toilet," kataku memberi perintah. Buru-buru Bi Mamas menuruti.


"Ada apa sih?" tanya Om Bram bingung. Aku hanya tersenyum kecut. "Ndak ada apa-apa, Om. Hanya sedikit perbaikan saja. Hehe," jawabku sekenanya. Lalu beralih memperhatikan kondisi Della. "Kamu mau makan, Del?"


Della menggeleng.


"Makan ya. Dikit aja. Sudah beberapa hari ini kamu ndak makan, Del," pintaku memaksa. " … atau mau aku kupasin buah?"


Della tetap menggeleng.


"Gue cuma pengen ngelihat elu, Cuy," ujar Della dengan suara tercekat.


"Aku ada di sini, Del. Setiap hari selalu berada di sini. Nemenin kamu," timpalku.


Mata Della sedikit berkaca-kaca. Disertai getar bibir, kembali berkata, "Gue takut elu pergi ninggalin gue, Cuy. Gue takut."


"Ya, Tuhan … Della …. " Aku segera memeluk tubuh gadis itu. Tak terasa linangan air mata deras mengalir membasahi pipi ini. "Aku ndak akan pergi, Del. Aku sayang sama kamu."


Aku dan Della berpelukan erat. Tangis kami segera pecah, untuk pertama kali sejak awal perkenalan dulu. Disaksikan oleh Bram. Perlahan laki-laki itu menghampiri. Mengelus lembut rambutku dan Della.


BERSAMBUNG


Sukabumi, 14 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2