BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 32


__ADS_3

BUCIN (32)


Penulis : Daoed Soelaeman


Selepas mengikuti mata kuliah terakhir, kuputuskan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terdekat, untuk membeli keperluan pribadi. Sebelum menjenguk Della di rumah sakit. Ada beberapa barang yang harus kucari di sana.


Sengaja, sejak pagi berusaha menghindar dari Andre yang kerap mengikuti ke mana pun aku melangkah.


"Kenapa, sih, kamu mengikuti aku terus, Ndre?" tanyaku kesal seraya menatap galak laki-laki berdarah campuran bule itu. Jawabnya, "Aku pengen ngomong sama kamu, Lya. Dari tadi kamu gak dengar?"


Kuhempas napas kesal, sambil memalingkan muka. "Sudah kubilang dari tadi juga, 'kan? Aku ndak mau bicara sama kamu, Ndre. Kamu ndak paham?"


"Lya, please. Dengerin aku." Andre semakin mendekatiku. "Ada sesuatu yang harus kujelaskan padamu. Please, Lya."


"Aku bilang tidak, ya … tidak, Ndre," balasku bersikeras. "Cukup, jangan ikuti terus."


"Tapi, Lya. Aku …. " Andre masih bersikukuh dan mengikuti langkahku.


"Aku mau masuk toilet. Kamu mau ikut juga?" 


Tatapanku makin galak. Andre tersurut dan tampak bingung hendak berbicara. "Aku … mmhhh, enggak, Lya. Masuk aja, deh. Aku tunggu di luar aja, ya?"


"Terserah, tapi aku tetap ndak ingin bicara sama kamu," timpalku menegaskan.


"Sampai kapan?" tanya Andre.


Kupikir-pikir terlebih dahulu beberapa saat. Kemudian jawabku, "Sampai aku sendiri yang memutuskan, kapan mau bicara sama kamu."


"Please, deh, Lya."


"Please, deh, Andre! Aku pengen pipis!" Kudorong tubuh lelaki itu agar menjauh. "Kamu mau lihat aku pipis di sini?"


"Eh, jangan! Sana di dalam, dong!" balas Andre.


"Makanya kamu jauhan sana. Ini toilet perempuan, tahu?"


"Iya, aku tahu."


"Pergilah. Atau mau kuteriakin?"


"Eh, jangan, Lya!" Andre mundur beberapa langkah. "Ya, sudah. Pipis, ya, pipis saja. Yang tenang di dalam sana, ya."


Aku melotot bulat. Tanya laki-laki bule itu kembali, "Apalagi? Kok, malah makin marah? Aku, 'kan, sudah menjauh."


"Kata-katamu yang terakhir tadi!"


"Yang mana? Masalah pipis? Ya, sudah. Kamu memang mau pipis, 'kan?"


"Ih!" 


Masih dengan rasa kesal, kutinggal Andre mematung di depan pintu toilet. Sementara aku sendiri, malah asyik mematut diri melalui cermin besar di tempat cuci tangan. 


'Cantik …. ' gumamku di dalam hati. 'Ndak berbeda jauh dengan gadis-gadis kota pada umumnya. Hanya sedikit berkulit kecoklatan. O, iya. Istilahnya, eksotis. Begitu menurut kaum lelaki yang kudengar. Tinggi badan ideal seperti rata-rata perempuan lainnya. Ndak gemuk, apalagi kurus. Rambut?' Kugerai mahkota kepala ini hingga jatuh ke depan. Menutupi sebagian area wajah hingga dada. 'Lurus dan juga hitam. Dadaku pun …. '


Kuputar tubuh ini sambil memajukan sedikit bagian rusuk. 'Hhmmm, standar juga, sih. Natural. Ndak seperti milik Pamela Anderson yang super jumbo, tapi sudah bercampur getah silikon. Hihihi.' Aku tertawa sendiri di balik telapak tangan. Nyaris tanpa suara. Khawatir ada orang di dalam ruang toilet dalam, dan mengira suara cekikik ini disangka penampakan di siang bolong.


'Tapi … ah, mengapa si Bram ndak kunjung menampakkan rasa tertariknya sama aku? Malah lebih lebih memilih janda beranak satu, si Cassandra itu. Hih, sebel! Padahal aku, 'kan, masih original.'


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar ruang toilet. Suara perempuan yang marah-marah. Tak jelas apa yang dikatakan, tapi dari nadanya seperti sedang memarahi seseorang. 


Tak berapa lama pintu toilet terbuka. Sesosok perempuan seusiaku masuk dengan wajah cemberut.


Buru-buru aku membenahi sikap agar tak terlihat aneh. Lalu bertanya pada perempuan tadi, "Ada apa, Mbak?"


Dia berdiri di sampingku. Sama-sama menatap cermin. Masih dengan roman yang sama. Jawabnya, "Itu … cowok yang berdiri di luar itu. Ngapain, coba, dia ada di situ? Ini, 'kan, toilet cewek. Bikin gue curiga aja."


Aku tersenyum kecut. "Oh, si Andre."


Perempuan itu menoleh. "Elu kenal dia?"


"Kenal. Namanya Andre. Temen sekelasku," jawabku sambil pura-pura mencuci tangan. "Dia masih ada di luar, ya, Mbak?"


Dia mendengkus. "Iyalah. Tadi sempet gue omelin. Dia nungguin elu?"


Aku melirik sejenak. "Ndak tahu, Mbak. Tadi juga sudah aku coba menyuruh dia pergi. Tapi … rupanya masih bertahan di sana."


"Pacar elu, ya?"


"Hah?" Kututup cerat air. "Pacar?" Aku tertawa sebentar.


"Kok, malah nyengir? Kenapa?" Perempuan itu menatapku heran.


"Dia bukan pacarku, Mbak. Cuma temen kuliahan saja," jawabku, kali ini pura-pura mengeringkan tangan dengan selembar tisu. "Pacarku itu … tinggi, besar, rambut ikal, dada serta lengannya berbulu. Lalu—"


"Hhmmm, mirip sekali ciri-cirinya," kata perempuan itu memotong imajinasiku.


"Siapa? Bram?" Aku terkejut.


Dia mengernyit. "Namanya Bram? Keren sekali. Baru kali ini—"

__ADS_1


"Mbak kenal Om Bram?" Aku makin penasaran.


Alis perempuan itu makin meninggi. "Om? Masih saudaraan juga sama elu?"


"Ya, ndak ada pertalian keluarga juga, Mbak," sahutku mulai kesal. "Mbak kenal dia?"


"Siapa?"


"Bram. Om Bram?"


"Enggak. Cuma tahu aja."


"Tahu di mana?"


"Ragunan!"


"Hah?" Aku terkejut. "Bram yang Mbak maksud itu siapa, sih?"


Tiba-tiba perempuan itu tertawa lebar. "Yang gue maksud … gorila."


"Hah!"


'Sialan! Dia menyamakan Om Bram-ku dengan gorila! Kalau saja dia mengenal laki-laki itu, pasti akan meleleh juga seperti halnya aku! Huh! Belum tahu saja dia!' gerutuku di dalam hati. Kesal juga dengan omongan perempuan itu tadi. Tapi …. 


"Sorry, gue cuma bercanda. Hahaha," ujarnya seraya menyodorkan telapak tangan. "Kenalin, gue Siska. Anak Fakultas Teknik. Elu siapa?"


Walau masih dengan hati kesal, kuterima uluran tangannya. "Aku Alya. Dari Fakultas Ekonomi."


Sosok yang bernama Siska itu manggut-manggut. "Ooh. Elu dari daerah Jawa, ya?"


"Kok, Mbak tahu?" Aku heran. Hebat sekali dia bisa langsung menebak asal tempat tinggalku. Apakah ini salah satu ciri-ciri indigo?


Siska tersenyum ditahan, diiringi gelengan kepala berulang-ulang. "Ya, tahulah."


"Tahu dari mana, Mbak?" 


Benar-benar si Siska ini lebih cocok jadi dukun ketimbang sarjana teknik. Amazing-nya! Belum lagi tadi, lawakan dia garing bawa-bawa hewan primata segala.


Siska menoleh. "Logat elu itu, tuh, yang bikin orang gampang nebak asal muasal elu, Alya. Hahaha. Gimana, sih?"


O, iya. Betul juga. Kalau begitu, aku yang keliru. Dia tidak usah jadi dukun. Sarjana teknik juga bagus. Sebab, bisa menebak silsilah seseorang. Termasuk aku, tentunya. Terbukti, teknik terkaan Siska tepat.


"Iya, juga, ya. Aku sendiri ndak pernah berpikir sampai situ. Hehe," timpalku baru menyadari sembari membuka kembali cerat air.


"Udah lama elu di sini?" tanya Siska, menatapku tajam.


"Hampir setahunan. Dulu, sih, ngekos. Tapi udah beberapa bulan tinggal sama Om—"


"Lho, memangnya mengapa?"


Mata Siska menatap tumpukan kertas tisu di depanku. "Gue lihat dari tadi elu buka-tutup keran mulu. Mau ngabisin tisu berapa lembar?"


Astaga!


Baru sadar juga. Entah sudah berapa kali aku mengulang-ulang mencuci tangan. Padahal, niat sebelumnya mau buang air kecil.


"Ya, ampun! Sampai lupa, Mbak. Maaf," ujarku langsung menutup aliran air. 


Kali ini tawa Siska pecah tak tertahankan. "Haha. Elu itu lucu juga, Alya. Hahaha," katanya seraya hendak berlalu. "Thanks, ya. Gue seneng kenal sama elu. Benar-benar menghibur. Hahaha."


Aku tersenyum malu. "Hehe. Ndak apa-apa, Mbak. Aku juga senang bisa berkenalan dengan Mbak Siska."


"Ya, udah. Gue cabut dulu, ya," kata Siska berpamitan. "Awas, jangan boros air. Hahaha."


Siska melangkah ke luar toilet. Namun, sebentar kemudian dia kembali. 


"Ada apalagi, Mbak?" tanyaku heran. "Keran airnya sudah aku tutup. Gak boros air, 'kan?"


Siska mengibaskan tangan. "Ih, bukan itu. Gue cuma mau ngasih tahu, cowok setengah bule itu masih setia nungguin elu."


"Andre?"


"Iyalah. Siapa lagi?"


"Biarin saja, deh, Mbak. Aku masih belum beres."


"O, gitu. Ya, udah." Siska menutup pintu toilet. Kemudian tak lama, terdengar suaranya di luar sana. "Heh! Cewek elu masih lama di dalem. Dia lagi sembelit. Elu diminta nyari obat sana. Cepetan."


"Serius?" Terdengar suara Andre bertanya.


"Iyalah. Cepetan sana!"


Kemudian hening. 


Pasti keduanya sudah pergi. Aman. Kini aku bisa keluar dengan leluasa. Lalu langsung kabur dengan taksi yang kebetulan sedang nongkrong di depan gerbang kampus.


"Ke mana, Mbak?" tanya sopir, begitu aku sudah berada di dalam kendaraan.


"Pusat perbelanjaan terdekat, Pak. Cepetan, ya," jawabku seraya memperhatikan area sekitar. Khawatir Andre keburu memergokiku.

__ADS_1


"Siap, Mbak."


Untunglah hingga taksi ini menjauh, sosok lelaki itu tak tampak. Kini aku bisa sedikit tenang. Pergi sendiri tanpa dibuntuti siapa pun.


Tak sampai memakan waktu lama, laju kendaraan pun berhenti tepat di depan pintu parkir sebuah bangunan besar dan megah.


"Di sini, Mbak?" tanya sopir.


"Iya, Pak. Di sini saja," jawabku langsung memberikan selembar uang padanya. "Ambil saja kembaliannya, Pak."


"Wah, terima kasih, Mbak."


Aku tersenyum seraya menarik panel pintu. Lalu keluar dan melangkah cepat ke dalam bangunan. Mata ini langsung berputar-putar mencari toko tertentu. Harus buru-buru usai dan menjenguk Della di rumah sakit.


'Nah, itu dia!' gumamku begitu menemukan tempat yang dicari. Tak usah berlama-lama di sana. Kalau sudah mendapatkan barangnya, segera pergi lagi.


"Mbak Alya …. " Satu suara lembut mengejutkanku dari arah samping. Kutengok. Tampak seorang wanita cantik berdiri mematung di sana. Dia adalah ….


"Tante … eh, Bu Cassandra?"


Benar, dia memang Cassandra. Sekretaris kantor Om Bram. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini diselimuti rasa cemburu begitu melihatnya.


"Apa kabar, Mbak?" sapa Cassandra dengan suara khasnya. Lembut dan ramah. "Mbak lagi belanja juga?"


Eh, aku tak ingin menjawab dulu pertanyaannya. Tatapku tajam tertuju pada dua sosok mungil di samping Cassandra, serta seorang laki-laki bertubuh tegap mengapit erat.


"I-iya, Bu," jawabku perlahan.


"Sendiri?" Cassandra kembali bertanya.


"I-iya, Bu." Mata ini enggan berkedip memperhatikan ketiga sosok yang bersama Cassandra tersebut.


Seorang anak laki-laki berkulit agak gelap, tampak bergelayut manja sambil memegangi lengan Cassandra. Sementara, satu lagi anak perempuan manis, sebaya dengan anak di samping wanita cantik itu. Namun memiliki wajah yang mirip dengan laki-laki di sebelahnya.


"O, iya. Kenalkan, ini anak saya. Namanya Gabriel. Yang perempuan itu, Alisha. Lalu, ini … suami saya. Abraham." Cassandra memperkenalkan satu per satu sosok-sosok yang kuperhatikan tadi.


"Bram?" Kusebut nama itu. Sesuai dengan sebutan Cassandra akan calon suaminya waktu bertemu di kantor beberapa waktu lalu. "Eh, maaf. Maksudku … Pak Bram?"


Cassandra tersenyum. "Betul, Mbak. Ini sosok Pak Bram yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Masih ingat, 'kan?"


"Hallo, Alya. How do you do?" sapa laki-laki bernama Abraham tersebut seraya mengulurkan tangannya.


"Bram itu orang Rusia. Belum begitu paham bahasa Indonesia. Kami baru saja menikah beberapa minggu yang lalu," tutur Cassandra. 


"Apa?" Aku terkejut mendengar cerita Cassandra barusan. "Eh, sorry. I'm fine, Mr. Bram. Thanks."


"Nice to see you, Alya," imbuh Abraham.


"Yes, so do I, Sir."


Kepalaku tiba-tiba pusing menyaksikan semua ini. Terlebih pada pasangan itu. Mengapa semua terjadi di luar dugaan sebelumnya.


"Ini anak Bu Cassandra itu, 'kan?" Aku berjongkok memandangi anak laki-laki yang dimaksud.


"Iya, betul. Gabriel memang anak saya, Mbak. Ayahnya berasal dari Nigeria," jawab Cassandra. "Hi, Gabriel. Say hello to Aunty Alya. Don't worry, she's a good person."


"Hi, Aunty!" Gabriel menuruti perintah Cassandra.


Aku tersenyum. Anak laki-laki itu begitu manis. Dengan rambut keriting dan kulit legam sebagaimana umumnya orang Nigeria sana.


"Hi, Gabriel. I'm so glad to meet you. And you too. Are you Alisha, right?" Kusapa juga gadis kecil di samping Abraham. "You're so beautiful."


"Thank you," balas Alisha diiringi tawanya yang menggemaskan.


Lalu aku berdiri menatap wajah Cassandra. "Jadi, yang Bu Cassandra maksud Pak Bram itu … Abraham?"


"Tentu. Siapa lagi, Mbak?" jawab wanita cantik itu sembari melempar senyum pada suaminya. 


"Aku pikir … Bram … Bram …. "


"Pak Bram atasan saya?" Cassandra tertawa perlahan. "Surely not. Saya tak pernah berpikir tentang beliau, Mbak."


"Iyakah?" Kepala ini semakin 'cenat-cenut' dibuatnya. "Sedikit pun?"


Cassandra kembali tertawa. "He's only my work team. Nothin' at all. Even though … saya sudah resign dari kantor beberapa hari yang lalu. Karena, saya akan ikut menetap di Rusia bersama keluarga baru. Mengikuti Abraham, tentunya."


"O, ya?"


"Ya, begitulah."


Entahlah, niatku untuk berbelanja akhirnya jadi tak semangat. Seharusnya setelah mengetahui kebohongan Om Bram tentang pernikahannya dengan Cassandra, itu akan membuat peluangku lebih terbuka guna mendekati sosok laki-laki itu. Nyatanya, sekarang tidak. Sandiwara mereka terkuak jelas. Della juga turut berperan besar menciptakan skenario murahan ini. Bi Mamas? Entah dengan wanita tua mirip tokoh Ceu Edoh tersebut. Namun dari gelagatnya selama ini, jelas sekali dia juga banyak menyimpan rahasia besar tentang keluarga Om Bram.


Teringat kembali kata-kata Andre dulu, bahwa Om Bram hanya ingin memanfaatkan kehadiranku demi Della. Benarkah itu? Kini, tugasku makin bertambah. Berusaha memecahkan sendiri semua teka-teki yang ada.


Lalu tentang Andre. Apakah hal ini yang akan dia utarakan hari ini? Begitu ngototnya lelaki itu mengajakku untuk berbicara. Bodohnya, aku lebih fokus mengejar cinta buta ini pada laki-laki yang selalu berpura-pura mencintaiku dengan seuntai harapan palsu.


Hhmmm, genderang perang telah ditabuh. Kini saatnya aku muncul di tengah mereka dengan sosok baru. Tunggu saja!


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sukabumi, 19 Agustus 2020


__ADS_2