BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 30


__ADS_3

Hari ini sengaja kudatang lebih awal menjenguk Della, sebelum Om Bram Datang. Biasanya dia akan muncul menjelang petang, usai menuntaskan pekerjaan di kantor. Begitu masuk ke dalam ruang perawatan, tampak Bi Mamas baru saja selesai menjalankan kewajiban beragamanya. Hampir saja aku berteriak. Begitu membuka pintu, wajah wanita paruh baya itu yang menyambut.


"S-seettt ... dah!"


"Ada apa, Non?" tanya Bi Mamas masih mengenakan pakaian sembahyangnya. Aku menggeleng seraya buru-buru menghindar. "E-endak a-ada a-pa-apa, Bi," gumamku mengelus dada. Lekas mengambil tempat di sisi ranjang Della. "Ya, Tuhan .... "


"Non Alya sakit?" Bi Mamas ikut berdiri di samping.


"Ya, ampun! Kalau sembahyangnya sudah selesai, kainnya dibuka kenapa, Bi!" kataku begitu menoleh.


"Memangnya kenapa, Non?" Bi Mamas melongo. Kuberdecak. "Ya, ndak kenapa-kenapa. Buka saja apa susahnya, sih?" Enggan memperhatikan wajah Bi Mamas.


"Baiklah, Non," jawab wanita itu menurut. Tak berapa lama kembali bertanya, "Non Alya sakit?"


"Endak! Kenapa, sih, tanya-tanya itu lagi?"


"Muka Non Alya pucat." Tunjuk Bi Mamas ke arah wajahku.


'Lah, iyalah, Bi. Bagaimana ndak pucat? Orang, aku kaget setengah mati lihat Bi Mamas tadi!' rutukku dalam hati.


Aku tak ingin menjawab. Lebih ingin memperhatikan Della yang terpejam dengan selang oksigen di lobang hidung. "Bi Mamas sudah makan?"


"Belum, Non."


"Lho, kenapa? Pegang duit, 'kan?"


"Ada. Yang kemarin saja masih nyisa banyak," jawab Bi Mamas santai.


"Terus, kenapa belum makan?"


"Belum lapar, Non. Sebelum salat tadi, sempat ngemil risol dan lemper," jawab kembali Bi Mamas dengan polos. Aku mendelik. "Pak Bram belum datang, Non?"


Sekali lagi, aku tak ingin menjawab. Apalagi tentang laki-laki itu. Kata-kata Andre kemarin, masih terngiang dalam ingatan. Tentang si Bram brengsek itu! Ternyata selama ini dia cuma memperalat. Mengambil kesempatan di saat kukesemutan dalam cinta. Sementara, enggan membahas perihal itu. Della yang harus menjadi fokus utama.


"Non."


"Apa, sih, Bi?"


"Tumben Pak Bram belum datang."


Kutarik napas dalam-dalam. "Memang biasanya suka datang jam berapa?"


"Jelang petang, Non."


"Sekarang waktu apa?"


"Sore."


"Jadi?"


"Kemungkinan Pak Bram datang nanti petang."


"Nah, itu Bibi tahu."


"Tapi kenapa sekarang belum datang, ya, Non?"


PLAK!


Kutepuk jidat, kesal, hingga keras. "Aduh!"


Hening sesaat. Kami terdiam. Tak tahu topik apa yang akan dibicarakan. Sampai kemudian, "Bi .... "


"Ya, Non. Ada apa?"


Kulirik wanita itu. Wajah bulat dengan tampilan alami tanpa riasan make up. Mirip tokoh Ceu Èdoh di sinetron Preman Pensiun. "Bibi sudah lama, 'kan, mengenal keluarga Om Bram?"


Bi Mamas berpikir hingga lima menit. Lalu menjawab, "Iya."


"Sejak kapan?" tanyaku kembali. Dia Berpikir lagi. Tiga menit kemudian, "Setengah dari usia Non Della."


"Ooohh .... " Bibirku membulat mirip 'empot' ayam. "Memang sebelumnya ndak kerja di keluarga Om Bram?"


"Enggak, Non. Kan, mulainya dari setengahnya usia Non Della," jawab Bi Mamas usai mengingat ucapannya tadi selama kurang lebih dua menit.


"Iya, aku tahu," sungutku agak kesal menunggu lama. "Maksudku, sebelumnya apakah ada ... maaf ... pembantu di keluarga Om Bram?"


"Seingat saya, sejak almarhumah Bu Widya masih bersama Pak Bram, sudah ada pembantu, Non." Kali ini responsnya tak banyak makan waktu. Mungkin otak wanita ini sudah mulai lancar. Syukurlah.


"Terus, semenjak Bu Widya meninggal, bagaimana?"


"Saya waktu itu belum kerja di sana, Non. Soalnya mulai diminta bantu-bantu keluarga Om Bram, sejak setengah usia Non Della."


PLAK!


"Kenapa, Non? Ada nyamuk?" tanya Bi Mamas begitu melihatku menepuk jidat untuk kali kedua. Aku menyeringai. Antara rasa sakit di dahi dan kesal pada wanita itu. Bicaranya mutar-mutar terus, seperti mesin adukan semen.


"Maksudku, sebagai tetangga terdekat, setidaknya Bibi tahu. Sebelum Bibi diminta bantu-bantu, seperti yang Bibi bilang tadi, mungkin Bibi pernah tahu atau melihat ada pembantu lain. Begitu, Bi. Paham?" Kurasa mulut ini sudah mulai berbusa.


"Memangnya kenapa? Non Alya pengen tahu?" Dia melongok memperhatikanku.


"Jawab saja. Ndak usah nanya balik, Bi!" Tenggorokan ini rasanya sudah kering.


"Harus, ya, Non?" Bi Mamas berpikir.


"Ya, yang namanya ditanya, pasti harus dijawab, dong, Bi!" Aku semakin gusar. "Bibi lapar?" tanyaku akhirnya. Mungkin setelah diisi perut, konektivitas obrolan bisa jadi lebih lancar.


"Sudah makan tadi, Non. Risol sama lemper. Non Alya lapar? Dari tadi nanyain makanan terus? Biar saya beliin di depan."


'Ya, Tuhan! Kuatkanlah kesabaran hamba-Mu ini, Tuhan!' jeritku dalam hati. 'Aku masih ingin hidup lebih lama. Apalagi cita-cita cinta dan kuliahku belum usai.'


"Aku lapar informasi, Bi. Bukan ingin makan," kataku lirih. Rasanya ingin menangis kejer.

__ADS_1


"Impormasi?"


"Informasi. Pake 'N' dan 'F', Bi."


"Baik. Impormasi, ya?"


"Terserah Bibi sajalah. Aku mendengarkan."


Bi Mamas menarik napas panjang. "Dulu .... " katanya mengawali cerita. Aku mulai semangat menyerap ucapannya. "Setahu saya, memang ada beberapa pembantu yang sempat bekerja di sana. Salah satunya ... saya, Non."


"Iya, aku sudah pasti tahu itu. Teruskan saja ceritanya, Bi," kataku membuka kuping lebar-lebar. "Bila perlu, ndak usah pakai titik, koma, dan bernapas."


Bi Mamas mendelik.


"Setahu saya, pernah ada beberapa pembantu yang sempat bekerja di sana. Salah satunya itu ... ya, saya inilah, Non."


"Hhmmm!"


"Tapi gak pernah lama. Ganti-ganti terus," tutur Bi Mamas. Itu pasti ulah Della, pikirku. "Malah ada salah seorang yang pernah pinjem duit sama saya, sampai sekarang belum dibayar. Orangnya kabur, Non."


"Pinjam berapa?" Kasihan juga Bi Mamas.


"Ceban, Non."


"Ceban itu berapa, sih, Bi?"


"Sepuluh ribu, Non."


"Oohh .... "


"Namanya Herliana. Janda berusia tiga puluh tahun. Belum punya anak. Dulu tinggalnya di—"


"Ceritakan yang bagian keluarga Om Bram saja, Bi," kataku memotong. "Uang sepuluh ribu itu, nanti aku yang bayar."


"Oh, terima kasih, Non." Bi Mamas tersenyum semringah. Kemudian lanjut bercerita, "Saya gak tahu, kenapa Pak Bram gonti-ganti pembantu. Menurut saya, sih .... " Aku bersiap-siap merekam ucapan Bi Mamas dalam kepala. " ... saya sendiri gak tahu alasannya."


PLAK!


"Ada nyamuk lagi, Non?"


Aku menggeleng sambil memejamkan mata. Gemeretak gigi dan tangan terkepal.


Lanjut Bi Mamas, "Barulah setelah itu, saya dipinta kerja di sana. Sampai sekarang. Itu pun gak sampai menginap seperti pembantu-pembantu lain."


"Kenapa, Bi?" tanyaku pura-pura tak tahu. Pasti karena takut Bi Mamas tergoda Om Bram, 'kan?


"Saya punya suami dan anak, Non. Saat Pak Bram meminta dulu, saya kasih syarat. Gak bisa sepenuhnya berada di rumah Pak Bram," jawab Bi Mamas.


Oh, kali ini tebakanku keliru total.


Ada satu hal yang masih mengganjal. Mengenai sosok Andre. Sepertinya Bi Mamas mengenal sekali anak muda bule itu.


"Kalau tentang Andre, bagaimana? Bibi sudah lama kenal dia?" tanyaku akhirnya.


"Saya ... s-saya .... " Bi Mamas terbata-bata.


Di saat itulah, tiba-tiba Om Bram muncul. "Hai, Alya. Bi Mamas," sapa laki-laki dengan tangan penuh menjinjing bungkusan.


Om Bram? Huh!


Aku merengut sebal.


"Alya sudah makan?" tanyanya seraya memberikan bungkusan tadi pada Bi Mamas. Aku tak menjawab apalagi menoleh. Mendadak tak nyaman ruangan ini. Padahal AC dalam kondisi hidup.


"Bi Mamas kalau mau makan, itu saya bawakan buat makan malam," kata Om Bram seraya menepi ke pinggiran ranjang, memperhatikan Della. "Della masih tidur, Lya?"


Huh! Pertanyaan yang tak perlu dijawab! Lihat sendiri, kan, bisa? Della sedang tidur.


Aku makin cemberut. Kata-kata Andre tentang Om Bram itu, kembali terngiang. Laki-laki pembohong!


Dia melirik-lirik padaku. Kemudian bertanya pada Bi Mamas melalui kode matanya. Entah, apa jawaban kembaran Ceu Èdoh itu. Wanita itu tengah berada di belakang punggung.


"Bi Mamas bisa minta tolong?" Tiba-tiba Om Bram berkata.


"Ya, Pak. Ada yang bisa saya kerjakan?"


Om Bram merogoh kantong, lalu memberikan selembar uang pada Bi Mamas. "Tolong beliin rokok, ya. Saya tadi lupa beli di bawah."


Rokok? Sejak kapan dia merokok? Lagipula ini rumah sakit. Mana boleh merokok.


"I-iya, P-pak," jawab Bi Mamas gagap. Entah kenapa? Mungkin diberi kode tertentu. Bisa jadi.


"Aku ikut ke bawah, Bi," kataku bergegas mengikuti langkah Bi Mamas.


"Jangan, Non," cegah wanita itu. Bingung. Sesaat dia menatap majikannya. "Biar saya saja sendiri."


"Aku juga ada perlu, Bi."


"Jangan, Non. Nanti kalo Non Della kenapa-kenapa, gimana?"


Aku merengut tanpa mau menoleh ke belakang. "Ada yang nungguin ini. Yuk, ah. Aku butuh udara segar, nih."


"Alya," panggil Om Bram.


"Tuh, dipanggil Bapak, Non," kata Bi Mamas.


Aku berdecak. "Biarin, deh. Yuk, ah. Kita ke bawah."


"Alya Sayang .... " panggil kembali Om Bram.


Bi Mamas melongo. Mulutnya sampai menganga lebar. "Sayang?" gumam wanita tersebut. Menatapku dan Om Bram.

__ADS_1


Laki-laki itu mendekat. Sebentar kemudian, dia meraih lenganku. "Kamu di sini saja, Sayang. Temani Della."


"Aaahhh ... !!!" Kutepis tangan itu, disertai cemberut yang makin menjadi-jadi.


"Sssttt! Sssttt!" Om Bram memberi kode agar Bi Mamas segera keluar ruangan. Wanita itu menurut.


"Saya pergi dulu, ya, Pak."


"Bi Mamas, tunggu!"


"Alya!"


Langkahku tertahan cekalan Om Bram. "Aaahh!" Kembali kutepis dia.


"Kamu ini kenapa, sih, Sayang?" tanya lelaki itu memutar langkah ke depanku.


"Huh!" Aku melengos.


"Duduklah, Sayang."


Aku masih tetap berdiri, sambil melihat-lihat Della. Khawatir kalau tiba-tiba dia terbangun.


"Duduk dulu, yuk. Ayolah .... " Dia mendekapku dari samping.


Kali ini tak kuasa kutolak. Sentuhan lengan kekar itu langsung berefek pada aliran darah dan detak jantung. Sepersekian tenaga dalam tubuh ini mendadak hilang.


Perlahan kumengalah, menuruti Om Bram duduk berdampingan di kursi.


"Nah, sekarang kita sudah duduk nyaman. Bicaralah! Ada apa?" Lembut suaranya menyuntik kalbu. Bagai sebuah hipnotis yang meluluhlantakkan kontrol penuh atas kesadaranku.


Aku duduk menyamping. Tak ingin berhadapan dengannya. Apalagi beradu mata. Namun tiba-tiba, rambut ini terasa seperti dipermainkan. Dibelai lembut dari belakang.


"Aku tahu, kamu masih marah, 'kan?" Suara Om Bram kembali menggema. "Tapi jangan seperti anak kecil, dong, Sayang. Bicaralah .... "


Anak kecil? Dia yang berkelakuan bocah! Disaat-saat seperti sekarang ini, masih saja berpura-pura. Namun jujurnya, dekapan dan belaian tadi ... aku suka. Seakan-akan tengah merasakan buaian sake yang melumpuhkan ingatan. Lagi, dong, Om!


"Alya .... "


"Huh!" Kupertahankan cemberutku.


"Bicaralah, Sayang. Jangan kamu siksa aku dengan diammu."


'Kaupikir selama ini aku ndak tersiksa, Bram? Aku menderita, tahu!' jeritku. Ingin kejer rasanya. Tapi lagi-lagi dia membelaiku dari belakang. Duh, jadi tak fokus mau bertahan mengambek.


"Tahu gak kamu, Sayang? Sebenarnya ... aku ingin sekali berada dalam momen seperti ini bersamamu? Kaupikir aku gak berharap? Apalagi dengan gadis secantikmu," ujar Bram mengusap-usap bahuku sedemikian lembut. Hingga tak sadar, aku pun terpejam. "Karena aku juga ... mencintaimu, Alya!"


"Bohong!" jeritku tiba-tiba sambil membalikkan badan. "Kamu laki-laki pembohong terbesar yang pernah kutemui, Bram!"


Om Bram terkejut. Dia menatapku tajam. Tanyanya, "Alya, apa maksudmu?"


"Masih mau meneruskan dramamu, Bram? Aktingmu payah!" kataku sambil mengacungkan jempol terbalik.


"Maksudmu apa, Sayang? Drama apa?"


"Kaupikir aku ndak tahu kelakuanmu selama ini? Jujur saja, Bram! Kalau kamu ndak pernah mencintaiku, jangan beri aku harapan! Sudahi saja permainanmu itu. Aku benci sama kamu, Bram!" seruku sudah tak kuasa menahan emosi. Kupukul dadanya berulang, tapi lelaki itu diam. Membiarkanku meluapkan amarah hingga puas. "Aku benci kamu, Braaammm .... "


Tangisku seketika meledak. Menjatuhkan pelukku pada dekapnya yang hangat. "Aku benci kamu, Bram. Aku benci .... "


Bram mengusap-usap punggungku.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang, Sayang," katanya seraya merekatkan peluknya. "Atau kalau mau ... pukul lagi aku. Tampar! Cakar! Gigit!"


"Endak, Bram! Aku ndak mau. Aku hanya benci sama kamuuu ... Huuu huuu."


"Ya, sudah. Tenangkan dulu dirimu, ya."


Benar. Aku memang butuh ketenangan. Di dalam pelukannyalah, aku merasakan kedamaian.


Setelah tangisku reda, Om Bram pun bertanya, "Ada apa sebenarnya? Katakan."


Sesekali terisak, kupaksa untuk menjawab, "Kamulah yang seharus bicara jujur, Bram. Kamu ndak pernah mencintaiku, 'kan?"


"Siapa bilang? Aku sangat mencintaimu, Sayang. Sungguh. Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" Bram mengangkat wajahku. Memandang dengan penuh kasih.


Aku menggeleng. "Endak, Bram. Kamu memang sedang berpura-pura mencintaiku, demi sebuah alasan, 'kan?"


"Alasan apa, Sayang? Siapa bilang aku berpura-pura?"


Kupalingkan wajah, memandang sosok Della di atas ranjang pasien. "Anakmu, Bram. Della. Itu, 'kan, alasanmu berharap kuselalu ada dalam keluargamu?"


"Ya, Tuhan ... Della. Entah pikiran apa yang sedang merasukimu. Aku mencintaimu tanpa sebuah alasan, Sayang. Cinta itu bukan sebuah kompromi. Tawar-menawar layaknya berniaga. Rasa ini asli terlahir begitu saja, saat mulai mengenalmu, Sayang .... " Bram berusaha meyakinkanku.


Aku tersenyum kecut. Menatap mata kecoklatan itu dan ingin memastikan, masih tersisakah kejujuran itu di sana?


"Terlalu naif kamu bicara tentang cinta padaku, Bram. Sementara di luar sana, ada sesosok perempuan yang sudah siap menjadi pendampingmu. Masih mau bermanis-manis kata di depanku? Hhmmm, aku bukan perempuan bodoh, Bram," kataku merasa di atas angin sekarang.


"Cassandra maksudmu?"


"Siapa lagi?"


"Pernikahan kami dibatalkan."


"Apa?!"


BRUK!


Ada suara sesuatu mengenai daun pintu ruangan.


"Bi Mamas?" panggil Om Bram.


Tak ada sahutan. Kecuali layar pendeteksi jantung Della yang terus menjerit.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Sukabumi, 19 Juni 2020


__ADS_2