BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 26


__ADS_3

Tak makan banyak waktu, perjalanan menuju kantor Om Bram. Kurang dari satu jam, jejak kaki ini telah sampai di pelataran parkir.


"Selamat sore, Mbak," sapa petugas keamanan begitu melewati pos. Kubalas dengan ramah disertai senyum, "Selamat sore. Pak Bram-nya ada?"


Petugas keamanan itu menatapku sejenak. Tertera nama Budi di badge seragamnya. Orang ini pasti Budi yang lain. Bukan saudaranya Wati dan Andi. "Mbak ini siapa dan dari mana, ya?" tanyanya.


Hhmmm, dia belum tahu siapa aku. Sebentar lagi juga akan menyandang sebutan 'Nyonya' yang ditambahkan nama Bramanditya. Nyonya Bram. Namun aku baru sadar, baru sekali datang ke kantor Om Bram. Tentunya wajah ini masih belum familiar.


"Saya keluarganya Pak Bram," jawabku sambil melihat-lihat suasana depan kantor. Siapa tahu, laki-laki brewok itu melintas di sana.


"Keluarga dari mana, ya, Mbak? Keponakan, anak, adik, atau .... " Dia tak meneruskan ucapannya, karena dari belakang terdengar suara panggilan. "Bud!" seru seorang petugas keamanan lain. Laki-laki, masih muda, dengan kumis yang tumbuh jarang-jarang. Dia segera menghampiri kami.


"Mbak Lya, ya?" tanyanya sambil membungkukkan badan. Namanya Arya. Jelas tertera di dada seragam yang dikenakan.


"Iya, saya Alya," jawabku heran. "Ini Mas Abu, 'kan?"


"Lho, kok ... Abu? Nama saya Arya," ralatnya sambil menunjuk tulisan di dada.


"Maaf, saya pikir Mas ini ... Arya Permadani. Jadi, spontan saya panggil 'Mas Abu'. Hehe. Maaf, ya," ujarku malu.


"Gak apa-apa, Mbak. Ngomong-ngomong, Mbak mau ketemu Pak Bram?"


"Iya. Eh, tidak. Tapi ... ah, antara iya dan tidak, sih." Aku bingung. Maksud datang ke sini memang bukan hendak menemui Om Bram, tapi si Cassandra.


Arya dan Budi serempak mengerutkan kening.


"Bu Cassandra-nya ada juga, 'kan?" Sekalian kutanya perempuan kompetitor percintaan itu.


"Tadi pagi, sih, ada. Masuk sebentar, terus keluar lagi. Gak tahu ke mana. Mungkin ke tempat EO (Event Organizer). Biasanya, sih, begitu. Akhir-akhir ini sibuk. Maklum ... bentar lagi jadi pengantin baru," tutur Arya diiringi kekehannya.


"EO? Maksudnya WO mungkin? Wedding Organizer."


"Ya, semacam itulah. Kami tahunya begitu."


"Yang bener? Sama siapa?" tanyaku kepo.


"Benerlah, Mbak. Tadi keluarnya sama .... " Arya menoleh pada Budi. " ... sama siapa, ya, Bud?"


Budi menjawab sambil berpikir, "Tadi, sih, saya lihat ... pake mobil Pak Bram. Ya, mungkin saja sama Pak Bram sendiri."


DUG!


Jantungku seperti terpukul. Jadi benar, mereka memang akan menikah.


"Maaf, Mbak. Kami gak lihat jelas. Soalnya tadi lagi sarapan di pojokan sana," kata Arya kemudian.


Aku pikir Della dan Om Bram cuma main-main belaka. Sudah semakin jelas, aku akan tersingkir dari kancah persaingan ini. Kalah tanpa perlawanan sama sekali.


Tiba-tiba saja tubuhku terasa melemah. Ingin sekali bersenandung lagu dari Olga Syahputra yang liriknya berbunyi ... 🎵 Hancur hancur hatiku 🎵 Hancur hancur hatiku .... 🎵 Rasanya aku akan kehilangan kesadaran. Perlahan pandangan ini meredup, lalu ....


"Eh, tapi .... " Budi melihat-lihat ke satu arah area parkir kantor. "Itu mobil Pak Bram!"


"Mana?" tanya Arya sambil melongok ke arah yang dilihat Budi. Aku ikut melakukan hal sama. Batal pingsan rasanya, gara-gara kaget.


"Itu!" tunjuk Budi.


"Iya, juga. Berarti mereka sudah balik lagi, dong?"


"Elu gimana, sih? Tugas jaga, kok, gak tahu?" semprot Budi sembari menepuk bahu Arya.


"Ya ... 'kan, gue salat tadi. Bareng elu juga," tangkis Arya.


"Eh, iya juga, ya. Berarti yang tahu si Ghofar, dong?" Budi menggaruk kepalanya yang licin.


SREK! SREK! SREK!


"Ya, sudah. Kalau begitu, saya izin masuk ke dalam. Boleh?" Aku berpamitan. Arya buru-buru menjawab, "Iya, silakan, Mbak. Silakan." Dia dan Budi tampak berdiskusi sambil sesekali memperhatikanku yang kian jauh.


Seperti biasa, melewati sebuah koridor serta beberapa ruangan lain. Kemudian tiba di tempat tujuan. Tepat sebelum memasuki akses ke ruangan kantor Om Bram. Aku tak langsung masuk. Mengintip sebentar satu meja khusus dan terpencil, untuk memastikan target berada tepat di sasaran.


Sialan! Meja itu kosong. Ke mana dia? Mungkinkah kelayapan? Ke toilet, misalkan. Bisa jadi juga, dia sedang ... ah, tidak! Aku tak ingin memhadirkan imajinasi kotor itu. Itu terlalu busuk dan amis. Tidak! Jangan! I'm still virgin and never known 'bout that! Only a shit thing, isn't it?


Awas, ya! Kalau bertemu akan kulabrak dia. Ku-smack down hingga wajah cantiknya tak berbentuk. Biar Om Bram tak lagi mengenalimu. Huh, tunggu saja!


Aku mengepalkan tinju, bersiap menghajar perempuan itu kalau muncul. Gigi gemeretak menahan amarah. Lengkap dengan dengkus napas layaknya banteng ketaton. "Wussshhh ... !!! Wussshh ... !!!"


"Mbak," panggil satu suara di belakangku.


Astaga! Siapa, ya? Lembut sekali suaranya. Mirip petugas jaga telepon yang suka terima keluhan pelanggan, gara-gara pulsa sering raib.


Segera kubalikkan badan. Ah, dia itu ....


"Bu Cassandra? Hai ... apa kabar? Muah! Muah!" Aku menyapanya. Mencium pipi kiri-kanan. "Kok, makin cantik?"

__ADS_1


"Mbak Alya, 'kan?" Cassandra berusaha mengingat. Aku mengangguk. "Yang waktu itu pernah ke sini sama Mbak Della, 'kan?" Kembali mengangguk. "Keluarga Pak Bram. Iya, 'kan?" Ketiga kalinya aku angguk mengangguk. Sampai pegal leher ini.


TREK! TREK!


Kuputar kepala ke kiri dan kanan, hingga terdengar bunyi berderak.


"Apa kabar, Mbak?" sambung sapa Cassandra seraya menggenggan jemariku. "Eh, baik. Eh, hehehe," jawabku bingung.


"Kenapa di sini? Yuk, kita ke ruangan," ajak Cassandra ramah. "Atau mau di ruangan Pak Bram. Kebetulan Bapak sedang ada meeting. Jadi, ruangannya kosong."


"Eh, boleh juga," sahutku mengikuti tarikan tangannya. Masuk ke dalam ruang kerja Om Bram.


"Tak apa-apa, 'kan, kita di sini?" tanya Cassandra begitu menghempaskan bokong di kursi empuk. "Lagipula, Mbak Alya ini masih keluarga Pak Bram. Hehehe."


"Eh, iya. Ndak apa-apa, toh. Hehehe," balasku gugup.


Aku melihat-lihat seisi ruangan kerja Om Bram. Memastikan ada penambahan foto menghiasi. Nyatanya tidak. Masih seperti sebelumnya. Foto mantan istri Om Bram, Della, dan aku sendiri. Syukurlah, belum terpajang foto perempuan menyebalkan, yang ada di hadapanku saat ini.


"Eh, mau minum apa, Mbak? Aku pesenin sekarang," kata Cassandra kemudian. Dia beranjak menuju meja Om Bram. Mengangkat telepon, lalu berbicara dengan petugas pantri.


Sepertinya Cassandra sudah terbiasa di dalam ruangan ini. Itu kulihat dari cara dan sikapnya. Eh, dia itu sekretarisnya Om Bram, 'kan? Wajar saja seperti itu. Duh, otakku mulai buntu. Pasti akibat dilanda rasa cemburu berlebihan.


"Mbak Alya, mau minum apa?" tanya Cassandra dengan gagang telepon masih menempel di telinga.


"Bu Cassandra nanya aku?" Aku bingung. Tadi masih fokus memikirkan hal-hal tak penting, sih. Perempuan itu mengangguk. "Kopi saja, Bu. Tapi ndak pake sitrun, ya?"


Cassandra mengernyitkan dahi. Ada garis tawa yang hampir pecah di pipi itu, tapi berusaha dia tahan.


Hhmmm, dia tertawa. Berarti benar, kasus sitrun dan vetsin itu memang nyata. Bukan bualan laki-laki menyebalkan itu!


"Kopi dengan gula rendah kalori, ya. Sehat dan tak menyebabkan penumpukan lemak di dalam tubuh. Apalagi bagi kita, sebagai kaum wanita," tutur Cassandra usai meletakkan kembali telepon. Terdengar cerdas untuk ukuran seorang perempuan yang buta perihal bumbu dapur.


"Sebenarnya, aku ndak terlalu sering minum kopi. Cuma hari ini ingin minum yang manis," balasku. Lidah ini memang mendadak terasa kering dan pahit. Mungkin ketagihan, gara-gara tadi pagi minum kopi bekas Om Bram.


"Ya, sekali-sekali tak apa, kok, Mbak. Asal jangan terlalu sering mengonsumsi kafein dan zat gula." Cassandra melempar senyum. Kemudian duduk kembali berhadapan denganku.


Kutatap perempuan itu. Cantik, bersih, segar, terawat, dan masih kelihatan muda. Mungkin hanya terpaut beberapa tahun dengan Om Bram. Wajar saja jika laki-laki itu menyukainya.


"Ada apa?" tanya Cassandra begitu mendapatiku tengah memperhatikannya. Aku tersenyum hambar. Jujurnya, sih, cemburu. "Selamat, ya, Bu," kataku lirih.


Cassandra mengangkat alis. "Selamat untuk apa?"


Hhmmm, kini senyumku berubah kecut. Pura-pura tak paham dia!


"Oh, itu? Hehe. Terima kasih, Mbak," jawab perempuan itu semringah. "Ya, kalau tak ada halangan, tinggal dua pekan lagi. Semoga saja lancar."


Ya, sebentar lagi. Dia akan bersanding dengan Om Bram. Menyisakan luka yang teramat dalam buatku. Selamanya.


"Ibu bahagia?"


Cassandra menatapku dalam-dalam. "Tentu saja bahagia, Mbak. Sudah lama hal ini kuimpi-impikan. Mengikat janji dengan lelaki yang kucintai."


Bahagia buatmu, tapi derita buatku!


"Bu Cassandra yakin dengan pilihan Ibu itu?" Aku masih belum puas mendengar penuturannya tadi. "Lelaki itu?" dia bertanya untuk memperjelas.


"Ya, laki-laki yang akan segera menikahi Ibu." Suaraku tercekat. Sakit sekali rasanya kerongkongan ini.


Cassandra mengangkat kepala. Pandangannya menyapu seisi langit-langit ruangan. "Bram memang bukan laki-laki pertama yang kukenal," ujarnya setelah menarik napas panjang. Bram? Dia menyebut nama itu. Jadi memang benar adanya, dia dan Om Bram memang menjalin hubungan. "Dulu aku pernah menikah, tapi gagal. Sekian tahun berusaha mengobati kekecewaan. Bahkan tak terhitung, berapa kali kutolak permintaan Bram untuk menikahiku. Namun, aku masih belum percaya laki-laki mana pun. Termasuk Bram, pada saat itu .... "


Cassandra berhenti bercerita sejenak. Pintu ruangan diketuk. Lalu seorang petugas pantri, laki-laki muda, masuk membawakan pesanan kami. Segelas air putih dan kopi hitam.


"Terima kasih, ya, Pak," ujar Cassandra begitu orang tadi hendak meninggalkan ruangan.


Hhmmm, cukup mengesankan. Ber-attitude juga perempuan itu. Bertambah daftar keunggulannya; Cantik, bersih, segar, terawat, awet muda, janda, dan beradab. Poin-poin yang harus kulibas habis, demi menyalip kompetisi percintaan ini. Hanya saja, dia tak akan bisa mengungguliku dalam status. Dia janda, sedangkan aku perawan.


"Terus bagaimana kelanjutannya, Bu?" Tak sabar kudengar kisah perempuan itu.


Cassandra meminum air putih terlebih dahulu, kemudian lanjut bercerita, "Kesungguhan Bram mencintaiku, lambat laun meluluhkan kekerasan hati ini. Dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Mungkin karena sama-sama pernah menikah, akhirnya ... kami sepakat untuk meresmikan hubungan. Aku berharap banyak sekali pada Mas Bram. Semoga dia bisa menjadi pendampingku selamanya."


Ya, Tuhan! Ternyata berat juga perjuangan Om Bram mendapatkan cinta Tante Cassandra. Sama halnya sepertiku. Kini, di samping cemburu, terselip rasa kasihan yang menyelimuti hati, melihat keteguhan perempuan ini. Haruskah aku tega memisahkan mereka, demi ambisi pribadi? Cassandra lebih dulu hadir dalam kehidupan Om Bram. Tak ada yang salah dengan mereka. Aku saja yang tergila-gila dibutakan cinta. Masih terlalu belia dan gampang terombang-ambing kemilau asmara muda.


"Tak masalah walaupun calon pendamping Ibu itu sudah memiliki anak?" tanyaku lebih dalam. Cassandra mengangkat bahu diiringi senyumannya. "Why not? Itu bukan alasan untuk tak mencintai seseorang, 'kan? Aku mencintai Mas Bram, sekaligus anaknya. Walaupun itu bukan anak kandungku sendiri."


"Begitu?" Seperti halnya aku menyayangi Della. Hanya saja, gadis itu tak akan mau beribu tirikan aku!


"Tentu saja, Mbak," jawab Cassandra, "lagipula, aku dan anak Mas Bram sudah lama akrab. Dia baik dan sudah menganggapku sebagai ibunya sendiri. Bahkan berteman baik dengan anakku sendiri."


"Apa? Ibu juga sudah punya anak?" Aku terperanjat. Cassandra tersenyum geli. "Dari pernikahanku pertama dulu. Agak beda memang, dari kebanyakan anak-anak lain. Karena dia spesial."


"Spesial? Maksudnya?" Aku penasaran.


"Suamiku yang pertama dulu, orang luar negeri. Kami menikah lintas bangsa, Mbak. Ah, sudahlah. Aku ingin membicarakan masa lalu. Karena, masa depan itu lebih penting. Terutama pernikahanku dengan Mas Bram," tutur Cassandra sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. "Mbak Alya sendiri sudah punya calon pendamping?"

__ADS_1


Aku tertegun sejenak. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu. "Eh, a-aku? A-da, sih. Eh, be-lum. Duh!"


"Kenapa, Mbak?" Cassandra memperhatikanku.


"A-ku ... a-kuu ... haus!" Langsung kuteguk minuman yang terhidang di atas meja. Cassandra tersenyum lucu.


"Nah, begitu, Mbak. Konsumsi air putih. Jangan minum air berwarna dan berasa. Baik untuk kesehatan. Hanya saja .... " Suara Cassandra mendadak hilang dari gendang telingaku.


Air putih? Rasanya aku tak pernah minta air putih. Bukankah itu ... punya Tante Cassandra? Ya, Tuhan! Aku salah minum!


"Duh, maafkan aku, Bu. Aku salah minum," seruku sambil meletakan gelas yang telah kosong, kemudian mengambil secangkir kopi. Kuseruput hingga tetes terakhir. Untungnya sudah hangat kuku.


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terkuak. Sesosok laki-laki berpostur tinggi 175 sentimeter, muncul di sana. Itu Om Bram.


"Alya?" Dia menatapku heran. "Kok, kamu ada di sini? Della gak bersamamu?"


"Eh, Om. Hehehe," kujawab dengan kekehan kecil. Kikuk dan bingung harus bicara apa.


Om Bram mengangkat kedua alisnya. Sementara Tante Cassandra hampir tertawa melihatku, kemudian bantu menjawab, "Mbak Alya datang sendiri, Pak. Maaf, kami menggunakan ruangan ini tanpa izin."


"Iya, maafkan kami, Om. Eh, hehehe." Kembali kumengekeh malu.


Cassandra menahan tawa dengan menutupi mulutnya. Diikuti seringai geli Om Bram. "Gak apa-apa. Pakai saja. Apalagi yang datang itu Alya. Bukan begitu, Lya?"


"Iya, Om. Hehehe."


Om Bram mengalihkan pandangannya dariku. Hidung laki-laki itu kembang-kempis dengan bibir tertutup rapat. Tak begitu dengan napasnya, sesekali menyembur ganas campur batuk. Mungkin dia sedang menahan tawa. Entahlah!


Cassandra mengusap lenganku. "Mbak Alya."


"Iya, Bu. Ada apa?" tanyaku salah tingkah.


"Mari, ikut saya ke toilet," pinta perempuan sainganku itu.


"Buat apa? Aku tak sedang datang bulan dan perlu ganti pemba—"


"Bukan begitu maksud saya, Mbak. Yuk, ikut saya sebentar ke toilet," ajak Cassandra dengan suara lembut.


"Mau apa, sih? Saya mau pulang saja," kataku mulai merasakan ada aroma tak nyaman di ruangan ini.


"Iya, boleh. Tapi .... "


"Apalagi?"


Cassandra menunjuk mulutku.


"Ada apa dengan bibirku?" tanyaku masih bingung.


Perempuan itu membuka mulut, menyeringai, lalu menunjuk gigi.


"Gigiku?"


Dia mengangguk. Sementara Om Bram pura-pura acuh. Dia berjalan ke arah meja kerjanya, sambil sesekali melirik ke arahku.


"Ada apa dengan gigiku? Ada lipstiknya, ya?" tanyaku berusaha memecahkan kode yang diberikan Cassandra.


Perempuan itu menggeleng. Dia mendekat dan berbisik, "Gigi Mbak Alya ada ampas kopinya. Kumur-kumur saja dulu di toilet, Mbak."


"Apa?!" Tak sadar aku berteriak kaget. Cassandra sampai harus mundur menjauhkan telinga sambil terpejam. "Mengapa ndak ngasih tahu dari tadi, sih?!"


"Sudah dari tadi, Mbak," ujar Cassandra masih tetap memejamkan mata dan tambah mundur menjauh. Sebentar kemudian, dia mengorek-ngorek lubang telinganya sambil meringis. "Ada toilet di ruangan Pak Bram," katanya sambil menunjuk ruang toilet menggunakan jempol tangan kanan.


"Pake saja, Alya. Gak apa-apa, kok," ujar Om Bram menambahkan.


Duh, aku malu. Pantas saja kedua orang itu tertawa-tawa di tahan tiap kali kumenyeringai. Ini penyebabnya? Ampas kopi sialan itu yang membuatku seperti badut bodoh di depan mereka.


Rencana interogasi yang salah dan gagal total! Tak tahu apa langkah selanjutnya, terkecuali segera angkat kaki dari mereka.


"Permisi! Aku pulang dulu sekarang! Maaf!"


Segera berbalik badan, setengah berlari meninggal ruangan tersebut.


DUK!


"Aw!" Aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap kening.


"Awas, Mbak!"


"Hati-hati, Lya!"


Pintu sialan! Mengapa harus terantuk daun pintu segala, sih? Tak cukupkah penderitaanku hari, Tuhan? Aku tak ingin berlama-lama di ruangan itu. Masih diiringi kepak kunang-kunang mengitari kepala, aku lanjut lari dan terus berlari meninggalkan kantor Om Bram.


**BERSAMBUNG

__ADS_1


Sukabumi, 11 Juni 2020**


__ADS_2