
BUCIN (29)
Penulis : Daoed Soelaeman
Pagi ini pikiranku kacau. Sekian kata yang keluar dari mulut dosen, tak satu pun membekas dan tertanam dalam kepala. Begitu sulit untuk berkonsentrasi penuh. Semua daya terfokus pada Della. Khawatir dengan kondisinya yang belum kunjung membaik. Bahkan beberapa kali pertanyaan Andre terabaikan.
"Alya ... kamu pergi saja kuliah seperti biasa. Mengenai Della, kita percayakan sama dokter dan perawatnya," kata Om Bram tadi pagi sebelum meninggalkan rumah sakit. "Aku sudah minta Bi Mamas untuk menjaganya di sini."
"Tapi Alya ndak tega meninggalkan Della dalam kondisi seperti itu, Om," balasku. "Lagi pula, Alya masih merasa bersalah."
"Lho, merasa bersalah bagaimana, Sayang?" Om Bram terperangah. Aku menunduk disertai tetes bening yang mulai tergenang di pelupuk mata. Lalu menjawab, "Alya pikir, seandainya dari awal Alya paksa Della untuk berobat, mungkin kejadiannya ndak akan begini. Di samping itu, Alya juga ndak ngasih tahu Om, kalo Della ndak masuk kuliah karena sakit."
Om Bram mengangguk-angguk sebentar. Mungkin berusaha untuk memahami. "Gak apa-apa, Lya. Jangan berpikir seperti itu." Laki-laki itu mengusap pundakku. "Kita doakan saja, semoga Della lekas sembuh, ya."
Kutatap mata kecoklatan itu. "Apakah Om merasakan hal yang sama denganku?"
Om Bram tertegun. Mendadak dia seperti salah tingkah. "Sudah kubilang, aku juga mencintaimu, Alya sayang. Hanya saja, untuk saat ini aku sedang gak ingin membicarakan itu dulu. Persoalan dengan Sandra saja belum beres, 'kan?"
Aku menggeleng sembari menahan getar bibir yang hampir meledakkan tangis. "Maksud Alya bukan seperti, Om. Alya sangat mengkhawatirkan kondisi Della. Sekarang dia terbaring lemah bernapaskan alat bantu oksigen, sementara tangannya dipenuhi jarum-jarum infusan serta pendeteksi detak jantung. Alya takut terjadi apa-apa dengan Della," kataku masih tetap bertahan dengan tatapan tajam ke mata laki-laki tersebut. " ... dan hal itu ndak Alya lihat dalam diri Om Bram, selama Della masuk rumah sakit!"
Om Bram melempar senyumnya. Hambar. "Apa yang kamu lihat, gak seperti itu, Alya," balasnya. "Aku juga sangat mengkhawatirkan Della. Apalagi dia anakku sendiri. Papah mana yang gak tersentuh hatinya, melihat anak yang dicintai terbaring lemah seperti sekarang, Lya?"
"Tapi selama yang Alya perhatikan dari kemarin, Om terlihat tenang."
"Apakah aku harus panik? Tanggung jawabku bukan hanya Della seorang, tapi kamu juga, Sayang."
"Aku?"
"Ya, kamu. Karena kamu juga bagian dari keluargaku. Aku ingin kamu juga tetap tenang dan sabar. Apalagi Bi Mamas. Makanya aku berusaha sebisa mungkin untuk selalu tenang. Lagi pula, setiap saat aku selalu berkomunikasi dengan dokter yang menangani Della. Dia dokter Nicholas, salah satu dokter kepercayaan keluargaku."
Aku bagian dari keluarganya? Sebagai anak? Tapi dia sudah terang-terangan mengakui mencintaiku. Lalu, sebagai kekasih? Ah, perlakuan macam apa yang dia berikan selama ini. Kecuali panggilan 'sayang' dan ciuman itu. Aku benar-benar merasa seperti seorang kekasih yang tak pernah dianggap. Hubungan tanpa status. Apalagi dengan rencana pernikahannya, akan jadi apakah aku kelak bagi Om Bram? Kasihan sekali gue!
"Dokter Nicholas? Bukannya hanya dokter Syarif dan dokter Boyke?" tanyaku sambil mengingat-ingat nama-nama tersebut.
Om Bram mendadak gelagapan. "Yaaa ... maksudku ... d-dokter i-itu," katanya berusaha menghindari tatapanku. "Intinya ... siapa pun itu, aku punya banyak kenalan tenaga ahli medis yang hebat-hebat dan terkenal? B-begitu, Lya. Eh, hehehe."
"Nicholas mantannya Dian Sastro?" Aku mencoba menguji kejujuran laki-laki itu.
Om Bram mengerutkan kening. "Kamu kenal dia juga?"
"Siapa?"
"Dokter Nicholas."
"Endak."
"Kok, tahu kalo dia mantannya ... uummhh, siapa itu tadi? Dian ... Dian ... Sosro! Ya, itu dia. Dian Sosro!" ujar Om Bram menebak-nebak.
"Dian Sastro, Om."
"Ya, maksudku ... dia!" Om Bram meralat. "Kamu kenal dia?"
"Siapa?"
"Yang tadi kamu sebut, Lya. Nicholas."
"Kenal."
"K-kenal d-dimana?" Om Bram terkejut.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanpa menatap mata kecoklatan itu, kujawab santai, "Dia main film AC-DC bareng sama Dian Sastro."
Hening. Tak ada suara apa pun. Terkecuali dengkus napas Om Bram memecah kesunyian. Entah, bagaimana reaksi wajah lelaki itu. Yang pasti, sampai kami berpisah di rumah sakit pada pagi itu, sikap dia tampak menyebalkan. Apa salahku, coba? Tak biasanya berangkat kerja tanpa kecup sayang di kening ini. Benar-benar manusia aneh! Misterius! Namun sanggup membuatku masih tergila-gila.
"Hei!" sapa satu suara membuyarkan lamunan. Kutoleh, ternyata anak muda blasteran Eropa itu. Andre. Malas meladeninya. Hal apalagi yang akan dia lakukan, kalau bukan hendak memperdayaku dengan pencitraan cintanya.
"Kamu kenapa, sih, Lya?" tanyanya seraya mendekati tempat dudukku. "Dari awal datang tadi, kulihat kamu murung terus?"
Aku tak ingin menjawab. Sebal saja rasanya dengan dia. Sebelumnya pernah janji bakal membantuku mendapatkan Om Bram, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda melakukannya. Terbukti, Om Bram dan Tante Cassandra masih tetap akan melangsungkan pernikahan.
"Lya," panggil Andre kembali. "Ngomong, dong. Kamu kenapa?"
Aku meliriknya dingin. Serta merta mengambil secarik kertas kosong dan sebuah pulpen. Lalu menulis nama BRAM di sana. Andre membacanya.
"Kamu lagi mikirin Pak Bram? Ada masalah dengan dia?" tanya Andre kembali. Aku tetap diam. Tak ingin menjawab. Namun kembali menuliskan sebuah kata BUKAN. "Gak lagi mikirin Pak Bram? Lalu mikirin apa, dong?" Kutulis nama DELLA di kertas itu. "Della? Kamu lagi mikirin Della?"
Kutatap anak muda tersebut. "Terus aku harus memikirkan kamu?" Andre terkesiap. "Della sedang sakit, Ndre! Dirawat di rumah sakit."
__ADS_1
Andre mengangguk pelan, kemudian berkata, "Sabar, ya, Lya. Semoga cepet sembuh. Della emang begitu."
"Maksudmu?"
Dia tercekat. Bingung harus bicara apa, mungkin. "Ini yang pertama buat kamu, Lya."
"Maksudnya bagaimana, sih?"
Andre menggaruk kepala. "Eemmhhh, maksudku ... bukan yang pertama kali Della membuat kita khawatir."
Aku semakin tertarik dengan ucapan anak muda ini. Penasaran. "Kita? Termasuk kamu juga, maksudmu?"
Andre mengangguk perlahan. "I-iyaa ... lah! Eh, begitulah."
Mataku menyipit. "Terus terang saja, ya, Ndre. Aku merasa bahwa kamu itu sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
"Eh, enggaklah, Lya. A-aku ... b-biasa sa-ja."
"Endak! Aku pikir kamu mengetahui banyak tentang keluarga Om Bram. Kamu sedang bersandiwara, 'kan?" desakku makin penasaran. Apalagi Andre terlihat gagap saat menjawab tadi.
"Beneran, aku gak tahu apa-apa, Lya. Hanya selintas saja kenal Pak Bram."
Aku menggeleng tak percaya. "Dan itu paling ndak kupercaya," kataku dengan nada tinggi. "Masih ingat dengan kata-kata Bi Mamas waktu kamu mengantar aku beberapa hari lalu?"
"Kata-kata yang mana?" Andre terlihat bingung.
"Kata yang mana." Aku menirukan ucapan anak muda itu barusan dengan bibir memble. "Ndak usah pura-pura lupa, deh!"
"Ooohh, tentang makanan itu?"
"Ooohh, tentang makanan itu." Kembali kulakukan hal yang sama. Bermaksud meledak Andre.
Dia menyeringai. "Kan, sudah kubilang, aku ikut nyicip makanan yang dibawa Della. Itu pun aku gak tahu kalo makanan itu hasil masakan Bi Mamas."
"Lalu dari mana Bi Mamas tahu masakannya sering diicip kamu? Terus Bi Mamas sampai kenal sama kamu?" desakku makin menjadi.
"Ya, aku gak tahu. Mungkin saja Della pernah cerita sama Bi Mamas," kilah Andre semakin terpojok. Berulang kali anak muda itu menggaruk kepala. Hanya ada tiga makna terkait gerakan tersebut, yang bersangkutan dilanda bingung, kesal, atau sedang berbohong. Aku tahu sekali. Soalnya pernah membaca buku di perpustakaan perihal tanda-tanda orang tak jujur. Salah satunya seperti yang dilakukan anak bule itu. Eh, juga Om Bram, lho! Hhmmm.
"Hanya dari modal cerita, terus Bi Mamas kenal sama kamu sampai ke wujud aslinya begini? O, bullshit, Ndre! Kamu pembohong payah!" sentakku kesal. "Asal kamu tahu saja, ya, Ndre. Aku ini perempuan. Kamu tahu apa itu artinya?"
"Bukan itu!" seruku meninggi.
"Dih, Lya. Jangan galak-galak, dong."
"Aslinya aku memang galak! Terus kamu mau apa?"
Bibir Andre bergetar dengan mata berkaca-kaca. "Y-yaa ... g-gak a-pa-apa. Ih, kamu ... L-lya."
Kutatap tajam mata anak muda itu. Wajahnya berubah pucat pasi. "Aku dari kaum perempuan yang terlahir dengan anugerah firasat yang kuat! Feeling, Ndre! Do you now?"
"I-iya, a-aku d-engar!" Andre mulai terisak.
"Kamu! Kalian dari kaum laki-laki diberi akal panjang, tapi sering digunakan untuk berbohong dan bersiasat. Kami tahu itu, karena kami berpikir dibantu dengan hati!" Aku menggebrak meja hingga Andre beringsut mundur. "Dari gelagatmu itu aku tahu, kalo kamu sedang berbohong, 'kan?"
"Mamaaaa!"
"Jawab!"
"Iya!"
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku perihal Om Bram, 'kan?"
"Lya, aku—"
"Jawab!"
"Iya! Iya! Iya!"
"Iya apa?" Kembali kugebrak meja.
"Astaga! Mamaaaa!"
"Jawab, Andre!"
"Iya, aku bohong, Lya! Tolong jangan bentak aku! Seumur-umur aku gak pernah digituin sama bokap-nyokap!" kata Andre lirih.
"Tapi jawab dulu pertanyaanku! Apa yang kamu sembunyikan?! Jawab!" Kupukul meja hingga tanganku memerah sakit. Itu tak peduli. Hanya ingin segera tahu dan mengorek informasi dari anak muda —cengeng— itu.
__ADS_1
Baru tahu sekarang, ternyata karakter Andre tak segahar tampangnya. Pantas saja, selama ini terlihat agak manja. Anak Mama rupanya. Hhmmm! Namun ini justru jadi kesempatan untuk menguak rahasia keluarga Om Bram.
"Dari semenjak Mamah Della meninggal, Della memang sering sakit-sakitan, Lya," tutur Andre mengawali cerita. "Della mempunyai kelainan jantung. Dia sering dirawat di rumah sakit."
Berarti, sejak Della berusia sepuluh tahun? Sama dengan artinya Della dan Andre sudah saling mengenal sejak kecil?
"Bagaimana kamu tahu kalo Della sakit-sakitan dari sejak kecil?" Suaraku agak melunak. Toh, si bule ini sudah mau terbuka sekarang.
"Aku minta tisu dulu," ujar Andre sambil menahan isak.
Kuturuti. Mengambil tisu dari tas, lalu ditaruh di atas meja dengan entakkan keras.
BRAK!
Andre terkejut. Dia mengambil lembar tisu dengan tangan gemetar. "Duh, Lya. Jangan kasar-kasar, dong. Aku orangnya kagetan, tahu?!"
"Aku tak peduli!" sentakku menyurutkan Andre agak menjauh. "Aku paling ndak suka dibohongi! Karena perempuan itu hakikatnya diberi KEPASTIAN." Nah, kalimat terakhir itu sebetulnya dikutip dari sebuah buku. Bukan asli khazanah perbendaharaan kata-kataku. Hihihi. Lumayan, untuk menaikkan harkat dan martabat diri, dari sekumpulan orang-orang bermodus seperti si Andre ini.
"Iya, maaf," balas Andre usai melap genangan air matanya.
"Lanjutkan!"
"Apa?"
"Cerita kamu tadi, Andre!"
Anak muda itu menarik napas panjang sesaat. Kemudian sambung berkata, "Eh, kamu nanya apa tadi?"
Aku melotot galak. "Della sakit dari kecil. Bagamana kamu tahu semua itu, Andre."
Andre mengangguk. "Pak Bram sendiri yang cerita. Dulu, waktu aku menemukan Della pingsan di sekolah SMA."
"Kamu satu sekolahan juga sama Della? Bukan dari kecil temenan?"
"Bukan," jawab Andre sembari melap sisa genangan air mata. "Aku mengenal Della sejak sekolah SMA. Jadi, aku dan Della sebenarnya sudah lama saling kenal. Bahkan, aku sering main ke rumah dia."
"Kok, sekarang-sekarang endak?"
Andre menatapku. "Karena sudah ada kamu, Lya," jawabnya lirih. "Semenjak kamu tinggal di sana, aku gak pernah datang lagi. Terkecuali kemarin-kemarin itu."
"Mengapa?"
"Della sudah mempunyai teman sendiri. Yaitu kamu," kata Andre kembali. "Di samping itu, diam-diam ternyata Della .... "
"Ada apa dengan Della?" Aku semakin penasaran dibuatnya.
Sambil menunduk, Andre menjawab, "Della naksir aku, Lya."
Aku mengangguk-angguk. Pantas saja, selama ini merasa bahwa Della memang menyukai Andre. "Terus kamu terima?"
Andre menggeleng.
"Mengapa?"
Dia mengangkat wajah, tapi tak berani menatapku. "Aku gak punya rasa apa-apa sama dia. Hanya sekadar kasihan saja. Soalnya, Della gak pernah mempunyai teman dekat. Di samping itu juga, Della penyakitan."
Hhmmm, rasanya ingin kutinju mukanya. Namun, berusaha untuk tetap tenang. Sedikit demi sedikit, rahasia keluarga Om Bram mulai terkuak. Aku butuh anak muda ini.
"Itulah makanya Pak Bram menahan diri untuk gak menikah lagi. Dia takut Della gak bisa menerima pengganti mamahnya dulu. Dan yang lebih dikhawatirkan, Pak Bram takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada Della. Makanya, begitu tahu Della menyukai kamu, Pak Bram berusaha menahan kamu agar jangan pergi dari rumahnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa menjaga Della," kata Andre meneruskan cerita.
"Tapi Om Bram juga menyukaiku juga, 'kan, Ndre?" Tiba-tiba dadaku terasa menyesak. Ada sesuatu hal yang membuat jiwaku ingin memberontak.
Andre tersenyum kecut. "Kalo masalah itu, aku gak tahu. Tapi aku yakin, dia hanya berpura-pura menyukaimu, agar kamu gak akan meninggalkan anaknya. Della."
Tuhan! Tenggorokanku mendadak sakit. Sepertinya, ada ribuan jarum kecil yang menghujam ulu hati. Sakit namun tak berdarah.
Selama ini aku begitu memuja kesempurnaan laki-laki itu. Fisik serta kelembutannya. Tak ada satu cacat pun yang kutemukan pada sosok seorang Bram. Wajar, jika hati ini begitu tergila-gila.
Kini, semua berbalik rasa. Perlahan aku merasa muak dengan semua ini. Sandiwara picisan ini. Bagaimana mungkin waktuku dihabiskan untuk sebuah omong kosong. Pantas saja selama ini Om Bram begitu baik. Akan tetapi selalu memberikan jawaban bias saat berbicara tentang cinta kami.
Akankah kulanjut pemburuan impian ini? Sementara ada sosok lain yang justru tengah berharap sambutan tanganku untuk tetap bertahan hidup.
Della. Dia membutuhkanku.
BERSAMBUNG
Sukabumi, 16 Juni 2020
__ADS_1