
Om Bram dan Cassandra tengah asyik bercakap-cakap. Tampak begitu serius. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah terkait rencana pernikahan itu? Bisa jadi.
"Eh, Mbak Alya," sapa Cassandra begitu melihat kedatanganku. Om Bram turut menoleh. "Tadi aku sempat masuk ke dalam, tapi Mbak Alya lagi tidur."
Aku tak ingin menjawab. Cukup melempar sedikit senyum tawar, seraya mendekati mereka.
Mendadak Om Bram terlihat kikuk. Kemudian lekas berkata, "Baiklah. Percakapan ini kita cukupkan dulu, Sandra. Besok kita lanjut di kantor."
Cassandra mengiakan. Segera mengemas tasnya lalu berdiri. "Baik, Pak. Kalau begitu saya izin pamit," ujarnya, kemudian memandangku. "Mbak Alya, aku permisi pulang dulu, ya."
"Eh, tunggu!" seruku hendak menahan langkah perempuan itu. Tapi buru-buru dihadang oleh Om Bram, "Biarkan Sandra istirahat, Alya. Kalo ada perlu, bisa lain kali, 'kan?"
"Tapi .... " Aku masih bersikeras menahan Cassandra.
Lagi-lagi lelaki itu memotong, "Sudah, ya, Alya. Sandra mau pulang dulu."
Cassandra terlihat bingung. Namun begitu Om Bram memberi kode dengan gerakan kepala, perempuan itu pun bergegas meninggalkan kami.
"Duduklah, Alya," kata Om Bram lembut seraya memegang kedua bahuku.
"Tapi Om .... " Aku merengut. Lelaki itu melihat-lihat keadaan sekeliling, kemudian lanjut berucap sambil tersenyum manis, "Tak baik berbuat keributan di sini. Nanti mengganggu pasien."
"Siapa yang mau ribut, Om? Alya hanya mau menyapa Tante Cassandra, kok."
Dih, dia terlalu yakin. Siapa pula yang hendak bergaduh. Otakku masih waras untuk tak berbuat hal sekonyol itu. Jujur saja, kalau cemburu memang iya.
Sembari menarikku ke kursi, ajak Om Bram, "Ya, sudah. Duduk, ya, Sayang. Kamu belum makan, 'kan?"
Akhirnya aku menurut juga. Duduk berdampingan dengan bibir mengeriting. Kemudian disodorkan bungkusan berisi roti bakar yang masih hangat. "Makanlah," katanya pelan, "kamu pasti lapar, 'kan? Kebetulan tadi Sandra membawakanku makanan."
Sejak keluar dari kantor Om Bram tadi sore, aku memang belum makan. Walaupun agak segan karena gengsi, namun untuk urusan perut terpaksa diterima juga.
"Bagaimana tadi kondisi Della, Sayang?" tanya lelaki itu disela-sela makan bersama.
"Lumayan ... " jawabku usai mengecap segigit, " ... lumayan enak, hasil masakan Tante Cassandra ini. Teksturnya lembut. Manis dan asamnya kerasa. Aroma menggugah selera. Mungkin karena diolesi selai stroberi." Kuresapi rasa roti bakar yang masih kukunyah. Om Bram hanya menyeringai sambil memajukan bibir membentuk bulatan. "Tak begitu buruk untuk ukuran seorang perempuan yang tak bisa membedakan vetsin dengan bubuk sitrun."
"Bi Mamas tidur di dalam, 'kan, Sayang?"
Aku mengangguk-angguk. "Ya, boleh juga, sih. Cocok untuk sarapan pagi. Hanya saja ... agak sepat ditenggorokan saat ditelan. Mungkin kurang matang waktu dipanggang."
Om Bram segera memberiku minuman mineral. "Minumlah dulu," katanya, "itu tadi ... karena kamu belum minum. Makanya kerasa sepat."
"Terima kasih, Om." Aku segera meminumnya. "Betul juga. Sekarang jauh lebih baik. Ndak sepat seperti tadi."
Om Bram menggaruk kepala.
SREK! SREK! SREK!
__ADS_1
"Alya tak begitu percaya. Bagaimana mungkin seorang yang tak mengenal bumbu dapur, bisa bikin makanan seenak ini, Om?" Aku memperhatikan sisa gigitan roti bakar di tangan. Lelehan selainya begitu merah dan menggoda. "Pasti Tante Cassandra dapet tips dan tutorialnya dari internet, 'kan?"
Om Bram menyeringai. "Ini dapet beli, Sayang. Banyak yang jual di pinggir jalan depan rumah sakit sana. Bubur ayam juga ada. Atau kalau masih kurang, menu rendang jengkol pun tersedia," ujar laki-laki itu setengah bergurau.
Aku tak membalas. Sibuk mengunyah dan menikmati menu makan malam ini dari awal gigitan hingga berpindah ke lambung.
"Tadi, aku dan Cassandra membicarakan perihal pekerjaan di kantor. Seperti yang kubilang tadi pagi, malam ini ada jadwal bertemu dengan beberapa kolegaku. Namun, terpaksa dibatalkan. Aku hanya bisa mengelegasikan Cassandra untuk hadir di sana. Hasil pembicaraan mereka tadi, disampaikan langsung oleh sekretarisku tersebut," tutur Om Bram tanpa memandangku. "Aku harap, kamu gak ada pikiran macam-macam perihal Sandra datang ke sini tadi. Gak ada maksud lain, Sayang. Percayalah."
Aku tak begitu fokus memperhatikan ucapan Om Bram. Lebih suka konsentrasi mencicipi sisa roti yang ada. "Tapi, Alya pikir ... roti bakar ini rasanya, kok, mirip yang suka dijajakan pedagang kaki lima, ya, Om? Alya curiga, Tante Cassandra ndak bikin sendiri."
Tiba-tiba Om Bram menoleh dengan tatapan aneh.
"Mengapa Om melihat Alya seperti itu? Alya ndak cemburu, kok, Om. Hanya ingin mengomentari perihal roti bakar ini," ujarku mendadak merasa tak enak hati. "Ndak masalah, 'kan?"
SREK! SREK! SREK!
Kulihat laki-laki itu sepertinya kesal. Ada apa dan mengapa? Tersinggung mengeritik makanan yang dibawa Cassandra? Ah, keterlaluan dia. Lalu perasaan panas yang kerap melanda hatiku selama ini, bagaimana? Apakah Om Bram peduli?
"Aku rasa, kamu perlu istirahat total, Alya," ujar lelaki itu seperti kehilangan gairah untuk berbincang lebih lama. Roman mukanya mendadak kurang menarik di mata ini. "Sebaiknya kamu tidur saja. Biar aku yang akan menjaga Della."
"Alya belum ngantuk, Om."
Om Bram menarik napas dalam-dalam. Begitu seterusnya hingga beberapa saat. Tangan kekar itu sampai mengepal keras, disertai seringai tertahan. Mirip orang yang hendak buang hajat pagi, tapi sulit keluar. "Perlu kucarikan obat tidur sekarang juga, Alya?"
Aku menggeleng. "Alya ndak insomnia, kok, Om. Mungkin karena tadi sempat tertidur, makanya sekarang jadi terjaga."
"Tapi aku minta kamu untuk segera tidur, Alya." Om Bram menggaruk kepala kesekian kalinya. "Sekarang malah aku yang merasa capek."
SREK! SREK! SREK!
Om Bram mendengkus keras. Kemudian dia berkata, "... atau kita tidur sama-sama saja, Sayang?"
TUING ... TOT!
Cubitan kecilku segera mendarat di tangan berbulu itu. Menyepit kulitnya, memutar 90°, dan terakhir menarik dengan keras.
"Aw!" jerit lelaki itu tanpa ampun, sambil mengusap-usap lengan yang merah dan terkelupas kulitnya sedikit. "Sakit banget, Alya! Aduuhhh ... !!!"
"Lagian ... Om begitu, sih, ngomongnya. Kita, kan, bukan suami-istri, Om," ujarku dengan bara memanas menjalari wajah ini. "Ih, sebal!" Aku merengut manja seraya bersiap melancarkan cubit susulan.
Om Bram lekas menggeser duduk. Agak menjauh dariku sekarang, dengan ringis yang masih menghiasi rautnya.
"Maksudku bukan begitu, Alya," balas lelaki itu bersiap memasang kuda-kuda. "Kamu tidur di dalam sana sama Della dan Bi Mamas. Aku tidur di sini. Di bangku ini. Gak usah mikir macam-macam, deh, Sayang!"
"Ya, ampun, Om! Alya ndak sampai mikir begitu. Maafin Alya, Om," kataku seraya merangsek maju.
"I-iya. G-gak apa-apa. Tapi ... t-tolong jangan terlalu dekat," seru Om Bram pasang tangan sebagai tameng. "Kalau masih mau bicara ... jarak lima meter sekarang ini, cukup, 'kan? Eh!"
__ADS_1
"Jauh amat, Om. Memangnya mengapa harus jauhan?"
Om Bram menyeringai. "G-gak apa-apa, Alya. Beneran, g-gak a-da apa-apa. Eh, hehe .... " kilah lelaki itu masih terus mengusap lengannya.
Ada apa, sih, dengan laki-laki ini? Mengapa mendadak seperti melihat hantu begitu dekat denganku? Tadi tak apa-apa. Semua berjalan normal seperti biasa. Sekarang?
"Om .... " kataku akhirnya agak keras. Om Bram menoleh, sembari menyilangkan telunjuk di bibirnya. "Sssttt ... jangan terlalu keras, Sayang. Ini rumah sakit."
"Alya cuma ingin nanya." Lanjutku berucap, "Tadi ... Tante ngapain ke sini?"
Om Bram menepuk jidat.
PLAK!
"Besok saja aku ceritain, ya. Sekarang kamu tidurlah. Istirahat dengan tenang," jawabnya tak berhasrat bicara. Mungkin dia lelah.
"Alya masih ingin hidup, Om!"
"Sssttt ... jangan keras-keras, Lya," seru laki-laki itu. "Maksud Alya apa?"
Kembali aku merengut. "Tadi kata Om ... aku disuruh istirahat dengan tenang. Alya ingin panjang umur, Om."
Akhirnya, lelaki itu merangsek maju. Mendekati, lalu berbisik, "Maksudku ... pergilah tidur. Biar besok fresh. Aku ngantuk sekali, Lya. Please, ya?"
Betul, dia memang tampak lelah. Sebaiknya pertanyaan ini kusimpan saja hingga esok. Atau mungkin, akan mencari jawabannya sendiri.
"Baiklah, Om," kataku kemudian. "Alya ke ruangan dulu, ya. Selamat malam, Om."
"Selamat malam juga, Sayang. Selamat tidur." Om Bram menaik napas lega.
Beberapa saat kemudian, aku kembali menghampiri laki-laki tersebut. "Om .... "
Om Bram terperanjat dengan bola mata memerah. "Ya, Tuhan! Ada apalagi, Sayang?"
Kuberikan tuksedo yang tadi dipakai menyelimuti di dalam ruangan. "Jas Om tertinggal di dalam."
"Hooaamm ... ghamu wakai xagah, Khayang!" jawab Om Bram sambil menguap. "Wiar aghu geghinih xagah. Hoaaaamm ... kekkk!"
"Apaa, sih, Om? Ndak jelas."
Usai menguap tiga kali, dia memperjelas, "Kamu pakai saja, Sayang. Biar aku begini saja. Hhmmm."
"Oh, gitu? Ya, sudah. Selamat tidur lagi, Om."
Aku kembali ke ruangan tanpa berniat menoleh ke belakang. Rasa kantuk ini sudah mulai menyerang. Berjalan kelimpungan, sampai akhirnya terjadilah di depan pintu.
DUK!
__ADS_1
"Aduh!"
BERSAMBUNG