
Sudah memasuki pekan kedua, rencana pernikahan Om Bram tinggal menunggu hari. Selama itu pula, aku masih bergelut dengan kecamuk di hati. Della dan Papahnya sibuk mempersiapkan acara. Jarang berada di rumah. Sementara aku sendiri, sama sekali tak diperkenankan ikut membantu. Entahlah, mereka berdua tak pernah memberikan alasan yang jelas.
"Alya fokus saja sama kuliah. Biar Della yang mengurus rencana pernikahan itu," ucap Om Bram suatu ketika saat kutanya. "Lagipula, gak akan dirayakan secara besar-besaran, kok. Om sudah gak muda lagi. Duda pula. Sementara, Cassandra pun seorang janda. Jadi, kami bersepakat untuk tidak muluk-muluk. Malu, sudah pada tua."
"Tapi Alya, kan, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga ini, Om," ujarku ngotot, "Alya ingin ikut membantu persiapan pernikahan Om."
Jujur saja, sebenarnya aku merasa marah pada diri sendiri. Berpura-pura tabah, padahal hati ini makin rapuh. Masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Laki-laki tercinta akan menjadi milik orang lain.
"Terima kasih atas perhatianmu, Alya. Om sangat menghargai niat Alya itu," balas Om Bram diiringi senyum tawarnya. "Tapi mohon maaf, untuk sementara, biar Om dan Della yang ngurus."
Ah, percuma saja meminta. Ini bukan kali pertama Om Bram menolak. Terlebih Della. Jawaban mereka selalu mengambang.
"Om .... " kupanggil laki-laki perlente itu, setelah beberapa saat kami terdiam. Om Bram menoleh, lalu menyahut, "Ya, Alya. Ada apalagi?"
Tiba-tiba aku berpikir untuk mengungkapkan ganjalan yang selama ini tersimpan. Mumpung tak ada Della. Gadis itu sedang ke luar bersama Tante Cassandra. Entah untuk keperluan apa. Namun yang pasti, ini waktu yang tepat menginterogasi laki-laki super misterius ini.
"Alya ingin bertanya sama Om," kataku berhati-hati. Diiringi debar jantung kian menguat.
"Tanya apa, Lya? Bicaralah .... " Om Bram menatapku lekat. Dia mengubah posisi duduknya di sofa. Bertumpang kaki, menyender, dan setengah badannya menghadapku. "Sepertinya serius?"
Duh, harus memulai dari mana, ya? Bingung. Aku tak berani berlama-lama beradu pandang dengannya. Sorot mata kecoklatan itu laksana garam yang ditabur di permukaan bekuan es. Perlahan menciutkan nyali serta kontrol benak ini. Khawatir melakukan kekonyolan-kekonyolan seperti yang telah terjadi sebelumnya.
"Sebenarnya .... " Terbata-bata berucap. Lidahku mendadak kelu dan kering. Sementara Om Bram sudah bersiap mendengarkan. "Sebenarnya ... eemmhh .... "
Om Bram mengangkat alisnya. Menunggu dan penasaran, pastinya.
Duh, Om! Jangan sok cute begitu, dong! Aku makin tak tahan, nih. Mudah-mudahan saja tak sampai kesurupan, akibat mabuk pesonamu lagi. Aamiiin!
"Sebenarnya apa, Alya?" tanya Om Bram dengan suara berat tapi lembut. "Bicaralah. Akan Om dengarkan."
Hhmmm, sudah mulai kumat. Tubuhku mulai bergetar. "Sebenarnya .... "
"Iya, sebenarnya apa?"
Sambil memejamkan mata, kulanjut bicara, "Sebenarnya ... Alya ingin bertanya sama Om."
Eh, mengapa balik lagi ke pertanyaan awal tadi, ya? Ya, Tuhan! Beri aku kekuatan, dong! Please!
"Iya, tentang apa?" Kudengar suara gesekan bokong Om Bram di permukaan sofa. Laki-laki itu pasti bergeser mendekatiku. Gawat! Semoga terjadi sesuatu di antara kami. Eh? Doa macam apa itu? Kurang berakhlak!
"Tentang ... sebenarnya yang ingin ... Alya tanyakan itu, Om," kataku kembali masih terpejam. Berusaha menguatkan diri. Namun hasilnya malah berputar-putar di tempat. Sialan! Susah amat, sih, mau bicara jujur!
"Alya," sebut Om Bram. Kali ini tiba-tiba jemariku diraih tangan berbulu itu. O, my God! What's going on here? "Tenangkan dirimu. Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan melalui mulut. Lakukan secara kontinu, sampai Alya merasa rileks."
Aku menuruti sarannya. Namun genggaman jemari itu bagai mengandung setrum. Darah di dalam tubuh ini mendadak mengalir kencang. Khawatir sekali jantungku bakal tersetrum, lalu meledak. Ah, lebay!
"Sudah agak tenang?" tanyanya setelah beberapa saat. Om Bram ingin meyakinkan.
Aku mengangguk perlahan. Masih dengan mata tertutup rapat. Takut begitu terbuka akan kembali ke suasana semula. Artinya, harus mengulang tarik-hembus napas.
"Sudah, Om," jawabku, fokus dengan pertanyaan yang masih menggumpal.
"Sekarang, bicaralah. Perlahan saja. Jangan terburu-buru," pinta Om Bram makin mengeratkan genggaman jemarinya.
"Iya, Om."
Aku mulai menguatkan hati. Menyusun kembali kata-kata yang tadi sempat sirna.
"Ayo, mulai bicara, Alya. Satu ... dua ... tiga ...." Om Bram memberi aba-aba.
Diawali dengkusan napas, kugerakkan bibir yang gemetar ini untuk berucap, "Alya ... ingin bertanya sama, Om Bram."
SREK! SREK! SREK!
Kudengar Om Bram menggaruk kuat kulit kepalanya. Mungkin kesal atau ada rasa lain? Bisa jadi juga, dia tengah mencakar-cakar kain beludru sofa. Ah, aku tak berani membuka mata ini untuk mengetahui.
"Iya, Alya ingin bertanya tentang apa?" Suara laki-laki itu agak tertahan. Pasti karena menahan rasa jemu. "Dari tadi, Om sudah tahu, Alya memang mau nanya, 'kan?"
SREK! SREK!
Suara itu kembali terdengar.
"Om .... "
"Iya."
"Alya ingin .... "
"Bertanya?"
"Bukan, Om."
"Lalu?"
Sejenak mengatur napas yang sesak, kulanjutkan ucapan, "Alya ... ingin ... membalik badan. Alya ndak sanggup kalau bicaranya berhadapan begini."
SREK! SREK! SREK!
"Baiklah. Terserah Alya saja, deh," jawab Om Bram diiringi dengkusan napas panjang. Dia segera melepas genggamannya. Kemudian kuputar tubuh ini, membelakangi laki-laki flamboyan itu, dengan mata terpejam. Itu pasti!
"Om .... "
"Iya!"
"Maafin Alya, ya."
__ADS_1
"Iya, dimaafkan!"
Kuatur napas kembali. "Sebelumnya Alya mohon maaf, ya, Om."
"He'eh!"
"Sebenarnya ... Alya ... minta maaf sebelumnya, karena mau bertanya sama Om."
SREK! SREK! SREK!
Hening. Tak ada tanggapan maupun balasan. Ke mana Om Bram?
"Om?" kupanggil laki-laki itu. "Om masih di belakangku, 'kan?"
Terdengar deham dan batuk kecil. "Uhuk! Uhuk! Eheemmm!"
"Oh, syukurlah," aku bergumam, "itu ... Om. mengenai Om Bram sendiri."
"Mengenai Om? Tentang apa?" Suara-suara laki-laki terdengar kembali bersemangat.
Kutelan liurku. Sekadar membasahi tenggorokan ini yang kering. "Perasaan Om sama Alya." Dadaku kembali bergemuruh.
"Perasaan apa, Lya?"
Dih, malah balik tanya. Sikap kamu yang ambigu itu, Bram!
"Sebenarnya ... Om menganggap Alya ini sebagai apa, sih, Om?" Akhirnya kumpulan kata-kata itu mulai lancar, meluncur dari mulutku. Semoga kedepannya begitu. Aamiin!
Laki-laki itu mendeham sebentar. "Yaaa ... Om sudah menganggap Alya sebagai bagian dari keluarga Om dan Della. Bukankah sudah pernah di bahas waktu di kantor Om, sebelumnya?"
Hhhmmm, dia belum mau jujur juga! Mau sampai mana kaulari, Bram? Akan kukejar dirimu sampai titik peluh ini kerontang! Detik ini juga, atau tidak sama sekali!
"Bagian dari keluarga, ya, Om?"
"Iya, Alya. Apa masih kurang?"
"Maksud Om?"
"Memasukkan nama Alya ke dalam daftar Kartu Keluarga Om, misalnya?"
'Hhmmm, itu belum cukup, Om. Lebih lengkapnya, daftarkan nama kita ke dalam buku nikah. Mauku begitu, lho,' kataku dalam hati.
"Sebagai apa, Om?" tanyaku kian mendesaknya.
"Maksud Alya, bagaimana?" Suara Om Bram tercekat. Pasti dia mulai terpojok. Rasakan!
"Maksud Alya ... sebagai anak, keponakan, adik, cucu ... atau juga .... " Aku tak meneruskan ucapan. Biarlah tugas dia yang akan mencerna dan menerjemahkannya. Hanya ingin tahu, sampai berapa lama akan terus jadi laki-laki misterius.
"Yaaa ... sebagai ... anak, Lya. Bersaudara dengan Della, tentunya," jawabnya tercekat.
Aku menarik napas dulu. Berancang-ancang melancarkan serangan berikutnya. "Sebagai anak, ya, Om?"
Hhmmm, mulai gugup dia.
"Beneran? Hanya sebagai anak?" Aku ingin lebih menekannya. Kali ini cukup sebatas pribadi. Mungkin lain kali berupa tekanan dalam bentuk lain. Jika perlu, pemaksaan!
"I-iya, L-lya. Maunya Alya, dianggap s-sebagai a-pa?" Kudengar dengkusannya untuk kesekian kali. Ingin sekali rasanya segera balik badan. Melihat raut wajah laki-laki itu seperti apa kini.
"Lalu ... yang pernah Om lakukan sama Alya beberapa malam yang lalu, itu apa, Om?" Makin bersemangat aku mencecarnya. "Itu bentuk pengakuan dari seorang papah terhadap anak?"
Ya, waktu itu Om Bram pulang malam dalam keadaan setengah mabuk. Dia memeluk dan menciumku. Perlakuan orang tua terhadap anak? Omong kosong! Dia sempat mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Ciuman seperti apa itu? Kasih sayang atau nafsu, Bram?
"I-itu ... i-tu .... "
"Om mencium Alya, Om!" kataku setengah berteriak, seraya membalikkan badan serta membuka mata. "Della?"
Ya, Tuhan! Della ada di sana. Duduk tak jauh dari Om Bram. Sejak kapan gadis itu datang? Menatap tajam padaku dan papahnya.
"Kaget?" tanya Della disertai senyuman kecut. "Kenapa? Gue gak boleh ikut dengar obrolan elu ama Papah, Lya?"
Jantungku kembali berdetak kencang. Jadi, bukan karena laki-laki itu gugup karena terdesak pertanyaanku? Della penyebabnya? Sungguh, ini akan semakin rumit.
"Kapan kamu datang, Del?" Aku mencoba berbasa-basi dan menenangkan diri.
"Sejak elu membelakangi bokap gue. Gak nyadar, ya, lu?" Della makin galak.
Gawat! Mungkin, ini akan jadi akhir dari persahabatan kami. Della sudah mengetahui rahasia yang selama ini kupendam. Tak ayal lagi, dia pasti akan mendepakku dari rumah ini. Seperti yang dilakukannya pada pembantu-pembantu terdahulu.
"Della, tenanglah, Sayang," ujar Om Bram berusaha menengahi.
"Pah!" Della balik melotot pada papahnya. "Apa yang pernah Papah lakuin sama Alya malam lalu itu? Malam kapan, sih? Della gak pernah tahu, selama ini ada hubungan khusus antara Papah dengan Alya."
"Tenang, Della. Papah gak ngelakuin apa pun. Tanya ama Alya kalo Della gak percaya." Om Bram mengedipkan mata sebelah.
Hhmmm, kode apa itu, Om? Minta aku berbohong, 'kan? Begitu pengecutnya dirimu, Om. Tak kusangka.
"Ya, Om Bram menciumku, Del," jawabku disambut belalak Della. Laki-laki malah menepuk kening.
Bukan jawaban itu, 'kan, yang kamu harapkan, Bram? Ingin aku ikut berbohong untuk menutupi kelakuanmu itu? Hhmmm, jangan harap!
"Mencium elu?" Seakan Della belum mau mempercayai ucapanku. "Berapa kali, Lya?"
"Sering, Del."
"Sering?" Mata Della makin melotot.
__ADS_1
Om Bram menatapku tajam. Mungkin dia tak percaya, aku telah membongkar semuanya. "Lya. Kamu .... "
Mataku menyipit, diiringi senyuman puas. "Ya, sering," tegasku kembali. "Seperti halnya Om Bram menciummu juga, Del."
Della mengernyitkan dahi. "Maksud elu?"
Kulirik Om Bram sesaat, lalu lanjut menjawab, "Papahmu juga sering menciumku di sini." Aku menunjuk kening. "Kenapa? Kamu cemburu, Del?" Diiringi tawa, semakin terasa drama picisan ini berlaku.
Om Bram melongo, kemudian menarik napas lega. Tak begitu dengan Della. Gadis itu kelihatannya masih penasaran.
"Gue ngerasainnya gak kayak gitu. Ini obrolan apaan, sih?" Della menatap kami berdua. "Papah gak lagi nyembunyiin sesuatu dari Della, 'kan?" tanyanya pada Om Bram.
"Nyembunyiin apa, Sayang? Papah gak nyembunyiin apa-apa dari kamu, kok," jawab Om Bram.
Hhmmm, pembohong amatiran! Tak berpikir, ya, ada saksi nyata di sini. Aku. Makin ketahuan sekarang, bagaimana seorang Bram sesungguhnya. Tak lebih dari seorang laki-laki pengecut yang bersembunyi di balik fisik mempesona. Huh, tapi anehnya, aku masih tetap cinta dan makin tergila-gila padanya.
Bukti cinta itu buta? Entahlah. Yang pasti, aku pikir ada alasan lain mengapa dia bersikap seperti itu. Itulah sebabnya, di saat kecewa masih saja mau menuruti permainan menyebalkan si Bram.
"Iya, Del. Papahmu, kan, sudah menganggapku layaknya anak sendiri. Wajar saja, 'kan, kalo memperlakukanku seperti itu?" kataku menambahkan. Kali ini tak ingin melirik si Bram. Masih sebal rasanya melihat dia, tapi tetap kangen.
Cerita cinta macam apa ini? Aku yang tengah gundah gulana, masih sempat dan mau-maunya bersandiwara. Padahal, bisa saja tadi kulabrak sekalian laki-laki itu. Tak peduli, apa yang akan terjadi setelah Della tahu.
"Gue gak percaya sama elu, Lya. Gue ngerasa, elu ada hal lain ke Papah gue," kilah Della seraya menyipitkan mata. "Elu demen ama Papah gue?"
Aku terperanjat. "Ya, ampun, Del. Mana mungkin aku jatuh cinta sama Om Bram. Beliau sudah kuanggap sebagai bapakku sendiri," seruku nyaring, "lagian umurku dengan Om Bram, kan, beda jauh. Gak mungkinlah, Del."
Om Bram mendelik. Mungkin kurang suka dengan ucapanku mengenai usia. Bisa jadi. Faktanya memang sudah mulai menua, 'kan? Namun ... masih ganteng dan menggairahkan! Haduh!
"Terserah elu, deh. Hanya saja, elu harus ingat. Siapa pun yang berusaha ngedeketin Papah gue, elu udah tahu, 'kan, konsekuensinya, Lya?" ancam Della, "apalagi Papah gue sebentar lagi, bakal menikah ama Tante Cassandra."
"Iya, aku inget itu, Del," jawabku, "tenang saja. Aku juga sudah pernah bicara sama kamu, kalo aku ndak mau pacaran dulu. Aku ingin fokus kuliah. Masih ingat, Del?"
Della mengangguk. "Ya, gue inget itu. Asal elu komit aja ama prinsip elu, Cuy!"
"Pasti, dong. You knew who I was, didn't you? Hihihi."
"Terserah elu, deh, Cuy!" ujar Della seraya bangkit dari duduk.
"Mau ke mana, Del?" tanyaku. "Mandi," jawab Della bergegas meninggalkan kami.
Tinggal aku dan Om Bram yang masih ada di ruang tengah.
"Terima kasih, ya, Lya," kata laki-laki itu.
"Terima kasih apa, Om?" Aku enggan menatapnya. Masih sebal. Laki-laki pengecut dan munafik!
"Alya mau menuruti keinginan Om tadi."
"Yang mana, Om?"
"Berbohong pada Della perihal kejadian malam itu."
Hhmmm, benar-benar culas! Laki-laki tengik!
Om Bram menggeser duduknya, mendekatiku. "Alya ingin tahu jawaban jujur Om tentang pertanyaan Alya tadi?"
"Pertanyaan yang mana lagi, sih, Om?" Kulirik dia. Makin mendekat.
"Perasaan Om sama Alya .... " kata Om Bram sambil melihat-lihat lantai atas. Memastikan kalau Della masih berada di bilik kamar mandi.
"M-memangnya p-perasaan O-oom s-se-perti a-pa?" Tiba-tiba aku merasa panas-dingin. Laki-laki itu semakin merapatkan tubuhnya.
Ya, Tuhan! Aku menggigil.
"Sebenarnya aku juga .... " Om Bram menarik tubuhku. Kemudian mendaratkan kecupnya di bibir ini.
Apa? Mimpikah ini? Tidak! Kami sama-sama sadar. Om Bram pun tak sedang mabuk. Lalu, ini apa artinya?
"Om?" Aku menatap mata coklatnya. "Om juga mencintai Alya?"
Bibir laki-laki itu bergetar. "Sangat mencintaimu, Alya. Bahkan sejak mulai mengenalmu."
"Ya, Tuhan! Om ndak lagi berbohong, 'kan?" Aku masih tak percaya. Jawabnya, "Enggak, Alya sayang. Aku memang jatuh cinta sama kamu."
"Alya ndak percaya, Om," kataku. "Coba ulangi lagi, Om."
"Apanya?"
"Yang barusan."
Om Bram pun menuruti permintaanku. Kali ini lebih lama dari yang pertama tadi.
"Ooommm .... " Kupeluk tubuh itu. Tangis pun meledak. "Alya takut kehilanganmu."
"Aku ada di sini, Alya. Aku gak akan ke mana-mana."
"Tapi, bagaimana dengan rencana pernikahan Om itu?"
"Cassandra?"
"Ya, siapa lagi?"
Om Bram mengekeh.
Lho, ditanya malah tertawa? Jawab, dong! Aku, kan, nanya!
__ADS_1
**BERSAMBUNG
*Sukabumi, 10 Juni 2020***