BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 27


__ADS_3

Perlahan kurasa seseorang menyelimuti tubuhku. Lalu suara-suara itu hadir memenuhi ruang kepala. Tak pernah berhenti, sejak awal tadi duduk tertidur di pinggir ranjang.


Kubuka mata ini, mengangkat kepala, lalu menoleh ke samping. Samar seraut wajah tampak tengah menatap dengan raut sedih. Bi Mamas. Perempuan setengah tua yang sering datang membantu mengerjakan tugas rumah.


"Oh, Bibi," kataku lirih menahan dera kantuk. "Bi Mamas belum tidur?" Rupanya dia yang tadi menyelimuti.


"Belum, Non. Saya gak bisa tidur," jawabnya sambil menguap.


Aku tersenyum tawar. Lesu. "Bibi tidurlah dulu di sana," kataku sembari menunjuk kursi panjang di pojok ruangan. "Biar Alya yang jagain Della."


Bi Mamas menurut. Dia segera beranjak dari tempat berdirinya, duduk di kursi, tapi tak langsung tidur. Bias matanya sedih menatap sosok Della yang terbaring di atas ranjang pasien.


"Tidurlah, Bi," kataku mengulang.


"Iya, Non," jawab perempuan itu. Kemudian merebahkan badan, dan mengatupkan kelopak mata.


Sebentar kemudian Bi Mamas tertidur. Lengkap dengan suara dengkur keras, mengalahkan mesin pendeteksi detak jantung di pinggir ranjang pesakitan.


Kualihkan pandangan, menatap Della. Gadia itu terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di lubang hidung dan jarum infus menancap di lengan.


"Maafkan aku, Del," bisikku lirih memperhatikan wajah Della yang pucat. "Seharusnya sejak pagi tadi, kamu kubawa ke rumah sakit."


Masih teringat, sore tadi saat perjalanan pulang dari kantor Om Bram, Bi Mamas menelepon.


"Non Alya, cepetan pulang," kata perempuan itu terdengar panik.


"Ada apa, Bi?" tanyaku mulai tak enak hati. Langsung teringat Della yang tadi pagi mengeluh sakit.


"Non Della ... " Terbata-bata Bi Mamas berkata di ujung telepon. "Non Della, Non."


"Iya. Ada apa dengan Della, Bi. Buruan ngomong!" Aku ikut panik.


Terdengar isak di sana. Bi Mamas menangis. "Non Della pingsan, Non."


"Ya, Tuhan!" Aku tersentak. "Pingsan kenapa?"


"Gak tahu, Non. Tadi abis saya antar ke toilet. Di kamar langsung pingsan!"


"Baik, Bibi tetap di sana. Jaga Della. Aku hubungi dokter dulu. Eh, .... " Aku berpikir.


"Apa, Non?"


"Om Bram punya dokter langganan, 'kan?"


Hening sejenak. Mungkin Bi Mamas tengah mengingat. "Ada. Dokter Syarif, Non."


"Dokter yang mana, ya?"


Sambil terisak, Bi Mamas menjawab, "Itu, lho ... dokter klinik yang sudah agak tua, pikun, botak, kepalanya—"


"Kepalanya glowing kayak etalase konter HP dan punya masalah dengan kupingnya?" Aku menebak. Itu seperti ciri-ciri dokter menyebalkan yang dulu pernah memeriksaku.


"Iya, itu. Kok, Non Alya tahu?" tanya Bi Mamas campur suara meweknya.


"Ah, ndak penting dibahas," kataku berusaha melupakan sosok dokter yang satu itu. "Ada nomor dokter yang lain?"


Hening kembali, sampai kemudian terdengar suara Bi Mamas menjawab, "Dokter Boyke. Iya, dia. Dokter yang sering memeriksa kondisi Della sejak dulu."


Sejak dulu? Maksudnya Della sering berobat pada dokter itu? Eh, tapi ....


"Kok, dokter kandungan, Bi? Della hamil?" Memori otakku langsung teringat, pada sosok dokter berkacamata bulat dan sering membahas masalah ranjang, beserta pernak-perniknya itu.


"Yang bilang Della hamil itu, siapa?" Bi Mamas terdengar kesal. "Itu salah satu dokter langganan keluarga Pak Bram juga, Non."


"Bukannya dokter Syarif?"


"Lho, kata Non Alya tadi gak usah bahas dokter yang itu?"


"O, iya." Kutepuk jidat. "Ya, sudah. Bibi hubungi dokter Boyke. Aku lagi di—"


"Saya gak punya pulsa, Non. Paling bisa juga kirim SMS," kata Bi Mamas memotong.


"Ini Bibi nelepon, bisa?"


Campur isak, Bi Mamas mengekeh. "Ini gratisan, Non. Sesama nomor. Kalo dokter Boyke, kan, beda operator. Hiks hiks."


Ya, ampun!


"Ya, sudah. Kirim sekarang nomornya. Biar aku yang menelepon," kataku akhirnya.


"Dokter Syarif atau dokter Boyke, Non?" Bi Mamas agak ragu rupanya.

__ADS_1


PLAK!


Kembali kutepuk jidat. "Dokter Boyke, Biii ... !!!"


Bi Mamas terdengar gugup. "B-baik, s-seben-tar, N-non .... " Sayup-sayup terdengar suara perempuan itu mengomel melalui sambungan telepon yang belum sempat dimatikan, "Sialan! Kuping gue ampe pengang begini! Kalo ngomong, gak usah pake tiga oktaf ngapa, yak?!"


Tak berapa lama, kiriman nomor ponsel pun tiba.


Seraya berdecak kesal karena Bi Mamas, kuhubungi dokter Boyke. Syukurlah, tersambung dan langsung diangkat.


"Halo, dengan dokter Boyke di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara ramah dari ujung telepon sana.


Sedikit panik, aku langsung menjawab, "Halo, dok. Ini Alya. Teman sa—"


"Alya mana, ya? Alya Rohali yang artis terkenal itu?"


"Bukan, dok!" seruku dengan keras. Sampai laju kendaraan yang kutumpangi berhenti sejenak. "Ada apa, Mas?" tanyaku pada sopir. Heran.


Sambil mengusap dada, sopir menjawab, "Maaf, Mbak. Gak sengaja nginjek pedal rem. Saya kaget barusan." Kemudian kendaraan lanjut berjalan.


Kutarik napas panjang. Membuang rasa kesal.


Dari ponsel terdengar suara jawaban, "Gak ada apa-apa, Bu. Saya hanya bertanya. Dikira ini Alya Rohali. Hehehe. Eh, tapi ... jangan panggil saya 'Mas', ya. Malu. Saya udah gak muda lagi. Hehehe."


"Tadi aku bicara sama Mas sopir, dok. Bukan dengan Anda!"


"Oh, salah, ya? Maaf," ujar dokter Boyke. "Ini dengan Bu Alya mana, ya?"


Sekali lagi kutarik napas dalam-dalam. Ini hari yang menyebalkan. Terantuk pintu kantor, ditertawakan Tante Cassandra dan Om Bram, Bi Mamas, dan sekarang dokter Boyke tanpa tambahan Dian Nugraha.


"Aku keluarganya Om eh ... Pak Bram."


Dokter Boyke langsung membalas, "Oh, Pak Bramanditya. Ada apalagi dengan Della, Bu?"


"Dokter sudah tahu?" tanyaku heran.


"Della memang salah satu pasien saya, Bu. Dia sedang menjalani berobat jalan. Sakitnya kambuh, Bu?" Terdengar suara dokter itu terkejut.


"Della pingsan di rumah, dok!"


"Ya, Tuhan!" seru dokter Boyke dengan suara dengkusan napas menusuk-nusuk lubang speker ponsel. "Ya, sudah. Saya akan segera ke sana secepatnya."


"Iya, cepetan, dok!"


'Aamiin,' ucapku dalam hati sambil tersenyum semringah.


"Ya, aku ... istrinya. Nyonya Bram!" jawabku berbinar-binar. "Ibu Alya Bramanditya."


"Baik, Bu Bram. Saya segera ke sana secepatnya," balas dokter Boyke lalu menutup teleponnya.


Aku tersenyum-senyum sendiri. 'Ibu Bram? Ya, Tuhan! Panggilan yang sangat indah sekali terdengar .... " Mataku menatap ke depan. Membayangkan yang duduk di belakang kemudi itu Om Bram. Sementara di sampingnya adalah aku. Bercengkerama, bersenda gurau, mengobrol romantis, berdua menuju puncak ....


"Maaf, Mbak," kata sopir tiba-tiba, seraya mengintipku melalui mirror tengah. "Saya sudah berumah tangga. Istri juga lagi hamil besar di rumah."


Aku mengerutkan kening. "Maksud Mas, apa?"


Berusaha menghindari tatapanku melalui cermin, sopir tersebut menjawab, "Saya lihat, dari tadi Mbak ini senyum-senyum terus sama saya. Jadi gak enak hati sayanya, Mbak. Maaf .... "


Dih, 'geer' dia!


"Mas mau aku kasih bintang satu, ndak?" tanyaku mengancam. Sopir terkejut, "Wah, jangan, Mbak. Nanti berpengaruh sama kredibilitas akun transportasi online saya. Maafin saya, ya, Mbak. Saya khilaf."


"Makanya jangan sok tahu!" kataku sengit. "Mas kenal Pak Bram, ndak?"


Sopir berpikir sejenak. "Pak Bram yang mana, ya? Saya gak kenal, Mbak."


Aku tersenyum kambing. "Itu ... nama laki-laki yang akan menjadi suamiku kelak."


"Oh, begitu? Semoga berjodoh dan cepat menikah, ya, Mbak."


Kembali tersenyum penuh harapan. "Terima kasih," balasku. "Laki-laki itu yang sedang kubayangkan. Bukan Anda, Mas."


Sopir mengangguk-angguk. "Mohon maaf, Mbak. Saya salah paham. Saya pikir, Mbak ini ngajak saya senyum. Hehe."


Aku melengos.


Sambung kembali sang sopir, "Pak Bram pasti laki-laki yang hebat dan paling beruntung, ya, Mbak."


"Maksud Anda, Mas?"


"Pak Bram beruntung, bisa mendapatkan cinta Mbak yang cantik ini."

__ADS_1


Hhmmm, tentu. Om Bram pernah berkata begitu. Aku memang cantik dan menarik. Bahkan, lebih cantik dari Tante Cassandra, 'kan? Kekuranganku hanya pada warna kulit yang eksotis. Namun dibanding itu, lebih unggul dari perempuan berumur yang berkulit putih dan terawat tersebut, yaitu ... aku masih perawan dan dia janda.


Janda?


Ya, janda beranak satu yang katanya akrab dengan Della. Apakah seumuran dengan sahabatku itu? Seorang anak spesial yang terlahir dari keturunan bapaknya yang orang luar negeri. Sebentar, ini seperti mengingatkanku pada seseorang. Siapa, ya?


Selama ini Della tak pernah kulihat memiliki teman dekat. Baik di kampus maupun lingkungan rumah. Hanya ada aku. Selebihnya ... ya, Tuhan! Apakah anak muda itu? Andre. Ya, dia. Walaupun terkesan memusuhi, sepertinya sudah lama Della mengenal Andre.


Aku pikir, secara diam-diam Della menyukai Andre. Hanya saja tak pernah berani memperlihatkannya. Atau mungkin juga karena dia tahu papahnya, Om Bram, menjalin hubungan dengan Cassandra. Jadi, benarkah janda itu ibunya si Andre? Apalagi jika mengingat ucapan Bi Mamas belum lama ini, anak bule itu sering datang ke rumah Om Bram. Sekedar menumpang makan? Ah, pasti lebih dari itu.


Akan tetapi, mengapa sikap Om Bram waktu pertama kali bertemu Andre seolah-olah baru mengenal anak muda tersebut? Aneh. Ada drama apa di balik semua itu?


Memang belum lama aku tinggal bersama keluarga Om Bram. Wajar saja jika masih banyak yang belum diketahui, atas pertanyaan-pertanyaanku tadi. Benar-benar keluarga aneh. Semisterius sikap laki-laki yang kucinta selama ini. Bramanditya Satriadireja.


Tak terasa, perjalananku pun tiba. Lekas keluar dari dalam kendaraan. Tak lupa membayar lebih, ongkos transportasi online untuk si Mas sopir.


"Banyak banget, Mbak," kata sopir sambil menghitung uang ongkos yang kuberikan.


"Terima saja, Mas. Itu bonus karena Anda sudah mendoakanku berjodoh dengan Pak Bram," ujarku semringah. "Sekaligus reward atas penilaian Mas terkait kecantikanku."


"Wah, terima kasih banget, Mbak." Sopir itu senang karena mendapatkan rejeki nomplok. "Tapi jangan kasih bintang satu, ya, Mbak. Please."


"Tenang saja, Mas. Kalaupun semua bintang di langit itu bisa kugapai, akan kuberikan semuanya sama Anda. Hihihi," kataku kembali seraya bergegas masuk ke dalam rumah.


Namun, kondisi di dalam kosong. Della dan Bi Mamas tak ada di kamar. Ke mana mereka? Mobil yang biasa digunakan Della masih terparkir di garasi.


"Bi Mamas di mana?" tanyaku melalui sambungan telepon. Terdengar raungan sirine di antara suara isak perempuan itu di sana. "Non Della di bawa ke rumah sakit, Non. Ini, saya masih di perjalanan," jawab Bi Mamas disertai tangisan.


"Di bawa ke rumah sakit?" Aku terkejut. "Rumah sakit mana, Bi?"


Bi Mamas menyebut sebuah nama, kemudian lanjut bercerita, "Tadi sempat diperiksa sama dokter Boyke. Lalu, dirujuk ke rumah sakit itu."


Ya, Tuhan! Apa yang terjadi dengan Della? Tadi pagi, kupikir demam biasa. Kalau sampai di bawa ke rumah sakit, separah apakah sakitnya?


Selama ini Della terlihat sehat-sehat saja. Tak ada tanda-tanda dia sedang menjalani rawat jalan dengan dokter Boyke. Misteri apalagi ini?


Tak menunggu waktu lama, aku segera menyusul mereka. Tak peduli walau badan terasa lengket, berbau, serta perut perih karena lapar. Tak lupa juga menghubungi Om Bram di kantor. Laki-laki itu juga terdengar panik.


"Ya, aku sudah tahu kalau Della di bawa ke rumah sakit. Tadi dokter Boyke sendiri yang meneleponku," kata Om Bram begitu menerima telepon dariku. "Aku lagi di jalan menuju sana, Sayang. Kamu sendiri, bagaimana?"


"Aku baru datang ke rumah. Tadi Bi Mamas—"


"Ya, tadi dokter Boyke juga cerita. Kamu yang menghubungi dia, 'kan, Alya sayang?"


"Iya, Om."


"Terima kasih, ya, Sayang. Kamu sudah melakukan hal yang tepat. Sekarang menuju rumah sakit juga, 'kan?"


"Iya, Om. Ini masih di jalan."


"Ya, sudah. Kita ketemu di sana nanti, ya?"


"Iya, Om sayang. Eh .... "


"Muah!"


"Muah juga. Eh?"


DUG! DUG! DUG!


Tiba-tiba jantungku bertalu-talu. Ah, mengapa di saat-saat seperti ini harus memikirkan masalah hati, sih? Fokus ke Della, dong! Dia sedang membutuhkan perhatian penuh.


Ya, benar. Kesampingkan dulu masalah kompetisi percintaan. Itu bisa kuurus usai perkara ini. Setidaknya bisa menyelam sambil minum air, 'kan? Mengurus Della, sekaligus menarik perhatian Om Bram. Harus unjuk diri bahwa aku pun bisa merawat calon anak tiri. Tak akan kalah kualitas dengan perempuan bernama Cassandra itu. Apalagi sisa pertandingan kurang dari dua pekan lagi.


Hhmmm, aku yang harus tampil sebagai juara. Tanpa medali, tapi berhak mendapatkan cinta Om Bram seutuhnya.


"Uhuk! Uhuk!" Suara batuk Bi Mamas yang tidur di kursi panjang, membuyarkan lamunanku.


Kembali pandanganku terfokus pada sosok Della. Rasa bersalah ini masih menggayuti hati. Bagaimana tidak? Seandainya tadi pagi memaksa gadis itu berobat, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.


Kini dia terbaring lemah di sana. Bernapas dengan bantuan oksigen. Terpejam rapat. Entah tengah tidur atau tak sadarkan diri. Aku tak tahu.


Kutarik kain yang tadi digunakan untuk menyelimuti oleh Bi Mamas. Diperhatikan, rupanya sebuah jas yang biasa dikenakan Om Bram kala kerja di kantor. Jadi, orangnya masih di rumah sakit, 'kan? Tapi di mana dia? Sejak bertemu awal tadi, Om Bram selalu sibuk dengan ponselnya. Mungkin mengurus agenda pekerjaan yang terbengkalai gara-gara kejadian ini.


Perlahan bangkit dari duduk. Berjalan keluar dari ruang perawatan. Saat itulah, kulihat dua sosok manusia sedang duduk berdampingan di kursi panjang. Tak lain, mereka adalah Om Bram dan Cassandra.


Hhmmm, perempuan itu rupanya ikut datang juga. Mau apa? Pasti sedang melakukan pencitraan pada laki-laki di sampingnya. Huh! Seketika dada ini bergemuruh hebat menahan luapan rasa cemburu.


Dengan kepal di tangan dan gemeretak gigi, kuhampiri mereka berdua. Fokus mata ini menatap tajam pada sosok Cassandra!


**BERSAMBUNG

__ADS_1


*Sukabumi, 13 Juni 2020***


__ADS_2