
Andre mendekatkan wajah, dengan bibir bergetar. Semakin mendekat dan terus mendekat.
"Andre?" Aku mundur menjauh. Namun anak muda itu terus memburu, lalu bisiknya, "Kamu ... mencintai Pak Bram, 'kan, Lya?"
Aku diam terpaku. Dada ini kembali menyesak. Perih sekali rasanya. Hanya tangis yang bisa menjawab.
"Ya, ampun ... Alya! Kamu benar jatuh cinta sama laki-laki itu." Andre mendekapku, mengusap punggung, serta berusaha menenangkan. "Kamu tak perlu menjawab, Lya. Dari tangisanmu, aku sudah memahami semua. Kamu memang mencintai dia."
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingin menangis semakin keras. Bahkan bila perlu, menggelosoh di tanah, berguling-guling sedemikian rupa, untuk menggambarkan betapa sangat menderitanya aku sekarang.
"Andre!" seruku menumpahkan ganjalan yang selama ini di tahan, dalam pelukan anak muda tersebut. "Aku ndak bisa melupakannya, Ndre. Aku kecewa dia lebih memilih perempuan lain ketimbang aku. Padahal, semua saran Om Bram sudah kulakukan semua." Tangisku semakin menjadi.
"Saran?" Andre bertanya heran, "saran apaan?" Dia melepaskan pelukan. Menatapku tajam dan penasaran.
"Aku ndak boleh makan makanan berlemak, goreng-gorengan, sea food, dan lain-lain. Kata Om Bram, aku harus bisa menjaga tubuh ideal," tuturku di antara tangis. Andre tersenyum kecut dengan bola mata memutar ke atas. "Aku pikir, Om Bram menyukaiku. Bahkan .... "
"Apalagi?" Andre kembali menatapku tajam. Kepo, pastinya. "Bahkan apalagi, Lya?"
Sedikit ragu kuucapkan, lalu setengah berbisik berkata, "Om Bram pernah .... "
"Pernah apaan, sih, Lya?" Andre makin penasaran.
Tak langsung menjawab, kusapu pandang keadaan sekeliling. Khawatir ada mata dan telinga lain, tengah mengintai. Terutama anak di bawah umur.
"Lihat apaan, sih, kamu?" Andre turut memperhatikan situasi sekitar. "Tadi kamu ngomong apa? Om Bram pernah ngapain sama kamu, Lya?"
Aku menggeleng. "Ndak, Ndre. Aku ... aku .... "
Mata Andre membesar dengan mulut menganga. "Kamu dan Pak Bram pernah .... " Anak muda itu mengangkat kedua lengan, menelungkupkan telapak tangan secara berhadapan, lalu mengangkat-turunkan beberapa kali.
"Apa itu? Maksudmu apa, Ndre?" Aku tak paham. Anak muda itu mendecak kesal.
"Begini!" ujar Andre sambil memperlihatkan jepitan jempol, di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Begitu itu ... maksudnya apa, ya?" Aku berusaha menerjemahkan kode yang diperagakan Andre. Masih diselingi isak tangis.
"O, shit! What the hell am I doing?" Dia merutuk sendiri.
"Ndre, I don't understand what you mean! Would you mind telling me the truth, please?" Kesal juga melihat kelakuan anak muda itu.
Andre mendekatkan muka. Spontan kuhindari. Kurang ajar! Di saat bersedih begini, masih sempat-sempatnya dia mengambil keuntungan untuk menciumku.
"Pak Bram ... pernah menidurimu, Lya?" bisik Andre akhirnya. Nyaris mendaratkan hidungnya yang panjang di pipiku. Untungnya tidak. Namun efek lain, beberapa cipratan kuah mulut anak muda mengenai wajahku.
"Ih ... !!!" Kuusap dengan punggung tangan, tanpa berminat untuk membauinya. "Kamu pikir aku ini perempuan apa? Aku ini manusia, Ndre. Bukan kasur!" ujarku lalu kembali kejer.
Andre mengulum senyum. Kedua pipinya sampai menggelembung mirip leher kodok tepian sungai. Mungkin sedang menahan tawa atau bagaimana. Hanya satu kata bagiku, 'Bodo amat!'
"Maaf, kupikir kayak begitu, Lya." Andre mengusap lenganku. "Lalu, apa yang pernah Pak Bram lakukan sama kamu?"
Aku tak menjawab. Tangisku masih tetap bertahan.
"Maaf, kalau memang kamu gak mau menjawab, gak usah dijawab. Aku paham, kok, kamu—"
"Kamu ndak punya perasaan, Andre!"
"Aku? Oh, maafkan aku, Lya. Maaf .... "
"Aku lagi bersedih! Setidaknya suara kamu jangan membentak-bentak begitu! Aku, kan, makin sedih, tahu?"
Andre menggigit bibir sendiri, disertai dengkus napas panjang. Lubang hidungnya sampai kembang kempis. Kesal? Mungkin. Entah karena sikapku atau pertanyaannya tak kunjung dijawab.
"Ya, sudah. Aku sudah minta maaf," kata Andre seraya menarikku ke dalam rumah. "Sekarang, kita ngobrol di dalam. Itu lebih baik, daripada di luar dilihat tetangga. Setidaknya di kulkas ada air dingin, 'kan?"
"Kamu haus?"
Andre tersenyum tawar. "Ehehehe ... ada es batu juga, 'kan? Ehehehe ... mendadak aku ngidam. Pengen ngunyah es balok juga, Lya."
"Manusia aneh! Es, kok, dimakan?" kataku sambil terisak.
"Ehehe ... syukurlah. Masih normal rupanya." Kembali Andre mengekeh.
"Kamu?"
"Iya, pastinya aku, dong. Bukan kamu, Lya. Ehehehe." Anak muda itu mengusap wajah beberapa kali, kemudian lanjut melempar senyum kambing padaku.
Aku mencari kunci rumah sebentar di dalam tas. Begitu memutar knob, daun pintu langsung terbuka. "Lho ... kok, gak dikunci?"
"Yang bener?" tanya Andre sambil mengintip ke dalam rumah. "Wah, jangan-jangan .... "
"Jangan-jangan, apa, Ndre?" aku ikut bertanya. "Kamu periksa, deh. Aku takut."
"Sama. Aku juga," balas Andre bergidik.
"Ih, jadi laki-laki, kok, penakut?"
"Aku takut hantu, Lya."
"Kamu ini. Bule, kok, takut begituan."
Andre mengekeh. "Aku memang blasteran Eropa, Lya. Tapi jiwaku gen lokal."
__ADS_1
"Hish!"
Masih sedikit menyisakan isak, kuberanikan masuk perlahan ke dalam rumah. Diikuti oleh Andre. Menguntitku dari belakang. "Bokongmu bagus juga, Lya. Semok abis!"
DUK!
Kuangkat tumitku dengan cepat. Tepat mengenai tulang kering anak muda di belakang.
"Uh!" jerit Andre.
"Jangan macam-macam, Ndre! Mau kuhantam lebih atas lagi?" ancamku. Andre mundur beberapa langkah, seraya berseru, "Jangan! Itu sangat mengilukan jenis kaumku!"
Aku tak mau membahas lebih lanjut. Fokus menyelidik situasi dalam rumah. Mungkin berantakan, hancur, atau bagaimana. Nyatanya tidak. Semua masih tertata rapi dan bersih.
"Non Alya," kata satu suara mengejutkan. Serentak kami menoleh ke arah asal panggilan barusan datang.
"Astaga! Bi Mamas?" seruku terperanjat.
Wanita bertumbuh pendek dan gemuk itu muncul dari arah kamar Om Bram. "Iya, ini saya, Non. Hehehe."
Aku mengintip kamar Om Bram yang terbuka. "Apa yang Bi Mamas lakukan di dalam kamar Om Bram?"
"Habis beres-beres dan bersih-bersih, Non," jawab Bi Mamas. "Tadi pagi Non Della yang nyuruh."
Hhmmm, kamar itu pernah kumasuki malam-malam. Tertidur di sana bersama pemiliknya. Namun, hanya dalam mimpi. Sayang sekali. Padahal berharap sekali bisa menemani Om Bram sepanjang waktu di sana. Bukan perempuan lain yang ....
Ah, terasa perih kembali hati ini. Impianku diambang kehampaan. Laki-laki itu memang tercipta bukan untukku.
"Non Alya habis menangis?" tanya Bi Mamas sambil memperhatikan wajahku. "Ah, ndak!" Buru-buru aku mengucek-ucek mata. "Kelilipan, mungkin. Iya, 'kan, Ndre? Coba, kamu tiupin mataku, dong," pintaku pada Andre. Anak muda itu melongo.
"Ndre! Tiupin mataku!" kataku mengulang.
Serta merta Andre menurut. "Fuh! Fuh!"
Hhmmm, laki-laki bule itu kembali menyemburkan kuah mulutnya. Sialan!
"Terima kasih."
Bi Mamas menyipitkan mata, begitu melihatku balik badan dan tersenyum padanya.
"Kalau Non Alya mau makan, itu sudah saya siapin di meja, Non. Soalnya, tadi Non Della juga nelepon, kalo Non Alya akan pulang lebih awal," tutur Bi Mamas. "Ada semur jengkol juga, kesukaan Non Alya."
Andre terkekeh. Mungkin teringat kejadian makan-makan kemarin. Aku mendelik. Langsung membuat anak muda itu terdiam kaku.
"Terima kasih, Bi. Padahal ndak usah repot-repot. Aku bisa masak sendiri, kok. Biasanya begitu, 'kan?"
"Gak apa-apa, Non. Sekali-sekali, nyobain masakan saya. Sama enaknya, kok. Hehehe," ujar Bi Mamas. Mata perempuan itu memandangi Andre yang berdiri di belakangku. "Mas Andre juga sudah sering makan masakan saya, lho."
Apa? Berarti Andre juga sering makan di rumah Om Bram? Sejak kapan? Selama tinggal di rumah ini, aku tak pernah melihat dia ikut berkumpul dengan keluarga Om Bram. Terkecuali, saat kejadian kemarin. Aneh!
"Enggak, Lya. Maksud Bi Mamas ... mungkin sering ikut nyicip bekal makanan yang dibawa Della ke kampus. Itu hasil masak Bi Mamas, 'kan?" Mata Andre seperti meminta Bi Mamas untuk membenarkan ucapannya.
"Eh, iya ... betul, Non. M-makdus eh, m-maksud s-saya juga b-begi-tu. Hehe. Aduh!" Bi Mamas menepuk bibirnya sendiri. Mendadak ikut gagap seperti Andre.
Ini ada apa, sih? Kedua orang ini seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Setahuku, Della ndak pernah bawa bekal makanan ke kampus. Dia selalu makan di kantin," ujarku menyelidik, "apakah ada yang aku lewatkan mengenai kisah keluarga Om Bram?"
Bi Mamas buru-buru menjawab, "Enggak, Non. Maksudnya, itu dulu. Sebelum Non Alya tinggal di sini. Non Della memang sering membawa bekal hasil masakan saya. Bukan begitu, Mas Andre?"
"Iya, Bi. Betul betul betul!" jawab Andre menirukan kebiasaan dua anak botak yang sering tayang di TV.
Ini lagi. Mengapa pula harus minta dukungan si Andre? Dia, kan, bukan bagian dari keluarga Om Bram. Sejauh itu Andre mengenal keluarga ini? Semakin aneh. PR-ku bertambah. Mungkin ada banyak hal yang tak kuketahui di sini.
"Maaf, Non. Saya mau permisi lanjutin tugas. Masih ada pekerjaan lain di ruang atas." Bi Mamas bergegas pamit, begitu melihatku berpikir.
"Sebentar, Bi. Ada yang mau aku tanyakan perihal—"
Buru-buru Andre memotong, "Sudahlah, Lya. Kita makan dulu, yuk. Kasihan Bi Mamas masih banyak kerjaan."
"Tapi, Ndre .... "
"Makan, yuk. Aku juga ingin nyoba makanan kesukaan kamu. Apa tadi namanya ... sendal jengkol, ya?" Andre menarikku ke ruang makan.
Tak lucu! Gaya humor Andre sama sekali tak menarik. Aku lebih suka menginterogasi Bi Mamas, ketimbang mengeksekusi penganan bau tapi nikmat itu.
Bau tapi nikmat? Hhmmm.
Bi Mamas tampak tergesa-gesa melangkah. Menaiki anak tangga sambil sesekali melirik ke arahku.
"Yang mana yang namanya jengkol, Lya?" tanya Andre begitu tiba di depan meja makan.
"Kamu coba saja satu-satu. Kalo ada yang bau, itu namanya jengkol," jawabku terpaksa ikut duduk di samping anak muda tersebut.
"Kamu makan juga, ya, Lya. Aku lapar, nih." Andre mengekeh. "Lumayan buat menghemat biaya kos. Hari ini aku makan gratisan. Hehe."
Aku belum bernafsu untuk makan. Walaupun onggokan jengkol di atas piring itu begitu menggoda. Bahkan Andre membantu menyiapkan nasi buatku.
"Makan, ya, Lya. Yuk, ah."
Aku hanya memandangi kepulan uap nasi putih di atas piring. Lapar, sih. Namun hentakan rasa keingintahuan akan misteri keluarga Om Bram, masih membara. Apalagi dengan sosok di depan itu. Yakin sekali, dia bukan bule kere yang sering berharap makan gratis. Gaya hidupnya tak sebanding dengan kondisi yang kerap dia akui. Anak kosan?
__ADS_1
Namun masih terlalu dini untuk menyelidiki. Andre pasti tak akan sepenuhnya jujur. Harus mencari tahu sendiri. Jika perlu, kuancam Bi Mamas dengan moncong senapan.
"Kamu masih memikirkan Pak Bram?"
Aku menoleh. Andre sedang asyik menyantap hidangan. "Eehhmmm, apa, Ndre?"
"Beneran kamu jatuh cinta sama Pak Bram?" tanya Andre mengulang. Aku mendengkus.
"Mengapa? Pertanyaan itu kamu ulang-ulang terus. Tertarik untuk mengetahui?"
Andre menghentikan makannya. "Lya, aku juga suka sama kamu. Wajar, dong, kalo aku juga ingin tahu," jawab Andre. "Setidaknya aku ingin tahu, alasan kamu tak pernah mau menerima aku sebagai pacarmu itu, apa?"
"Karena aku ndak pernah menginginkan kamu jadi pacarku, Ndre. Aku ingin kita hanya berteman," kataku sambil melirik ke arah semur jengkol.
"Itu bukan jawaban, Lya. Kamu hanya beralasan yang dibuat-buat." Andre mendengkus kesal. "Memang karena hatimu tertarik pada Pak Bram, 'kan?"
Aku tak menjawab. Bibirku bergetar. Menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak.
Bram! Mendengar nama itu, jadi ingin menangis. Perih.
"Aku memang tergila-gila padanya! Puas kamu sekarang, Ndre? Aku mencintai Om Bram sepenuh hatiku. Tak ada laki-laki lain yang sanggup menggetarkan seluruh isi tubuh ini, kecuali dia! Bramanditya!" seruku dengan napas tersengal.
BRANG! GOMBENGBRANG!
Ya, Tuhan! Suara apa itu?
"Bi Mamas! Suara apa itu?" teriakku.
"Maaf, Non. Panci jatuh!" jawab Bi Mamas dari lantai atas.
Panci? Buat apa Bi Mamas membawa-bawa panci ke atas? Dapur, kan, ada di lantai bawah. Jangan-jangan perempuan itu turut mendengarkan pembicaraan kami? Waduh, gawat!
"Lya!" panggil Andre. Wajah anak muda itu terlihat serius sekarang.
"Apalagi, Ndre?" Tatapku padanya. "Aku sudah jujur mengakui. Mau kamu apalagi sekarang?"
"Aku tahu alasan kamu tak ingin mengungkapkan perasaan kamu pada Pak Bram .... "
"Ndre, aku ini perempuan. Ndak mungkin aku—"
"Bukan itu kendala utamanya," ucap Andre memotong. Tatap matanya semakin tajam. "Karena Della, 'kan?"
"Ndre, aku sudah—"
"Jawab saja, Lya. Della yang menjadi penghalangmu?"
"Ndre, aku .... "
"Jawab, Lya!"
"Iya! Karena Della juga sahabatku! Sekaligus papah dari laki-laki yang kucintai!" Tangisku kembali meledak. Kali ini lebih keras. Seakan setengah dari beban yang kutahan, kini telah membuncah. Lega.
Andre menarik bahuku. Menjatuhkan kepala ini di dadanya. Kemudian menumpahkan sisa isak yang masih ada. "Kasihan sekali kau, Lya. Aku sendiri tak tahu seberapa besar cinta yang kumiliki padamu. Tapi melihat kondisimu, aku bisa merasakan ... begitu besar arti seorang laki-laki yang kamu harapkan itu. Beruntung sekali Pak Bram jika sampai memilikimu, Lya."
'Ah, kamu ini, Ndre. Bisa saja, deh, membuat hatiku semakin melayang,' gumamku dalam hati.
"Aku sangat mencintainya, Ndre. Sangat berharap dia menjadi pasangan hidupku. Tapi aku tak ingin melukai Della .... " kataku seraya terisak di dada Andre.
"Aku bisa membantu mewujudkan impianmu," bisik Andre sangat perlahan. Seakan khawatir didengar oleh sosok lain, terkecuali aku.
"Apa, Ndre?" Aku melepas diri dari rangkulan anak muda itu.
"Aku akan membantumu mendapatkan Pak Bram," bisik Andre kembali.
"Betulkah itu?"
"Iya, Lya. Aku serius."
"Bagaimana caranya? Sedangkan sebentar lagi dia akan segera menikah dengan Tante Cassandra," kataku sambil mengendus-endus, lalu menahan napas sejenak.
Andre tersenyum kecut. "Tak masalah. Pokoknya, aku ingin melihat kamu bahagia, Lya. Apa pun caranya."
"Sungguh? Bagaimana dengan kamu sendiri, Andre?" Tatapku pada bola mata kebiruan itu. Kembali dia tersenyum, lalu menjawab, "Tak usah dipikirkan. Aku akan mencari bahagia melalui jalanku sendiri. Salah satunya, melihat kamu meraih impianmu, Alya."
"Oh, Andre. Aku masih belum bisa percaya."
"Terserah kamu, Lya. Aku ingin melihatmu menjadi Alya yang dulu."
"Ooohhh, Ndre."
"Yaaahhh ... Alya."
"Ndre."
"Apa?"
"Kamu jadi makan jengkol, 'kan?"
"Mungkin. Aku tak tahu."
"Napasmu bau jengkol, Ndre." Aku segera menjauh dan melepas napas yang sedari tadi ditahan.
__ADS_1
"Masa, sih? Haaaahhh!" Andre membaui napasnya sendiri. Tak lama dia menyeringai, dengan bola mata terangkat ke atas. Mulut menganga dan duduk dengan tubuh melemah.
BERSAMBUNG