
BUCIN (33)
Penulis : Daoed Soelaeman
Della tengah duduk santai sambil memainkan ponsel, ditemani Bi Mamas yang sibuk menyuapi gadis itu, ketika kumasuki ruang perawatan. Sudah ada Om Bram juga di dalam sana. Berselonjor elok di atas kursi panjang, memperhatikan kedua perempuan tersebut dengan saksama.
"Hai, semuanya," sapaku ringan tanpa ekspresi sama sekali.
"Hai, Lya," balas Della seraya mengalihkan pandangan dari layar smartphone padaku. "Tumben agak malam. Darimana saja, Cuy?"
Bi Mamas melempar senyum simpul tanpa ikut bersuara.
Aku mendesah sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Della. "Ada keperluan dulu tadi. Biasa ... urusan kuliah," kataku tanpa ingin melirik kembali sosok laki-laki berbulu lebat di pojok sana. "Bagaimana kondisi kesehatanmu sekarang, Del? Sudah agak baikan?"
Della mengangguk. Jawabnya, "Lumayan. Cuma perlu istirahat beberapa hari ke depan buat proses pemulihan. Mungkin gak akan lama, udah dibolehin pulang."
"Ooohh, syukurlah." Aku manggut-manggut sejenak. Kemudian mengambil alih tugas Bi Mamas yang masih menyuapi Della dengan makanan khas rumah sakit. Nasi lembek dicampur kuah tawar dan beberapa potong sayuran. "Biar sama aku saja, Bi." Perempuan setengah baya itu mengalah.
"Gue udah kenyang, Cuy," kata Della menolak suapanku.
"Sedikit lagi, Del. Biar kamu cepat sembuh," sahutku memaksa.
Ingin rasanya kusumpalkan sekalian dengan piringnya ke mulut gadis itu. Untuk membalas kecewa ini atas sikap Della yang telah membodohiku selama ini. Terutama pada sosok menyebakan di atas kursi panjang itu. Tukang bohong dan penebar harapan palsu.
"Kamu sudah makan belum, Lya?" Tiba-tiba terdengar suara berat dan serak di sudut sana. Aku diam. Pura-pura tidak mendengar dan lebih ingin fokus berbaik hati pada Della.
"Dikit lagi, ya, Del. Ini sudah hampir habis, kok," tandasku sembari menyodorkan sendok berisi nasi luber ke mulut Della. Gadis itu tetap menolak. "Gue bilang juga udah kenyang, Cuy!" sahutnya diiringi gelengan kepala.
"Biar kamu cepat sehat kembali, Del!" seruku kesal.
"Kita nyari makanan di luar, yuk, Lya." Suara Om Bram kembali terdengar. Aku tetap tak bergeming. Pura-pura memaksa Della untuk membuka mulutnya lebar-lebar.
"Papah tuh ngajak elu," ujar Della. "Kok, malah maksa gue, sih?"
"Lya .... " panggil Om Bram.
"Habisin dulu makanannya, Del! Jangan keras kepala, deh!" kataku semakin keras. Bi Mamas yang berada di samping sampai melongo.
"Biar sama saya, deh, Non," sela Bi Mamas. "Non Alya dipanggil sama Bapak, tuh."
"Tahu, nih, si Lya!" timpal Della disertai bibir mengeriting.
Tak bisa lagi mengontrol gemuruh di dalam hati, aku berseru nyaring. "Aku hanya ingin kamu sehat lagi, Della! Jangan pikirin tentang aku!" Piring makanan kuhempaskan di sisi tubuh Della, lalu lanjut berkata, "Aku memang tak pantas mendapat perhatian dari siapa pun!"
Bi Mamas dan Della sampai tersentak. Kaget. Ujar gadis itu, "Cuy ... elu kenapa?" Perlahan dia meraih jemariku.
"Non Alya .... " timpal Bi Mamas seraya memegang lenganku.
Terdengar suara langkah kaki berat menghampiri. disusul usapan lembut di pundakku. "Alya, Sayang. Kamu kenapa?"
"Iihh!" Kutepis jemarinya dari pundak ini.
Aku benar-benar kesal dan muak dengan segala perlakuan laki-laki itu. Semuanya hanya sandiwara belaka. Dusta berkepanjangan tanpa akhir hingga kini.
Della menatapku dalam-dalam, lalu beralih memandang Om Bram dengan raut heran. Tanya gadis itu, "Ada apa, sih, sebenarnya antara Papah dengan Alya?"
Papah?
Ya, Tuhan!
Segera kukuasai emosi ini. Tak sadar. Kelakuan konyolku itu, khawatir akan berakibat fatal pada kondisi kesehatan Della. Jangan sampai dia tahu tentang perasaanku yang sebenarnya terhadap Om Bram. Berusaha sabar terlebih dahulu, sampai menemukan waktu yang tepat untuk mencakar-cakar dada bidang penuh bulu tersebut.
"Jangan sentuh aku, Andre! Lepaskan!" seruku tiba-tiba.
Della makin melongo. "Andre?"
"Ini saya, Alya. Bram. Papah kamu sendiri .... " ujar Om Bram terpatah-patah. Entah bingung atau mungkin juga kagok menyebut dirinya sebagai figur orang tuaku. Yang pasti, aku harus lekas melengkapi aksi pura-pura ini dengan ....
"Om Bram? Ya, Tuhan! Maafkan Alya, Om .... " Aku menghambur peluk padanya. Mendekap erat tubuh tinggi besar itu, sembari menjatuhkan kepala di antara rimbunan bulu-bulu dada laki-laki tersebut. Lumayan. Kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali. Walau hati masih dipenuhi rasa kesal, nyatanya tak bisa dipungkiri, berada dalam posisi sekarang ini mampu meluluhlantakkan hentakkan benciku padanya.
"Maafkan Alya, Om," kataku berulang-ulang.
__ADS_1
Yakin sekali. Dengan begini, Della tidak akan menaruh rasa curiga. Apalagi mampu menteksi detak jantungku yang kian menggema. Lumayan. Ditambah durasi panjang sedikit pun, tak masalah.
"I-iya, A-Alya. G-gak apa-apa, k-kok!" sahut Om Bram gugup. "Eh, k-kamu kenapa, s-sih? Eh!"
Della turut menimpali. "Iya, Cuy? Kenapa, sih, lu? Ada masalah sama si Andre?"
Aku tak ingin menjawab dulu. Hanya berharap sedikit. Biarkan aku dalam posisi ini, sebentar saja. Ya, sebentar. Lama juga tidak apa-apa.
"Alya .... " panggil Om Bram seraya berusaha melepaskan pelukanku. "Lepasin dulu pelukannya, Sayang."
"Hah?" Aku mengangkat wajah. Menatap bola mata kecoklatan dengan bulu lentik menghiasi tepian kelopak itu. "Apa, Om?"
Senyum laki-laki itu menyeruak indah. Menggerakkan daging pipinya yang dipenuhi sisa bulu cambang yang kasar. Jika saja kusentuh, pasti akan menyebabkan pembuluh darah di jemari ini pecah berantakan. "Lepasin pelukannya, Alya," jawab Om Bram disertai hembusan napas hangat menerpa wajahku. Terasa seperti hembusan angin ****** beliung yang sanggup menerbangkan raga menuju dekapan alam nirwana.
Sial!
Semakin kubenci, sosok laki-laki yang satu ini malah tambah dirindukan. Ada apakah denganku? Mengapa begitu mudah hatiku luluh begitu dekat dengannya? Padahal jelas sekali, tadi ingin sekali memaki dan mencakar si muka berewok itu. Ternyata malah hilang kendali sesaat. Menyebalkan!
"O, iya. Maaf, Om. Alya lupa," kataku buru-buru menuruti permintaannya. Khawatir malah membuatku semakin tak bisa mengontrol perasaan. Hampir saja ingin mengangkat tumit, agar kami bisa berdiri sejajar. "Maaf .... "
"Eh, busyet! Gue dari tadi nanya enggak juga dijawab! Hello! I'm here, Guys!" seloroh Della di atas pembaringan.
Cepat-cepat aku membalik badan dan bertanya pada gadis itu. "Eh, iya. Nanya apa, Del? A-aku ... a-aku .... "
Della mendengkus kesal. "Percuma! Enggak bakalan connect! Otak elu masih loading!"
"Dih, kenapa? Kok, kamu malah marah-marah?" Kugenggam jemari Della. "Ingat kesehatanmu, Del."
Della mendelik. Mungkin kesal. "Boro-boro cepet sembuh. Ngadepin elu yang sering kayak begini, malah bikin gue tambah parah, Cuy."
"Lho, memangnya salah aku apa, sih, Del? Kamu ... kok, begitu?" Keningku berkerut. Sulit sekali mencerna ucapannya. Ini pasti akibat pelukan tadi yang masih berefek kuat.
"Au, ah! Pake nanya pula? Sebal!" umpat Della semakin kesal rupanya.
"Dih, ditanya ... kok, malah begitu jawabnya? Lambat berpikir kamu, Del."
"Elu yang begitu. Lemot! Malah gue yang disalahin? Payah lu, ah!"
"Hhmmm," gumam Bi Mamas di samping. Aku menoleh. "Ada apa, Bi?" Dia hanya tersenyum kecut tanpa membalas tatapanku.
"Alya .... " panggil Om Bram beberapa saat kemudian.
"Iya, Om."
"Kamu gak apa-apa, 'kan?" tanyanya kembali. Aku menoleh ke arahnya, lalu menggeleng perlahan. "Beneran kamu .... "
Tiba-tiba Della menyela, "Tadi elu manggil nama And--"
Om Bram menyilangkan telunjuknya di bibir sembari menatap gadis tersebut. "Sssttt!"
"Tahu, tuh, Om. Della berisik terus," timpalku pelan.
Om Bram tersenyum. "Ya, sudahlah. Mungkin karena Della kangen sama kamu, Lya."
"Alya juga, Om."
"Huh!" Della mendengkus untuk kesekian kali.
Laki-laki itu menyeringai. "Temani saya nyari makanan, yuk. Kamu pasti belum makan malam, 'kan?"
Ini kesempatanku untuk melabrak si brewok itu. Memaksa dia untuk jujur tentang kebohongannya akan rencana pernikahan dengan Tante Cassandra. Sekaligus ingin mengetahui alasan, mengapa harus ada sandiwara seperti itu di antara kami.
"Belum, Om. Tadi belum sempat," jawabku setelah melirik pada Della dan Bi Mamas yang mesem-mesem. "Bibi kenapa senyum-senyum begitu, sih? Ada yang aneh?"
"Enggak, Non. Saya cuma--"
"Bibi mau pesan makanan apa? Nanti akan saya bawakan, ya." Buru-buru Om Bram memotong ucapan Bi Mamas.
"Eh, iya, Pak. Apa saja, deh," jawab Bi Mamas manggut-manggut.
"Ya, sudah. Yuk, Alya," ajak Om Bram sambil menarik lenganku ke luar ruangan.
__ADS_1
"Del, aku cari makan dulu, ya. Kamu istirahat yang benar. Biar lekas .... "
"Aaahh, sudah. Ayo, kita makan." Om Bram kembali menarikku.
Della memonyongkan bibir sesaat sebelum kami menghilang di balik pintu. Tidak ada percakapan sepanjang kami melangkah. Menyusuri lorong rumah sakit menuju arah luar gedung. Yang menyebalkan, Om Bram melepaskan pegangannya begitu kami berjalan berdampingan. Inginnya, sih, dia tetap menarik tangan ini hingga menemukan tempat makan di seberang jalan sana. Namun itu tak terjadi lagi.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Om Bram begitu kami duduk berhadapan di dalam sebuah rumah makan.
Sayang ... sayang ... huh! Dasar mulut pembohong!
Aku mulai berpikir, kira-kira strategi apa yang akan kulancarkan untuk membongkar sandiwara laki-laki ini. Apakah langsung menyerangnya? Atau membeberkan cerita Tante Cassandra tadi siang? Ah, terlalu dini untuk memulai sebuah misi. Pasti dia memiliki jurus-jurus penangkal untuk mengelak. Setidaknya ada dusta susulan yang akan dia ucapkan. Lalu?
"Alya .... "
"Eh, iya, Om!"
"Kamu mau makan apa?" Om Bram menatapku saksama.
"Oh, itu?" Aku menunduk dalam-dalam. Tak berani berlama-lama beradu pandang dengan pemilik mata kecoklatan itu. Khawatir rencanaku semula, hancur berantakan. "Terserah Om saja. Alya ngidem sama Om."
"Ngidam?"
Aku mengangkat wajah. "Hah?"
"Tadi Alya bilang apa?" Bulatan mata itu seperti akan menelanku utuh dengan penuh pesona. "Ngidam?"
"Ngidem, Om. Bukan ngidam."
"Artinya?"
"Maksud Alya ... samain sama pesanan Om. Idem, Om. Idem."
"Ooohh, idem. Aku pikir ngidam?"
"Ah, Om ini .... " Kembali aku menunduk dengan rasa malu. 'Mau dong ngidamin kamu, Om. Apalagi ngidam gara-gara Om Bram. Hihihi.'
Sesaat kemudian kulit wajah ini mulai terasa memanas. Mudah-mudahan dengan bantuan lampu ruangan yang tidak terlalu terang itu, dia tak melihat ada perubahan warna pipiku.
"Eh, Sayang. Tadi kamu nyebut nama Andre waktu di dalam ruangan. Sebenarnya ada apa, sih, di antara kalian?" Tiba-tiba Om Bram bertanya.
Waduh, pertanyaan itu!
Aku menggeleng. "Endak ada apa-apa, Om."
"Kamu bohong," ujar Om Bram.
'Kamu juga selama ini selalu bohongin aku, Bram! Dasar si Brewok!' umpatku dalam hati.
"Beneran. Endak ada apa-apa. Hanya .... " Sengaja kuhentikan ucapanku agar dia penasaran. Ternyata itu terbukti. Om Bram kembali bertanya. "Hanya apa?"
Aku pura-pura tersenyum.
"Kok, malah senyum-senyum?"
"Dih, Om Bram cemburu, ya?" Aku mencoba menggoda. Mengulur-ulur waktu sambil menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan dadakan.
"Uhuk! Uhuk!" Om Bram terbatuk-batuk. "Kok, malah cemburu? Apa hubungannya?" Dia mengambil lembar daftar menu makanan di dekatnya. Lanjut membaca tanpa mau menatapku.
"Pasti Om Bram mengira aku ada hubungan dengan Andre, 'kan?" Kulancarkan psy-war kedua.
Laki-laki itu mendecak beberapa kali. "B-buat apa cemburu? B-biasa s-saja, tuh."
"Serius?" tanyaku makin semangat untuk menggodanya.
"Lah, iyalah, Alya. Lagian ... aku masih terikat hubungan dengan Cassandra. Alasan apa aku harus cemburu sama kamu?" ujar Om Bram sambil menaikkan lembar daftar menu makanan. Kali ini lebih tinggi dan menutupi wajah dari pandanganku.
Nah, senjataku mengenai sasaran. Dia masih mengakui memiiki hubungan dengan perempuan itu. Padahal aku sudah mengetahui semuanya. Laki-laki ini masih saja terus berbohong!
Hhhmm, lihat saja. Sampai kapan dia akan terus melakukan sandiwara ini. kartu permainanku sudah hampir ditutup. Masih mau mengelak, Bram?
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sukabumi, 26 Agustus 2020