BUCIN (BUDAK CINTA)

BUCIN (BUDAK CINTA)
Bab 25


__ADS_3

BUCIN (25)


Penulis : Daoed Soelaeman


Seperti biasa, pagi-pagi aku sudah bangun. Mandi, rapi-rapi kamar, menyiapkan sarapan, serta tak lupa membuatkan secangkir kopi untuk Om Bram. Awal yang indah dengan semangat menggebu-gebu. Ini mungkin efek kemarin. Apalagi, kalau bukan urusan cinta.


"Terima kasih, Sayang," ucap Om Bram begitu kusuguhkan kopi panas ke hadapannya. Kujawab dengan senyum."Della mana? Tumben pagi ini belum turun?"


"Ada, Om, di kamarnya." Kududuk berhadapan dengan laki-laki itu. Wajah klimis dengan brewok yang dibabat habis. Tak nampak usia sebenarnya. Masih terlihat muda dan gagah. Tentunya cocok sekali jika bersanding denganku.


"Ada apa?" tanya Om Bram begitu mendapatiku tengah asyik memandangnya. Seketika aku tersipu. "Ndak ada apa-apa, Om. Suka saja melihat-lihat Om," jawabku kembali, seraya mencomot roti panggang di piring. Tak lupa mengoleskan sedikit selai rasa stroberi.


Sesekali mata ini balik mencuri-curi pandang. Menikmati sosok yang tengah asyik mengunyah makanan.


"Pagi ini, aku berangkat lebih awal. Ada pekerjaan yang harus segera dituntaskan. Siangnya, meeting dengan beberapa kepala bidang," tutur Om Bram. Usai menyeruput kopi, lanjut berkata, "Kalo Della keluar kamar nanti, sampein, mungkin aku akan pulang agak malam. Skedul hari ini, benar-benar padat."


'Hhmmm, pulang malam? Jadwal padat? Apa bukan karena hendak kencan dengan si Cassandra?' pikirku curiga. 'Apalagi hari pernikahan mereka sudah di ambang pintu. Pasti sudah indehoy (bersenang-senang) terlebih dahulu.'


Terus terang saja, aku belum sepenuhnya percaya dengan omongan laki-laki ini. Dia pernah berumah tangga, dan setidaknya pasti gape (pandai) berbual. Jenis manusia seperti ini memang panjang akal untuk menutupi rahasia, dengan berbagai alasan logis, tapi dusta.


"Hari ini, kalian kuliah, 'kan?" sambung tanya Om Bram seraya bangkit dan merapikan kemejanya. Ingin sekali kubantu, tapi khawatir tiba-tiba Della muncul. Urusan bisa kembali runyam. Apalagi gadis itu tampaknya sudah mencium gelagat tak beres pada sikap kami. Aku dan Om Bram.


Aku mengangguk, menjawab pertanyaan laki-laki itu tadi.


"Kopinya ndak dihabiskan, Om?" Aku melihat sisa setengah, isi gelas bekas Om Bram minum kopi. Dia tersenyum, lalu menjawab, "Sengaja kusisakan untukmu, Sayang. Agar bibirku dan bibirmu bertemu di tepian gelas kopi kita."


Aih, pagi-pagi sudah menggombal. Dasar Om Bram! Akibatnya sudah bisa ditebak. Rona merah segera menjalar menghinggapi seluruh kulit wajah ini.


"Alya pikir, Om sudah bosan minum kopi buatan Alya," kataku dengan debar jantung mulai menggedor seisi dada. "Semoga Om ndak pernah disuguhi kopi campur sitrun, ya."


Om Bram mengekeh geli. "Bisa saja kamu, Cantik," sahutnya. Kali ini disertai ciuman di keningku. "Aku berangkat dulu, ya, Sayang."


"Hati-hati di jalan, Om."


Baru beberapa langkah, dia berhenti. Berbalik badan, lalu berkata, "Satu hal .... " Melihat-lihat sekeliling, terutama lantai atas. " ... kalau sedang berdua seperti ini, jangan panggil aku 'Om', ya. Aku dan kamu saja, biar lebih enak. Atau ... kamu panggil namaku juga, gak masalah."


"Alya malah ingin manggil Om 'Kakanda'," balasku bergurau.


"Jangan! Nanti cerita ini dikira bertema kerajaan, Sayang." Om Bram terkekeh lucu. "Terakhir, ada salam buat kamu."


Om Bram mengerling. "Dari Mbak Aryanti. Beliau gemas dan ingin menggetok kamu, katanya."


Aku tertawa renyah. "Bisa saja Om ini."


"Ya, sudah. Aku berangkat dulu, ya."


Aku mengikutinya hingga depan rumah. Melambaikan tangan begitu Om Bram mulai meninggalkan pekarangan rumah.


Hhmmm, begini mungkin rasanya berumah tangga? Pagi-pagi melayani suami, mengantarnya pergi kerja, kemudian menanti kepulangan kembali. Lalu malamnya ... ah, itu kalau rumah tangga yang normal. Seandainya kepergian dia untuk berbagi dengan istri lain, bagaimana? Cassandra, misalkan. Tentu bukan bahagia yang akan dirasakan, tapi cemburu dan berharap suami tak pernah datang lagi ke rumah maduku.


Ya, ampun! Mengapa sampai sejauh itu berpikir? Belum tentu juga Om Bram mau menikahiku. Bukankah masih ada Della yang menjadi kendala?


Della?


Ya, Tuhan! Aku harus segera membangunkan gadis itu. Setengah berlari menuju kamarnya. lalu mengetuk pintu.


TOK! TOK! TOK!


"Del .... " panggilku.


Hening.


"Del, bangun. Udah pagi, nih."


Samar kudengar sahutan dari dalam. "Masuk aja. Gak dikunci."


Kuputar knop pintu kamar, mendorong, lalu perlahan masuk. Della masih terbaring di tempat tidur. "Del, bangun. Hari ini ada kuliah, lho."

__ADS_1


Della bergerak sebentar. Menarik selimut yang melorot, menutupi sekujur tubuhnya.


"Del, kamu sudah bangun, 'kan?"


"Hhmmm."


"Del?"


"Apaan, sih?"


"Bangun."


Dia tak menjawab. Kutarik selimutnya.


"Apaan, sih, lu?" tanyanya lirih.


"Bangun! Sudah aku bikinin sarapan tuh."


Della menggeliat sebentar. "Gue gak kuliah dulu, deh, Cuy."


"Lho, mengapa?" Aku heran. Tak seperti biasanya.


Della membalikkan tubuh. "Gue gak enak badan."


"Kamu sakit?"


"Cuma gak enak badan saja. Gue pengen tiduran."


Kuraba dahinya. Hangat. "Kamu demam? Kita berobat, yuk. Biarin, deh, aku hari ini ndak kuliah juga."


Della menggeleng. "Jangan. Elu pergi aja sana. Biarin gue istirahat dulu." Wajahnya agak pucat. Benar, dia memang sakit.


"Minum obat, ya. Aku ambilin dulu. Sekalian bawain sarapan."


Della mengangguk.


Tak berapa lama, aku kembali menghampirinya. "Makan dulu. Habis itu minum obat."


"Gue gak nafsu makan, Cuy," ujarnya menolak roti bakar yang kusodorkan.


"Makan dulu sebelum minum obat. Biarin cuma segigit juga," pintaku memaksa. Akhirnya dia mau menuruti, walaupun hanya satu kali suapan. "Sekarang, minum obatnya, ya."


Della bangkit. Duduk berselonjor di atas tempat tidur. Lalu meminum obat yang kuberikan.


"Mungkin kamu kecapekan, Del. Beberapa hari ini sibuk melulu, sih," omelku. Della tersenyum hambar. "Makasih, ya, Cuy," sahutnya kemudian. "Elu kalo mau berangkat, pergi saja. Gue gak kuliah dulu hari ini."


"Mendingan kamu berobat, Del. Aku antar, ya."


"Gak usah. Gue cuma pengen istirahat. Entar juga abis minum obat, sembuh sendiri."


"Beneran, nih, aku tinggal, ndak apa-apa?"


"Pergi aja sana," jawab Della sambil kembali berbaring. "Papah udah bangun?"


"Om Bram sudah berangkat barusan. Cuma titip pesan buat kamu, pulangnya agak malam. Ada urusan pekerjaan," kataku menirukan ucapan Om Bram tadi. "Nanti aku panggilkan Bi Mamas, ya, buat nemenin kamu."


Della tak menjawab. Dia kembali memejamkan mata. Tidur.


'Kamu kecapekan ngurusin pernikahan Om Bram, Del. Mengapa ndak minta bantuanku saja, sih? Walaupun ndak rela, aku juga ingin turut menyambut calon maduku itu, lho, Del,' kataku dalam hati.


Setelah menyelimuti sekujur tubuh Della, aku bergegas keluar kamar. Tak lupa mengirimkan pesan singkat pada Bi Mamas untuk segera datang ke rumah.


Hari ini aku pergi kuliah sendiri. Menaiki angkutan umum online. Karena tak bisa mengendarai mobil yang biasa dibawa Della.


Hhmmm, sekian lama bersama, baru kali ini kulihat gadis itu sakit. Seperti ada sesuatu yang hilang saat sendiri seperti demikian. Padahal jauh sebelum itu, aku sudah terbiasa hidup mandiri. Tinggal di kontrakan sempit dan apa-apa harus dikerjakan sendiri.


"Ke mana Della?" tanya Andre begitu bertemu di kampus. "Dia istirahat di rumah. Kecapekan," jawabku singkat.

__ADS_1


Kali ini aku tak mau dekat-dekat dengan anak muda itu. Buat apa? Toh, aku sudah mendapatkan Om Bram.


"Kenapa? Sakit?" tanya Andre kembali sambil berjalan mepet di sampingku.


"Kamu ini apaan, sih, Ndre? Jangan deket-deket begitu, ah!" Aku menghindar.


"Lah, biasanya juga gak apa-apa, 'kan, Lya?" Andre memegang lenganku. Spontan ditepis secepatnya. "Jangan sentuh aku!" seruku galak.


"Kamu ini kenapa, sih, Lya?" Andre melongo heran.


"Pokoknya aku ndak mau deket-deket sama kamu!" jawabku semakin galak. Hanya Om Bram yang boleh menyentuhku. Bukan Andre, atau lelaki mana pun.


"Lya .... "


"Huh!" Aku melengos dan mempercepat jalan.


Aku tak peduli. Mulai detik ini, kuhapus semua memori tentang Andre. Dia bukan tipe laki-laki pencari cinta sejati. Hanya sekadar ingin bersenang-senang tanpa bayaran. Buktinya, di bioskop dia berani menggerepe. Huh, memangnya aku perempuan murah dijual lima ratusan, digoreng dadakan, dimakan bulat-bulat, hangat-hangat ... 'enyoy', begitu?


Bahkan sesaat hendak pulang pun, Andre masih menguntit. "Lya! Ada apa, sih? Dari pagi tadi, kamu terlihat beda, Lya!"


"Berbeda, ya? Tentu, dong. Karena aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan, Ndre," jawabku sengit. "Mulai saat ini, aku harus jaga jarak sama kamu. Distancing sosial! Jangan ajak-ajak aku ke luar lagi. Ingat itu, Ndre!"


"Kamu jadian sama Pak Bram?" Andre membelalak. Kubalas dengan senyuman genit. "Tapi ... Pak Bram, 'kan, sebentar lagi menikah dengan Bu Cassandra."


Hhmmm, jadi teringat lagi, deh, pada sosok perempuan itu. Sialan! Tapi ada baiknya juga, aku menemui Cassandra. Mengetahui lebih jauh tentangnya. Tak ada jalan lain, harus mendatanginya di kantor Om Bram. Hari juga!


"Lya! Kamu mau ke mana? Aku belum beres ngomong!" seru Andre begitu orderan angkutan online-ku datang. "Bukan urusanmu, Ndre. Maaf," jawabku langsung masuk ke dalam kendaraan.


"Mbak Melly, ya?" tanya sopir begitu kududuk di kursi belakang. Aku melongo. "Bukan. Saya Alya," jawabku heran. "Kok, Bapak seenaknya mengganti nama saya dengan Melly. Orang tua saya memberi nama Alya itu, ndak sembarangan, lho, Pak. Ada ritual khusus, serta tumpeng nasi kuning lengkap dengan kepala kerbau."


Sopir tertegun sejenak. "Maksud saya, ini orderan atas nama Melly. Begitu, Mbak!"


"Oh, bukan buat saya, ya?" tanyaku sedikit malu.


"Kalo Mbak ini bukan Melly, berarti bukan, dong."


Ya, Tuhan! Tanpa berkata apa pun, aku segera keluar lagi.


"Gak jadi pulang?" tanya Andre begitu melihatku. "Au, ah!" jawabku ketus.


"Lalu?"


"Diam, Ndre!"


"Aku antar, deh. Yuk, pulang."


"Ndak!"


"Terus sekarang, nungguin apalagi?"


Aku tak menjawab, karena sebuah kendaraan berhenti tak jauh dari tempat kami. Segera kudekati. "Bu Lya, ya?" tanya sopir sambil menurunkan kaca jendela.


Aku segera masuk ke dalam. "Saya masih perawan, Mas. Masa dipanggil 'Bu', sih?"


"Oh, maaf. Setidaknya suatu saat, Mbak ini akan menjadi calon—"


"Bu Alya Bramanditya! Atau ... bisa juga Nyonya Bram! Ya, itu cocok! Aamiin. Terima kasih, Mas. Langsung jalan, ya."


Sopir melongo heran dengan mulut menganga.


"Jalan, Mas. Kok, malah bengong?" kataku mengulang.


"Oh, iya. Aamiin aja, deh," jawab sopir, "sesuai tujuan, 'kan?"


"Ya."


Kendaraan pun melaju meninggalkan area kampus. Disaksikan Andre yang hanya bisa diam terpaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2