
Melihat Sandrino sedang bersantai di halaman rumahnya membuat Marta semakin bersemangat menghampiri.
" Suamiku ada hal yang ingin aku beritahukan padamu. Hal mungkin akan membuatmu sangat Kecewa dengan Istri kesayanganmu itu" Ucap Marta mengompori.
Melihat Marta menghampirinya membuat Sandrino sedikit malas. Karena jika salah satu istrinya mengeluh hal itu biasanya berkaitan dengan persaingan diantara mereka untuk mendapat perhatian lebih dari Sandrino.
" Hal apa lagi yang mau kamu beritahukan padaku sudahlah. Bisa tidak jangan membuat keributan sehari saja di Rumah ini. Aku hanya ingin bersantai." Sandrino acuh.
" Dengarkan dulu. Kali ini bukan tentang keributan atau semacamnya. Tapi ini tentang penghianatan yang akan direncanakan oleh istri kesayanganmu itu" Marta meyakinkan.
" Maksudmu?" Sadrino mulai penasaran.
" Seren berencana untuk menyingkirkan pelayan kesayanganmu itu. Sovia."
" Kamu jangan mengada-ngada. Tidak mungkin Seren berbuat seperti itu dibelakangku. Hanya dia istri yang selalu mendukungku." Enggan untuk percaya.
__ADS_1
" Kali ini percayalah padaku suamiku. Seren sudah merencanakan untuk menyingkirkan Sovia. Saya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat semalam Seren menyelinap ke kamar Sovia. Dan saya mendengar sendiri saat Seren mengancam Sovia untuk tutup mulut" Marta menegaskan.
Sandrino dilanda kebimbangan. Mengingat Seren adalah satu-satunya istri yang selalu mendukungnya. Bahkan yang memberikan saran beriatri lebih dari 1 itupun atas saran dari Seren sendiri. Sehingga terdengar mustahil jika kali ini Seren ingin menyingkirkan Sovia. Terlebih lagi baru-baru ini menyatakan jika Sandrino masih tertarik dengan Sovia dan masih berencana untuk dijadikan istrinya.
" Jika omonganmu tidak terbukti. Akan kupastikan kamu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu itu.
" Kamu bisa pegang kata-kata saya jika memang tidak terbukti. Aku siap menanggung hukuman yang paling berat jika tidak benar." Ucap Marta penuh percaya diri.
Melihat kesungguhan dari Marta membuat Sandrino melunak dan mulai mencari kebenaran.
Setelah Sovia memasuki kamar. Seren membisikkan sesuatu padanya.
" Sovia nanti malam kamu harus bersiap-siap. Setelah sampai di Pelabuhan kamu bisa menaiki kapal nanti di sana sudah ada orang-orangku yang akan menunggumu. Pastikan tidak ada penghuni Rumah ini yang melihatmu. Pastikan tidak meninggalkan jejak apapun di Rumah ini." Ucapnya pelan-pelan khawatir ada yang mendengarnya.
" Kamu bisa kembali bekerja dan segera keluar dari kamarku" Ucapnya.
__ADS_1
" Alla panggil Seren turun untuk makan" Perintah Sandrino
" Nyonya Seren hari ini sedang tidak enak badan tuan. Dia meminta Sovia untuk mengantarkan makanan kek kamarnya pagi tadi"
"Tidak biasanya dia makan di kamar" Sandrino merasa aneh.
Malampun berangsur tiba. Disaat semua orang akan terlelap namun berbeda dengan Sovia dan Seren.
Seren sengaja meminta pada Sandrino untuk tidur dikamarnya meskipun malam itu bukan gilirannya bersama Sandrino. Namun jika Seren sudah meminta maka istri-istri Sandrino yang lain harus patuh. Rupanya Seren Sebenarnya hanya ingin memastikan Sandrino tertidur saat Sovia meninggalkan Rumahnya.
Setelah Sovia berhasil sampai di Pelabuhan daa bertemu dengan orang-orang Seren. Bawahan Seren mengawasi Sovia dan memastikan berada di atas Kapal dan bersiap meninggalkan Pulau itu.
" Doorrr dooooorr Dorrr" Suara tembakan bertubi-tubi dilepaskan oleh orang asing yang sedari tadi mengawasi aktifitas mereka.
Kini hanya tersisa Sovia yang masih selamat dan di seret paksa turun dari atas Kapal.
__ADS_1
" Kalian mau apaaa.. Lepaskan lepaskan sayaaaa